Bab 3: Packing, Panik, dan Perjalanan Utara
Perjalanan ke Utara adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan bagi Aurelia.
Utara berarti salju, badai es, dan suhu ekstrem yang bisa membekukan apa saja. Bagi manusia biasa, itu hanya masalah memakai mantel tebal. Tapi bagi Aurelia—yang aslinya adalah boneka hidup berbahan porselen sihir—suhu dingin ekstrem adalah musuh bebuyutan. Sendi-sendinya bisa membeku dan macet, kulit palsunya bisa retak-retak lebih cepat, dan yang paling parah, inti sihir di dadanya bisa mengalami *cooling down* alias mati total kalau dia kekurangan a**pan mana.
Maka dari itu, persiapan *packing* kali ini benar-benar membuat Aurelia panik setengah mati.
"Marie, kamu bisa keluar dulu. Biar aku yang merapikan koper kosmetik dan obat-obatan pribadiku," kata Aurelia dengan senyum manis yang dipaksakan, berusaha terdengar sefirasat mungkin di depan pelayan pribadinya.
"Tapi, Nyonya, itu tugas saya—"
"Enggak apa-apa, Marie. Aku cuma mau memastikan beberapa obat herba pribadiku tidak tertukar. Kamu bantu rapikan mantel buluku di ruang sebelah saja, ya?" potong Aurelia lembut namun tegas.
Begitu Marie membungkuk dan menutup pintu kamar rapat-rapat, Aurelia langsung mengembuskan napas lega. Dia segera mengunci pintu kamar dari dalam. Detik berikutnya, dia bergerak cepat menuju meja riasnya.
Aurelia menekan tombol rahasia di bawah laci kayu meja riasnya. Terdengar bunyi *klik* halus, dan sebuah kompartemen tersembunyi terbuka. Di dalamnya terletak 'alat tempur' rahasia Aurelia yang selama ini dia sembunyikan dari seluruh dunia—terutama dari suaminya yang seorang pemburu penyihir.
"Oke, mari kita absen dulu," gumam Aurelia sambil mengeluarkan satu per satu barang berharga itu dengan hati-hati.
Pertama, tiga gulung benang perak sihir khusus. Benang ini adalah penyelamat hidupnya; gunanya untuk menjahit kembali kulit porselennya yang retak atau menyatukan sendinya kalau tiba-tiba copot. Kedua, dua buah jarum emas berukir runik kuno yang berfungsi menyalurkan sihir saat menjahit.
Ketiga, dan yang paling krusial: lima botol kecil berisi cairan biru berkilau. Itu adalah konsentrat mana murni, a**pan energi yang harus dia minum secara berkala agar 'jantung' buatannya tetap berdetak dan tubuhnya tetap berfungsi layaknya manusia normal. Bagi orang biasa, cairan ini akan terlihat seperti parfum mahal atau ramuan vitamin biasa. Aurelia sengaja menyimpannya dalam botol kaca estetik agar tidak memicu kecurigaan.
"Lima botol... semoga ini c**up untuk satu bulan di Utara," bisik Aurelia cemas. Dia mema**kkan semua alat tempur itu ke dalam kantong beludru hitam, lalu menyelipkannya ke bagian paling bawah tas kosmetik kulitnya, tertutup rapat oleh tumpukan bedak, *blush on*, dan botol-botol losion.
Setelah memastikan semuanya aman dan tidak ada satu pun bukti sihir yang tertinggal, Aurelia memoles sedikit perona pipi ekstra ke wajahnya. Dia harus kelihatan agak segar agar Cassian tidak curiga, tapi tetap mempertahankan *vibes* cewek anemic yang gampang lelah agar dia punya alasan ma**k akal setiap kali tubuhnya mendadak lemas atau dingin.
***
Perjalanan ke Utara dimulai keesokan harinya menggunakan kereta kuda pribadi milik keluarga Duke.
Kereta kuda itu sangat mewah, dilapisi beludru tebal di bagian dalam dan dilengkapi sihir penghangat ruangan. Namun, bagi Aurelia, atmosfer di dalam kereta itu rasanya lebih dingin daripada badai salju di luar sana.
Canggung banget. Sumpah.
Aurelia duduk di hadapan Cassian. Cowok itu mengenakan jubah hitam tebal berkerah bulu serigala yang membuatnya kelihatan berkali-kali lipat lebih gagah, dominan, dan... tampan. Tapi aura dingin yang dipancarkannya benar-benar membuat Aurelia tidak berani berkutik.
Sejak kereta berangkat tiga jam yang lalu, Cassian sama sekali tidak bersuara. Cowok itu sibuk membaca tumpukan dokumen militer dan laporan wilayah Utara yang menumpuk di sampingnya. Lembar demi lembar kertas dibaliknya dengan gerakan tenang, sementara matanya yang biru tajam membaca dengan fokus penuh.
Aurelia mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat ke luar jendela, memperhatikan pohon-pohon pinus yang mulai diselimuti salju tipis. Tapi lama-kelamaan, kepalanya mulai terasa agak pusing. Guncangan kereta ditambah suhu dingin yang mulai merayap ma**k lewat celah jendela membuat sirkulasi mana di tubuh Aurelia agak terhambat. Wajahnya yang tadi sudah dipoles *makeup* perlahan-lahan mulai kehilangan warna, kembali menjadi pucat pasi mirip kertas.
Tanpa Aurelia sadari, sesekali Cassian melirik ke arahnya dari balik dokumen-dokumen itu.
Cassian memperhatikan bagaimana istrinya itu terus merapatkan selimut bulu ke tubuhnya. Wajah Aurelia kelihatan sangat pucat, dan bibirnya agak membiru. Cassian mengernyitkan dahi. Apakah cewek ini selemah itu sampai-sampai sihir penghangat di kereta ini tidak mempan?
"Kalau kamu kedinginan, katakan saja. Jangan cuma diam dan menyiksa diri," suara berat Cassian tiba-tiba memecah keheningan, membuat Aurelia sedikit terlonjak kaget.
"Eh? Ah, enggak kok, Cassian. Aku cuma... agak mengantuk saja," bohong Aurelia sambil memaksakan senyum tipis. Suaranya terdengar agak bergetar karena sendi rahangnya mulai terasa kaku akibat dingin.
Cassian hanya menatapnya datar selama beberapa detik, lalu kembali menatap dokumennya. "Kita akan sampai di penginapan pertama dalam dua jam lagi. Tahan sedikit."
"Baik..."
Baru saja Aurelia hendak menyandarkan kepalanya ke dinding kereta untuk mengistirahatkan tubuhnya, tiba-tiba—
*B**KKK!*
Roda kereta kuda menghantam batu besar yang tertutup salju tebal dengan sangat keras. Guncangan hebat itu membuat kereta miring ke samping secara ekstrem.
Aurelia yang fisiknya memang sedang tidak stabil langsung kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke depan, meluncur lurus ke arah tempat duduk Cassian.
"Awas!"
Dalam hitungan milidetik, Cassian yang memiliki refleks bertarung tingkat tinggi langsung bergerak. Dia melempar dokumen di tangannya ke sembarang arah dan menjulurkan lengan kekarnya.
*Grep!*
Satu tangan Cassian melingkar erat di pinggang Aurelia, menarik tubuh cewek itu mendekat ke arahnya agar tidak terbentur dinding kereta yang keras. Sementara tangan Cassian yang satunya lagi refleks menangkap pergelangan tangan bareng Aurelia yang terjulur bebas.
Waktu rasanya berhenti berputar.
Aurelia mendarat tepat di dada bidang Cassian. Wajahnya tenggelam di antara kerah bulu jubah cowok itu, menghirup aroma khas Cassian—campuran wangi kayu pinus, mint, dan aroma maskulin yang sangat memabukkan.
Secara kiasan, Aurelia merasa seperti jantungan setengah mati. Jantungnya rasanya mau copot—meskipun secara fisik dia sama sekali tidak punya jantung yang berdetak.
Namun, kepanikan Aurelia yang sebenarnya baru dimulai ketika dia menyadari posisi tangan Cassian.
Kulit pergelangan tangan Aurelia yang tidak tertutup lengan baju bersentuhan langsung dengan telapak tangan hangat Cassian. Cowok itu memegang pergelangan tangannya dengan sangat erat untuk menopang tubuhnya.
Cassian tiba-tiba terdiam. Matanya melebar sedikit.
Sebagai seorang kesatria dan pemburu penyihir berdarah dingin, Cassian sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan energi di sekitarnya. Dan saat ini, apa yang dia rasakan di telapak tangannya benar-benar aneh.
Kulit Aurelia tidak sekadar dingin karena cuaca. Ini dingin yang tidak ma**k akal. Rasanya seperti menyentuh sebongkah es batu di tengah musim dingin, atau lebih ekstrem lagi... seperti menyentuh tubuh mayat yang sudah kaku. Sama sekali tidak ada kehangatan khas manusia di sana.
Lebih dari itu, karena memegang pergelangan tangan Aurelia secara langsung, Cassian secara tidak sengaja mencoba meraba denyut nadi di sana.
Kosong.
Tidak ada denyut kehidupan. Tidak ada detak yang memompa darah di bawah kulit halus itu.
Cassian langsung menunduk, menatap Aurelia yang masih berada di dekapannya dengan tatapan mata yang berubah menjadi sangat tajam dan menyelidik. Tatapan intens seorang predator yang baru saja mengendus kejanggalan.
"Aurelia," panggil Cassian, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin, mengirimkan sensasi merinding ke seluruh tubuh boneka Aurelia. "Kenapa tanganmu dingin sekali? Dan..." Cassian menekan jarinya lebih dalam ke pergelangan tangan Aurelia, membuat Aurelia panik tingkat dewa dalam hati.
*Aduh, mampus! Dia nyari denyut nadi gue!* batin Aurelia menjerit histeris. *Gue harus lepas sekarang juga sebelum dia sadar kalau gue ini cuma tumpukan porselen dan sihir!*
Dengan sisa-sisa tenaga dan akting terbaiknya, Aurelia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Cassian dengan gerakan yang agak panik, namun langsung dia samarkan dengan berpura-pura malu dan lemas. Dia mundur perlahan, kembali ke tempat duduknya sendiri dengan napas yang sengaja diembuskan terengah-engah—padahal dia bahkan tidak butuh bernapas untuk bertahan hidup.
"Maaf... maaf, Cassian. Aku tidak sengaja jatuh tadi," kata Aurelia dengan suara gemetar, matanya menatap ke bawah, menghindari kontak mata langsung dengan suaminya. Dia memegangi pergelangan tangannya sendiri, mencoba menyembunyikannya di balik selimut.
"Aurelia, jawab aku," tuntut Cassian, tidak membiarkan istrinya mengalihkan pembicaraan. Cowok itu condong ke depan, mengintimidasi ruang gerak Aurelia. "Suhu tubuhmu tidak normal. Dan aku tidak merasakan denyut nadimu dengan jelas tadi. Kamu sebenarnya—"
"Aku anemia, Duke!" potong Aurelia dengan nada agak tinggi, terdengar sedikit frustrasi dan defensif—sebuah reaksi yang sangat alami bagi orang yang rahasianya hampir terbongkar.
Aurelia mendongak, menatap Cassian dengan sepasang mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca, memancarkan keputusasaan yang dramatis.
"Sejak kecil, sirkulasi darahku memang sangat buruk. Dokter bilang pembuluh darahku sangat tipis, makanya setiap kali cuaca dingin ekstrem seperti ini, darahku hampir tidak mengalir ke ujung-ujung saraf. Itu sebabnya tanganku sedingin es batu dan denyut nadiku sangat lemah sampai hampir tidak terasa," jelas Aurelia panjang lebar dengan suara yang bergetar menahan tangis. Dia menunduk lagi, meremas jemarinya sendiri. "Aku... aku minta maaf kalau kondisiku yang penyakitan ini merepotkanmu dan membuatmu merasa aneh..."
Cassian terpaku mendengar penjelasan itu. Dia menatap Aurelia yang kini kelihatan sangat rapuh, gemetar di sudut kursi kereta dengan air mata yang hampir menetes.
Apakah dia terlalu curiga? Cassian tahu kalau Aurelia memang berasal dari keluarga bangsawan yang terkenal memiliki fisik lemah. Tapi tetap saja, rasa dingin yang dia sentuh tadi terasa sangat tidak biasa. Hanya saja, melihat ekspresi ketakutan dan kepasrahan di wajah istrinya, Cassian merasa sedikit bersalah karena telah menginterogasinya seperti seorang tersangka kriminal.
Cassian menghela napas panjang. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur, meski kecurigaan di sudut hatinya tidak sepenuhnya hilang.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Cassian melepas jubah bulu serigala hitam besarnya yang sangat hangat. Dia bangkit dari tempat duduknya, lalu menyampirkan jubah tebal itu ke atas bahu Aurelia, membungkus tubuh mungil cewek itu hingga tenggelam dalam kehangatan jubahnya.
Aurelia mendongak kaget, mendapati wajah Cassian yang kini berada sangat dekat dengannya.
"Pakai ini," kata Cassian pelan, suaranya tidak sedingin tadi. "Kalau kamu tahu tubuhmu selemah itu, jangan pernah menyembunyikannya dariku. Aku tidak mau dituduh menyiksa istriku sendiri selama perjalanan ke Utara."
Setelah mengatakan itu, Cassian kembali ke tempat duduknya, mengambil dokumen-dokumennya yang berserakan di lant** kereta, dan berpura-pura sibuk kembali. Tapi Aurelia tahu, dari sudut matanya, Cassian masih terus mengawasinya dengan waspada.
Aurelia merapatkan jubah besar Cassian ke tubuhnya. Aroma tubuh cowok itu langsung mengepung seluruh inderanya. Hangat jubah itu perlahan mulai mencairkan sendi-sendinya yang kaku, mengalirkan sedikit ketenangan ke dalam sistem sihirnya.
Dalam hati, Aurelia mengembuskan napas lega yang amat sangat.
*Selamat untuk kali ini,* pikir Aurelia sambil memejamkan mata, memeluk jubah Cassian erat-erat. *Tapi ini baru awal perjalanan. Aku harus ekstra hati-hati, karena suamiku ini jauh lebih berbahaya daripada badai salju paling dingin sekalipun.*
Lanjutkan Membaca Bab 3 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!