G***. Ini sih bukan cuma dingin, tapi sudah ma**k level pembekuan massal.
Begitu pintu kereta kuda dibuka, angin Utara langsung menampar wajah Aurelia tanpa ampun. Rasanya seperti ratusan jarum es tak kasat mata menusuk-nusuk kulitnya. Tapi bagi Aurelia, rasa sakit itu bukan masalah utama. Masalah sebenarnya adalah suara *kriet* halus yang tiba-tiba terdengar dari arah lutut kanannya saat dia mencoba melangkah turun.
*Oh, tidak. Sendi lututku membeku,* batin Aurelia menjerit panik.
Dia mematung di anak tangga kereta, satu tangannya mencengkeram pegangan pintu dengan sangat erat sampai sarung tangan kulitnya berkerit. Cairan pelumas sihir di dalam sendi porselennya mulai mengental karena suhu ekstrem ini. Kalau dia nekat melangkah lebar, bisa-bisa kakinya copot atau patah di tempat.
"Aurelia? Kamu ngapain bengong di situ? Mau jadi patung es?"
Suara berat dan dingin—yang hampir menyaingi suhu udara sekitar—terdengar dari bawah. Cassian sudah berdiri di sana. Cowok itu kelihatan luar biasa menyebalkan karena sama sekali tidak terpengaruh oleh badai salju. Dengan mantel bulu hitam tebal yang membungkus bahu lebarnya, dia malah kelihatan seperti model katalog musim dingin yang siap *aesthetic photoshoot*.
"Aku... aku cuma lagi menikmati pemandangan, Cassian. Bagus ya, saljunya banyak," dusta Aurelia sambil memamerkan senyum paling natural yang bisa dia usahakan. Padahal dalam hati, dia sudah mengumpat habis-habisan. *Apanya yang bagus?! Ini namanya neraka putih!*
Cassian mendengus, matanya yang tajam menyipit curiga. "Menikmati pemandangan sambil gemetaran kayak vib**tor rusak begitu? Turun cepat. Anginnya makin kencang."
Dengan sisa-sisa tenaga dan konsentrasi penuh untuk mengalirkan mana ke area kaki, Aurelia mencoba melangkah. Tapi sial, kaki kanannya benar-benar kaku! Alhasil, gerakannya jadi patah-patah mirip robot kehabisan baterai.
Melihat istrinya berjalan dengan sangat aneh, dahi Cassian berkerut dalam. Tanpa b***bu, dia langsung melangkah maju dan meraih pinggang Aurelia.
"Eh—eh! Cassian, tunggu!" Aurelia tersentak kaget.
"Lama," gerutu Cassian pendek. Dalam satu gerakan mulus, dia langsung menggendong Aurelia ala *bridal style*.
Deg! Jantung buatan Aurelia rasanya mau copot. Bukan karena baper digendong suami tampannya, tapi karena takut! Tubuh Cassian itu hangat sekali—khas manusia normal yang punya sirkulasi darah aktif—sedangkan tubuh Aurelia saat ini sedingin es batu di dalam freezer. Kalau Cassian menyadarinya, tamatlah riwayatnya!
"Cassian, turunin aku! Aku bisa jalan sendiri, kok! Asli, ini cuma pegal-pegal dikit karena kelamaan duduk di kereta!" Aurelia meronta kecil, berusaha menciptakan jarak agar tubuh mereka tidak terlalu menempel rapat.
"Diam atau aku lepasin dan kubiarinkan kamu menggelinding di salju?" ancam Cassian datar, tapi pelukannya di pinggang Aurelia justru semakin mengencang saat mereka melangkah mema**ki gerbang Benteng Utara yang megah dan suram.
Begitu mereka melewati pintu ma**k utama benteng, udara hangat langsung menyambut. Tapi kehangatan itu belum c**up untuk mencairkan sendi-sendi Aurelia yang terlanjur kaku. Cassian terus menggendongnya menyusuri lorong batu yang gelap, naik ke lant** atas, hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu kayu ek raksasa—kamar utama mereka.
Cassian menendang pintu hingga terbuka, lalu menurunkan Aurelia dengan hati-hati di atas sofa beludru merah di dekat jendela.
"Nyalakan perapiannya sekarang! Buat ruangan ini sehangat mungkin!" perintah Cassian dengan suara menggelegar pada tiga pelayan yang sudah bersiap di dalam kamar.
"Baik, Tuan Duke!" para pelayan itu langsung bergerak cepat. Mereka mema**kkan kayu-kayu gelondongan besar ke dalam perapian batu yang ukurannya hampir sebesar gerobak, lalu menyalakan api.
Dalam hitungan menit, api sudah berkobar hebat. Hawa panas mulai menyebar ke seluruh penjuru kamar yang luas itu.
Cassian melepas mantel bulunya yang berat, menyisakan kemeja hitam longgar yang melekat pas di tubuh atletisnya. Dia menatap Aurelia yang masih duduk kaku di sofa dengan wajah pucat pasi.
"Kamu pucat banget. Sini, duduk di depan perapian biar badanmu hangat," kata Cassian sambil memberi isyarat ke arah karpet bulu tebal yang berada tepat di depan api yang berkobar.
Mata Aurelia melebar ngeri melihat kobaran api itu. *G*** aja! Dekat-dekat ke situ sama saja dengan bunuh diri!*
Perlu diketahui, kulit buatan Aurelia terbuat dari bahan sintetis sihir berbasis lilin khusus agar teksturnya kenyal dan mirip kulit manusia. Kalau dia berdiri terlalu dekat dengan sumber panas ekstrem seperti perapian besar itu, kulitnya bisa melunak, lengket, atau yang paling parah: meleleh! Bayangkan kalau wajah cantiknya tiba-tiba miring atau hidungnya melorot di depan pemburu penyihir ini. Bisa jantungan mereka berdua!
"N-nggak usah, Cassian! Di sini aja udah c**up hangat, kok!" tolak Aurelia buru-buru, sambil menggeser duduknya sedikit menjauh dari arah perapian.
Cassian berjalan mendekat, dahi cowok itu berkerut tidak suka. "Jangan keras kepala, Aurelia. Bibirmu sampai biru begitu. Sini."
Cassian mengulurkan tangan, hendak menarik pergelangan tangan Aurelia untuk memaksanya mendekati perapian.
Refleks pertahanan diri Aurelia langsung aktif. Dia menarik tangannya ke belakang dengan cepat, menghindari sentuhan Cassian. "Jangan sentuh aku!" pekiknya agak terlalu keras.
Suasana kamar seketika menjadi hening dan canggung.
Cassian mematung, tangannya masih menggantung di udara. Matanya yang gelap menatap Aurelia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan tersinggung, tapi juga ada rasa bingung di sana. Cowok gengsian ini jelas tidak terbiasa ditolak mentah-mentah.
Aurelia langsung merutuki kebodohannya. *Aduh, b*** banget sih, Aurelia! Kenapa malah teriak? Nanti dia curiga!*
"M-maksudku..." Aurelia mencoba memutar otak secepat kilat untuk mencari alasan yang ma**k akal di zaman modern ini. "Aku... aku lagi menerapkan terapi jarak aman! Iya, terapi adaptasi suhu!"
Cassian menurunkan tangannya perlahan, menatap Aurelia datar. "Terapi apa?"
"Terapi adaptasi suhu tubuh secara bertahap!" Aurelia mengangguk-angguk meyakinkan, mencoba terdengar seperti dokter ahli. "Jadi gini, suamiku sayang... kalau tubuh yang tadinya kedinginan ekstrem langsung dipapar panas ekstrem dari perapian, sirkulasi darahnya bisa kaget. Itu bisa memicu syok termal! Kulitku bisa iritasi, merah-merah, dan aku bisa pusing sampai pingsan. Jadi, aku harus jaga jarak aman dulu. Minimal... ya, tiga meter dari perapian. Dan juga... tiga meter dari kamu."
Cassian menaikkan sebelah alisnya. "Tiga meter dari aku? Sejak kapan aku jadi sumber panas ekstrem?"
"Kamu kan... emm, suhu tubuhmu panas banget! Kayak kompor berjalan!" Aurelia asal ceplos sambil mengipasi wajahnya yang sebenarnya dingin. "Pokoknya, untuk sementara waktu, demi kesehatan dan keselamatan estetikaku, kita harus menerapkan aturan jarak aman di kamar ini. Oke?"
Cassian menatap istrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan skeptis. Jujur, dia merasa penjelasan Aurelia ini sangat tidak ma**k akal dan terdengar seperti buatan belaka. Tapi di sisi lain, melihat tubuh mungil istrinya yang memang kelihatan rapuh seperti kaca, Cassian tidak mau mengambil risiko membuat cewek itu jatuh sakit di hari pertama mereka di Utara.
"Terserah kamu saja," gumam Cassian akhirnya, mengalah walau gengsinya setinggi langit. "Tapi kalau nanti malam kamu menggigil sampai nangis-nangis, jangan harap aku mau membagi selimutku."
"Tenang saja, Duke Cassian yang terhormat. Aku sangat mandiri," sahut Aurelia lega setengah mati. Dia berhasil melewati rintangan pertama.
Namun, kelegaan Aurelia tidak bertahan lama. Masalah baru muncul ketika para pelayan selesai merapikan kamar dan berpamitan keluar. Sekarang, hanya ada mereka berdua di kamar luas itu dengan satu masalah besar yang terpampang nyata di depan mata: **Satu tempat tidur berukuran *king size* yang terletak tepat di sebelah perapian.**
Aurelia menatap ranjang itu dengan horor. Ranjang itu terlalu dekat dengan perapian! Kalau dia tidur di sana, bagian tubuhnya yang menghadap ke api pasti akan meleleh, sedangkan bagian yang membelakangi api akan membeku karena draf angin dari jendela. Benar-benar posisi yang tidak menguntungkan!
"Kenapa bengong lagi? Sana tidur. Wajahmu kelihatan kayak mayat hidup," kata Cassian sambil berjalan menuju meja kerjanya yang berada di sudut kamar yang agak redup dan dingin.
"Aku... aku tidur di sofa ini aja deh, Cassian," ujar Aurelia cepat.
Cassian yang baru saja mau duduk di kursi kerjanya langsung menghentikan gerakannya. Dia menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Kamu mau tidur di sofa? Di cuaca dingin ekstrem begini? Kamu mau bunuh diri secara tidak langsung ya, biar aku dituduh melakukan KDRT?"
"Bukan begitu! Sofanya empuk kok, terus aku bisa pakai mantel bulu ini sebagai selimut," bantah Aurelia defensif.
Cassian menghela napas kasar, kelihatan sangat frustrasi dengan tingkah ajaib istrinya hari ini. Dia berjalan mendekati sofa, membuat Aurelia reflex memundurkan kepalanya.
"Dengar ya, Aurelia," kata Cassian, suaranya merendah tapi penuh penekanan. Dia membungkuk sedikit, menumpu kedua tangannya di sandaran sofa, mengurung Aurelia di antaranya. "Kita baru sampai di Utara. Para pelayan di benteng ini semuanya bermata tajam. Kalau mereka tahu Duchess baru tidur di sofa sementara suaminya tidur nyaman di ranjang, besok pagi rumor bahwa pernikahan kita adalah kontrak palsu akan langsung menyebar sampai ke ibu kota."
Aurelia menelan ludah. Jarak mereka terlalu dekat! Dia bisa mencium aroma kayu pinus dan maskulin yang menguar dari tubuh Cassian. Hawa hangat dari tubuh cowok itu juga mulai membuat kulit pipi buatan Aurelia terasa agak gatal—tanda-tanda awal lapisan lilin pelindungnya mulai bereaksi terhadap suhu hangat.
"Tapi... tapi kan kita bisa bikin alasan lain..." cicit Aurelia, matanya melirik ke mana saja asal tidak menatap mata tajam Cassian.
"Nggak ada alasan lain. Tidur di ranjang," perintah Cassian mutlak. "Atau aku yang akan menggendongmu dan mengikatmu di sana."
Melihat tidak ada celah untuk bernegosiasi dengan suaminya yang keras kepala ini, Aurelia akhirnya menyerah. "Oke, oke! Aku tidur di ranjang! Tapi dengan satu syarat!"
Cassian memutar matanya malas. "Apalagi syaratnya, Tuan Putri?"
"Kita harus pasang pembatas! Dan kamu harus janji nggak boleh melewati batas itu!" tuntut Aurelia ketat.
"Pembatas apa?"
Aurelia langsung berdiri—meski lututnya masih agak kaku—dan berjalan menuju ranjang. Dengan cepat, dia mengambil tiga bantal guling besar dan menyusunnya berjajar tepat di tengah-tengah ranjang, membelah ka**r luas itu menjadi dua bagian yang sama rata.
"Nah! Ini adalah Tembok Berlin pembatas kita," tunjuk Aurelia pada barisan bantal guling itu dengan bangga. "Kamu di sebelah kanan, dekat perapian—karena kamu kan manusia tahan panas. Dan aku di sebelah kiri, dekat jendela—eh maksudnya, di sisi yang lebih dingin demi terapi adaptasiku. Gimana? Adil kan?"
Cassian menatap barisan bantal guling itu dengan ekspresi wajah yang luar biasa datar. Dia seperti sedang mempertanyakan keputusan hidupnya kenapa bisa menikahi gadis ajaib bin aneh di depannya ini.
"Terserah kamu, Aurelia. Asalkan kamu diam dan tidak menggangguku malam ini," ketus Cassian, lalu berbalik menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Aurelia langsung merosot duduk di tepi ranjang. Dia mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat.
"Hampir saja..." bisiknya sambil memegangi dadanya yang berdetak tidak teratur karena fluktuasi mana.
Aurelia buru-buru membuka tas kosmetik kulitnya, merogoh bagian paling bawah, dan mengeluarkan satu botol kecil berisi cairan biru berkilau—mana murni miliknya. Tanpa membuang waktu, dia membuka tutup botolnya dan meminum cairan itu hingga tandas.
Rasa hangat yang nyaman langsung menjalar dari tenggorokannya ke seluruh tubuh, melunasi rasa kaku di sendi-sendinya. Bunyi *kriet* di lututnya perlahan menghilang, digantikan oleh fleksibilitas yang kembali normal. Kulit porselennya yang tadi sempat terasa agak melunak di dekat perapian kini kembali mengeras dan stabil berkat pasokan mana yang baru.
Aurelia menyembunyikan kembali botol kosong itu ke dalam tasnya, tepat sebelum pintu kamar mandi kembali terbuka dan Cassian keluar dengan rambut yang agak basah.
Malam itu, di bawah atap Benteng Utara yang berselimut badai salju, mereka tidur di satu ranjang yang sama. Namun, dipisahkan oleh 'Tembok Berlin' bantal guling dan aturan jarak aman yang dibuat Aurelia dengan penuh keringat dingin.
Aurelia memandangi punggung lebar Cassian yang membelakanginya di seberang pembatas bantal. Dia tahu, ini baru hari pertama. Perjalanan satu bulan di Utara ini akan menjadi perjuangan hidup dan mati baginya untuk mempertahankan rahasia terbesarnya dari sang suami, si pemburu penyihir berdarah dingin.
Lanjutkan Membaca Bab 4 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!