Malam pertama di Utara bener-bener kayak wahana rumah hantu—bikin jantungan tiap detik.
Setelah drama digendong Cassian melewati aula benteng yang gedenya kayak lapangan bola tapi dinginnya kayak freezer daging, akhirnya Aurelia bisa bernapas lega waktu cowok itu menaruhnya di tempat tidur kamar utama. Kamar mereka luas banget, tapi minim dekorasi. Isinya cuma ka**r *king size*, lemari kayu hitam yang kelihatan antik, perapian yang menyala malas-malas, dan udara dingin yang masih aja nyelinap lewat celah jendela.
"Kamu istirahat di sini. Jangan kelayapan. Aku mau mandi dulu," kata Cassian ketus sebelum melenggang pergi ke kamar mandi yang ada di sudut ruangan.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat dan terdengar suara gemercik air, Aurelia langsung ambruk telentang di ka**r. Pertahanannya runtuh.
"Aduh... aduh... g***, ini sakit banget," bisik Aurelia sambil meraba punggungnya sendiri.
Sejak di kereta kuda tadi, dia udah ngerasa ada yang nggak beres di area punggungnya. Ada rasa perih yang menusuk-nusuk, berbeda dari rasa kaku di kakinya. Dan benar aja, begitu dia meraba kulit di balik gaun tebalnya, jarinya menyentuh sesuatu yang basah, lengket, dan agak hangat.
Pas ditarik dan didekatkan ke lampu meja yang remang-remang, jarinya sudah berlumuran cairan biru terang yang berkilau tipis.
*Mana cair.*
"A****, jahitannya lepas!" Aurelia panik setengah mati.
Perjalanan darat yang super melelahkan dan berguncang-guncang, ditambah suhu ekstrem Utara, ternyata jadi kombinasi maut buat tubuh buatannya. Benang sihir yang menyatukan kulit porselen di punggungnya lapuk dan putus. Kalau didiamkan, cairan mana yang berfungsi sebagai "darah" sekaligus sumber energinya bakal habis terkuras. Kalau itu sampai terjadi, dia bakal mati total—kembali jadi boneka pajangan tanpa nyawa.
Dengan sisa tenaga yang ada, Aurelia menyeret langkahnya ke arah cermin rias di sudut kamar. Dia melepas gaun tebalnya dengan terburu-buru, menyisakan tubuh bagian atasnya yang polos. Begitu dia berbalik membelakangi cermin dan menengok lewat bahu, matanya terbelalak.
Ada robekan sepanjang hampir sepuluh senti di punggung kirinya. Cairan biru kental perlahan menetes dari sana, mengotori kulit putih pucatnya yang sehalus porselen.
"Sial, jahitannya lepas tiga senti. Mana tangan kanan gue masih kaku banget lagi gara-gara dingin," umpat Aurelia dalam hati.
Dia buru-buru merogoh tas jinjingnya, mengambil sebuah kotak kecil tersembunyi yang berisi jarum perak khusus dan gulungan benang sihir transparan. Ini adalah rahasia terbesarnya yang nggak boleh diketahui siapa pun, terma**k suaminya sendiri. Selama ini, tangannyalah yang paling mengenal seluk-beluk tubuhnya. Dia yang merawat, dia yang memperbaiki, dan dia yang menjahit dirinya sendiri kalau ada bagian yang rusak.
Aurelia mulai memutar tubuhnya dengan posisi super canggung di depan cermin. Dia memegang jarum dengan tangan kirinya yang untungnya masih bisa digerakkan dengan c**up fleksibel, berusaha menggapai punggungnya lewat pantulan cermin yang terbalik.
*Aww!*
Begitu jarum perak itu menusuk kulit porselennya untuk menyatukan kembali robekan tersebut, rasa ngilu yang luar biasa langsung menjalar ke seluruh kepalanya. Ini bukan rasa sakit fisik biasa seperti manusia yang tertusuk jarum. Ini adalah rasa sakit fungsional—rasanya seperti sirkuit sihir di dalam otaknya disengat listrik tegangan tinggi secara terus-menerus.
"Ayo, cepet... sedikit lagi... fokus, Aurel, fokus," gumamnya dengan bibir gemetaran. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Tangannya gemetar hebat. Menjahit punggung sendiri dengan tangan kiri lewat cermin itu tingkat kesulitannya sama kayak main *game* dengan tingkat kesulitan *ultra hard*. Beberapa kali jarumnya meleset, malah bikin robekannya sedikit melebar dan cairan birunya menetes lebih banyak ke lant** kayu. Aroma khas mint dan ozon yang kuat—bau khas dari mana murni—mulai memenuhi udara kamar.
*Satu jahitan... dua jahitan...*
Dia saking fokusnya sampai tidak menyadari kalau suara gemercik air di kamar mandi tiba-tiba saja berhenti.
*Krieeet...*
Pintu kamar mandi terbuka.
Jantung buatan Aurelia rasanya mau copot ke lant**. Matanya melebar horor saat mendengar suara langkah kaki dari arah kamar mandi.
Cassian keluar hanya dengan memakai celana panjang hitam longgar. Rambut hitamnya yang basah tampak berantakan, dan handuk putih tersampir di bahunya. Tubuh atletisnya yang kokoh memperlihatkan otot-otot dada dan perut yang terbentuk sempurna, tapi Aurelia sama sekali nggak ada waktu buat cuci mata atau merasa baper. Ini adalah situasi hidup dan mati!
"Aurelia? Kamu belum ti—" Cassian menggumam sambil berjalan ke arah meja samping tempat tidur, berniat mengambil segelas air karena haus setelah mandi.
Mendengar suara langkah kaki Cassian yang makin mendekat, otak Aurelia langsung bekerja dengan kecepatan cahaya. Dia nggak punya waktu buat beresin benang, jarum, atau pakai gaunnya kembali dengan benar.
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat—sampai-sampai sendi bahu kirinya berbunyi *krek* keras—Aurelia langsung menyambar baju tidur satin panjang yang ada di dekatnya. Dia memakainya asal-asalan tanpa sempat mengancingkannya, lalu dengan kaki kirinya, dia menendang kotak jahitannya ke bawah lemari rias.
Tapi masalahnya, noda mana cair berwarna biru terang masih ada di lant**, dan punggungnya belum sepenuhnya selesai dijahit! Kalau Cassian melihatnya berdiri dengan gelagat aneh seperti ini, tamatlah riwayatnya.
*Gue harus akting!* batin Aurelia putus asa.
Tanpa pikir panjang, Aurelia langsung memejamkan mata dan menjatuhkan dirinya ke lant** kayu.
*BRUK!*
"Aurelia?!"
Suara jatuh yang c**up keras itu langsung membuat Cassian menoleh cepat. Begitu melihat istrinya tergeletak tak berdaya di lant** dekat meja rias dengan baju tidur yang berantakan, gelas perak di tangan Cassian langsung terjatuh ke atas meja.
Cassian langsung berlari mendekat. "Aurelia! Hei! Kamu kenapa?!"
Cowok itu langsung berlutut di samping Aurelia. Tangannya yang besar dan terasa sangat hangat langsung menyentuh pundak Aurelia, lalu membalikkan tubuh cewek itu agar telentang.
Aurelia memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menahan napasnya, berusaha membuat tubuhnya se-rileks mungkin. Tapi itu susah banget karena dia lagi panik setengah mati! Ditambah lagi, jahitan di punggungnya yang belum selesai itu terasa perih sekali karena tertekan lant** kayu, dan dia sangat takut baju tidur satinnya yang longgar tersingkap lalu memperlihatkan cairan biru di punggungnya.
"Aurelia, bangun. Jangan bercanda ya," suara Cassian yang biasanya dingin kini terdengar ada nada panik yang terselip di dalamnya.
Tanpa b***bu lagi, Cassian menyelipkan satu tangannya di bawah leher Aurelia dan tangan satunya di bawah lutut cewek itu, lalu mengangkatnya dalam satu gerakan mulus.
Begitu tubuh mereka menempel rapat, Cassian langsung tersentak kaget.
"Kenapa badan kamu sedingin ini?" gumam Cassian, dahinya berkerut dalam. "Dan... kaku banget?"
Memang, tubuh Aurelia saat ini rasanya seperti memegang manekin toko yang baru dikeluarkan dari dalam lemari es. Sangat kaku, keras, dan tidak ada kehangatan manusia sama sekali. Biasanya, orang yang pingsan tubuhnya bakal lemas layaknya mi basah, tapi tubuh Aurelia malah kaku kayak kayu jati yang diawetkan.
Cassian membawa Aurelia ke tempat tidur dan membaringkannya dengan sangat perlahan. Dia langsung menarik selimut bulu yang tebal sampai ke batas dada Aurelia, membungkus tubuh cewek itu rapat-rapat.
Aurelia masih memejamkan mata, pura-pura pingsan dengan sangat totalitas. Namun, dalam hati dia sudah menjerit-jerit frustrasi. *Aduh, mampus! Dia curiga nggak ya? Plis, jangan sampai dia buka baju tidur gue buat meriksa! Plis banget, Tuhan!*
Cassian tidak langsung pergi. Dia tetap duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah pucat Aurelia dengan tatapan mata yang sangat tajam dan penuh selidik. Matanya menyusuri setiap jengkal wajah istrinya, lalu turun ke lehernya yang jenjang.
"Nggak ada detak jantung yang cepat... bahkan rasanya lemah banget," bisik Cassian pelan. Dia mendekatkan jari telunjuknya ke bawah hidung Aurelia untuk memeriksa napas cewek itu. Napas Aurelia ada—karena dia buru-buru mengaktifkan paru-paru buatannya—tapi rasanya sangat tipis dan dingin, sama sekali tidak terasa seperti napas hangat manusia biasa.
Selain itu, indra penciuman Cassian yang tajam juga menangkap sesuatu. Ada bau mint dan ozon yang aneh di sekitar ka**r, mirip seperti wangi energi sihir murni yang pekat.
"Sebenarnya kamu ini kenapa, Aurelia?" gumam Cassian dengan suara rendah yang terdengar berbahaya sekaligus penasaran. Tangannya bergerak menyentuh pipi Aurelia, mengusapnya perlahan. Kulit pipi itu luar biasa halus, terlalu sempurna tanpa pori-pori yang kelihatan, tapi dinginnya bener-bener gak ma**k akal.
Aurelia sadar, kalau dia terus-menerus pura-pura pingsan, Cassian pasti bakal mulai curiga lebih jauh. Atau yang lebih buruk, cowok itu bakal memanggil dokter benteng. Kalau dokter benteng memeriksa nadinya dan menemukan kalau dia nggak punya aliran darah normal melainkan mana cair, rahasianya sebagai manusia buatan bakal terbongkar malam ini juga!
Dengan gerakan lambat yang dibuat seolah-olah dia baru saja siuman, Aurelia perlahan membuka matanya. Dia mengerjap-erjap beberapa kali, lalu memegang kepalanya sambil mengerang pelan.
"Eungh... aku... aku di mana?" tanya Aurelia dengan suara selemas mungkin. Aktingnya bener-bener berhak dapet piala Oscar.
Melihat Aurelia sadar, Cassian langsung menarik kembali tangannya dengan cepat. Ekspresi wajahnya kembali datar dan dingin seperti biasa, seolah rasa panik yang sempat muncul tadi hanyalah ilusi semata.
"Di kamar. Kamu pingsan di lant**," jawab Cassian pendek. "Kenapa kamu bisa jatuh? Dan kenapa badan kamu dingin dan kaku kayak mayat?"
Pertanyaan Cassian bener-bener langsung menusuk ke ulu hati.
Aurelia menelan ludah dengan susah payah, berusaha meredakan kepanikannya. Dia memaksakan sebuah senyum tipis yang kelihatan sangat lelah dan rapuh.
"Maaf... aku kayaknya bener-bener kecapekan karena perjalanan jauh ke Utara kemarin," dusta Aurelia sambil menarik selimut tebalnya lebih rapat ke tubuhnya, memastikan bagian punggungnya benar-benar terlindungi dari pandangan Cassian. "Ditambah lagi, udara di sini dingin banget. Aku... aku punya penyakit anemia akut, Cassian. Kalau aku terlalu capek dan kedinginan, tubuhku emang sering langsung kaku dan drop kayak gini. Makanya tadi pas aku mau ambil minum, kepalaku langsung pusing banget terus semuanya gelap."
Cassian menatap Aurelia lama sekali dalam keheningan. Tatapan mata hitamnya yang tajam seolah-olah bisa menembus tengkorak kepala Aurelia dan mendeteksi setiap kebohongan yang baru saja diucapkannya.
"Anemia?" tanya Cassian, nadanya terdengar sangat skeptis. "Sejak kapan anemia bisa bikin seluruh tubuh sekaku kayu? Aku bahkan hampir nggak bisa menekuk lenganmu waktu menggendongmu tadi."
"Eh? Itu... itu karena ototku kram!" jawab Aurelia cepat, otaknya berputar dengan kecepatan penuh untuk mencari alasan. "Iya, kram ekstrem karena syok dingin! Aku kan lahir dan besar di wilayah Selatan yang hangat, Cassian. Aku belum terbiasa sama sekali sama suhu ekstrem di Utara yang kayak kulkas ini. Makanya tubuhku langsung bereaksi aneh."
Cassian menyipitkan matanya. Dia jelas tidak sepenuhnya percaya dengan penjelasan Aurelia. Ada terlalu banyak hal yang tidak ma**k akal pada diri istrinya sejak pernikahan mereka, dan malam ini kecurigaannya bener-bener mencapai puncaknya. Tapi melihat wajah Aurelia yang memang kelihatan sangat pucat dan lemas (efek dari kehilangan beberapa mililiter mana cair dari punggungnya), Cassian akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Tidurlah," kata Cassian singkat sambil berdiri dari tepi tempat tidur. "Besok pagi aku akan panggil dokter benteng untuk memeriksa kondisimu."
Mendengar kata "dokter", Aurelia langsung panik lagi. "Nggak! Maksudku... nggak usah, Cassian. Nggak perlu repot-repot panggil dokter."
Cassian menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, menatap Aurelia dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Kenapa? Kamu takut sama dokter?"
"B-bukan gitu," Aurelia buru-buru menyusun kalimat yang ma**k akal. "Aku cuma... aku udah biasa begini sejak kecil. Dokter keluarga di rumahku dulu bilang, kalau kondisiku lagi drop kayak gini, yang aku butuhin cuma istirahat total, selimut tebal, dan tidur yang c**up tanpa diganggu siapa pun. Minum obat-obatan medis malah sering bikin lambungku sakit dan kondisiku makin parah. Tolong ya, Cassian? Kasih aku waktu buat istirahat aja malam ini. Besok pagi aku pasti udah seger lagi, kok. Aku janji."
Aurelia memasang wajah paling memelas yang bisa dia usahakan, menatap Cassian dengan sepasang mata bulatnya yang kelihatan berkaca-kaca karena efek menahan perih di punggungnya.
Cassian diam membisu selama beberapa detik yang terasa sangat menyiksa bagi Aurelia. Akhirnya, cowok itu mendengus pelan dan membuang muka.
"Terserah kamu. Tapi kalau besok pagi kamu masih kelihatan kayak mayat hidup begini, aku nggak akan dengerin alasan kamu lagi," ujar Cassian dingin.
Dia kemudian berjalan ke sisi lain tempat tidur, menarik selimut besar itu, dan membaringkan tubuhnya di sana. Cassian langsung memunggungi Aurelia tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, menunjukkan kalau dia sudah tidak ingin berdebat.
Aurelia mengembuskan napas lega yang sangat panjang secara perlahan agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Dia kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Cassian dengan sangat hati-hati, menjaga agar gerakan tubuhnya tidak membuat jahitan di punggungnya bergesekan terlalu keras dengan ka**r.
Di dalam kegelapan kamar malam itu, ditemani suara desau angin malam Utara yang membentur dinding benteng, Aurelia menatap kosong ke arah kegelapan. Malam pertama saja sudah sehampir ini dia ketahuan. Bagaimana dia bisa bertahan hidup di tempat ini bersama suaminya yang sangat peka, dingin, dan penuh kecurigaan itu?
Satu hal yang pasti: begitu dia mendengar suara napas teratur Cassian yang menandakan cowok itu sudah tertidur lelap nanti, tangan kirinya harus segera mengambil kembali jarum jahit di bawah lemari dan menyelesaikan pekerjaannya sebelum fajar tiba.
Lanjutkan Membaca Bab 5 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!