Bab 6: Penyelamat Bayangan di Tengah Badai
Setelah perjuangan semalaman menjahit punggung sendiri yang robek—dengan posisi canggung setengah mati di depan cermin—Aurelia akhirnya bisa tidur beberapa jam. Pagi harinya, tubuh porselennya terasa agak kaku karena suhu Utara yang benar-benar ekstrem, tapi untungnya cairan mana birunya sudah berhenti merembes. Jahitan barunya terpasang kuat, setidaknya untuk sementara waktu kalau dia tidak melakukan gerakan ekstrem.
Namun, ketenangan Aurelia tidak bertahan lama.
Dari balik jendela kamarnya yang berembun, dia melihat kesibukan di halaman bawah benteng. Cassian, dengan jubah bulu hitamnya yang gagah dan pedang besar bertengger di punggung, sedang mengumpulkan pa**kannya. Wajah cowok itu kelihatan lebih tegang dari biasanya.
Aurelia membuka sedikit celah jendela, membiarkan angin dingin menusuk pipinya, mencoba menguping pembicaraan mereka.
"Ada laporan aktivitas tidak biasa di perbatasan hutan salju barat," suara berat Cassian terdengar samar tapi tegas di antara deru angin. "Energi hitam terdeteksi. Kita akan patroli sekarang. Tetap waspada."
Mendengar kata 'energi hitam', jantung Aurelia—yang sebenarnya adalah inti mana buatan—langsung berdegup kencang. Firasatnya mendadak nggak enak. Sebagai boneka yang hidup dari sihir tingkat tinggi, dia sangat sensitif terhadap hawa-hawa negatif. Dan udara pagi ini rasanya lengket, seperti ada bahaya besar yang sedang mengint** suaminya.
"Duh, kenapa sih itu cowok hobi banget cari perkara pagi-pagi begini?" gerutu Aurelia kesal.
Dia tahu dia harusnya diam saja di kamar hangat ini, selonjoran sambil minum teh. Tapi, kalau Cassian kenapa-kenapa di luar sana, posisinya sebagai istri di benteng ini juga bakal terancam. Dia butuh Cassian tetap hidup untuk melindunginya dari intrik kekaisaran.
"Oke, oke. Gue cuma bakal mantau dari jauh. Kalau aman, gue langsung balik," gumamnya pada diri sendiri.
Aurelia buru-buru menyambar jubah tebal berwarna abu-abu gelap yang sengaja dia pilih agar gampang menyatu dengan batang pohon hutan. Dengan gerakan seringan kapas—kelebihan lain dari tubuh bonekanya yang tidak memiliki bobot seperti manusia biasa—dia menyelinap keluar dari benteng lewat pintu belakang dekat dapur, lalu membuntuti pa**kan Cassian dari kejauhan.
***
Hutan salju di luar benteng benar-benar mirip labirin putih yang mematikan. Pohon-pohon pinus raksasa diselimuti es tebal, menciptakan bayangan-bayangan aneh di bawah langit mendung.
Aurelia melompat dari satu dahan pohon ke dahan lain dengan sangat hati-hati. Dia tidak boleh memicu jahitannya robek lagi. Tangannya yang dingin sesekali meraba punggung kirinya, memastikan semuanya masih aman terkendali.
Di bawah sana, sekitar seratus meter di depannya, Cassian memimpin barisan dengan langkah tegap. Gerakan cowok itu sangat waspada. Tangannya sudah siaga di gagang pedang.
Tiba-tiba, suhu di sekitar mereka anjlok drastis sampai-sampai napas yang keluar dari mulut terasa membeku seketika. Angin badai mendadak menderu kencang, menerbangkan salju hingga jarak pandang menjadi sangat terbatas.
*Grrrr...*
Suara geraman rendah yang menggetarkan tanah membuat pa**kan Cassian langsung berhenti dan membentuk formasi melingkar.
"Siaga!" teriak Cassian, suaranya membelah badai.
Dari balik kabut salju yang tebal, muncul sepasang mata merah menyala yang sangat besar. Disusul oleh sosok monster serigala es raksasa setinggi rumah dua lant**. Bulunya yang berwarna putih keperakan tampak dikotori oleh urat-urat hitam yang berdenyut di sekujur tubuhnya. Air liurnya yang menetes ke salju langsung membeku jadi es hitam yang beracun.
"A****, gede banget itu guguk!" batin Aurelia yang kini berjongkok di dahan pohon pinus tinggi, matanya terbelalak kaget. Dia bisa merasakan aura sihir hitam yang sangat pekat menyelimuti monster itu. Ini bukan monster liar biasa. Ini monster yang dikendalikan oleh seseorang dengan sihir hitam kuno.
Tanpa b***bu, serigala es itu melompat menerjang.
"Serang!" Cassian memberi komando sambil melompat ke depan, menebaskan pedang besarnya yang langsung dialiri aura emas terang.
*Clang!*
Pedang Cassian berbenturan dengan cakar monster itu, menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan salju di sekitar mereka. Pertempuran sengit pun pecah. Pa**kan Cassian berusaha menyerang dari samping menggunakan tombak dan panah sihir, tapi kulit monster itu sekeras baja karena dilapisi es pelindung.
Cassian bergerak dengan sangat lincah untuk ukuran cowok berbadan tegap. Dia berhasil menyabet kaki belakang monster itu, membuatnya melolong kesakitan. Tapi monster itu tidak bodoh. Dengan kibasan ekornya yang dilapisi duri es, beberapa prajurit Cassian terpental menab**k pohon hingga pingsan.
Pertarungan semakin kacau karena badai salju bertiup makin g***.
Cassian terus mendesak maju, berniat menusuk jantung monster itu secara langsung. Dia melompat tinggi, mengayunkan pedangnya ke arah leher si monster. Namun, itu adalah jebakan.
Monster serigala itu sengaja membiarkan lehernya terbuka. Saat Cassian berada di udara dan tidak bisa menghindar, dari balik tumpukan salju di belakang Cassian, muncul seekor serigala es kedua yang ukurannya sedikit lebih kecil tapi bergerak jauh lebih cepat.
Serigala kedua itu melompat dengan mulut terbuka lebar, taring-taring tajamnya mengincar punggung Cassian yang sama sekali tidak terlindungi.
"Sial, Cassian! Di belakang lu!" teriak salah satu prajurit yang terluka, tapi terlambat. Badai meredam suaranya, dan Cassian masih fokus menyelesaikan serangannya pada monster pertama.
Dari atas pohon, Aurelia melihat semuanya dalam gerakan lambat. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Cowok bodoh! Kenapa nggak lihat belakang, sih?!" umpat Aurelia panik.
Kalau Cassian kena gigitan itu, dia pasti tewas seketika, atau minimal lumpuh karena racun es hitam. Dan kalau Cassian mati, hidup Aurelia juga bakal berakhir di tangan para tetua kekaisaran yang licik.
Refleks, Aurelia menjulurkan kedua tangannya dari balik jubah.
"Jangan harap gue biarkan lu mati sekarang, Cassian," bisik Aurelia tajam. Matanya yang biasa kelihatan malas kini berkilat dingin.
Dia menggerakkan sepuluh jarinya dengan sangat cepat dan presisi. Ini adalah keahlian terbaiknya. Tangannya yang paling mengenal bagaimana cara mengendalikan benang-benang sihir, baik untuk menjahit tubuhnya sendiri maupun untuk membunuh.
*Sret! Sret! Sret!*
Dari ujung-ujung jari Aurelia, meluncur puluhan benang sihir transparan yang sangat tipis tapi lebih tajam dari silet terbaik di dunia. Benang-benang itu melesat membelah badai salju, mengarah langsung ke serigala es kedua yang hampir saja menancapkan taringnya ke punggung Cassian.
Dengan satu sentakan kuat dari jari-jari Aurelia, benang-benang transparan itu melilit tubuh serigala kedua di udara.
*SLASH!*
Hanya dalam hitungan satu detik, tubuh serigala es raksasa itu terpotong-potong menjadi belasan bagian rapi sebelum sempat menyentuh Cassian. Darah hitam dan potongan es monster itu menyembur ke segala arah, mengotori salju putih di bawahnya.
Bersamaan dengan itu, Cassian berhasil menebas kepala monster pertama hingga menggelinding di salju.
Begitu mendarat di tanah dengan mulus, Cassian langsung berbalik dengan waspada, bersiap menghadapi serangan dari belakang yang sempat dia rasakan hawa membunuhnya. Namun, pemandangan di depannya membuat cowok dingin itu terpaku.
Serigala kedua yang harusnya menyerangnya dari belakang kini sudah hancur berkeping-keping di atas salju. Potongannya begitu rapi, seolah-olah dipotong oleh pisau raksasa yang tak terlihat.
Cassian terengah-engah, matanya menyapu sekeliling dengan tajam. "Siapa? Siapa di sana?!" teriaknya kencang.
Dia tahu ini bukan ulah pa**kannya. Tidak ada satu pun prajuritnya yang memiliki kemampuan memotong monster sebersih ini dalam sekejap tanpa bersuara. Ini adalah pekerjaan seorang ahli sihir atau pembunuh bayaran tingkat tinggi.
Matanya yang tajam bak elang menangkap bayangan abu-abu di atas dahan pohon pinus yang jauh di balik kabut salju.
"Di sana!" Cassian langsung melesat mengejar bayangan itu dengan kecepatan luar biasa.
Di atas pohon, Aurelia membelalak bulat. "A****, dia cepat banget! Kabuuuur!" batinnya panik setengah mati.
Aurelia langsung menarik kembali semua benang sihirnya ke ujung jarinya, berbalik, dan melompat dari dahan ke dahan sekencang yang dia bisa. Gara-gara gerakan tiba-tiba itu, dia bisa merasakan sensasi perih yang luar biasa di punggung kirinya.
*Ah, sial! Jahitannya pasti ketarik lagi!* ringisnya dalam hati, menahan tangis. Tapi dia tidak punya waktu untuk peduli sekarang. Kalau dia tertangkap Cassian dalam kondisi seperti ini, identitasnya sebagai boneka sihir pasti bakal terbongkar. Dan hubungan pernikahan kontrak mereka yang baru dimulai bakal hancur berantakan.
Aurelia menggunakan sisa-sisa mana birunya untuk meringankan tubuh, melompat ke area tebing salju yang curam, lalu meluncur ke bawah menggunakan jubahnya, menghilang di balik badai salju yang semakin pekat.
Ketika Cassian sampai di dahan pohon tempat Aurelia berdiri tadi, sosok misterius itu sudah benar-benar lenyap tanpa jejak. Hanya ada sisa kehangatan mana yang sangat tipis di udara, serta beberapa helai benang transparan yang sangat halus yang tersangkut di ranting pohon, hampir tidak kelihatan kalau tidak dilihat dari dekat.
Cassian mengambil helai benang itu, mengamatinya di bawah cahaya minim. Benang itu sangat kuat, elastis, dan memiliki sisa energi sihir yang terasa akrab, tapi dia tidak bisa mengingat di mana dia pernah merasakannya.
"Benang...?" gumam Cassian heran, alisnya bertaut rapat. "Siapa sebenarnya sosok misterius yang menyelamatkanku tadi?"
Dia menatap ke arah badai salju yang luas dengan pandangan penuh selubung misteri, tanpa menyadari kalau penyelamat bayangan itu adalah istrinya sendiri yang kini sedang berlari pulang sambil mengumpat habis-habisan karena punggungnya yang perih luar biasa.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!