Sejak insiden menegangkan di hutan salju barat beberapa hari lalu, atmosfer di dalam benteng Utara berubah total. Cassian pulang dengan selamat tanpa luka berarti—terima kasih kepada 'bantuan misterius' yang sebenarnya adalah Aurelia—tapi kepulangan cowok itu malah membawa aura yang makin suram.
Cassian jadi berkali-kali lipat lebih protektif. Dan yang paling bikin Aurelia pusing: cowok itu jadi super curigaan.
"Perketat penjagaan di gerbang belakang. Jangan ada satu pun orang asing yang ma**k tanpa izin tertulis dari saya," suara bariton Cassian terdengar menggema dari ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka.
Aurelia yang kebetulan lewat sambil membawa secangkir teh hangat hanya bisa menghela napas pelan. Dia merapatkan jubah wolnya. Sejak pulang dari hutan, Cassian seperti singa yang kehilangan ketenangannya. Matanya yang tajam selalu mengawasi setiap sudut benteng, seolah-olah ada musuh tak kasat mata yang siap menerkam mereka kapan saja.
Dan sialnya, radar kecurigaan Cassian juga mengarah ke Aurelia.
Sering kali, Aurelia memergoki Cassian sedang memperhatikannya dari jauh. Tatapan cowok itu begitu intens, menyelidik, seolah sedang berusaha menguliti rahasia yang Aurelia sembunyikan rapat-rapat di balik tubuh porselennya. Aurelia harus ekstra hati-hati. Gerakan tubuhnya harus dibuat sealami mungkin. Dia bahkan harus berpura-pura bernapas secara teratur, padahal paru-parunya sama sekali tidak membutuhkan oksigen.
Malam harinya, badai salju kembali mengamuk di luar. Suara angin yang melolong kencang terdengar menakutkan, menghantam jendela kaca kamar mereka.
Aurelia duduk di kursi dekat perapian, menatap kobaran api yang menari-nari. Pikirannya melayang jauh. Dia sedang menghitung sisa mana di dalam inti tubuhnya. Kejadian menjahit punggungnya sendiri dan menyelinap ke hutan kemarin benar-benar menguras energinya. Cairan mana birunya memang sudah berhenti merembes, tapi tubuhnya terasa jauh lebih berat dan kaku dari biasanya. Suhu dingin Utara juga sama sekali tidak membantu.
*Duh, kalau begini terus, gue bisa mogok sebelum rencana pelarian gue matang,* batin Aurelia cemas. Dia menggosok-gosok kedua tangannya yang terasa sedingin es.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.
Cassian ma**k dengan langkah pelan. Dia sudah melepas jubah perang dan baju zirah beratnya, menyisakan kemeja hitam longgar yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan tulang selangka yang tegas. Rambut hitamnya agak berantakan, memberikan kesan s**** yang tidak sant**. Ganteng sih, parah. Tapi bagi Aurelia, kehadiran Cassian malam ini terasa seperti alarm bahaya yang berbunyi nyaring.
Aurelia buru-buru memasang senyum manis andalannya—senyum 'istri penurut' yang biasa dia gunakan untuk mengelabui cowok itu.
"Kamu baru selesai kerja, Cassian? Mau aku buatkan teh hangat?" tanya Aurelia lembut, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak gemetar.
Cassian tidak langsung menjawab. Dia berjalan mendekat, langkah kakinya hampir tidak bersuara di atas karpet tebal. Mata gelapnya menatap Aurelia lekat-lekat, membuat bulu kuduk cewek itu merinding.
"Tidak perlu," jawab Cassian singkat. Dia berhenti tepat di depan kursi Aurelia, menjulang tinggi bagai bayangan yang mendominasi seluruh ruangan. "Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah lewat tengah malam."
"Eks... itu, aku belum mengantuk. Lagipula di luar berisik banget karena badai," jawab Aurelia beralasan. Dia mencoba menyandarkan punggungnya ke kursi, sedikit menjaga jarak.
Cassian menyipitkan matanya. Dia memperhatikan jemari Aurelia yang saling bertautan di atas pangkuan. Tanpa aba-aba, Cassian berlutut dengan satu kaki di depan kursi Aurelia, menyeimbangkan tinggi mereka. Gerakan yang begitu tiba-tiba itu membuat Aurelia tersentak.
"Tanganmu," gumam Cassian. Sebelum Aurelia sempat menarik tangannya, Cassian sudah lebih dulu menyambarnya.
Begitu kulit mereka bersentuhan, Cassian langsung mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Kenapa tanganmu dingin sekali? Seperti mayat."
Jantung Aurelia—maksudnya, inti mana di dadanya—seakan berhenti berfungsi sesaat. Dia memaksakan tawa kecil yang terdengar garing. "Ah, masa sih? Kan di luar lagi badai salju ekstrem. Wajar dong kalau aku kedinginan. Aku kan cuma manusia biasa yang lemah, gak kayak kamu yang punya kekuatan monster."
Aurelia mencoba menarik tangannya secara halus, tapi genggaman Cassian justru semakin erat. Alih-alih melepaskan, Cassian malah berdiri, lalu dengan satu gerakan tak terduga, dia menarik pergelangan tangan Aurelia hingga cewek itu terpaksa berdiri dari kursinya.
"Eh? Cassian, mau apa—"
Belum sempat Aurelia menyelesaikan kalimatnya, Cassian sudah menarik pinggangnya posesif. Dalam sekejap, tubuh Aurelia menempel sempurna pada dada bidang Cassian. Cowok itu mendekapnya erat dari depan, menyelimuti tubuh mungil Aurelia dengan kehangatan tubuhnya sendiri yang kontras sekali dengan suhu tubuh Aurelia yang beku.
Aurelia membelalakkan mata. Tubuhnya menegang kaku seperti batu.
Ini bukan sekadar pelukan biasa. Cassian memeluknya sangat erat, menyandarkan dagunya di bahu Aurelia, sementara satu tangan besarnya mengusap punggung Aurelia—tepat di area bekas jahitan kemarin—dan tangan satunya lagi mendekap erat pinggang belakangnya.
"Suhu tubuhmu benar-benar tidak ma**k akal, Aurelia," bisik Cassian tepat di samping telinganya. Suara berat dan napas hangat cowok itu menggelitik leher Aurelia, tapi yang dirasakan Aurelia saat ini bukanlah sensasi romantis, melainkan horor tingkat dewa.
*Mampus! Mampus! Mampus!* jerit Aurelia dalam hati. Otaknya mendadak *blank*.
Posisi dada mereka sekarang benar-benar menempel rapat. Cassian adalah seorang ksatria tingkat tinggi dengan indra peraba dan pendengaran yang sangat sensitif. Jika dia terus mendekapnya sedekat ini, dalam hitungan detik dia pasti akan menyadari sesuatu yang sangat fatal.
Dada kiri Aurelia sama sekali tidak berdetak. Kosong. Sunyi. Tidak ada aliran darah, tidak ada denyut kehidupan.
Bagi manusia normal, tidak memiliki detak jantung sama dengan mati. Kalau Cassian tahu istrinya tidak punya detak jantung, rahasia bahwa dia adalah boneka sihir akan terbongkar malam ini juga. Dia bisa dituduh sebagai mata-mata, monster, atau penyihir hitam, lalu kepalanya bakal dipenggal di tempat!
Panic attack langsung menyerang Aurelia. Dia harus melakukan sesuatu. Sekarang juga!
*Mana... gue butuh mana!* Aurelia memejamkan matanya rapat-rapat. Dia memeras sisa-sisa energi sihir biru yang ada di dalam inti tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Mengalirkan mana dalam kondisi tubuh lelah seperti ini rasanya luar biasa menyakitkan, seperti ada jarum-jarum es yang menusuk-nusuk pembuluh buatannya. Tapi Aurelia tidak punya pilihan lain. Dia mengarahkan aliran mana itu menuju ke dada kirinya, tepat di balik tulang rusuk buatannya.
*Ayo, please! Detak! Bikin detakan tiruan sekarang!* pintanya histeris dalam hati.
Dia mencoba menciptakan getaran mekanis menggunakan tekanan mana.
*Deg.*
Satu detakan berhasil tercipta, tapi terlalu lemah dan lambat. Aurelia bisa merasakan tubuh Cassian sedikit bergerak, seolah cowok itu menyadari keanehan dari dada istrinya yang terlalu sepi.
*Lebih kuat! Ayo, lebih cepat!* Aurelia menggertakkan giginya menahan ngilu. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Dia memaksakan mananya berputar lebih cepat, menciptakan gesekan energi yang menghasilkan denyut berirama.
*Deg... Deg... Deg...*
Denyut tiruan itu mulai terbentuk. Aurelia sengaja mempercepat temponya hingga terdengar seperti detak jantung manusia yang sedang ketakutan atau gugup setengah mati.
*Deg-deg-deg-deg-deg!*
Detakannya terdengar sangat cepat dan keras, bahkan bisa dirasakan dengan jelas oleh dada Cassian yang menempel padanya.
Merasakan detak jantung yang mengg*** itu, Cassian perlahan melonggarkan pelukannya. Dia mundur satu langkah, tapi kedua tangannya masih memegang bahu Aurelia. Mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Aurelia yang bergetar.
"Jantungmu..." Cassian bergumam, suaranya terdengar heran sekaligus curiga. "Kenapa berdetak secepat ini? Kamu... takut padaku?"
Aurelia buru-buru mengatur napas buatannya agar terlihat memburu, seolah-olah dia memang sedang kewalahan karena kepalang malu atau takut. Dia memasang wajah merona—yang untungnya bisa dia manipulasi sedikit dengan mengalirkan sisa mana hangat ke pipinya.
"Y-ya iyalah! Siapa yang gak jantungan kalau tiba-tiba dipeluk erat begini?!" seru Aurelia dengan nada kesal yang dibuat-buat. Dia berpura-pura cemberut sambil memukul pelan dada Cassian. "Lagian kamu tuh aneh banget malam ini. Datang-datang langsung meluk, gak pakai permisi lagi. Aku kan kaget!"
Cassian menatapnya diam, seolah sedang menganalisis apakah reaksi Aurelia ini asli atau hanya akting. Detak jantung tiruan di dada Aurelia masih terus dia pertahankan dengan susah payah. Rasanya luar biasa melelahkan. Rasanya seperti menyalakan mesin tua yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya. Kalau pelukan ini tidak segera berakhir, Aurelia bisa pingsan karena kehabisan mana.
"Aku hanya ingin menghangatkanmu," ucap Cassian pelan, suaranya terdengar sedikit melunak, meski matanya tetap waspada. "Tubuhmu dingin sekali seperti es yang tidak bisa mencair. Aku khawatir."
"Aku gak apa-apa, Cassian. Sungguh," ujar Aurelia, mencoba meyakinkan dengan senyum paling manis yang dia punya. Dia melepaskan tangan Cassian dari bahunya secara perlahan. "Mungkin aku cuma kurang tidur dan butuh selimut tebal. Di kamar ini kan AC-nya—maksudku, udaranya dingin banget."
Cassian terdiam sejenak, menatap Aurelia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ketegangan di antara mereka masih terasa sangat pekat. Cassian jelas tidak sepenuhnya percaya, tapi dia juga tidak punya bukti konkret untuk menuduh istrinya bermacam-macam. Detak jantung yang dia rasakan tadi terasa sangat nyata—meski sebenarnya itu hanyalah manipulasi sihir yang hampir membuat Aurelia mati berdiri.
"Baiklah. Kalau begitu, cepat tidur," kata Cassian akhirnya. Dia berbalik, berjalan menuju tempat tidur ukuran *king size* mereka dan merebahkan diri di sana, memunggungi Aurelia. "Aku tidak mau punya istri yang mati konyol karena kedinginan di bentengku sendiri."
Aurelia menghela napas lega yang luar biasa panjang setelah Cassian berbalik. Begitu cowok itu tidak melihatnya, Aurelia langsung menghentikan aliran mananya.
*Deg...* dan detak jantung buatan itu langsung lenyap seketika. Dadanya kembali sunyi senyap, dingin, dan kosong.
Aurelia memegangi dadanya yang terasa nyeri luar biasa akibat dipaksa bekerja keras tadi. Dia berjalan gont** menuju sisi tempat tidur yang kosong, lalu menyelimuti dirinya hingga ke leher.
Sambil menatap langit-langit kamar yang gelap, Aurelia membatin dengan penuh kecemasan. Hidup satu atap dengan Cassian ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang dia bayangkan. Mulai sekarang, dia tidak boleh lengah sedikit pun. Karena jika sekali saja dia lengah, suaminya yang super curigaan itu akan langsung menyadari bahwa perempuan yang tidur di sebelahnya ini... sebenarnya sama sekali tidak memiliki kehidupan di dalam dadanya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!