Bab 8: Obsesi Baru Sang Duke
Tatapan mata abu-abu Cassian malam itu benar-benar mengintimidasi. Rasanya seperti sedang diinterogasi oleh detektif kepolisian, padahal status mereka adalah suami istri. Cowok itu berdiri terlalu dekat, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara tubuh mereka. Aroma parfum maskulin bercampur dinginnya salju dari tubuh Cassian langsung menyeruak, membuat Aurelia mendadak mati kutu.
"Kenapa diam saja?" tanya Cassian, suaranya rendah dan terdengar sangat serak. "Kamu kelihatan tegang setiap kali aku mendekat, Aurelia. Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari suamimu sendiri?"
Aurelia buru-buru memaksakan sebuah tawa kecil. Terdengar agak canggung, tapi dia berusaha keras menutupi kepanikannya. *Si****, nih cowok sensitif banget sih indranya! Bisa-bisanya dia sadar gue lagi ketakutan,* batin Aurelia berteriak heboh.
"Tentu saja tidak, Cassian. Aku cuma... agak terkejut saja karena kamu tiba-tiba ma**k tanpa mengetuk pintu," jawab Aurelia sesant** mungkin. Dia sengaja memundurkan langkahnya perlahan, memberi jarak aman agar Cassian tidak bisa mendengar detak jantungnyaβyang sebenarnya memang tidak ada karena dia hanyalah sebuah boneka. "Dan soal teh hangat itu, kamu mau?"
Cassian tidak menjawab. Matanya menyipit, memperhatikan setiap gerak-gerik Aurelia dengan saksama. Sejak kejadian di hutan salju barat, Cassian seperti kera**kan s**** rasa penasaran. Pikirannya tidak bisa tenang. Bayangan tentang sosok misterius yang menyelamatkannya malam itu terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak.
Sosok itu menggunakan sihir manipulasi benang yang sangat langka. Dan yang paling membuat Cassian frustrasi adalah kenyataan bahwa hawa sihir itu terasa sangat familier di inderanya. Sangat mirip dengan aura yang terkadang tipis-tipis dia rasakan di dalam benteng ini. Tapi siapa? Siapa orang di bentengnya yang memiliki kemampuan hebat seperti itu tanpa sepengetahuannya?
"Tidak usah repot-repot buat teh," kata Cassian akhirnya. Dia berbalik, berjalan menuju meja kerjanya yang berada di sudut kamar, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu besar. "Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Memikirkan apa? Masalah keamanan benteng?" tanya Aurelia memancing. Dia berjalan mendekat, pura-pura merapikan tumpukan buku di dekat perapian agar terlihat sibuk.
"Tentang orang yang menolongku di hutan salju," jawab Cassian lugas. Matanya menatap lurus ke arah kobaran api perapian. "Dia menggunakan sihir benang. Sihir yang sangat kuno dan langka. Aku sudah menyuruh seluruh ksatria bayangan untuk menyisir wilayah Utara, mencari siapa saja yang memiliki aliran sihir seperti itu. Tapi hasilnya nihil."
Aurelia yang sedang memegang sebuah buku tebal hampir saja menjatuhkannya. Jantung fiktifnya rasanya mau copot. *Mampus gue. Dia beneran nyari! Cowok ini kalau udah penasaran emang obsesifnya gak main-main, ya? Red flag banget sih heronya,* umpat Aurelia dalam hati, mulai overthinking tingkat dewa.
"M-mungkin saja dia cuma pengembara yang kebetulan lewat, kan?" Aurelia mencoba memberikan argumen logis untuk mengalihkan kecurigaan Cassian. "Dunia ini luas, Cassian. Banyak penyihir hebat yang memilih hidup terisolasi dan enggan mendaftarkan diri ke menara sihir."
"Pengembara?" Cassian terkekeh sinis. Suaranya terdengar meremehkan. "Tidak mungkin. Seseorang dengan kemampuan selevel itu tidak akan berkeliaran di tengah badai salju Utara tanpa tujuan. Dia sengaja menolongku, Aurelia. Dan aku merasa... dia sangat dekat denganku."
Cassian tiba-tiba berdiri dari kursinya dan berjalan cepat ke arah Aurelia. Sebelum Aurelia sempat bereaksi, Cassian sudah meraih tangan kanan Aurelia.
Sentuhan tangan Cassian yang hangat dan kokoh membuat Aurelia tersentak. Tapi sedetik kemudian, kepanikan yang sesungguhnya menyerang Aurelia. Dia buru-buru menarik tangannya kembali dengan gerakan yang agak kasar, membuat Cassian mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa? Tanganmu dingin sekali," ujar Cassian, menatap telapak tangan Aurelia yang baru saja dilepaskannya.
"Ah, i-itu... seperti yang kubilang tadi, suhu di kamar ini agak dingin. Kulitku sensitif dengan cuaca ekstrem," dalih Aurelia dengan senyum yang dipaksakan. Dia menyembunyikan kedua tangannya di balik lipatan gaun tidurnya yang longgar.
Di balik kain gaun itu, jemari tangan Aurelia sebenarnya sedang gemetar hebat. Bukan karena gugup, tapi karena rasa sakit yang mulai menjalar di sepanjang persendian buatannya.
***
Keesokan harinya, kecurigaan dan obsesi Cassian bukannya mereda, malah makin menjadi-jadi. Kamar kerja sang Duke dipenuhi dengan dokumen-dokumen kuno tentang sejarah sihir manipulasi fisik dan boneka. Dia bahkan melewatkan waktu makan siangnya hanya untuk membaca gulungan kertas tua yang berdebu.
"Duke, Anda harus makan. Duchesse Aurelia secara khusus meminta pelayan untuk mengantarkan sup hangat ini untuk Anda," ujar Noah, asisten pribadi sekaligus ksatria kepercayaan Cassian, sambil meletakkan nampan makanan di meja kerja.
Cassian tidak mengalihkan pandangannya dari buku tebal di hadapannya. "Noah, apa menurutmu mungkin bagi seseorang untuk menyembunyikan inti sihirnya secara total hingga tidak bisa dideteksi oleh batu pengukur mana?"
Noah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa agak heran dengan pertanyaan tuannya yang belakangan ini selalu melantur ke arah hal-hal mistis. "Secara teori, itu sangat sulit, Duke. Kecuali jika orang tersebut menggunakan artefak tingkat tinggi, atau... tubuhnya sendiri adalah wadah sihir."
Mendengar kata 'wadah sihir', gerakan tangan Cassian yang sedang membalik halaman buku langsung terhenti. Matanya berkilat tajam. Pikiran-pikiran liar mulai bermunculan di kepalanya.
*Wadah sihir. Sesuatu yang diciptakan, bukan dilahirkan,* batin Cassian. Pikirannya entah bagaimana kembali melayang pada sosok istrinya, Aurelia. Sejak mereka menikah, Aurelia selalu terlihat sangat tenang, hampir tanpa emosi yang meledak-ledak. Dan gerakannya... terkadang terlihat terlalu sempurna, terlalu presisi untuk ukuran manusia biasa.
"Selidiki latar belakang keluarga Aurelia sekali lagi," perintah Cassian tiba-tiba dengan nada dingin yang tidak terbantahkan.
Noah terkejut. "Maaf, Duke? Bukankah kita sudah memeriksa latar belakang Duchesse sebelum pernikahan?"
"Periksa lagi. Lebih det**l. Cari tahu apakah dia pernah mempelajari sihir secara rahasia, atau jika ada kerabat keluarganya yang memiliki koneksi dengan para pembuat boneka sihir. Lakukan tanpa menimbulkan kegaduhan," tegas Cassian.
Noah hanya bisa membungkuk hormat. "Baik, Duke. Segera saya laksanakan."
Setelah Noah keluar dari ruangan, Cassian menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Obsesinya terhadap 'penyelamat bayangan' itu sudah di luar batas wajar. Dia merasa ego kelelakiannya terusik karena diselamatkan oleh seseorang yang bahkan tidak mau menunjukkan wajahnya. Ditambah lagi, rasa familier yang terus menghantuinya membuat Cassian merasa seperti sedang dipermainkan oleh takdir.
***
Sementara itu, di kamar pribadinya yang terletak di sayap barat benteng, Aurelia sedang duduk di depan meja rias dengan napas memburu. Keringat dinginβyang sebenarnya merupakan sisa-sisa cairan mana yang menguapβmembasahi keningnya.
Dengan tangan gemetar, Aurelia melepas sarung tangan sutra putih yang sejak pagi tadi dia kenakan.
Begitu sarung tangan itu terlepas, Aurelia hampir saja menjerit histeris. Dia buru-buru membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak terdengar keluar kamar.
"Oh, tuhan... ini buruk banget. Parah," bisik Aurelia dengan mata berkaca-kaca karena panik.
Kulit porselen di area jemari tangan kanannya tidak lagi hanya retak halus. Kali ini, retakannya sudah melebar, membentuk celah-celah berwarna kehitaman yang kering. Serpihan putih seperti bubuk kapur mulai berjatuhan dari sela-sela jarinya setiap kali dia menggerakkan tangan.
Aurelia buru-buru mengambil kotak jahit rahasianya dari laci paling bawah. Dia mengambil jarum perak dan benang mana biru yang biasa dia gunakan untuk memperbaiki tubuhnya. Dengan tangan kirinya yang masih berfungsi c**up baik, dia mencoba menusukkan jarum itu ke kulit jarinya yang retak.
*Sreett!*
Bukannya menyatu, jarum itu justru membuat retakan di kulitnya semakin melebar. Kulit buatannya sudah kehilangan elastisitasnya secara permanen. Penggunaan sihir boneka yang terlalu intensif saat menyelamatkan Cassian kemarin rupanya telah merusak struktur inti tubuh buatannya dari dalam.
"Nggak bisa dijahit lagi..." gumam Aurelia, suaranya bergetar menahan tangis frustrasi. "Kenapa malah makin hancur kayak gini sih?"
Dia mencoba mengalirkan mana birunya untuk memicu regenerasi sel buatan, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dadanya terasa sangat sesak dan nyeri. Inti mana di dalam tubuhnya terasa seperti sedang terkikis habis. Cairan mana yang tersisa di dalam tubuhnya tidak lagi c**up untuk mempertahankan wujud manusiawinya dalam jangka waktu lama.
Aurelia menyandarkan kepalanya di atas meja rias, menatap nanar ke arah cermin yang memantulkan wajah cantiknya yang kini terlihat sangat pucat, seputih mayat.
Dia tahu betul konsekuensi dari keputusannya menggunakan sihir kemarin. Tapi dia tidak menyangka dampaknya akan secepat dan sekejam ini. Tubuh boneka ini memiliki batas maksimal, dan dia telah melewati batas itu demi menyelamatkan cowok keras kepala bernama Cassian.
*Gue b*** banget ya?* pikir Aurelia, merutuki dirinya sendiri. *Ngapain juga gue repot-repot nyelamatin cowok cold-hearted kayak dia? Sekarang lihat diri gue sendiri. Gue bahkan gak tahu apa gue bisa bertahan sampai bulan depan.*
Aurelia mulai merasa waktunya di dunia ini tidak akan lama lagi. Rencana pelariannya yang sudah dia susun dengan sangat rapi kini terancam gagal total. Bagaimana dia bisa kabur dan bertahan hidup di luar sana jika tubuhnya sendiri mulai runtuh dan hancur menjadi debu porselen?
"Gue harus cepat-cepat pergi dari sini," bisik Aurelia pada dirinya sendiri, tekadnya kembali menguat di tengah rasa putus asa. "Sebelum Cassian tahu identitas gue yang sebenarnya, dan sebelum tubuh ini bener-bener mogok total."
Dia buru-buru memakai kembali sarung tangan sutranya, kali ini dia melapisinya dengan sarung tangan wol yang lebih tebal untuk menyembunyikan bentuk jemarinya yang mulai tidak rata. Dia harus bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja di depan Cassian. Satu kesalahan kecil saja, dan semua rahasianya akan terbongkar. Dan Aurelia tahu betul, jika Cassian sampai tahu yang sebenarnya, cowok itu tidak akan pernah melepaskannya begitu saja.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!