Bab 9: Makan Malam yang Menegangkan
Suasana ruang makan malam ini benar-benar tidak sehat untuk kesehatan mental.
Aurelia duduk di kursi kayu berukir megah, menatap piring steak di depannya tanpa selera. Di ujung meja yang panjang, Cassian sedang memotong dagingnya dengan gerakan yang kelewat tenang, tapi aura di sekitarnya terasa sangat menekan. Dingin, menusuk, dan penuh selidik.
Sejak obrolan aneh mereka di kamar kemarin, Cassian jadi makin protektif sekaligus curigaan. Cowok itu selalu mengawasinya seolah-olah Aurelia adalah buronan yang siap kabur kapan saja.
"Makan yang banyak, Aurelia. Kamu kelihatan makin pucat belakangan ini," ucap Cassian tiba-tiba. Suara baritonnya memecah keheningan ruang makan.
Aurelia tersenyum kaku, tangannya memainkan garpu. "Aku cuma agak kurang nafsu makan, Cassian. Cuaca Utara kan memang lagi dingin-dinginnya."
*Padahal aslinya karena gue emang nggak butuh makan makanan manusia, b***!* teriak Aurelia dalam hati. Dia ini mayat hidup yang digerakkan oleh sihir hitam dan benang jiwanya sendiri. Makan makanan biasa sebenarnya cuma formalitas biar tidak kelihatan aneh di depan para pelayan. Kalau dia makan kebanyakan, perutnya malah bakal sakit karena organ dalamnya tidak berfungsi seperti manusia normal.
"Itu dia masalahnya," Cassian meletakkan pisau dan garpunya dengan denting pelan yang terdengar dramatis. "Kamu selalu punya alasan. Makanya, malam ini aku mengundang seseorang untuk memeriksa keadaanmu."
*Deg.*
Jantung fiktif Aurelia rasanya berhenti berdetakβtunggu, jantungnya memang sudah tidak berdetak, tapi kali ini sensasi syoknya benar-benar nyata sampai membuat bulu kuduknya meremang.
"M-mengundang seseorang? Siapa?" tanya Aurelia, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar.
Belum sempat Cassian menjawab, pintu ganda ruang makan terbuka lebar. Seorang pelayan membungkuk hormat, menyambut tamu yang baru saja tiba.
"Tuan Duke, Father Damian sudah tiba," lapor pelayan itu.
Seorang pria jangkung dengan jubah putih bersih beraksen emas khas kuil suci melangkah ma**k. Di pundaknya, tersemat lencana militer berpangkat tinggi. Wajahnya rupawan tapi dingin, tipikal pendeta militer yang sudah biasa melihat medan perang. Namanya Damian, seorang dokter militer sekaligus pendeta suci tingkat tinggi yang terkenal dengan kemampuan deteksi sihirnya yang luar biasa.
Aurelia langsung membeku di tempatnya. Kepalanya mendadak pusing, saking paniknya sampai dia merasa ingin pingsan saat itu juga.
*An****, ini sih g***!* batin Aurelia berteriak histeris. *Father Damian? Pendeta suci tingkat tinggi yang punya sihir deteksi paling sensitif se-kekaisaran? Cassian g*** ya?! Kenapa harus bawa orang suci ke benteng ini?!*
Bagi makhluk seperti Aureliaβyang pada dasarnya adalah mayat hidup yang bertahan dengan sihir terlarangβpendeta suci adalah musuh alami nomor satu. Hawa suci dari tubuh Damian saja sudah membuat kulit Aurelia terasa perih, seperti didekatkan ke kompor panas. Kalau pendeta itu sampai memeriksa aliran darah atau energinya, rahasia besarnya pasti akan langsung terbongkar saat itu juga. Damian akan tahu kalau di dalam tubuh Aurelia tidak ada darah yang mengalir, tidak ada detak jantung, dan yang ada hanyalah gumpalan sihir hitam pekat!
"Selamat malam, Duke Cassian. Dan... selamat malam, Grand Duchess," sapa Damian dengan senyum ramah yang menurut Aurelia malah kelihatan seperti seringai malaikat maut.
"Terima kasih sudah datang di tengah badai salju, Damian," balas Cassian. Dia berdiri, lalu memberi isyarat ke arah Aurelia. "Langsung saja. Tolong periksa istriku. Tubuhnya selalu sedingin es, wajahnya pucat, dan dia hampir tidak pernah menyentuh makanannya. Aku khawatir ada penyakit dalam yang menyerangnya."
Damian mengangguk paham. "Tentu saja. Sebagai pendeta, mendeteksi penyakit dan ketidakseimbangan aliran mana adalah keahlian saya."
Damian berjalan mendekat ke arah Aurelia. Setiap langkah pria itu terasa seperti ketukan lonceng kematian di telinga Aurelia. Otak Aurelia langsung bekerja super cepat, berputar mencari cara untuk selamat.
*Overthinking* tingkat dewa langsung menyerangnya. *Gue harus gimana? Kabur? Gak mungkin, Cassian pasti langsung curiga. Pura-pura pingsan? Malah makin gampang diperiksa sama nih pendeta. Sial, sial, sial! Gue harus pakai sihir ilusi. Tapi memanipulasi alat pendeteksi kuil suci itu butuh sihir tingkat tinggi! Efek sampingnya pasti bakal bikin tubuh boneka gue rusak!*
Tapi Aurelia tidak punya pilihan lain. Ini masalah hidup dan mati (atau lebih tepatnya, tetap hidup sebagai mayat atau dihancurkan jadi abu oleh kuil).
"Silakan, Duchess. Boleh saya pinjam tangan Anda?" Damian mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan putih. Di tangan kirinya, dia memegang sebuah pendulum kristal suci yang berkilau keemasan. Alat itu adalah pendeteksi aliran sihir dan tanda-tanda vital paling akurat di dunia ini.
Aurelia menelan ludah yang terasa kesat. Dengan gerakan lambat yang gemetar, dia mengulurkan tangannya.
Begitu ujung jari Damian menyentuh pergelangan tangannya, Aurelia langsung memejamkan mata sesaat. Di bawah meja, tangan kirinya yang bebas bergerak cepat secara sembunyi-sembunyi. Dia merajut benang-benang mananya yang tipis tak kasatmata, mengarahkannya langsung ke arah pendulum kristal milik Damian.
*Ayo, please, bekerja!* doa Aurelia dalam hati. Dia menggunakan sihir ilusi tingkat tinggi, menyuntikkan manipulasi energi ke dalam pendulum tersebut untuk memalsukan detak jantung, suhu tubuh, dan aliran darah normal manusia. Dia menyamarkan hawa kematiannya dengan ilusi kehidupan yang hangat.
Begitu energi ilusi Aurelia berbenturan dengan energi suci dari pendulum, rasa sakit yang luar biasa langsung menghantam kepalanya. Rasanya seperti ada ribuan jarum panas yang menusuk-nusuk otaknya sekaligus. Dadanya terasa sangat sesak, seolah-olah paru-parunya yang tidak berfungsi itu dipaksa menghirup racun.
Aurelia mati-matian menahan ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan tersenyum, padahal di dalam tubuhnya, sihirnya sedang bertarung hebat dengan energi suci Damian.
Pendulum kristal di tangan Damian mulai berputar. Cahaya keemasan terpancar darinya, berkedip-kedip beberapa kali sebelum akhirnya memancarkan warna hijau stabilβtanda bahwa tubuh yang diperiksa dalam kondisi sehat walafiat.
Damian mengernyitkan dahi, tampak sedikit bingung. "Hmm... ini aneh."
Jantung imajiner Aurelia rasanya mau copot lagi. "Ada yang salah, Father?" tanya Aurelia dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, padahal dia sudah gemetaran menahan sakit.
"Aliran mana dan tanda vital Anda... sangat stabil. Bahkan terlalu stabil, seperti tidak ada gejolak emosi sama sekali," gumam Damian sambil memperhatikan pendulumnya yang masih berwarna hijau. "Suhu tubuh Anda memang agak rendah, tapi itu normal bagi orang yang belum terbiasa dengan cuaca ekstrem di Utara. Secara keseluruhan, Anda sangat sehat, Duchess."
Cassian yang sejak tadi memperhatikan dengan mata menyipit akhirnya bersuara. "Kamu yakin, Damian? Tapi dia hampir tidak pernah makan."
"Mungkin hanya stres atau kelelahan biasa, Duke. Saya akan meresepkan beberapa ramuan herbal penambah nafsu makan untuk beliau," jawab Damian sambil merapikan kembali alat-alatnya.
Aurelia langsung menarik napas lega dalam hati. Berhasil. Sihir ilusinya sukses mengelabui alat suci itu. Tapi harga yang harus dibayarnya sangatlah mahal. Tubuhnya sekarang terasa lemas luar biasa, seperti semua energinya baru saja dikuras habis sampai tetes terakhir. Kepalanya berputar hebat, dan ada rasa mual yang luar biasa bergejolak di dadanya.
"Terima kasih banyak, Father Damian," ucap Aurelia, suaranya kini terdengar sangat lemas tanpa perlu dibuat-buat. Dia buru-buru berdiri dari kursinya. "Cassian, Father... maafkan aku. Tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing. Aku izin ke kamar mandi sebentar."
"Aurelia? Kamu tidak apa-apa?" Cassian tampak ingin berdiri dan menghampirinya, tapi Aurelia dengan cepat melambaikan tangan menolak.
"Tidak apa-apa, aku cuma butuh memba**h muka. Tolong temani Father Damian dulu," potong Aurelia cepat sebelum Cassian sempat curiga lagi.
Dengan langkah yang dipaksakan agar terlihat tegap, Aurelia berjalan keluar dari ruang makan. Begitu pintu tertutup dan dia berada di koridor yang sepi, pertahanannya langsung runtuh. Dia bertumpu pada dinding batu benteng yang dingin, berjalan setengah menyeret kakinya menuju kamar mandi terdekat yang berada di ujung lorong.
*Sial, lemes banget... dada gue rasanya mau meledak,* keluh Aurelia dalam hati, matanya mulai berkunang-kunang.
Begitu sampai di kamar mandi, dia langsung menutup pintu kayu tebal itu dan menguncinya rapat-rapat. Aurelia berjalan sempoyongan mendekati wastafel batu, mencengkeram pinggirannya dengan erat. Tubuhnya gemetar hebat.
"Uhuk!"
Aurelia membungkuk, dan dari tenggorokannya keluar cairan hitam pekat yang menjijikkan. Cairan itu adalah *mana* hitam murni yang terkontaminasi oleh energi suci pendulum tadi. Tubuhnya menolak energi suci tersebut, memaksanya keluar dalam bentuk muntahan hitam yang berbau seperti belerang terbakar.
"Uhuk... k-kurang ajar..." Aurelia meringis kesakitan, air mata fiktifnya sampai keluar karena menahan perih di tenggorokannya.
Dia memuntahkan cairan hitam itu beberapa kali sampai wastafel batu itu dipenuhi noda gelap yang mengerikan. Rasanya sangat menyiksa. Ini adalah efek samping dari benturan sihir hitam tingkat tinggi miliknya dengan sihir suci kuil. Tubuh bonekanya hampir saja hancur dari dalam kalau dia terlambat memutuskan kontak tadi.
Dengan tangan gemetar, Aurelia menyalakan keran air, memba**h mulutnya dan membersihkan semua sisa cairan hitam di wastafel sampai tidak bersisa sama sekali. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya yang memang sudah pucat sekarang kelihatan hampir transparan, seperti hantu sungguhan. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas akibat kehabisan energi.
"G***... kalau begini terus, gue bisa beneran mati sebelum rencana gue selesai," bisik Aurelia pada dirinya sendiri, napasnya tersengal-sengal.
Dia mencengkeram dadanya yang terasa hampa. Cassian benar-benar berbahaya. Rasa penasaran dan obsesi cowok itu untuk menyelidiki segala hal bisa membunuhnya kapan saja. Malam ini dia mungkin selamat, tapi bagaimana dengan besok? Atau lusa?
Aurelia harus ekstra hati-hati. Mulai sekarang, dia tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun di depan suaminya yang terlampau peka itu.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!