**Bab 1: Visual 10 Per 10**
Jam tujuh pagi di area parkir fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik selalu punya *vibe* yang sama: suram, mengantuk, dan dipenuhi mahasiswa berwajah zombi yang butuh a**pan kafein darurat. Senin pagi adalah musuh bersama. Semua orang berjalan dengan langkah gont**, kepala tertunduk menatap layar ponsel, atau sibuk menguap lebar-lebar tanpa peduli estetika.
Kecuali satu orang.
Pintu mobil Honda Civic putih yang terparkir di slot depan terbuka. Dari dalam sana, aroma parfum *high-end* perpaduan vanilla hangat dan musk langsung menguar, menjajah udara pagi yang dingin karena sisa hujan semalam.
Sepasang sepatu *sneakers* putih bersih menapak ke aspal. Pemiliknya keluar dengan gerakan sant** yang terkesan sangat sinematik.
Kanaya. Tapi seisi kampus lebih mengenalnya sebagai Naya.
Naya membetulkan letak tas bahu hitam kecilnya, lalu menyelipkan beberapa helai rambut kecokelatannya yang sengaja dicepol asal-asalan ke belakang telinga. Pagi ini, penampilannya benar-benar membuat mata yang mengantuk langsung melek sempurna.
Ia mengenakan *tanktop* putih tipis berbahan rajut halus yang melekat ketat di tubuhnya, dipadukan dengan *high-waisted loose jeans* berwarna biru pudar. Di luar, ia hanya mengenakan kardigan rajut warna krem longgar yang sengaja dibiarkan melorot hingga ke siku, memamerkan bahu mulusnya yang seputih porselen. Dan yang paling membuat orang-orang salah fokus: Naya tidak mengenakan b**. Bentuk dadanya tercetak samar di balik bahan *tanktop* tipis itu, menantang angin pagi dengan sangat berani.
Naya berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang. Di tangan kanannya, ia memegang segelas *iced americano* ukuran *grande*.
Seketika, koridor yang tadinya bising oleh obrolan malas berubah sunyi selama beberapa detik, sebelum kemudian dipenuhi bisik-bisik tertahan.
"G***... itu si Naya, kan?"
"Pagi-pagi udah dapet a**pan visual sepuluh per sepuluh. Gak kuat gue."
"Dia gak kedinginan apa, ya? Itu... a****, gak pakai b**?"
"Ssshh! Pelanin suara lo! Tapi asli, *damage*-nya gak main-main."
Beberapa mahasiswa laki-laki yang sedang nongkrong di depan mading langsung menegakkan tubuh. Pandangan mereka tidak lepas dari cara Naya berjalan—pinggulnya yang berayun sant**, leher jenjangnya, dan cara pakaian minim itu membungkus tubuhnya dengan sempurna. S****sekaligus elegan. Tidak ada kesan murahan sama sekali, justru Naya terlihat seperti model yang salah tersesat ke dalam koridor kampus kelas karyawan.
Di sudut lain, beberapa mahasiswi memberikan tatapan sinis. Mereka berbisik di balik telapak tangan, melemparkan pandangan menghakimi.
"Caper banget sih. Mau kuliah apa mau ke kelab?" cibir seorang mahasiswi berambut sebahu dengan nada judes yang sengaja dikeraskan.
Naya mendengar itu. Sangat jelas malah. Namun, alih-alih tersinggung atau buru-buru membetulkan kardigannya untuk menutupi tubuh, Naya justru menghentikan langkahnya sebentar. Ia menoleh ke arah gerombolan mahasiswi judes itu, melempar senyum manis yang sangat menawan—sekaligus sangat menyebalkan karena terkesan begitu cuek—lalu melanjutkan langkahnya tanpa beban.
Bagian terbaik dari menjadi Naya adalah: dia sama sekali tidak peduli.
***
"G*** ya lo, Nay. Lo bener-bener mau bikin anak-anak cowok seangkatan mati muda karena serangan jantung?"
Begitu Naya melangkah ma**k ke dalam ruang kelas Teori Hubungan Internasional yang ber-AC dingin, Tasya—sahabatnya sejak semester satu—langsung menyambutnya dengan mata melotot. Tasya yang sedang memakai jaket denim tebal langsung merapatkan pakaiannya sendiri, merasa kontras dengan penampilan Naya yang 'kurang bahan'.
Naya terkekeh pelan. Ia menarik kursi di sebelah Tasya, lalu meletakkan kopi dan iPad-nya di atas meja. "Kenapa sih? Masih pagi, jangan tegang-tegang amat."
"Gimana gak tegang? Lo lihat tuh di luar," Tasya menunjuk ke arah jendela kelas dengan dagunya. "Anak-anak kelas sebelah sengaja nongkrong di koridor cuma buat ngintip lo. Lagian lo berani banget sih gak pakai b** ke kelas pagi? Dosennya kan Pak Subagyo, beliau kan agak... ya lo tahu sendiri, kolot."
Naya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menopang dagunya dengan satu tangan. Matanya yang indah menatap Tasya dengan binar jenaka. "Sya, *my body, my choice*. Gerah tahu gak pakai benda berkawat itu pagi-pagi. Lagian, Pak Subagyo gak bakal merhatiin baju gue kalau gue bisa jawab semua pertanyaan dia dengan bener."
Tasya hanya bisa menepuk dahinya pasrah. "Iya deh, si paling pintar, si paling *it-girl*. Gue akuin visual lo hari ini emang sepuluh per sepuluh. Tapi tetep aja, nyali lo segede gaban."
Tepat setelah itu, Pak Subagyo ma**k ke dalam kelas. Suasana langsung senyap. Dosen senior berkacamata tebal itu meletakkan tas kulitnya yang tampak usang dan langsung memulai kuliah tanpa banyak basa-basi.
"Hari ini kita akan membahas tentang Neoliberalisme dalam Hubungan Internasional," suara Pak Subagyo yang berat bergema di ruangan. "Ada yang bisa menjelaskan perbedaan mendasar antara Realisme dan Neoliberalisme dalam memandang institusi internasional?"
Keheningan melanda kelas. Mahasiswa yang tadinya sibuk memandangi Naya langsung menunduk, pura-pura sibuk menulis atau mencari sesuatu di bawah meja agar tidak ditunjuk.
Pak Subagyo mengedarkan pandangannya yang tajam. Matanya sempat berhenti selama beberapa detik pada penampilan Naya yang mencolok di baris ketiga. Dosen itu berdeham, tampak sedikit tidak nyaman, namun kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah Naya.
"Ya, Kanaya. Silakan."
Tasya menyenggol siku Naya dengan panik, tapi Naya tetap tenang. Ia tidak terlihat gugup sama sekali. Naya menegakkan posisi duduknya, membuat *tanktop* putihnya sedikit bergeser, namun fokusnya kini sepenuhnya ada pada pertanyaan dosen.
"Realisme memandang institusi internasional hanya sebagai alat bagi negara-negara kuat untuk mencapai kepentingan nasional mereka, karena sifat sistem internasional yang anarkis," jawab Naya dengan suara yang jernih, lantang, dan sangat percaya diri. "Sedangkan Neoliberalisme, lewat pemikiran Robert Keohane, percaya bahwa institusi internasional bisa memfasilitasi kerja sama jangka panjang dengan cara mengurangi biaya transaksi dan mengatasi masalah *cheating* atau kecurangan antarnegara. Jadi, bagi Neoliberalis, institusi itu punya peran independen untuk menciptakan perdamaian, bukan cuma sekadar pajangan."
Penjelasan itu mengalir begitu lancar dari bibir merah muda Naya yang dipulas *lip-tint* tipis. Tanpa terbata-bata, tanpa perlu melihat catatan di iPad-nya.
Pak Subagyo terdiam sejenak. Ia membetulkan letak kacamata tebalnya, lalu mengangguk perlahan dengan ekspresi puas yang tidak bisa disembunyikan. "Penjelasan yang sangat bagus dan komprehensif, Kanaya. Terima kasih."
Naya tersenyum tipis. "Sama-sama, Pak."
Di sebelahnya, Tasya berbisik kagum. "G***. Otak lo emang encer banget, Nay. Gue bahkan belum buka bab itu semalem."
Naya hanya mengedipkan sebelah matanya. Di balik penampilannya yang dicap 'berani' dan 'hanya modal tampang' oleh orang-orang yang membencinya, Naya selalu memastikan bahwa otaknya berada di level yang sama dengan visualnya. Dia menolak menjadi sekadar pajangan cantik yang kosong.
***
Dua jam berlalu dengan cepat. Begitu kelas berakhir, mahasiswa berhamburan keluar. Naya merapikan barang-barangnya ke dalam tas. Ia merasa sedikit gerah karena AC kelas yang tiba-tiba mati di tiga puluh menit terakhir kuliah.
"Nay, kantin yuk? Laper nih gue," ajak Tasya sambil menggendong ranselnya.
"Bentar ya, Sya. Gue mau ke toilet dulu, gerah banget. Lo duluan aja ke kantin, nanti gue nyusul," jawab Naya sambil tersenyum.
"Oke deh. Jangan lama-lama ya, gue pesenin batagor kesukaan lo."
"Sip."
Naya berjalan menuju toilet yang berada di ujung koridor lant** dua. Toilet sedang sepi karena sebagian besar mahasiswa langsung menuju ke kantin atau pulang. Begitu ma**k, Naya langsung menuju wastafel. Ia menyalakan keran, memba**h tangannya yang terasa dingin, lalu menatap pantulan dirinya di cermin besar di hadapannya.
Ia menatap *tanktop* putih yang dikenakannya. Menatap lehernya, bahunya, lalu wajahnya sendiri. Naya menghela napas panjang. Senyum sant** yang dipasangnya sepanjang pagi tadi perlahan luntur, digantikan oleh gurat kelelahan yang teramat sangat.
Tiba-tiba, ponselnya yang diletakkan di pinggiran wastafel bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama pemanggil yang seketika membuat perut Naya terasa melilit karena cemas.
*Mama Calling...*
Naya memejamkan matanya rapat-rapat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa takut yang teramat familier. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Ma?" suara Naya terdengar jauh lebih pelan, kehilangan semua nada percaya diri yang ia miliki beberapa menit lalu di kelas.
"Kanaya," suara di seberang sana terdengar sangat dingin, tanpa ada nada hangat khas seorang ibu yang merindukan anaknya. "Mama baru saja menerima laporan dari dosen walimu."
Naya menahan napasnya. "Laporan apa, Ma?"
"Nilai UTS matakuliah Pengantar Hukum Internasional kamu. Kenapa kamu bisa mendapatkan nilai B+? Kamu bercanda?" nada suara ibunya meninggi, terdengar tajam dan menusuk langsung ke ulu hati Naya.
"Ma, nilai B+ itu masih bagus..."
"Bagus kata kamu?!" potong ibunya dengan cepat, tidak memberikan celah bagi Naya untuk membela diri. "Kanaya, kamu itu anak keluarga Adiningrat. Papa kamu sedang dicalonkan untuk posisi penting di kementerian, dan kakak-kakakmu semuanya lulusan terbaik dari luar negeri dengan predikat *Summa Cum Laude*. Kamu mau mempermalukan keluarga kita dengan nilai B+ di kampus dalam negeri?"
Naya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya ke arah cermin menjadi kabur. "Naya udah berusaha keras, Ma. Tugas-tugas Naya semuanya dapet A..."
"Mama tidak mau tahu alasanmu," potong ibunya lagi, dingin dan mutlak. "Mama kuliahkan kamu di sana agar kamu bisa membangun relasi yang baik dan memiliki transkrip nilai yang sempurna. IPK-mu semester ini tidak boleh kurang dari 3.9. Jika nilai akhir matakuliah itu tidak berubah menjadi A, Mama akan memotong semua fasilitas kamu, terma**k mobil dan apartemenmu. Kamu mengerti?"
Air mata Naya akhirnya luruh, membasahi pipinya yang mulus. Bahunya bergetar, namun ia berusaha sekuat tenaga agar suara tangisnya tidak terdengar oleh ibunya.
"Iya, Ma. Naya mengerti," jawab Naya dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.
"Bagus. Jangan buat Mama dan Papa kecewa lagi. Jaga sikapmu di kampus. Jangan sampai ada gosip miring tentang kamu yang bisa merusak nama baik keluarga."
*Pip.*
Sambungan telepon diputus secara sepihak.
Naya perlahan menurunkan ponselnya. Kamar mandi yang sunyi itu kini terasa sangat menyesakkan, seolah-olah dinding-dindingnya perlahan bergerak merapat untuk menghimpit tubuhnya hingga hancur.
Naya menumpu kedua tangannya di pinggiran wastafel, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dadanya naik-turun dengan cepat saat ia berusaha menghirup oksigen yang terasa sangat tipis. Rasa sesak yang teramat sangat menghantam dadanya, membuat dadanya terasa ngilu.
Di balik topeng *it-girl* yang ia kenakan setiap hari, di balik senyum cuek dan pakaian berani yang sengaja ia pakai untuk memprovokasi dunia seolah-olah ia memegang kendali penuh atas dirinya sendiri, Naya hanyalah seorang gadis remaja yang kesepian. Gadis yang terus-menerus dituntut untuk menjadi sempurna, menjadi boneka pajangan demi reputasi keluarganya yang g*** hormat.
Ia memakai pakaian minim, menolak memakai b**, dan bersikap cuek bebek sebenarnya adalah bentuk pemberontakan kecilnya yang menyedihkan. Di dunia luar, ia bisa berpura-pura menjadi ratu yang berkuasa atas tubuh dan hidupnya sendiri. Namun begitu ponselnya berdering dan nama ibunya muncul di layar, seluruh kekuasaan fiktif itu runtuh seketika, menyisakan dirinya yang rapuh dan ketakutan.
Naya menyalakan keran wastafel lagi, memba**h wajahnya dengan air dingin untuk menghapus bekas air mata dan memperbaiki penampilannya. Ia menatap pantulan dirinya sekali lagi di cermin.
Ia membetulkan cepol rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya selama beberapa detik, lalu mengembuskannya perlahan.
Naya memulas kembali *lip-tint* merah mudanya. Ia membetulkan letak kardigan kremnya agar melorot dengan cara yang sempurna, menampilkan bahunya kembali. Perlahan, senyum cuek nan menggoda itu kembali terukir di wajahnya. Topengnya sudah terpasang kembali dengan rapat.
Sebab bagi dunia luar, Kanaya harus selalu menjadi visual sepuluh per sepuluh yang tanpa cela—dan tanpa beban. Tak ada yang boleh tahu seberapa hancur dirinya di dalam.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!