Tanktop Putih di Kelas Pagi

Bab 2: Cowok Pojok Kelas

Pengaturan Membaca

Ponsel di dalam tas bahu Naya bergetar dua kali.

Ia tidak perlu membukanya untuk tahu siapa yang mengirim pesan. Pasti dari grup keluargaβ€”atau lebih tepatnya, sisa-sisa dari apa yang dulu mereka sebut keluarga. Pagi ini, sebelum berangkat kuliah, Naya sempat mendengar pecahan vas bunga favorit mamanya beradu dengan lant** ruang tamu, disusul teriakan papanya yang menuntut perceraian secepatnya.

Rumah mewah mereka sudah terasa seperti neraka yang dingin. Dan Naya? Ia memilih melarikan diri ke kampus dengan penampilan yang sengaja dibuat sevulgar dan semenarik mungkin. Biar saja seisi dunia menatapnya. Setidaknya, tatapan penuh damba dan gosip miring dari orang-orang jauh lebih baik daripada keheningan mencekam di rumahnya sendiri.

Naya mengembuskan napas panjang, lalu melangkah ma**k ke area kantin FISIP yang sudah ramai. Bau minyak gorengan bercampur aroma kopi instan langsung menyambut indra penciumannya.

"Nay! Sini!"

Suara melengking itu berasal dari meja panjang di sudut dekat penjual jus buah. Rara, sahabatnya sejak semester satu, melambaikan tangan dengan heboh. Di sebelah Rara, ada Fandi dan Rio, dua cowok dari jurusan Komunikasi yang biasanya selalu mengekor di mana pun Naya berada.

Naya tersenyum lebar. Senyum andalannya yang tampak sangat ceria dan tanpa beban. Ia berjalan menghampiri meja mereka, sengaja membiarkan kardigan kremnya merosot sedikit lebih rendah di bahu kirinya.

"Pagi, Guys," sapa Naya sant**, langsung mengambil tempat duduk di sebelah Rara.

"G***, Nay! Lo hari ini... *damage*-nya gak ada obat," celetuk Rio, matanya hampir tidak berkedip menatap bagian dada Naya yang tercetak samar di balik *tanktop* putih tipisnya. "Gue langsung segar bugar, gak butuh kopi lagi."

Fandi ikut menimpali sambil menyenggol lengan Rio. "Otak lo langsung traveling ya, kutu kupret? Tapi asli, Nay, lo berani banget. Gak takut ma**k angin apa?"

Naya tertawa renyah, seolah komentar-komentar itu adalah pujian paling biasa yang ia dengar setiap hari. Ia menyesap *iced americano*-nya perlahan. "Ma**k angin tinggal kerokan. Yang penting gaya nomor satu, dong."

"Sumpah, Nay, lo emang paling-paling," Rara menggeleng-gelengkan kepala, walau matanya juga tak lepas dari bahu mulus Naya. "Tapi lo gak capek apa ditatapin kayak mau dimakan sama anak-anak satu kantin?"

Naya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin. Benar saja. Hampir setiap pasang mata cowok di tempat itu sedang mengarah ke mejanya. Ada yang berbisik-bisik, ada yang sengaja tertawa keras untuk menarik perhatiannya, dan ada juga yang menatapnya dengan pandangan lapar yang sangat kentara. Naya sudah biasa. Ia tahu dirinya cantik, ia tahu tubuhnya proporsional, dan ia tahu cara memanfaatkannya untuk membuat dirinya merasa 'ada' di tengah hancurnya dunianya sendiri.

Namun, saat pandangan Naya menyapu area paling pojok kantinβ€”dekat pohon kamboja yang tumbuh di pembatas pagarβ€”langkah matanya terhenti.

Di sana, di meja kayu paling ujung yang agak remang karena terlindung bayangan pohon, duduk seorang cowok sendirian.

Cowok itu mengenakan *hoodie* hitam longgar dengan lengan yang digulung sampai ke siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang menonjol tegas. Rambut hitamnya agak berantakan, jatuh sedikit menutupi dahinya. Di depannya, tidak ada makanan atau minuman manis, hanya ada satu cup kopi hitam instan yang sudah dingin dan sebuah buku sketsa tebal bersampul kulit hitam.

Arga.

Naya langsung mengenalinya. Dia adalah mahasiswa jurusan Arsitektur yang entah bagaimana bisa tersesat di kelas matkul umum Pancasila yang sama dengannya setiap hari Senin jam delapan pagi. Dan satu hal yang paling khas dari Arga: dia selalu duduk di pojok paling belakang kelas, tidak pernah bersosialisasi, dan hampir tidak pernah bersuara kecuali saat namanya diabsen oleh dosen.

Entah karena merasa sedang diperhatikan, Arga perlahan mendongakkan kepalanya dari buku sket.

Mata mereka bertemu.

Naya menahan napasnya selama satu detik. Ia sudah terbiasa dengan reaksi para cowok yang langsung salah tingkah, membuang muka dengan gugup, atau justru melemparkan senyum genit saat kepergok menatapnya. Namun, Arga tidak melakukan ketiganya.

Cowok itu hanya menatap Naya dengan ekspresi datar yang sangat tenang. Matanya yang gelap melirik sekilas ke arah bahu terbuka Naya, lalu ke arah *tanktop* tipisnya, tanpa ada binar ketertarikan, tanpa rasa lapar, bahkan tanpa penilaian sama sekali. Pandangan Arga murni seperti seseorang yang sedang melihat tiang listrik atau tembok jalanan yang kebetulan lewat di depannya.

Setelah dua detik yang terasa sangat lambat, Arga kembali menundukkan kepala. Ia meraih pensil mekaniknya, lalu kembali sibuk menggoreskan garis-garis rumit di atas kertas sketsanya.

Naya tertegun. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di pipinya, bukan karena malu, melainkan karena ego-nya yang mendadak merasa terpukul.

*Dia... barusan cuek banget?* batin Naya tidak percaya.

Selama ini, tidak ada cowok di kampus ini yang bisa mengabaikannya begitu saja saat ia berpenampilan seberani ini. Bahkan para dosen muda pun kadang salah fokus jika berbicara dengannya. Tapi cowok pojok kelas itu? Dia bahkan tidak melirik untuk kedua kalinya.

"Nay? Lo ngelihatin apa sih?" tanya Rara, membuyarkan lamunan Naya.

Naya berdeham kecil, mencoba mengembalikan ekspresi sant**nya. Ia meletakkan gelas kopinya ke meja dengan bunyi ketukan yang agak keras. "Gak ada. Itu... cowok di pojok sana. Anak Arsitektur yang sekelas Pancasila sama kita, kan?"

Rara menoleh ke arah yang ditunjuk dengan dagu Naya. "Oh, si Arga? Iya, bener. Kenapa? Tumben lo nanyain dia."

"Enggak, nanya aja. Dia emang selalu se-asik sendiri itu, ya?" tanya Naya, berusaha terdengar se-ka**al mungkin, meski matanya masih sesekali melirik ke arah meja Arga.

"Yee, lo baru tahu?" Fandi menyambar percakapan. "Si Arga mah emang makhluk astral, Nay. Gak punya sirkel di FISIP. Di jurusannya sendiri aja dia terkenal kuper. Kerjaan dia cuma gambar, ngerjain maket, terus pulang. Gak usah dideketin, gak asik diajak nongkrong."

"Bukan kuper, tahu," sela Rara membela. "Dia itu emang misterius aja. Tapi denger-denger sih prestasinya ngeri. Desain bangunannya pernah menang kompetisi nasional pas semester tiga kemarin. Cuma ya gitu, anaknya emang dingin banget. Kayak gak punya gairah hidup."

Naya mendengarkan penjelasan teman-temannya dengan saksama. Matanya kembali menatap Arga dari kejauhan. Cowok itu sekarang sedang menggunakan penghapus kecil untuk merapikan garis di sketsanya, meniup sisa-sisa karet penghapus dengan gerakan perlahan yang entah kenapa terlihat sangat estetik di mata Naya.

Ada rasa penasaran yang tiba-tiba menggelitik dada Naya. Rasa penasaran yang sudah lama tidak ia rasakan. Di tengah hidupnya yang bising oleh pertengkaran orang tuanya dan kepura-puraan sosial medianya, ketenangan yang dimiliki Arga mendadak terlihat sangat kontras dan... menarik.

"Masa sih sedingin itu?" gumam Naya pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.

"Lo jangan bilang penasaran sama dia, Nay," goda Rio sambil tertawa meremehkan. "Tipe lo kan biasanya cowok-cowok mobil sport anak teknik yang hobi dugem. Arga mah gak selevel sama gaya hidup lo."

Naya langsung memberikan tatapan tajam yang manja pada Rio. "Siapa juga yang penasaran? Dih, males banget. Gue cuma nanya karena dia kelihatan aneh aja sendirian di pojok kayak pojokan lap basah."

Rara dan yang lainnya tertawa mendengar celetukan Naya. Naya pun ikut tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. Namun di dalam hatinya, ego Naya sedang bergolak.

Ia tidak suka diabaikan. Dan sikap cuek Arga barusan benar-benar menantang harga dirinya.

"Eh, udah jam delapan kurang sepuluh, nih. Ma**k kelas yuk, ntar Bu Ratna keburu datang. Bisa dikunciin kita di luar," ajak Rara sambil membereskan tasnya.

"Yuk," sahut Naya. Ia berdiri, membetulkan letak kardigannya yang melorotβ€”kali ini dengan sengaja menariknya sedikit ke atas agar lebih rapi, meski bagian dadanya tetap tercetak jelas di balik *tanktop* putihnya.

Saat mereka berjalan keluar dari kantin melewati meja pojok, Naya sengaja melambatkan langkahnya. Ia ingin tahu apakah Arga akan mendongak saat ia lewat di dekatnya. Aromanya yang semerbak vanilla harusnya c**up untuk membuat hidung siapa pun sensitif.

Namun, sampai Naya benar-benar melewati meja itu dan melangkah keluar dari area kantin, Arga sama sekali tidak mengangkat kepalanya. Cowok itu tetap fokus pada buku sketsanya, seolah-olah Kanaya dan segala pesona visualnya hanyalah angin lalu yang tidak penting untuk mengganggu konsentrasinya.

Naya menggigit bibir bawahnya pelan. Tangannya mengepal erat di tali tas bahunya.

*Oke, Arga,* batin Naya dengan seringai tipis yang tersembunyi di balik wajah cantiknya. *Lo berhasil bikin gue tertarik. Kita lihat seberapa lama lo bisa terus-terusan bersikap cuek kayak gitu di depan gue.*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca