Tanktop Putih di Kelas Pagi

Bab 3: Titik Batas

Pengaturan Membaca

Pandangan Naya terhenti pada cowok yang duduk sendirian di meja paling pojok itu. Cowok dengan kaus hitam longgar dan *headphone* yang melingkar di lehernya. Elian. Cowok dari kelas Sejarah Teori Sosial tadi, yang sama sekali tidak menoleh saat Naya ma**k ke kelas dengan pakaian super minimnya. Di saat cowok-cowok lain menatap Naya seolah ingin menelanjanginya dengan pikiran mereka, Elian justru terlihat sangat sibuk dengan dunianya sendiri, mencatat sesuatu di buku sketsa tebalnya.

Rasa penasaran sempat melintas di benak Naya, namun getaran kuat dari ponsel di dalam tasnya langsung membuyarkan fokusnya.

*Bzzzt. Bzzzt.*

Naya merogoh tasnya, mengambil ponsel berlogo apel digigit itu dengan gerakan sant**. Senyumnya masih mengembang saat ia membuka kunci layar. Namun, begitu matanya membaca nama pengirim pesan di bilah notifikasi, senyum itu langsung membeku.

**Papa:**

*Nadia baru aja telepon Papa. Dia keterima kerja di firma hukum ternama di London, langsung dapet kontrak jangka panjang setelah lulus S2 dengan predikat Summa Cum Laude. Papa bangga banget. Gak sia-sia Papa invest banyak buat kakakmu.*

*Beda banget sama kamu, Naya. Kuliah di jurusan gak jelas, IPK pas-pasan, tiap hari kerjaannya cuma foya-foya pake kartu kredit Papa. Tadi pagi Papa dapet laporan dari tante kamu, katanya kamu ke kampus pakai baju kurang bahan kayak perempuan gak bener. Papa malu, Naya. Papa benar-benar malu punya anak kayak kamu. Mulai bulan depan, Papa stop semua uang jajan kamu. Biar kamu mikir. Jangan harap bisa minta dari Mama juga, kami berdua udah sepakat buat urus perceraian minggu ini. Urus hidupmu sendiri.*

Dunia di sekitar Naya mendadak hening.

Suara tawa kencang Rio, obrolan Rara tentang gosip cutting, dan bisingnya suasana kantin FISIP seolah tersaring keluar dari pendengarannya. Yang tersisa hanya suara detak jantungnya sendiri yang mendadak berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan brutal.

Napas Naya tercekat. Kata-kata di layar ponsel itu seperti belati yang sengaja diputar-putar di dalam dadanya.

*Perempuan gak bener.*

*Papa malu.*

*Anak gak berguna.*

"Nay? Lo kenapa?" Rara menyenggol lengan Naya, menyadari perubahan drastis pada ekspresi wajah sahabatnya. "Muka lo kok langsung pucat banget gitu? Sakit?"

Naya buru-buru membalikkan layar ponselnya ke bawah. Ia memaksakan sebuah senyuman, meski sudut-sudut bibirnya bergetar hebat. "Ah... enggak kok. Gue... gue cuma lupa ada tugas yang belum dikumpulin jam sepuluh ini."

"Serius? Tugas makul apa?" Fandi ikut bertanya, menatap Naya dengan dahi berkerut cemas.

"Ada deh. Gue... gue duluan ya, Guys. Mau ke perpus bentar," kata Naya dengan suara yang mendadak serak. Ia menyambar tas bahunya dengan tergesa-gesa.

"Eh, americano lo belum abis, Nay!" teriak Rara.

Namun Naya tidak peduli. Ia setengah berlari meninggalkan area kantin.

Begitu kakinya melangkah keluar dari batas kantin dan mema**ki koridor gedung utama, rasa sesak itu menghantamnya dua kali lipat lebih hebat. Udara di sekitarnya mendadak terasa sangat tipis. Naya mencoba menarik napas dalam-dalam, tapi paru-parunya seperti menolak untuk bekerja. Dadanya terasa sangat sempit, seolah ada sepasang tangan tak kasat mata yang mencengkeram tenggorokannya erat-erat.

*Gak bisa napas. Gue gak bisa napas.*

Beberapa mahasiswa yang berjalan berlawanan arah menatapnya. Tatapan mereka yang biasanya membuat Naya merasa percaya diri, kini terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya. Naya merasa te*******, bukan karena pakaiannya, melainkan karena semua keburukan dan kegagalannya seolah terpampang nyata di dahi. Mereka semua pasti tahu kalau dia adalah anak yang tidak berguna. Mereka semua pasti sedang menertawakannya.

"Eh, itu si Naya kan? Yang tadi pagi heboh di grup angkatan..."

"Iya, yang pake tanktop putih itu..."

Bisikan-bisikan ituβ€”entah nyata atau hanya halusinasi akibat rasa takutnya yang berlebihanβ€”mulai berdengung di telinga Naya. Kepalanya pusing luar biasa. Pandangannya mulai buram dan berputar. Lorong kampus yang panjang itu terasa bergoyang, seolah ingin runtuh dan menimbunnya hidup-hidup.

Naya panik. Ia butuh tempat sembunyi. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan orang-orang. Ia tidak boleh menangis di koridor ini.

Dengan sisa tenaga yang ada, Naya berbalik arah. Ia berlari sekencang mungkin menuju gedung lama di bagian belakang kampusβ€”area Fakultas Teknik dan Arsitektur yang biasanya lebih sepi di jam-jam kuliah pagi seperti ini. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai luruh, merusak maskara dan *eyeliner* hitam di matanya.

Langkah kakinya yang mengenakan *flat shoes* berbunyi nyaring di sepanjang lorong gedung lama yang lengang. Naya mencari pintu mana saja yang terbuka. Di ujung lorong lant** dua, ia melihat sebuah pintu kayu dengan papan nama kuningan yang sudah kusam: **STUDIO GAMBAR 4**.

Tanpa berpikir panjang, Naya mendorong pintu itu. Untungnya tidak terkunci.

Begitu ma**k, bau khas kertas kalkir, kayu, dan debu langsung menyergap indra penciumannya. Studio itu kosong melongpong. Barisan meja gambar arsitektur yang besar dan miring berjejer rapi di bawah temaram cahaya matahari yang menerobos dari jendela-jendela besar di sisi kiri ruangan.

Naya segera menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam.

Begitu kunci berbunyi *klik*, pertahanan diri Naya runtuh sepenuhnya. Kakinya mendadak lemas seperti jeli. Ia merosot turun, bersandar pada daun pintu kayu yang dingin, lalu terduduk di lant** dengan kedua lutut ditekuk ke dada.

"Hah... hah... hah..."

Naya megap-megap seperti ikan yang dikeluarkan dari air. Ia mencengkeram dada kirinya kuat-kuat. Tanktop putih tipisnya kini basah oleh keringat dingin yang mengucur deras. Rasanya sangat sakit. Dadanya seperti dihantam dengan godam besar berulang kali.

*Gue mau mati. Gue bener-bener mau mati.*

Pikiran buruk itu menguasai otaknya. Naya mulai terisak, suara tangisnya yang tertahan terdengar menyedihkan di dalam studio yang sunyi itu. Ia memeluk lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di sana. Tubuhnya gemetar hebat, dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Setiap kali ia mencoba menghirup oksigen, yang didapatnya hanyalah rasa perih yang menjalar di tenggorokan. Kepalanya terasa sangat ringan, seolah jiwanya siap melayang keluar dari raganya kapan saja. Pandangannya benar-benar gelap saat ia memejamkan mata, namun bayangan pecahan vas bunga di rumahnya, teriakan kasar papanya, dan kalimat-kalimat menyakitkan di pesan singkat tadi justru berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

*Kamu gak berguna, Naya.*

*Kakakmu jauh lebih baik.*

*Papa malu punya anak kayak kamu.*

"Gak... enggak... tolong..." gumam Naya di sela tangisnya yang semakin histeris. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan, mencoba mengalihkan rasa sakit di dadanya dengan rasa sakit fisik yang lain. "Tolong... stop..."

Kardigan krem yang tadi pagi ia kenakan dengan gaya jatuh di bahu kini sudah terlepas sepenuhnya, tergeletak tak berdaya di lant** kotor di sebelahnya. Meninggalkan Naya yang hanya mengenakan tanktop putih tipis, meringkuk seperti anak kecil yang ketakutan di sudut ruangan yang gelap.

Di titik ini, Naya menyadari satu hal yang paling menyakitkan. Di balik semua penampilan berani, senyum menantang, dan perhatian palsu yang ia cari dari cowok-cowok di kampus, dia hanyalah seorang gadis remaja yang hancur. Gadis yang kesepian, yang tidak diinginkan oleh siapa pun, bahkan oleh orang tuanya sendiri.

Dan di studio gambar yang sunyi ini, di batas kekuatannya yang telah runtuh, Naya hanya bisa menangis sendirian, tenggelam dalam serangan panik yang perlahan-lahan merenggut seluruh kesadarannya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca