Tanktop Putih di Kelas Pagi

Bab 4: Jaket Flanel Hangat

Pengaturan Membaca

**Bab 4: Jaket Flanel Hangat**

Udara di sekitar Naya mendadak terasa tipis, seolah-olah pasokan oksigen di seluruh koridor kampus FISIP telah disedot habis. Naya terus berjalan setengah berlari, tidak tahu arah tujuannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai mendesak keluar, mengaburkan pandangannya. Kakinya yang mengenakan *strap heels* terasa lemas, hampir tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya yang mendadak terasa begitu berat oleh beban tak kasatmata.

Dia butuh tempat sembunyi. Tempat di mana tidak ada satu pun orang yang mengenalnya. Tempat di mana tidak ada yang bisa melihatnya hancur.

Langkah kaki Naya membawanya melewati lorong penghubung menuju gedung Fakultas Teknik. Di ujung lorong lant** dua, ada sebuah pintu kayu tua yang sedikit terbuka. Di atasnya tertulis papan nama kusam: *Studio Gambar & Maket*. Suasana di sekitar sana sepi. Sebagian besar mahasiswa Teknik sipil atau arsitektur mungkin sedang berada di kelas siang atau studio utama yang lebih baru.

Tanpa berpikir panjang, Naya mendorong pintu itu dan menyelinap ma**k.

Bau lem Aibon, serbuk kayu, dan kertas karton tebal langsung menyergap indra penciumannya. Ruangan itu c**up luas, dipenuhi meja-meja gambar miring berkaki tinggi dan beberapa lemari kayu yang penuh dengan sisa-sisa maket yang sudah berdebu. Naya berjalan terhuyung-huyung ke sudut ruangan yang paling gelap, di balik lemari penyimpanan besar.

Begitu tubuhnya menyentuh dinding yang dingin, pertahanan Naya runtuh sepenuhnya.

Ia merosot hingga terduduk di lant** berubin abu-abu. Kedua lututnya ditekuk erat ke dada, menyembunyikan wajahnya yang kini basah kuyup oleh air mata. Tubuh Naya gemetar hebat. Dadanya naik-turun dengan cepat, berusaha meraup udara, namun yang ia rasakan justru rasa sesak yang semakin mencekik.

*“Beda banget sama kamu, Naya. Kuliah di jurusan gak jelas, IPK pas-pasan, tiap hari kerjaannya cuma foya-foya...”*

*“Papa malu, Naya. Papa benar-benar malu punya anak kayak kamu.”*

Suara dingin papanya terus bergema di kepalanya, berputar-putar seperti kaset rusak yang menyiksa. Naya mencengkeram rambutnya sendiri. Isak tangisnya yang tertahan terdengar menyedihkan di keheningan studio itu. Dia merasa sangat kecil, sangat kotor, dan sangat tidak diinginkan.

Selama ini, dia memakai tanktop ketat, rok mini, dan makeup tebal sebagai tameng. Dia ingin dunia melihatnya sebagai cewek pemberontak yang tidak peduli pada apa pun. Tapi hari ini, tameng itu retak berkeping-keping hanya karena beberapa baris pesan teks. Di balik pakaian minimnya yang selalu mengundang bisik-bisik miring, Naya hanyalah seorang anak perempuan yang merindukan pelukan hangat orang tuanya—yang sayangnya, tidak akan pernah ia dapatkan.

*Kret...*

Suara gesekan kayu yang halus terdengar dari balik sekat meja di ujung ruangan lain. Naya tersentak. Ia menahan napasnya seketika, menghentikan tangisnya meski dadanya masih berdenyut sakit karena menahan sesak.

Ada orang lain di sini.

Naya buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan, berusaha tidak bersuara. Namun, suara langkah kaki yang sant** terdengar semakin mendekat ke arah tempat persembunyiannya.

"Siapa di situ?" sebuah suara cowok terdengar berat, tenang, namun ada nada penasaran di dalamnya.

Naya memejamkan mata erat-erat. *Tolong, jangan lihat gue kayak gini,* batinnya menjerit. Dia tidak mau ada orang yang melihatnya dalam kondisi sekacau ini. Apalagi jika orang itu adalah salah satu cowok mesum yang biasanya menatapnya dengan tatapan lapar.

Langkah kaki itu berhenti tepat di depan celah lemari.

Naya mendongak perlahan dengan sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Di sana, berdiri seorang cowok dengan kaus hitam polos dan celana jins belel yang terkena sedikit noda cat putih. Di tangannya ada sebuah pisau *cutter* dan penggaris besi. Rambutnya agak berantakan, dan wajahnya tampak lelah, khas mahasiswa yang habis begadang semalaman.

Itu Arga.

Cowok Teknik Arsitektur yang terkenal dingin, pendiam, dan jarang bersosialisasi di luar jurusannya. Naya mengenalnya karena Arga adalah teman seangkatan yang beberapa kali ia lihat di parkiran bersama anak-anak motor.

Arga menatap Naya yang sedang meringkuk di lant**. Tatapannya turun ke arah bahu Naya yang terbuka lebar karena hanya mengenakan tanktop putih tipis bertali spageti. Bahu itu kini gemetar hebat karena hawa dingin AC studio dan rasa syok.

Naya langsung merasa defensif. Ia mencoba menarik napas dalam, berusaha mengembalikan sora angkuhnya. "Apa lo lihat-lihat? Pergi sana," usirnya dengan suara serak yang sama sekali tidak terdengar galak. Malah terdengar sangat rapuh.

Arga tidak pergi. Dia juga tidak tersenyum sinis, tidak melontarkan godaan murahan, atau menatap Naya dengan pandangan menilai seperti yang biasa dilakukan cowok-cowok lain saat melihat Naya berpakaian s****. Tatapan mata Arga datar, namun ada kehangatan yang asing di dalamnya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arga meletakkan *cutter* dan penggaris besinya di atas meja terdekat.

Kemudian, tangan cowok itu bergerak ke kancing kemeja flanel merah-hitam bermotif kotak-kotak yang dipakainya sebagai luaran. Dengan gerakan tenang dan tidak terburu-buru, Arga melepas kemeja flanelnya, menyisakan dirinya yang kini hanya memakai kaus hitam lengan pendek.

Arga melangkah mendekat. Ia berlutut di depan Naya. Jarak mereka begitu dekat hingga Naya bisa mencium wangi maskulin khas kayu pinus dan sisa aroma kopi hitam dari tubuh Arga.

Sebelum Naya sempat protes, Arga membentangkan kemeja flanelnya yang berukuran longgar itu, lalu menyampirkannya dengan lembut ke atas bahu Naya yang terbuka.

Seketika itu juga, rasa hangat yang menjalar dari bahan flanel tebal itu meresap ke kulit Naya. Kemeja itu masih menyimpan sisa panas tubuh Arga, memberikan rasa nyaman yang mendadak membuat pertahanan Naya runtuh untuk kedua kalinya.

"Pakai," kata Arga pendek. Suaranya rendah dan menenangkan. "Di sini AC-nya dingin."

Naya terpaku. Ia menatap jaket flanel yang kini membungkus tubuhnya yang mungil, lalu menatap Arga dengan mata bulatnya yang masih basah. "Lo... lo gak nanya gue kenapa? Gak mau ngetawain gue?" tanyanya dengan suara bergetar.

Arga mendesah pelan. Ia duduk bersila di lant** semen, tepat di hadapan Naya, memberikan jarak yang c**up agar cewek itu tidak merasa terancam. "Emang kalau gue nanya, lo bakal jawab?"

Naya menggeleng pelan.

"Yaudah. Gak usah dijawab," sahut Arga sant**. Ia melirik dada Naya yang masih naik-turun dengan tidak beraturan. "Napas lo berantakan banget. Ikutin gue."

Arga menarik napas dalam-dalam lewat hidung, menahannya selama beberapa detik, lalu mengembuskannya perlahan lewat mulut. "Tarik... buang... pelan-pelan, Nay."

Naya memandangi Arga ragu-ragu. Dada rasanya masih sesak dan nyeri.

"Coba dulu," desak Arga lembut, tatapan matanya mengunci mata Naya dengan sabar. "Gak usah buru-buru."

Naya akhirnya mencoba mengikuti instruksi Arga. Ia menghirup udara dingin studio itu dalam-dalam. Dadanya terasa sakit saat udara ma**k, tapi ia menahannya, lalu mengembuskannya perlahan seperti yang Arga lakukan.

"Bagus. Sekali lagi," tuntun Arga.

Mereka melakukannya bersama-sama selama beberapa menit dalam keheningan. Arga dengan sabar menuntun setiap tarikan napas Naya sampai getaran di bahu cewek itu berangsur-angsur mereda. Isak tangis Naya benar-benar berhenti, menyisakan napasnya yang kini jauh lebih teratur.

Naya merapatkan jaket flanel Arga ke tubuhnya. Jaket itu terlalu besar untuknya, panjangnya bahkan menutupi paha Naya yang terekspos. Tapi di dalam balutan kain tebal itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naya merasa... aman. Merasa dilindungi.

"Makasih," bisik Naya pelan, matanya menatap lant**, enggan menatap langsung ke arah Arga karena merasa malu.

"Sant** aja," jawab Arga. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke dinding lemari di sebelah Naya. Ia meluruskan kakinya yang panjang ke depan, tampak sangat rileks seolah-olah duduk di lant** studio berdebu ini adalah hal paling biasa di dunia.

"Gue... gue keliatan aneh banget ya hari ini?" tanya Naya tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat kecil. "Semua orang di kampus ngomongin gue. Kata mereka gue pakai baju kurang bahan. Kata mereka gue..." Naya menggantung kalimatnya, tidak sanggup mengucapkan kata-kata kasar papanya sendiri.

Arga menoleh, menatap samping wajah Naya yang dilapisi sisa air mata. "Mulut orang emang suka gak disekolahin. Gak usah didengerin."

"Tapi bokap gue juga bilang gitu," sahut Naya, suaranya pecah lagi. Setitik air mata kembali jatuh melewati pipinya yang mulus. "Bokap gue malu punya anak kayak gue. Dia banding-bandingin gue sama kakak gue yang pinter. Gue... gue emang gak berguna ya, Ga?"

Arga terdiam sejenak. Dia tidak langsung menjawab dengan kalimat penghibur klise seperti *'enggak kok, lo hebat'* atau *'sabar ya'*. Arga tahu kalimat-kalimat seperti itu sama sekali tidak berguna untuk orang yang sedang berada di titik terendah.

"Gue gak kenal bokap lo," kata Arga akhirnya, memecah keheningan. "Tapi menurut gue, gak ada satu pun orang di dunia ini yang berhak bikin lo merasa gak berharga. Bahkan orang tua lo sendiri."

Naya menoleh cepat, menatap Arga dengan pandangan terkejut.

Arga membalas tatapan itu dengan tatapan matanya yang teduh. "Lo pake baju apa aja, itu hak lo. Lo mau kuliah di jurusan apa aja, itu hidup lo. Kalau mereka gak bisa liat nilai lo di luar apa yang lo pakai atau apa yang lo capai... berarti mereka yang buta, bukan lo yang gak berharga."

Kata-kata Arga begitu sederhana, tidak puitis, tapi langsung menghantam tepat ke ulu hati Naya. Sesuatu di dalam dada Naya yang sejak tadi terasa mengganjal dan perih, mendadak terasa sedikit lebih ringan.

"Gue lagi ngerjain maket buat tugas UAS minggu depan," Arga mengalihkan pembicaraan dengan sant**, menunjuk ke arah meja di sudut ruangan dengan dagunya. "Udah tiga hari gue gak pulang ke kosan. Mandi cuma numpang di sekre mapala. Muka gue udah kayak zombi, kan?"

Naya memperhatikan wajah Arga lebih det**l. Memang ada lingkaran hitam yang c**up jelas di bawah mata cowok itu, dan rambutnya yang biasanya rapi kini mencuat ke mana-mana. Sudut bibir Naya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang tulus untuk pertama kalinya hari ini.

"Iya. Jelek banget," gumam Naya jujur.

Arga terkekeh pelan. "Nah, gitu dong. Senyum. Biar flanel gue gak makin ketularan aura suram lo."

Naya refleks memukul pelan lengan Arga dengan ujung lengan kemeja flanel yang kepanjangan. "Si**** lo."

Arga hanya tersenyum tipis. Ia kembali menatap lurus ke depan, memberikan keheningan yang nyaman bagi Naya. Tidak ada lagi pertanyaan tentang mengapa Naya menangis, tidak ada lagi pembahasan tentang masalah keluarganya, dan yang paling penting, tidak ada sedikit pun tatapan nakal ke arah tubuh Naya yang biasanya selalu dieksploitasi oleh pandangan cowok lain.

Di dalam studio yang sunyi itu, hanya ditemani aroma lem dan potongan karton maket, Naya duduk bersandar di samping Arga. Dengan jaket flanel hangat yang membungkus tubuhnya, Naya merasa untuk pertama kalinya, seseorang benar-benar melihat dirinya—Naya yang rapuh, bukan sekadar 'Naya si cewek tanktop putih' yang selalu dicap nakal oleh satu kampus.

Dan di detik itu, tanpa Naya sadari, sesuatu di dalam hatinya yang selama ini beku mulai mencair perlahan.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca