Tanktop Putih di Kelas Pagi

Bab 5: Canggung Tapi Nyaman

Pengaturan Membaca

**Bab 5: Canggung Tapi Nyaman**

Naya menatap *paper bag* cokelat di pangkuannya dengan perasaan campur aduk. Di dalamnya, ada jaket flanel kotak-kotak merah hitam milik Arga. Jaket itu sudah ia cuci bersih tadi malam, bahkan ia beri pewangi pakaian ekstra hingga aroma *sakura* yang manis menguar lembut dari sana.

Semalaman Naya tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan kejadian kemarin di Studio Gambar terus berputar di kepalanya. Dia, yang selama ini dikenal sebagai cewek judes, cuek, dan selalu memakai pakaian minim sebagai tameng dari dunia luar, tiba-tiba menangis sesenggukan di depan cowok asing. Dan yang lebih g*** lagi, cowok asing itu—Arga—tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menyampirkan jaket hangatnya ke bahu Naya, menepuk puc** kepalanya sekali dengan canggung, lalu membiarkan Naya menangis sampai puas di sudut ruangan yang sepi.

Sekarang, Naya berdiri di koridor luar Fakultas Teknik. Kakinya yang hari ini terbungkus *flat shoes*—bukan *heels* tinggi seperti kemarin—terasa agak gemetar. Ia memakai tanktop putih andalannya, tapi kali ini dipadukan dengan kardigan rajut longgar berwarna krem yang menutupi sebagian besar tubuh bagian atasnya.

"Duh, kenapa gue jadi se-deg-degan ini, sih?" gumam Naya kesal pada diri sendiri.

Beberapa mahasiswa Teknik yang lewat sempat meliriknya. Tentu saja, kehadiran seorang mahasiswi FISIP dengan dandanannya yang mencolok di kandang anak Teknik yang didominasi cowok-cowok berkaus oblong kusam selalu menarik perhatian. Naya mencoba mengabaikan tatapan-tatapan itu, menegakkan bahunya, berusaha kembali ke setelan pabriknya: cewek cuek yang tidak peduli sekitar.

Tiba-tiba, dari arah tangga, sosok yang dicari muncul.

Arga berjalan sambil menyandang tas ransel hitamnya di satu bahu. Rambutnya yang sedikit berantakan tampak basah, seolah dia baru saja memba**h wajahnya dengan terburu-buru di wastafel. Tangannya memegang segelas kopi plastik dari kantin seharga lima ribuan. Dia sedang tertawa kecil mendengarkan celotehan temannya, sebelum matanya tidak sengaja menangkap sosok Naya yang berdiri kaku di dekat pilar koridor.

Langkah Arga memelan. Dia membisikkan sesuatu pada temannya, yang kemudian menepuk bahu Arga sambil melirik Naya dengan senyum penuh arti, lalu berjalan pergi duluan.

Arga berjalan menghampiri Naya. Langkahnya sant**, tidak ada kesan ingin tebar pesona atau sok keren seperti cowok-cowok FISIP yang biasa mendekati Naya.

"Hei," sapa Arga pelan saat jarak mereka tinggal dua langkah.

Naya meremas tali *paper bag*-nya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Hei," balasnya, berusaha agar suaranya terdengar datar. "Gue... mau balikin ini."

Naya menyodorkan *paper bag* cokelat itu ke depan dada Arga.

Arga menerima kantong tersebut, lalu mengintip ke dalamnya. Dia langsung tersenyum tipis, memperlihatkan lesung pipit samar di pipi kirinya yang kemarin tidak sempat Naya sadari karena suasana temaram.

"Wangi banget. Lo cuci pakai parfum sebotol, ya?" canda Arga. "Biasanya jaket ini cuma bau keringat sama asap rokok."

Pipi Naya mendadak terasa hangat. Ia membuang muka ke samping, pura-pura memperhatikan daun-daun kering yang berguguran di halaman fakultas. "Ya... kan harus bersih pas dibalikin. Biar sopan aja."

"Makasih, ya," kata Arga tulus. Dia memeluk *paper bag* itu dengan sebelah lengannya. Matanya kemudian menatap Naya dengan saksama. "Lo... udah lebih oke hari ini?"

Pertanyaan itu sederhana, tapi entah kenapa membuat tenggorokan Naya mendadak tersumbat. "Gue oke. Kemarin cuma... lagi sensitif aja. Jangan dipikirin."

Arga mengangguk-angguk paham, tidak berusaha mendesak atau bertanya lebih jauh tentang alasan Naya menangis kemarin. Sikapnya yang menghargai privasi itu membuat Naya diam-diam merasa lega.

"Gue mau nyari kopi di seberang kampus. Ngantuk banget habis kelas struktur beton," kata Arga sambil menunjuk ke arah luar gerbang dengan jempolnya. "Lo sibuk gak? Mau ikut?"

Naya mengerjapkan mata. "Ikut lo?"

"Iya. Tapi tempatnya biasa aja, bukan kafe estetik yang mahal gitu. Mau gak? Kalau lo buru-buru atau ada kelas lagi, gak apa-apa."

Sebenarnya, Naya tidak ada kelas lagi sampai sore nanti. Dan entah dorongan dari mana, alih-alih menolak dengan ketus seperti yang biasa ia lakukan pada cowok lain, Naya justru mengangguk pelan. "Boleh deh. Gue juga lagi pengen yang manis-manis."

***

Mereka berakhir di sebuah kedai kopi kecil bernama *Kopi Pojok* yang terletak di gang seberang kampus. Tempatnya tidak terlalu besar, hanya ada beberapa meja kayu sederhana di luar ruangan dengan kanvas peneduh di atasnya. Kebanyakan pengunjungnya adalah mahasiswa yang sedang mengobrol sant** atau mengerjakan tugas dengan laptop mereka yang dipenuhi stiker.

Arga memesan es kopi susu standar, sementara Naya memesan *iced matcha latte* dengan tingkat kemanisan maksimal.

"Sori ya, tempatnya agak berisik," ujar Arga begitu mereka duduk di salah satu meja di sudut luar.

"Gak apa-apa. Malah enak, anginnya langsung berembus," sahut Naya, merapatkan kardigannya sedikit karena angin siang itu berembus c**up kencang.

Hening sempat menyergap di antara mereka selama beberapa saat. Naya merasa canggung setengah mati. Biasanya, kalau dia sedang berdua dengan cowok, cowok-cowok itu akan sibuk memuji penampilannya, menanyakan akun media sosialnya, atau mencoba menunjukkan betapa keren dan kayanya mereka. Tapi Arga? Cowok itu malah sibuk memperhatikan semut yang berjalan di pinggiran meja kayu, sebelum akhirnya menyeruput es kopinya hingga berbunyi nyaring.

Naya hampir saja tertawa melihat kelakuan konyol itu.

"Lo emang sediam ini, ya?" tanya Naya akhirnya, memecah keheningan.

Arga menoleh, tampak agak terkejut, lalu tertawa kecil. "Ah, sori. Gue emang agak lemot kalau habis kelas siang. Otak gue masih ketinggalan di rumus momen inersia." Dia mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Gue gak diam-diam banget, kok. Cuma bingung aja mau ngomong apa. Takut lo keganggu."

"Gue gak segampang itu keganggu, kali," sahut Naya, menyedot *matcha latte*-nya. Rasa manis langsung menyebar di lidahnya, membuat suasana hatinya sedikit membaik.

"Bagus deh. Soalnya gosip yang beredar tentang lo di kampus... agak menyeramkan," kata Arga dengan nada bergurau yang sangat ka**al.

Naya langsung meletakkan gelasnya dengan bunyi *klak* yang agak keras. Matanya menyipit, menatap Arga dengan pandangan menantang. "Oh ya? Bilang apa mereka? Cewek gatel? Cewek sombong yang sok cantik? Atau cewek yang cuma modal tampang tapi otaknya kosong?"

Suara Naya terdengar agak tajam, refleks pertahanannya langsung naik setinggi dinding benteng pertahanan. Dia sudah biasa mendengar semua julukan itu, tapi mendengarnya langsung dari orang yang baru ia kenal rasanya tetap saja membuat dadanya sedikit nyeri.

Namun, reaksi Arga sama sekali di luar dugaan Naya.

Cowok itu tidak terlihat takut atau tersinggung. Dia malah menatap Naya dengan pandangan yang teduh, bahkan ada sedikit binar geli di matanya.

"Gak ada tuh yang bilang gitu ke gue," jawab Arga sant**. "Mereka cuma bilang, 'Jangan macam-macam sama Naya anak FISIP, dia kalau natap orang bisa bikin merinding.' Gitu doang." Arga memajukan wajahnya sedikit, menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja. "Tapi setelah gue lihat sendiri... lo gak seseram itu, tuh."

Naya tertegun. Jantungnya berdesir aneh. "Masa?"

"Iya. Kemarin lo malah kelihatan kayak..." Arga menggantung kalimatnya sebentar, tampak berpikir mencari padanan kata yang pas. "...kayak anak kucing yang kedinginan karena kehujanan. Rapuh banget."

Mendengar kata 'rapuh', pertahanan Naya runtuh begitu saja. Ia menghela napas panjang, bahunya yang tadinya tegang kini merosot turun. "Gue gak suka kelihatan lemah di depan orang lain."

"Kenapa?" tanya Arga pelan. Nada suaranya tidak menuntut, hanya terdengar ingin tahu secara tulus.

"Karena kalau lo kelihatan lemah, orang-orang bakal gampang injak-injak lo. Dunia ini keras, Ga. Apalagi buat cewek kayak gue," jawab Naya lirih. Matanya menatap es batu yang mulai mencair di dalam gelasnya. "Gue harus kelihatan galak, kelihatan cuek, biar gak ada yang berani macam-macam."

Arga diam mendengarkan. Dia tidak memotong, tidak juga memberikan nasihat-nasihat sok tahu seperti yang sering didapatkan Naya dari orang-orang dewasa atau teman-temannya yang merasa paling bijak. Dia hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Tapi capek juga, ya?" tanya Arga kemudian, suaranya sangat lembut, hampir seperti bisikan di tengah kebisingan kedai kopi. "Pura-pura kuat terus setiap hari."

Kalimat sederhana itu menghantam dada Naya dengan telak. Matanya mendadak terasa panas, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ada seseorang yang memahami rasa lelahnya tanpa perlu ia jelaskan panjang lebar.

Naya menatap Arga. Cowok itu sedang tersenyum tipis, matanya menyipit ramah. Dia tidak mencoba tampil heroik, dia tidak mencoba menjadi penyelamat bagi Naya. Dia hanya ada di sana, menjadi manusia biasa yang apa adanya, memberikan ruang aman bagi Naya untuk melepaskan topengnya sejenak.

"Iya," aku Naya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. Sebuah senyum tipis—senyum yang benar-benar tulus dan tanpa paksaan—terukir di bibirnya. "Capek banget, aslinya."

"Nah, kalau di depan gue, lo gak usah pura-pura," kata Arga sant**, kembali bersandar pada kursi kayunya. "Mau nangis kayak kemarin juga boleh. Tenang aja, jaket gue masih banyak di kosan. Wangi detergen lo juga enak, jadi gue gak rugi-rugi banget kalau lo pinjam lagi."

Naya tidak bisa menahan tawanya kali ini. Tawa renyah yang selama ini jarang ia perlihatkan di area kampus. "Ih, apaan sih! Gak mau ya, gue gak bakal nangis-nangis lagi di depan lo."

"Halah, awas aja ya kalau nangis lagi," goda Arga sambil menunjuk Naya dengan sedotan plastiknya.

Suasana canggung yang sejak pagi tadi menyelimuti Naya kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di dadanya. Duduk di kedai kopi yang bising ini, bersama cowok berkaus kusam yang baru ia kenal kemarin, Naya menyadari satu hal.

Di dekat Arga, dia tidak perlu menjadi Naya yang tangguh dan tidak punya rasa takut. Di dekat Arga, dia bisa menjadi dirinya yang biasa, yang kadang rapuh, yang kadang lelah, tapi tetap merasa aman dan baik-baik saja.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca