"Biasanya jaket ini cuma bau keringat sama debu studio," lanjut Arga sambil terkekeh pelan.
Naya memutar bola matanya, refleks menyilangkan tangan di dada. "Sengaja gue kasih pewangi biar lo nggak pingsan pas pakai lagi. Harusnya lo makasih, bukan malah ngeledek."
"Iya, iya, makasih ya, Naya," kata Arga. Nadanya terdengar tulus, tanpa ada nada bercanda lagi, yang justru membuat jantung Naya berdegup tidak karuan. "Lo... ada kelas lagi setelah ini?"
Naya menggeleng pelan. "Nggak ada. Kelas pagi gue baru aja kelar. Kenapa?"
Arga melihat sekeliling koridor yang mulai ramai oleh mahasiswa yang lalu lalang. Beberapa mahasiswa Teknik yang lewat masih curi-curi pandang ke arah mereka, berbisik-bisik kecil. Naya menyadari tatapan-tatapan itu dan mulai merasa tidak nyaman. Ia refleks merapatkan kardigan krem yang membungkus tanktop putihnya, mencoba menyembunyikan diri dari pandangan orang-orang.
Arga yang menyadari perubahan sikap Naya langsung berdehem pelan. "Ikut gue, yuk."
"Ke mana?" tanya Naya keningnya berkerut heran.
"Ke suatu tempat yang sepi. Kayanya lo butuh udara segar, dan gue juga lagi pengen bolos asistensi sejam," ujar Arga sambil mengedipkan sebelah matanya secara jenaka.
Sebelum Naya sempat menolak, Arga sudah berbalik dan berjalan mendahuluinya. Mau tidak mau, Naya melangkah lebar untuk menyejajarkan langkah kakinya yang pendek dengan langkah lebar Arga.
Mereka berjalan melewati deretan laboratorium Teknik yang bising dengan suara mesin, lalu berbelok menuju bagian belakang area kampus yang jarang dilewati orang. Di sana berdiri sebuah gedung tua berlant** empat yang dindingnya sudah ditumbuhi beberapa tanaman merambat. Gedung itu adalah bekas laboratorium lama yang sekarang hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang inventaris usang.
"Kita mau ke mana sih, Ga? Ini kan gedung kosong," tanya Naya ragu saat Arga menuntunnya ma**k ke dalam lobi gedung yang remang-remang dan berdebu.
"Tenang, gue nggak bakal macem-macem. Percaya sama gue," sahut Arga tanpa menoleh, tapi suaranya yang tenang entah bagaimana berhasil meredakan rasa cemas Naya.
Mereka menaiki anak tangga satu demi satu. Suasana di dalam gedung sangat sunyi, hanya ada suara langkah kaki mereka yang menggema di dinding beton. Begitu sampai di lant** paling atas, Arga mendorong sebuah pintu besi tebal yang sedikit berkarat.
*Cklek. Kraakk.*
Pintu itu terbuka, dan seketika itu juga embusan angin segar langsung menerpa wajah Naya, menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya yang tergerai.
Mata Naya melebar. Di depannya terbentang sebuah *rooftop* yang c**up luas. Dari tempat ini, seluruh pemandangan kampus terlihat jelas. Gedung-gedung perkuliahan yang megah, jalanan aspal yang dipenuhi kendaraan, hingga hiruk-pikuk mahasiswa di bawah sana tampak begitu kecil. Namun, di atas sini, suasananya sangat tenang. Hanya ada suara desau angin dan langit biru yang membentang tanpa batas.
"Wah..." gumam Naya tanpa sadar. Langkah kakinya membawa dirinya mendekat ke pembatas beton di pinggir *rooftop*. "Keren banget di sini."
Arga berjalan di sampingnya, lalu meletakkan ransel hitamnya di lant** beton dan mendudukinya. Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya. "Sini duduk. Anginnya enak banget siang ini."
Naya ragu sejenak, melihat rok denimnya yang pendek, lalu memutuskan untuk ikut duduk bersila di samping Arga setelah mengatur posisi kardigannya agar menutupi pahanya.
"Kok lo bisa tahu tempat kayak gini?" tanya Naya sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, memandang lurus ke depan.
"Gue nemu tempat ini pas semester satu. Waktu itu gue stres banget gara-gara tugas gambar teknik pertama gue dikasih nilai D sama dosen killer," cerita Arga sambil menerawang. "Gue muter-muter kampus cari tempat buat menyendiri, dan berakhir di sini. Sejak itu, kalau kepala gue udah mau pecah sama tugas-tugas arsitektur, gue pasti pelarian ke sini."
Naya menoleh, menatap profil samping wajah Arga. Rahang cowok itu tegas, hidungnya mancung, dan matanya terlihat sangat tenang saat memandang langit. "Emang sesusah itu ya kuliah di Teknik Arsitektur?"
Arga tertawa kecil, suara tawa yang terdengar renyah di telinga Naya. "Susah sih relatif, ya. Tapi ribetnya itu lo harus siap begadang berhari-hari demi bikin maket atau gambar kerja yang det**lnya minta ampun. Tapi ya... gue suka."
"Kenapa suka? Padahal kedengarannya menyiksa banget."
Arga merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah pensil mekanik perak yang biasa ia pakai untuk menggambar. Ia memutar-mutar pensil itu di antara jari-jarinya dengan lihai.
"Gue suka garis-garis presisi, Nay. Di arsitektur, semuanya harus jelas dan pasti. Nggak boleh ada tebak-tebakan. Kalau lo bikin garis melenceng satu milimeter aja, kalkulasi strukturnya bisa berantakan dan bangunannya bisa roboh. Ada kepuasan tersendiri buat gue pas ngeliat coretan-coretan kasar di kertas kalkir bisa berubah jadi struktur bangunan yang kokoh, nyata, dan punya fungsi buat orang banyak."
Naya mendengarkan dengan saksama. Ada binar gairah dan ketulusan yang terpancar dari mata Arga saat cowok itu menceritakan jurusannya. Sesuatu yang membuat Naya mendadak merasa iri. Sangat iri. Karena sepanjang hidupnya, ia tidak pernah merasakan gairah seperti itu terhadap apa yang sedang ia pelajari saat ini.
Arga menyadari keterdiaman Naya. Ia menghentikan putaran pensilnya, lalu menoleh menatap Naya. "Kalau lo sendiri gimana? Kenapa milih FISIP? Bukannya jurusan lo itu seru ya, banyak interaksi sama orang?"
Mendengar pertanyaan itu, senyum tipis di wajah Naya perlahan memudar. Ia menunduk, menatap ujung *flat shoes*-nya yang berdebu karena lant** *rooftop*. Jari-jarinya mulai memainkan ujung kardigan kremnya dengan cemas.
"Bukan gue yang milih," bisik Naya pelan, hampir tenggelam oleh suara angin.
Arga menaikkan sebelah alisnya. "Maksudnya?"
"Gue ma**k FISIP karena dipaksa bokap," lanjut Naya, akhirnya berani menyuarakan beban yang selama ini ia pendam sendiri. "Bokap gue itu tipe orang yang sangat teratur. Hidupnya lurus banget, dari lulus kuliah langsung kerja di instansi pemerintahan, dan sekarang punya posisi yang lumayan. Beliau pengen gue ngikutin jejaknya. Jadi diplomat, atau minimal PNS di kementerian luar negeri. Biar masa depan gue terjamin, katanya."
Naya menghela napas panjang, dadanya terasa sesak saat mengingat kembali pertengkarannya dengan sang ayah sebelum ma**k kuliah. "Tapi gue benci politik. Gue nggak suka baca berita birokrasi yang bikin pusing. Gue ngerasa asing banget di kelas gue sendiri. Tiap kali dosen ngejelasin tentang teori sosial atau kebijakan publik, gue ngerasa jiwa gue kosong. Gue kayak robot yang cuma datang, duduk, dengerin, terus pulang."
Arga mendengarkan dalam diam, memberikan ruang bagi Naya untuk menumpahkan segalanya.
"Terus, sebenarnya lo pengen jadi apa?" tanya Arga dengan suara yang sangat lembut, seolah takut akan melukai perasaan cewek di sampingnya itu.
Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokan Naya mendadak tercekat. Jarang sekali ada orang yang menanyakan apa impiannya. Orang-orang di sekitarnya biasanya hanya bertanya tentang IPK, atau kapan ia akan lulus.
"Gue... gue pengen jadi *fashion designer*, Ga," jawab Naya lirih. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh. "Gue suka gambar sketsa baju. Gue suka mainin warna, padu padan bahan. Dari kecil, impian gue adalah punya *b**nd* baju sendiri. Tapi pas gue bilang itu ke bokap, beliau langsung marah besar. Katanya itu bukan masa depan yang jelas. Cuma buang-buang duit dan waktu."
Naya terkekeh sinis, mencoba menertawakan nasibnya sendiri meskipun hatinya terasa perih. "Makanya gue kayak gini sekarang."
"Kayak gini gimana?" tanya Arga.
Naya menyentuh dada kirinya, tepat di atas tanktop putih yang ia kenakan. "Pakai baju-baju minim yang dicap nakal sama orang. Dandan tebal, pasang muka judes biar nggak ada yang berani deketin gue. Gue sengaja berontak dengan cara ini, Ga. Karena ini satu-satunya hal dalam hidup gue yang bisa gue kontrol sendiri tanpa campur tangan bokap. Baju-baju ini... ini tameng gue. Biar orang mikir gue cewek liar, cewek kuat yang nggak peduli sama aturan apa pun. Padahal aslinya..."
Naya menjeda kalimatnya. Setitik air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang mulus. "...aslinya gue cuma cewek penakut yang nggak punya keberanian buat nolak kemauan orang tua."
Sunyi kembali menguasai *rooftop* itu setelah Naya menyelesaikan kalimatnya. Naya buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan kardigannya, merasa bodoh karena lagi-lagi memperlihatkan sisi lemahnya di depan Arga.
Namun, di luar dugaan Naya, Arga tidak memberikan tatapan kasihan atau menghakimi. Cowok itu justru menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Naya. Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan ragu tapi pasti, menepuk-nepuk pundak Naya dengan pelan. Sentuhan hangat itu membuat pertahanan Naya nyaris runtuh kembali.
"Nggak ada yang salah dengan jadi penakut, Nay," kata Arga dengan nada bicara yang sangat menenangkan. "Dan menurut gue, lo nggak nakal. Lo cuma lagi berusaha bertahan hidup dengan cara lo sendiri."
Naya menoleh cepat, matanya yang basah menatap Arga dengan tidak percaya. "Lo... lo nggak mikir gue cewek aneh atau pemberontak nggak tahu diri?"
Arga menggeleng mantap, senyum tipis terukir di wajahnya yang teduh. "Ngapain gue mikir kayak gitu? Malah menurut gue, lo keren. Lo punya mimpi yang hebat, dan fakta bahwa lo masih bertahan kuliah di jurusan yang nggak lo suka demi ngehargai orang tua lo... itu bukti kalau lo adalah anak yang berbakti, sekaligus cewek yang kuat."
Arga menarik napas dalam-dalam, lalu menunjuk ke arah langit luas di depan mereka.
"Mulai sekarang, kalau lo ngerasa capek pakai tameng lo di bawah sana, lo bisa datang ke sini. Di atas sini, lo nggak perlu pasang muka judes. Lo nggak perlu pura-pura jadi cewek kuat yang nggak punya perasaan. Di tempat ini, di depan gue... lo bisa jadi Naya yang biasa aja. Naya yang apa adanya."
Kata-kata Arga bagaikan air dingin yang menyiram tanah kering di hati Naya. Beban berat yang selama ini terasa menghimpit dadanya seolah menguap begitu saja ditiup angin sore di atas *rooftop* tua itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Naya merasa benar-benar dimengerti. Ia merasa tidak sendirian lagi di dunia yang asing ini.
Naya menatap Arga lama, sebelum akhirnya sebuah senyuman tulusβsenyuman tercantik yang pernah ia milikiβmerekah di bibirnya yang dilapisi *lip tint* merah muda.
"Makasih ya, Arga."
"Sama-sama, Naya. Jadi, sekarang... mau lihat sketsa-sketsa rancangan baju lo kapan-kapan?" tanya Arga sambil menaikkan alisnya berulang kali, mencoba mencairkan suasana.
Naya tertawa kecil, kali ini tanpa ada beban yang menahan tawanya. "Boleh. Tapi janji jangan diketawain, ya?"
"Janji arsitek," sahut Arga sambil mengangkat dua jarinya membentuk tanda damai, membuat tawa Naya pecah sekali lagi di bawah langit sore yang mulai menguning hangat.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!