Bab 7: Sketsa di Balik Layar
"Kosan gue deket kok dari sini. Tinggal jalan kaki lewat gang belakang fakultas hukum. Mau mampir bentar? Gue sekalian mau ambil tabung gambar yang ketinggalan, sekalian ngadem. Di atas sini mulai panas."
Ajakan Arga siang itu akhirnya membawa Naya berdiri di depan sebuah kamar kos di lant** dua. Kosan khusus cowok itu ternyata jauh dari bayangan Naya yang mengira bakal berantakan, bau rokok, atau penuh tumpukan baju kotor. Begitu Arga membuka pintu kamarnya, aroma maskulin yang campur dengan wangi kopi instan langsung menyapa indra penciuman Naya. Wangi yang familier, wangi yang sama dengan jaket Arga yang sempat Naya pinjam kemarin.
"Sori ya agak berantakan. Maklum, kamarnya anak arsitektur, isinya kertas melulu," kata Arga sambil terkekeh pelan. Cowok itu langsung memindahkan beberapa penggaris T-square berukuran besar dan gulungan kertas kalkir dari atas ka**r single-nya ke sudut ruangan.
Naya melangkah ma**k dengan ragu. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kamar kos seorang cowok. Kamar Arga sebenarnya c**up rapi untuk ukuran mahasiswa teknik. Dindingnya berwarna abu-abu semen ekspos, dihiasi beberapa poster band indie dan beberapa foto polaroid yang digantung dengan penjepit kayu. Di sudut ruangan, sebuah meja gambar berukuran besar tampak mendominasi, lengkap dengan lampu arsitek yang ditekuk ke bawah.
"Sant** aja, Nay. Duduk di ka**r nggak apa-apa kok," ujar Arga sambil melepas flat cap yang dipakainya, lalu melemparnya asal ke atas meja. "Gue turun ke bawah bentar ya, mau beli es kopi susu di warung depan. Lo mau rasa apa?"
"Eh? Apa aja deh, samain kayak lo juga nggak apa-apa," jawab Naya agak canggung.
"Oke, tunggu bentar ya. Nggak pakai lama." Arga tersenyum tipis, lalu menutup pintu kamar dan melangkah pergi, meninggalkan Naya sendirian di dalam kamarnya.
Begitu pintu tertutup, Naya mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Berada di ruang pribadi Arga entah bagaimana memberikan sensasi yang berbeda. Rasanya sangat intim.
Naya memutuskan untuk berdiri dan melihat-lihat sekeliling kamar. Langkah kakinya perlahan membawanya mendekati meja gambar Arga. Di atas meja itu, terdapat tumpukan kertas gambar berukuran A3 yang dijepit rapi. Rasa penasaran Naya mulai terusik. Sebagai anak FISIP yang jarang bersentuhan dengan dunia seni rupa atau teknik, melihat peralatan gambar Arga terasa seperti melihat dunia baru yang asing tapi menarik.
Naya menyentuh ujung kertas gambar paling atas. Dengan ragu, ia mulai membalik lembaran-lembaran kertas itu satu per satu.
Lembar pertama adalah gambar perspektif sebuah gedung modern dengan garis-garis yang sangat presisi dan det**l yang luar biasa. Lembar kedua menampilkan sketsa fasad bangunan tua bergaya kolonial, lengkap dengan bayangan hitam-putih yang dibuat menggunakan teknik arsir pensil yang halus. Naya berdecak kagum. Arga memang sangat berbakat. Tidak heran cowok itu sering menjadi andalan di jurusannya.
Naya terus membalik kertas-kertas itu. Namun, ketika sampai di lembaran tengah, gerakan tangannya mendadak terhenti.
Matanya melebar. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Di atas selembar kertas Canson bertekstur kasar, tidak ada gambar gedung, jembatan, atau rancangan tata kota. Di sana ada sebuah sketsa wajah seorang perempuan.
Perempuan itu adalah dirinya.
Naya menatap gambar itu tanpa berkedip. Itu memang dirinya, dengan rambut hitam sebahu yang agak berantakan ditiup angin, mengenakan tanktop putih kesayangannya yang dilapisi kardigan longgar. Namun, ada satu hal yang membuat Naya tertegun lama. Di dalam sketsa itu, ia tidak sedang memasang wajah jutek, sinis, atau tatapan menantang yang biasa ia tunjukkan di koridor kampus untuk mengusir cowok-cowok yang mengganggunya.
Di dalam sketsa pensil itu, Naya sedang tersenyum.
Bukan senyum tipis yang dipaksakan, melainkan senyum yang sangat tulus. Matanya menyipit membentuk bulan sabit, memancarkan binar kebahagiaan yang sangat murni. Garis-garis pensil Arga berhasil menangkap ekspresi itu dengan sangat det**l, seolah-olah Arga menggambarnya dengan penuh perasaan dan konsentrasi tinggi.
"Itu pas lo lagi ketawa waktu kita makan bakso di belakang kampus minggu lalu."
Suara berat Arga yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu membuat Naya tersentak kaget. Ia refleks menjatuhkan kertas yang dipegangnya kembali ke atas meja gambar. Wajah Naya seketika memerah karena ketahuan sedang mengacak-acak barang pribadi cowok itu.
Arga berdiri di ambang pintu yang terbuka, memegang dua plastik cup es kopi susu di tangannya. Ia tidak terlihat marah. Sebaliknya, sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya yang biasanya tampak cuek.
"S-sori, Ga... gue nggak maksud lancang lancang buka-buka gambar lo," gagap Naya, merasa sangat bersalah sekaligus malu setengah mati. Ia merapatkan kardigannya, mencoba menyembunyikan kecanggungannya yang luar biasa.
Arga berjalan mendekat, lalu meletakkan dua cup es kopi itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia kemudian menghampiri Naya, berdiri c**up dekat hingga Naya bisa mencium wangi tubuh cowok itu lagi. Arga mengulurkan tangan, mengambil lembaran kertas sketsa wajah Naya yang sempat bergeser, lalu merapikannya kembali ke posisi semula.
"Gak apa-apa kali, Nay. Lagian itu emang sengaja gue taruh di situ, bukan rahasia negara juga," kata Arga sant**.
Naya menelan ludah, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai mengg***. "Lo... kenapa gambar gue?" tanya Naya dengan suara setengah berbisik. "Apalagi dengan... muka kayak gitu. Gue kan biasanya nggak kayak gitu kalau di kampus."
Arga menatap sketsa itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya langsung ke mata Naya. Tatapan matanya yang biasanya jenaka dan sant**, kini berubah menjadi sangat hangat dan serius.
"Emang kenapa kalau gue gambar lo?" tanya Arga balik, nadanya sangat tenang. "Menurut gue, lo yang ada di gambar itu adalah lo yang sebenarnya."
"Maksudnya?" Naya mengerutkan kening, tidak mengerti.
Arga menyandarkan pinggulnya ke pinggiran meja gambar, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil terus menatap Naya. "Di kampus, lo selalu masang tembok tinggi-tinggi. Lo pakai baju-baju yang menurut lo bisa bikin lo kelihatan tangguh, lo pasang muka jutek, lo selalu siap buat berantem sama siapa aja yang berani deketin lo. Kayak lo harus selalu siap perang tiap hari."
Naya terdiam. Kata-kata Arga telak menghantam relung hatinya yang paling dalam. Apa yang dikatakan Arga adalah kebenaran yang selama ini coba ia sembunyikan dari semua orang di kampus.
"Tapi pas hari itu," lanjut Arga, suaranya melembut, "pas lo keselek kuah bakso yang kepedesan terus lo ketawa lepas karena kebodohan lo sendiri... gue ngelihat Naya yang beda. Gue ngelihat Naya yang nggak perlu capek-capek pasang benteng pertahanan."
Arga menjeda kalimatnya. Ia melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Naya, membuat jarak di antara mereka terkikis. Naya bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh cowok itu.
"Bagi gue, Nay... lo itu paling cantik justru pas lo jadi diri lo sendiri. Tanpa perlu usaha keras buat kelihatan tangguh di depan orang lain. Cuma jadi Naya yang apa adanya. Dan senyum lo yang ini..." Arga menunjuk sketsa di atas meja dengan dagunya, "...adalah senyum tercantik yang pernah gue lihat."
*Deg.*
Jantung Naya rasanya seperti berhenti berdetak selama satu detik, sebelum akhirnya bertalu-talu dengan kecepatan yang tidak ma**k akal di dalam dadanya. Ia merasa seluruh darah di tubuhnya berdesir naik ke wajahnya, membuat pipinya terasa sangat panas. Matanya terkunci pada manik mata hitam milik Arga yang tampak sangat jujur, tanpa ada sedikit pun keraguan atau niat untuk bercanda di sana.
Naya meremas ujung kardigannya dengan erat. Ia ingin memalingkan wajah, ia ingin memutar bola matanya dan mengeluarkan kalimat sarkas seperti yang biasa ia lakukan untuk menutupi rasa gugupnya. Namun, di depan Arga saat ini, semua pertahanan diri yang selama ini ia bangun dengan susah payah mendadak runtuh tanpa sisa.
Cowok ini baru saja menelanjanginya lewat sebuah sketsa sederhana dan beberapa patah kata jujur.
"Lo... gombal banget sih, Ga," bisik Naya akhirnya, mencoba mencari pegangan pada sisa-sisa harga dirinya yang tersisa, meskipun suaranya terdengar sangat bergetar dan tidak meyakinkan sama sekali.
Arga terkekeh pelan, sebuah kekehan rendah yang terdengar sangat s**** di telinga Naya. Cowok itu mengambil salah satu es kopi susu dan menyodorkannya ke arah Naya.
"Gue nggak lagi gombal, Naya. Gue cuma jujur," kata Arga sambil tersenyum manis, senyum yang membuat matanya ikut menyipit ramah. "Nih, minum dulu. Muka lo udah merah banget kayak kepiting rebus."
Naya menerima cup kopi itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dinginnya gelas plastik itu sedikit membantu menurunkan suhu tubuhnya yang mendadak naik drastis. Ia langsung meminum es kopi itu dengan cepat, mencoba mengalihkan perhatian dari Arga yang masih terus memperhatikannya dengan tatapan jenaka sekaligus penuh perhatian.
Sambil meminum kopinya, Naya kembali melirik sketsa wajahnya di atas meja. Di balik garis-garis hitam dari goresan pensil Arga, ia bisa melihat dirinya yang tampak sangat bahagia. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Naya menyadari satu hal yang paling menakutkan sekaligus menyenangkan.
Perasaannya pada Arga sudah melangkah terlalu jauh. Ia tidak hanya sekadar mengagumi kebaikan cowok itu yang telah meminjamkannya jaket atau menemaninya di saat-saat sulit.
Naya menyadari, dirinya telah jatuh cinta pada cowok arsitektur di depannya ini. Dan kali ini, tidak ada benteng pertahanan apa pun di dunia ini yang bisa menyelamatkannya dari debaran jantungnya yang kian mengg***.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!