Bab 8: Kamera Tersembunyi
Senyum di bibir Naya belum juga hilang sejak kejadian di kosan Arga kemarin. Setiap kali mengingat bagaimana cowok itu memperlakukannya dengan begitu lembut, rasanya ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Arga yang biasanya kelihatan cuek dan irit bicara, ternyata punya sisi hangat yang hanya ditunjukkan padanya. Naya merasa seperti menjadi cewek paling beruntung di kampus belakangan ini.
Hari ini cuaca kampus sangat terik. Naya berjalan melewati selasar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan langkah ringan. Ia mengenakan tanktop putih andalannya yang dipadukan dengan kemeja flanel merah-hitam yang sengaja tidak dikancingkan, dibiarkan jatuh longgar di bahunya. Celana jins kulot berpinggang tinggi melengkapi penampilannya yang ka**al namun tetap terlihat modis. Rambut panjangnya dikuncir kuda asal-asalan, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah manisnya.
"Naya! Sini, bergabung!" panggil beberapa teman sekelasnya dari area kantin luar.
Naya melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. "Bentar ya, gue mau beli air mineral dulu di koperasi!" sahutnya setengah berteriak.
Naya tidak pernah menyadari bahwa di balik pilar-pilar beton koridor kampus, ada beberapa pasang mata yang menatapnya dengan pandangan penuh kebencian. Rasa iri, dengki, dan dendam pribadi telah berkumpul menjadi satu energi negatif yang siap meledak.
Di salah satu sudut meja beton yang agak tersembunyi, Rendy duduk bersama dua orang temannya, Dion dan Fachri. Rendy adalah mahasiswa semester tiga jurusan Komunikasi yang beberapa minggu lalu menyatakan perasaannya pada Naya di depan banyak orang, namun ditolak mentah-mentah. Naya menolaknya dengan sopan, tapi bagi Rendy yang terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, penolakan itu adalah tamparan keras bagi harga dirinya.
"Lihat tuh, si paling cantik lewat," cibir Rendy sambil menyedot es teh manisnya dengan kasar. Matanya tidak lepas dari sosok Naya yang sedang mengantre di depan koperasi.
"Gaya banget ya jalannya. Mentang-mentang lagi dideketin sama anak Arsitektur itu," timpal Dion, memprovokasi.
"Gue masih nggak terima sih, Ren. Lo ditolak cuma demi cowok yang kerjaannya cuma bawa-bawa tabung gambar lusuh itu? Selera si Naya ternyata murahan juga," sahut Fachri memanas-manasi.
Rendy mengepalkan tangannya di atas meja. "Dia pikir dia siapa? Cuma modal tanktop ketat sama muka sok polos doang. Aslinya paling juga gatel."
Tidak jauh dari meja mereka, Sarah dan dua temannya, Tasya dan Sherly, sedang memperhatikan hal yang sama. Sarah sudah lama menaruh hati pada Arga. Segala cara sudah ia lakukan untuk menarik perhatian cowok arsitek itu, mulai dari pura-pura salah kirim chat hingga sengaja nongkrong di kantin Teknik. Namun, Arga selalu bersikap dingin padanya. Begitu melihat Arga sekarang begitu dekat dengan Naya, rasa cemburu Sarah sudah sampai ke ubun-ubun.
Sarah berdiri dari duduknya, membawa es kopinya, lalu melangkah menghampiri meja Rendy. "Hai, cowok-cowok loyo. Masih meratapi nasib karena ditolak si cewek tanktop?" sindir Sarah dengan senyum sinis.
Rendy mendengus. "Mau apa lo, Sar? Nggak usah cari gara-gara deh."
"Gue nggak cari gara-gara. Gue cuma mau nawarin kerja sama," ujar Sarah sambil duduk di kursi kosong di sebelah Rendy. Tasya dan Sherly menyusul di belakangnya. "Gue tahu kalian dendam sama Naya. Dan jujur, gue juga muak lihat muka sok sucinya itu berkeliaran di sekitar Arga."
Rendy menaikkan sebelah alisnya, mulai tertarik. "Kerja sama apa maksud lo?"
Sarah mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada licik. "Naya itu paling bangga sama penampilannya, kan? Dia selalu pakai pakaian yang... agak terbuka. Kayak sekarang, tanktop putih ketat itu. Gimana kalau kita bikin dia sadar posisi? Kita jatuhin reputasinya sampai dia nggak berani lagi nunjukin mukanya di kampus ini."
"Caranya?" tanya Dion penasaran.
Sarah melirik ke arah Naya yang kini baru saja keluar dari koperasi, membawa sebotol air mineral dingin. Karena cuaca yang sangat panas, Naya membuka botol itu dan meminumnya dengan cepat. Beberapa tetes air mengalir dari sudut bibirnya, jatuh ke leher, dan membasahi bagian dada tanktop putihnya hingga sedikit menerawang. Naya yang merasa gerah kemudian menurunkan kemeja flanelnya lebih rendah, mengekspos bahu mulusnya secara penuh ke udara bebas.
"Dion, lo kan bawa kamera DSLR yang sering lo pakai buat tugas dokumentasi?" tanya Sarah dengan mata berbinar licik.
"Iya, ada di tas gue. Kenapa?"
"Ambil foto dia. Sekarang. Cari sudut yang paling menantang. Pas dia lagi minum, pas dia lagi nunduk, atau pas kemejanya melorot kayak gitu. Ambil sebanyak-banyaknya dari jarak jauh," perintah Sarah, suaranya terdengar sangat bersemangat.
Dion agak ragu. "Eh, tapi kalau ketahuan gimana? Bisa kena sanksi akademik kita kalau ketahuan ambil foto tanpa izin, apalagi yang menjurus ke begitu."
"Penakut banget sih lo!" sahut Rendy sambil menepuk pundak Dion dengan keras. "Gunakan lensa zoom lo, Yon. Dari sini kan jaraknya lumayan jauh, dia nggak bakal sadar. Lagian kantin lagi ramai begini, nggak bakal ada yang curiga lo lagi ngeker siapa."
"Ayo dong, Yon. Ini demi harga diri Rendy juga, kan? Dan biar cewek kecentilan itu tahu rasa," desak Sarah, memanas-manasi ego cowok-cowok itu.
Terbujuk oleh provokasi Sarah dan Rendy, Dion akhirnya membuka tas ranselnya. Ia mengeluarkan kamera DSLR hitam miliknya. Dengan gerakan perlahan dan berpura-pura sedang menyetel lensa untuk memotret pemandangan kampus, Dion mulai mengarahkan kameranya ke arah Naya.
Melalui lensa zoom berkekuatan tinggi, wajah Naya terlihat sangat jelas di layar bidik. Dion menahan napasnya. Ia mulai menekan tombol rana berulang kali secara perlahan agar suaranya tidak menarik perhatian orang sekitar.
*Cekrek. Cekrek. Cekrek.*
"Dapet?" tanya Rendy dengan suara berbisik yang tidak sabar.
"Sabar, Ren. Ini lagi gue fokusin," jawab Dion.
Saat itu, Naya sedang berjalan menuju meja teman-temannya. Ia sempat membungkuk sedikit untuk mengambil pulpennya yang terjatuh di lant** selasar. Gerakan itu membuat bagian depan tanktop putihnya melonggar, memperlihatkan belahan dadanya dengan sangat jelas.
*Cekrek. Cekrek.*
Dion tersenyum puas. "G***, ini dapet banget sudutnya. Parah sih. Kelihatan jelas banget."
"Coba gue lihat!" Sarah langsung merebut kamera itu dari tangan Dion. Matanya melebar saat melihat hasil foto di layar LCD kecil kamera tersebut. Ada sekitar belasan foto Naya dalam berbagai pose dari sudut rendah dan sudut atas yang sangat tidak pantas. Beberapa foto memperlihatkan bagian dada Naya yang menerawang karena basah oleh air mineral, dan beberapa lagi memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat sensual saat ia membungkuk.
"Sempurna," bisik Sarah dengan senyum kemenangan yang mengerikan. "Ini lebih dari c**up buat bikin dia dicap sebagai cewek gampangan se-universitas."
Rendy ikut melihat layar kamera dan tertawa puas. Rasa sakit hatinya karena ditolak seolah terbayar lunas melihat foto-foto tersebut. "Bagus banget. Sekarang, rencana kita selanjutnya apa?"
Tasya, teman Sarah yang sedari tadi diam, ikut angkat bicara. "Kita sebar lewat menfess Twitter kampus aja. Pakai akun alter yang nggak bisa dilacak. Kita tulis caption yang menggiring opini kalau dia itu cewek yang suka 'jualan' di kampus."
"Atau kita kirim ke grup-grup WhatsApp angkatan secara anonim," tambah Fachri dengan ide yang tidak kalah jahat. "Biar semua dosen dan mahasiswa tahu kelakuan asli si mahasiswi berprestasi kesayangan dekanat ini."
Sarah menggelengkan kepalanya, tidak setuju. "Jangan langsung semuanya. Kita main cantik. Pertama, kita kirim satu atau dua foto dulu ke akun gosip kampus malam ini. Kasih caption yang bikin orang-orang penasaran dan mulai nge-troll dia di kolom komentar. Setelah itu viral dan dia mulai panik, baru kita lepas foto yang paling parah."
"Sumpah, lo licik banget, Sar. Tapi gue suka gaya lo," ujar Rendy sambil terkekeh jahat. "Gue pengen lihat gimana reaksi si Arga kalau tahu cewek yang dia bangga-banggain itu jadi bahan fantasi cowok-cowok sekampus."
"Arga pasti bakal langsung ninggalin dia. Cowok mana yang mau pacaran sama cewek yang fotonya tersebar kayak gini?" sahut Sarah dengan penuh keyakinan. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan Arga yang kecewa lalu datang mencari sandaran pada dirinya.
Di seberang sana, Naya sama sekali tidak menyadari badai besar yang sedang bergerak ke arahnya. Ia masih asyik mengobrol dan tertawa bersama teman-temannya, sesekali membenulkan posisi kemeja flanelnya yang merosot karena tertiup angin sore. Ia merasa hari ini adalah hari yang indah, tanpa tahu bahwa beberapa menit lagi, dunianya yang tenang akan hancur berantakan karena jari-jari kejam orang-orang yang membencinya.
"Malam ini, jam sembilan. Kita mulai operasinya," bisik Sarah pada grup konspirator itu, disambut dengan anggukan setuju dan tawa puas dari mereka semua. Kamera di tangan Dion kembali dima**kkan ke dalam tas, menyimpan bom waktu yang siap meledakkan hidup Naya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!