Bab 1: Reuni Paling Ogah
Hari ini seharusnya menjadi hari terbaik dalam hidup Alika. Seharusnya.
Sejak tiga bulan lalu, ketika developer game raksasa NexaCorp mengumumkan beta-testing eksklusif untuk 'Fantasy World Online' (FWO), Alika sudah melakukan segala cara demi mendapatkan satu tiket emas itu. Mulai dari mengikuti kuis di Twitter sampai begadang demi memenangkan *war ticket* di situs resminya. FWO bukan cuma sekadar game VR biasa. Ini adalah game Virtual Reality bersistem *Full-Dive* pertama di I****esia yang menjanjikan sensasi fantasi super nyata. Alika sudah membayangkan dirinya menjadi seorang *Mage* anggun bergaun lilac, merapal mantra sihir es, dan dikelilingi efek kelopak bunga yang estetik.
Namun, semua bayangan indah itu mendadak hancur berkeping-keping, hancur sehancur-hancurnya, begitu Alika melangkah ma**k ke dalam aula utama NexaCorp.
"Perhatian untuk seluruh peserta beta-test, harap melihat ke layar utama. Sistem telah mencocokkan partner *co-op* kalian secara acak berdasarkan kecocokan algoritma dasar," suara mbak-mbak MC menggema lewat pelantang suara, terdengar begitu ceria di telinga Alika yang sedang sibuk merapikan jaket bombernya.
Alika mendongak, menatap layar LED raksasa di depan aula. Matanya menyusuri daftar nama yang bergerak cepat, mencari namanya sendiri.
**[ Alika Naila Putri — Mage ]**
"Oke, dapet," gumam Alika dengan senyum lebar. Namun, begitu matanya bergeser ke kolom di sebelahnya, ke baris nama partner yang dipasangkan dengannya, senyum itu langsung membeku.
**[ Rian Ardiansyah — Paladin ]**
Alika mengerjap sekali. Dua kali. Dia bahkan sampai mengucek matanya, berharap layar itu sedang mengalami *glitch* atau dia salah baca akibat kurang tidur. Tapi tidak. Nama itu tetap terpampang nyata di sana. Dengan ejaan yang sangat dia kenali. Ejaan dari nama cowok yang paling ingin dia hapus dari sejarah hidupnya.
"Sumpah? Dari ribuan pendaftar di Jakarta, kenapa harus manusia purba ini yang jadi partner gue?" Alika mendesis kaku, tangannya terkepal erat di sisi tubuh.
"Gue juga nggak merasa ini sebuah keberuntungan, Al."
Sebuah suara bariton yang terlampau familier terdengar dari arah belakangnya. Alika perlahan memutar tubuhnya, dan di sanalah cowok itu berdiri.
Rian Ardiansyah. Mantan pacar Alika dari zaman kuliah semester tiga, yang baru putus sekitar delapan bulan lalu. Cowok itu masih sama seperti terakhir kali Alika melihatnya—rapi, memakai kacamata berbingkai hitam tipis, kemeja flanel yang dikancing sampai kerah paling atas, dan ekspresi wajah sedatar papan g***san yang selalu membuat Alika naik darah.
"Rian?" Alika menunjuk wajah Rian dengan jari telunjuknya, matanya membelalak lebar. "Lo ngapain di sini?! Lo kan benci game fiksi begini! Kata lo, game fantasi itu cuma buang-buang waktu dan nggak logis!"
Rian menghela napas pendek. Dia membenulkan letak kacamatanya dengan ujung jari tengah—kebiasaan menyebalkan yang selalu dia lakukan kalau sedang merasa superior. "Ini namanya riset teknologi, Alika. NexaCorp pakai sistem sensor saraf terbaru. Sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Informatika, gue perlu tahu cara kerjanya. Lagipula, prob***litas kita buat ketemu di sini tuh cuma 0,02%. Gue nggak nyangka algoritma NexaCorp seburuk ini sampai bisa memasangkan kita."
"Oh, jadi lo mau bilang ini salah algoritma? Lo pikir gue mau sekelompok sama lo?!" sembur Alika, tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang mulai melirik ke arah mereka. "Gue ke sini mau bersenang-senang, ya! Mau dapet visual yang estetik, mau *healing*! Bukan mau reuni sama mantan yang kalau pacaran harus pakai jadwal terstruktur di Google Calendar!"
Rian mengernyitkan dahi, tampak tersinggung. "Google Calendar itu efisien, Al. Biar waktu kita nggak kebuang sia-sia buat nanya 'hari ini mau makan di mana' selama dua jam."
"Tapi lo bikin pacaran berasa kayak rapat organisasi, Rian! Lo bahkan pernah bikin evaluasi bulanan hubungan kita pakai *slide* PowerPoint! Siapa yang nggak stres?!"
"Itu namanya evaluasi performa hubungan untuk improvisasi ke depan. Logis, kan?" Rian membela diri dengan wajah tanpa dosa.
Alika mengusap wajahnya kasar, hampir saja berteriak frustrasi. "Terserah! Pokoknya gue mau minta panitia buat ganti partner. Gue nggak sudi ma**k ke dunia game bareng lo!"
Baru saja Alika hendak melangkah mencari panitia, suara MC kembali menginterupsi. "Baiklah, para petualang! Silakan segera mema**ki kapsul VR masing-masing sesuai dengan nomor baris yang tertera di layar. Proses sinkronisasi saraf akan segera dimulai dalam tiga menit. Harap diingat, *co-op partner* tidak dapat diubah setelah kalian ma**k ke dalam kapsul!"
Alika membeku di tempat. Layar besar di depan kini menampilkan hitung mundur.
*02:59... 02:58...*
Rian menatap Alika, lalu melihat ke arah deretan kapsul VR yang berbentuk mirip peti mati futuristik berwarna putih dengan lampu-lampu LED biru yang menyala di sepanjang sisinya. "Secara matematis, kalau lo maksa minta ganti sekarang, kita berdua bakal didiskualifikasi dari daftar beta-tester karena mengulur waktu. Lo mau tiket mahal lo hangus gitu aja?"
Alika menggigit bibir bawahnya. Perjuangan begadang berhari-hari demi tiket ini langsung terlintas di kepalanya. Dia tidak mungkin merelakan kesempatan emas ini hanya karena ego. Tapi... berpasangan dengan Rian?
"Oke, denger ya," Alika berbalik, menatap Rian dengan tatapan paling mengintimidasi yang dia punya. Dia melipat kedua tangannya di dada. "Kita ma**k, kita main, tapi kita jalan masing-masing di dalam game. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue. Anggap aja kita nggak saling kenal. Deal?"
Rian menatap Alika datar selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. "Deal. Lagipula, gaya main lo yang asal tab**k pasti cuma bakal ngerusak strategi pertahanan gue sebagai Paladin."
"Heh! Mage gue ini tipe *damage dealer* ya, bukan beban!" Alika mendengus kencang, lalu berbalik dan berjalan mengentak-entakkan kakinya menuju kapsul nomor 44, sementara Rian berjalan di sampingnya menuju kapsul nomor 45 yang bersebelahan.
Alika memanjat ma**k ke dalam kapsul VR yang terasa dingin. Lapisan busa di dalamnya sangat empuk, memeluk tubuhnya dengan pas. Seorang staf NexaCorp membantu memasangkan helm *Neural-Link* ke kepala Alika, menyesuaikan beberapa kabel di pelipisnya.
"Semua sistem siap, Kak. Selamat berpetualang di Fantasy World Online," ucap staf itu ramah sebelum menutup penutup kaca kapsul secara perlahan.
Di dalam kegelapan kapsul yang kedap suara, Alika memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang—campuran antara rasa kesal pada Rian dan rasa antusias yang luar biasa.
*Bzzzt...*
Sebuah sensasi menggelitik menjalar dari tengkuknya ke seluruh tubuh. Kesadaran Alika perlahan-lahan ditarik pergi dari dunia nyata.
Ketika dia membuka mata, dia tidak lagi berada di dalam kapsul sempit. Dia melayang di sebuah ruang digital tanpa batas berwarna biru neon. Di depannya, sebuah panel holografik transparan melayang indah.
**[ Selamat Datang di Fantasy World Online! ]**
**[ Sinkronisasi Saraf: 100% ]**
**[ Menghubungkan dengan partner co-op: Rian_Ardiansyah... ]**
Sosok avatar Rian mendadak muncul di sampingnya. Cowok itu kini mengenakan baju zirah perak khas Paladin yang terlihat sangat kokoh, lengkap dengan pedang besar di punggungnya. Harus Alika akui, avatar Rian terlihat c**up keren—meskipun ekspresi wajah cowok itu masih saja menyebalkan dan kaku seperti kanebo kering.
Sementara itu, Alika melihat ke bawah, memperhatikan penampilannya sendiri. Dia memakai gaun Mage berwarna lilac dengan jubah tipis yang melambai ditiup angin digital, lengkap dengan tongkat sihir berujung kristal ungu di tangan kanannya. *Visualnya dapet banget! Estetik parah!* Alika tersenyum puas.
"Jangan bengong, Al. Proses loading dunia game mau dimulai," tegur Rian, suaranya terdengar jernih langsung di dalam kepala Alika melalui sistem audio game.
"Gue nggak bengong, gue lagi mengagumi grafisnya! Dasar nggak punya jiwa seni!" ketus Alika.
Di depan mereka, sebuah gerbang emas raksasa yang dikelilingi awan-awan putih indah mulai terbentuk. Di balik gerbang itu, sayup-sayup terlihat pemandangan kota fantasi abad pertengahan yang sangat megah. Kastil-kastil tinggi menjulang, naga-naga kecil beterbangan di langit biru bersih. Ini dia, dunia fantasi impian Alika.
**[ Memulai Loading Map Utama: 'Eldoria Capital' ]**
**[ Progress: 10%... 30%... 50%... ]**
Namun, tepat saat persentase mencapai angka 70%, gerbang emas di depan mereka mendadak bergetar hebat.
*Bzzzt! Crack!*
Suara desis listrik yang m****akkan telinga terdengar. Langit biru bersih di balik gerbang langsung retak, seperti kaca yang dipukul palu godam. Retakan itu memancarkan cahaya merah darah yang pekat.
"Eh? Ini... ini emang bagian dari efek loading-nya ya?" Alika bertanya, mulai merasa tidak nyaman. Jantungnya berdegup tidak karuan.
Rian segera memasang posisi siaga, tangannya memegang gagang pedang di punggungnya. Alisnya bertaut erat. "Enggak. Sinyal sinkronisasi saraf kita mendadak fluktuatif. Kecepatan transfer datanya drop drastis. Ini anomali."
**[ PERINGATAN! ERROR SYSTEM 0x000404 ]**
**[ Gagal memuat aset Map: 'Eldoria Capital' ]**
**[ Koneksi ke server utama terputus! ]**
Layar hologram di depan mereka berubah warna menjadi merah menyala yang berkedip-kedip cepat. Suara alarm berdengung kencang di telinga mereka, membuat Alika refleks menutup kedua telinganya sambil meringis kesakitan.
"Rian! Ini kenapa?!" teriak Alika panik.
"Sistemnya crash! Kita harus buru-buru log out!" Rian berteriak balik. Dia mencoba membuka menu sistem di tangan kirinya, tapi panel menu itu langsung pecah menjadi baris-baris kode biner yang rusak begitu disentuh. "Menu log out-nya nggak merespons! Sial, tombolnya terkunci!"
"Apa?! Masa nggak bisa keluar?!" Alika mencoba memanggil menu sihirnya, tapi yang keluar hanyalah asap hitam kecil dan tulisan *'Null Pointer Exception'*.
Tiba-tiba, tanah digital tempat mereka berdiri retak. Retakan hitam besar menjalar dari bawah kaki mereka. Alika kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika Rian tidak dengan sigap menangkap lengannya.
"Pegang yang kuat, Al!" seru Rian.
"Rian, gue takut!" Alika berteriak saat melihat ruang digital di sekeliling mereka mulai runtuh, tersedot ke dalam pusaran hitam pekat yang mengerikan. Kastil megah, naga-naga, dan awan putih semuanya hancur, berubah menjadi jutaan baris kode pemrograman berwarna hijau dan merah yang rusak berkeping-keping.
Dunia di sekitar mereka menjadi gelap gulita. Gravitasi seolah menghilang, membuat mereka berdua melayang tak tentu arah di tengah kehampaan. Suara bising dari sistem yang error perlahan-lahan memudar, digantikan oleh keheningan yang mencekam.
Mereka tersedot semakin dalam ke dalam pusaran gelap itu. Alika memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram erat zirah perak di lengan Rian, sementara Rian berusaha menahan tubuh Alika agar tidak terpisah darinya di tengah kekacauan itu.
*Whuuush...*
Sensasi jatuh bebas yang luar biasa membuat perut Alika mual. Dan dalam hitungan detik, semuanya menjadi gelap total.
***
Beberapa saat kemudian, Alika perlahan-lahan membuka matanya.
Rasa pusing yang hebat langsung menyerang kepalanya. Dia mengerang pelan, mencoba bangkit berdiri sambil memegangi dahinya yang terasa berdenyut-denyut. Begitu dia berhasil duduk, dia menyadari bahwa dia tidak lagi berada di ruang loading ataupun di kapsul VR NexaCorp.
Dia berada di sebuah tempat yang sangat aneh.
Langit di atasnya berwarna abu-abu gelap, tanpa ada matahari, bulan, ataupun bintang. Alih-alih awan, langit itu dipenuhi oleh baris-baris kode pemrograman berwarna hijau menyala yang bergerak lambat secara horizontal, beberapa di antaranya tampak berkedip dan terputus-putus seperti TV rusak.
Tanah yang dipijaknya bukan berupa rumput atau batu, melainkan ubin hitam legap dengan tekstur semi-transparan. Di bawah ubin itu, mengalir aliran data digital berwarna biru redup yang mengalir seperti sungai bawah tanah. Di sekelilingnya, terdapat puing-puing bangunan kuno yang setengah hancur, namun puing-puing itu tidak terlihat seperti batu asli—mereka tampak bergetar dan sesekali menunjukkan tekstur *wireframe* kawat tiga dimensi khas proses pembuatan game yang belum selesai.
Di kejauhan, sebuah papan peringatan melayang di udara, berkedip-kedip tidak stabil dengan warna merah neon:
**[ ERROR: MAP NOT FOUND ]**
**[ ZONE 404 — RESTRICTED AREA ]**
"Kita... kita di mana?" gumam Alika dengan suara bergetar. Dia melihat ke tangannya. Dia masih mengenakan gaun Mage lilac-nya, tapi tongkat sihirnya kini retak di bagian tengahnya.
"Alika."
Alika menoleh ke samping. Rian sedang berlutut di dekatnya, mencoba memeriksa panel holografik kecil yang melayang di pergelangan tangannya. Wajah Rian yang biasanya tenang kini terlihat sangat tegang. Ada keringat dingin yang menetes di pelipisnya.
"Rian... ini bagian dari gamenya, kan? *Event* kejutan buat para beta-tester?" Alika bertanya dengan nada penuh harap, meskipun di dalam hatinya dia sudah tahu jawabannya.
Rian mendongak, menatap Alika dengan tatapan serius. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak, Al. Ini bukan bagian dari game. Sistem NexaCorp mengalami kegagalan total saat kita loading tadi. Data kita terlempar dari server utama dan tersangkut di area memori yang rusak." Rian berdiri, lalu menunjuk ke arah papan peringatan yang melayang. "Kita nggak terhubung ke mana-mana. Kita terjebak di Map 404."
Alika merasa seluruh darahnya surut dari wajahnya. "Terjebak? Maksud lo... kita nggak bisa pulang?"
"Untuk sekarang," Rian menghela napas, menatap dunia kosong dan rusak di sekeliling mereka, "kita nggak punya akses log out sama sekali. Kita benar-benar terkunci di sini. Bareng-bareng."
Alika menatap Rian, lalu menatap dunia digital yang rusak di sekelilingnya. Detik itu juga, dia menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan daripada kenyataan bahwa mereka terjebak di dalam game yang rusak:
Dia harus bertahan hidup di dimensi asing ini bersama mantan pacarnya yang paling menyebalkan sedunia.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!