Sisa aroma kopi hangat dari Kafe Glitch menguap begitu saja, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk kulit. Di depan mereka kini berdiri sebuah struktur raksasa yang tampak sangat intimidatif.
Admin Tower.
Gedung pencakar langit bernuansa hitam legam itu menjulang tinggi menembus langit malam Map 404 yang dipenuhi awan piksel abu-abu. Kabel-kabel fiber optik berukuran raksasa menjalar di dinding luarnya seperti akar pohon purba, sesekali berkedip memancarkan aliran data berwarna biru muda.
Namun, langkah Rian dan Alika langsung terhenti sekitar dua puluh meter sebelum mencapai anak tangga pertama.
"Buset... gerbangnya gede banget," gumam Rian, menengadah menatap gerbang baja tebal yang menutup rapat akses ma**k ke dalam menara. Di tengah gerbang itu, terdapat sebuah lambang gembok besar yang menyala merah tua.
"Bukan cuma gerbangnya yang masalah, Yan," sahut Alika. Nadanya langsung berubah serius. Ia meraba busur panah di punggungnya, memastikan senjatanya itu siap digunakan kapan saja. "Lihat tanah di depan kita."
Rian menurunkan pandangannya. Di area kosong antara posisi mereka berdiri dan gerbang utama, tanah semen retak-retak itu dilapisi oleh pola garis-garis neon merah tipis. Di atas mereka, beberapa proyektor laser berbentuk bola mata mekanis melayang-layang secara acak. Moncong proyektor itu sesekali mengeluarkan kilatan cahaya merah yang menyapu permukaan tanah secara tidak beraturan.
Tiba-tiba, sebuah teks hologram melayang di udara, berkedip-kedip dengan warna merah menyala.
`[WARNING: ADMIN TOWER OUTER DEFENSE ACTIVATED]`
`[PROTOCOL: FIREWALL_GRID_v4.04]`
`[TIME LIMIT TO DETECT: 05:00]`
"Lima menit?" Rian langsung panik. Suaranya naik satu oktav. "G***! Kalau dalam lima menit kita gak bisa nembus ini, sistemnya bakal nge-reset dan kita bisa di-kick balik ke rawa-rawa ungu kemarin!"
"Dan gue gak mau lagi ya ketemu monster lumpur bau itu," balas Alika cepat. Matanya menyipit, menganalisis pergerakan bola mata mekanis di atas mereka. "Yan, lihat itu. Di sebelah kanan gerbang, ada panel kendali dengan layar hijau. Itu pasti terminal buat matiin sistemnya."
Rian mengikuti arah telunjuk Alika. Benar saja, sebuah konsol komputer dengan lampu indikator hijau berkedip berada tepat di sebelah gerbang. Masalahnya, jalan menuju ke sana benar-benar ditutupi oleh jaringan laser dinamis. Laser-laser itu bergerak menyilang, berputar, dan sesekali menembak secara acak ke tanah.
Satu sentuhan saja pada laser itu pasti akan langsung menguras HP (*Health Points*) mereka yang baru saja terisi penuh di Kafe Glitch tadi.
"Terminalnya ada di sana, tapi jalannya ketutup total," Rian menggigit bibir bawahnya, otaknya berputar keras mencari algoritma atau pola pergerakan laser tersebut. "Gue butuh waktu minimal tiga menit buat nge-hack panel itu tanpa interupsi. Tapi dengan laser se-aktif ini, baru melangkah tiga langkah aja gue pasti udah jadi abu."
Alika menepuk bahu Rian pelan, membuat cowok itu menoleh. Alika memberikan cengiran khasnya yang sudah lama tidak Rian lihatβcengiran percaya diri yang dulu selalu membuat Rian jatuh hati.
"Gue yang bakal maju duluan," cetus Alika mantap.
"Hah? Lo g***?" Rian langsung menolak. "Al, itu laser otomatis. Kalau lo kena, damage-nyaβ"
"Gue ini Ranger, Rian. *Stat* kelincahan (*Agility*) gue paling tinggi di antara kita berdua," potong Alika, tidak menerima bantahan. "Gue punya skill *Dash* dan *Evasion*. Gue bisa mancing arah tembakan laser-laser itu biar fokus ke gue, sementara lo lari lewat jalur aman yang gue buka untuk menuju ke panel kendali."
Rian menatap Alika ragu. "Tapi, Al..."
"Gak ada tapi-tapian, Rian! Waktu kita terus berjalan!" Alika menunjuk ke arah timer hologram yang kini sudah menunjukkan angka `04:12`. "Gue percaya sama skill coding lo. Sekarang, lo harus percaya sama kelincahan gue. Oke?"
Melihat keseriusan di mata bulat Alika, Rian akhirnya mengembuskan napas pasrah. Ia mencengkeram gagang pedangnya, bersiap-siap. "Oke. Jangan sampai lecet, Al. Gue gak mau tanggung jawab kalau lo respawn dengan wujud piksel pecah-pecah."
"Cerewet. Siap-siap lari ya!"
Alika mengambil ancang-ancang. Begitu kaki kanannya menghentak tanah, tubuhnya melesat maju bagikan anak panah yang lepas dari busurnya.
*ZAP!*
Seketika, tiga bola mata mekanis di atas langsung berputar cepat, mengunci target pada tubuh Alika. Tiga larik laser merah tebal langsung melesat ke arahnya.
"Sekarang, Yan! Lari!" teriak Alika sambil melakukan manuver *slide* di bawah celah laser yang menyapu setinggi dada. Pakaian Ranger-nya bergesekan dengan tanah, menimbulkan percikan debu piksel.
Begitu mendengar aba-aba Alika, Rian langsung berlari kencang memutari sisi kiri area. Fokusnya terbagi antara jalan di depannya dan sosok Alika yang kini sedang menari-nari di tengah badai laser.
Alika melompat tinggi, melakukan salto di udara untuk menghindari laser horizontal yang bergerak cepat dari arah samping. Gerakannya sangat anggun namun presisi. Begitu mendarat, ia langsung mengaktifkan skill *Dash*-nya, melesat ke kanan untuk memancing dua tembakan laser baru yang hampir saja mengenai tempat Rian berlari.
"Gokil, dikit lagi!" seru Rian dalam hati. Dengan satu lompatan terakhir, ia berhasil mencapai area aman di depan panel kendali. Tanpa membuang waktu, Rian langsung menempelkan tangannya ke layar terminal dan memunculkan keyboard hologram biru di hadapannya.
*Tuk-tuk-tuk-tuk!*
Jari-jari Rian bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Sebagai mahasiswa teknik informatika yang sering begadang demi proyekan, mengetik baris kode di bawah tekanan seperti ini adalah keahlian utamanya. Layar di depannya mulai menampilkan baris-baris enkripsi rumit berlabel `[FIREWALL_SECURE_GATE]`.
"Al! Sistemnya punya tiga lapis enkripsi! Gue harus bypass satu-satu!" teriak Rian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
"Lakuin secepatnya, Yan! Sumpah, ini lebih susah daripada ngehindarin kejaran an**** tetangga!" balas Alika setengah berteriak. Ia baru saja merunduk, membiarkan seberkas laser merah lewat hanya beberapa milimeter di atas ikat rambutnya. Bau gosong piksel mulai tercium dari ujung jubah hijaunya.
"Lapis pertama... *bypass*!" seru Rian saat baris kode pertama berubah warna dari merah menjadi hijau.
Namun, keberhasilan itu langsung memicu reaksi pertahanan sistem yang lebih agresif. Bola-bola mata mekanis di udara mulai bergerak lebih cepat, memancarkan laser dengan pola spiral yang membingungkan.
"Awas, Al! Polanya berubah jadi spiral!" Rian berteriak memperingatkan. Dari sudut matanya, ia melihat Alika mulai kesulitan. Stamina bar milik Alika yang berwarna kuning di sudut kiri atas layar mulai menurun drastis.
Alika terengah-engah. Napasnya memburu. Jalur hindarannya semakin sempit. Ketika sebuah laser bergerak cepat memotong jalurnya, Alika tidak punya pilihan selain melompat ke arah pilar beton yang retak. Ia menumpu kakinya di pilar itu, lalu mendorong tubuhnya ke belakang, mendarat dengan berguling di tanah.
"Awh!" Alika meringis pelan. Ujung jubahnya sempat terkena gesekan laser. Bar HP-nya langsung berkurang sepuluh persen.
"Al!" teriak Rian, cemasnya bukan main. Konsentrasinya hampir pecah.
"Gue gak apa-apa! Fokus, Rian! Jangan liatin gue terus, ntar naksir lagi!" teriak Alika sambil berusaha bangkit kembali, mencoba bercanda di tengah situasi hidup dan mati untuk mengurangi rasa tegang.
Rian mendengus, tapi senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Dih, pede banget! Siapa juga yang naksir!"
Meskipun mulutnya berkata begitu, fokus Rian justru meningkat tajam. Adrenalinnya terpompa maksimal. Ia menyadari sesuatu pada layar terminalnya. "Al! Pola lasernya gak acak-acak banget! Ini ngikutin urutan baris kode yang lagi gue pecahin! Kalau gue hapus baris merah di kiri, laser sebelah kiri lo bakal mati selama dua detik!"
Alika langsung paham. "Oke! Kasih tahu gue arahnya, Yan!"
Di sinilah *chemistry* lama mereka kembali menyala. Hubungan yang sempat kandas dan menyisakan kecanggangan itu seolah luntur begitu saja, digantikan oleh koneksi batin yang luar biasa kuat. Mereka seperti kembali ke masa-masa kuliah dulu, saat mereka selalu menjadi partner paling klop dalam mengerjakan tugas kelompok atau saat memenangkan kompetisi game di kampus.
"Kanan kosong, lompat sekarang!" teriak Rian.
*Hup!* Alika melompat ke kanan tanpa ragu sedikit pun, tepat saat laser di sebelah kirinya menyala g***-g***an.
"Merunduk! Tiga... dua... satu... turun!"
Alika langsung menjatuhkan dirinya ke tanah. Seberkas cahaya merah besar menyapu tepat di atas kepalanya. Sentuhan angin laser itu membuat rambut kuncir kudanya bergoyang keras.
"Sekarang *dash* ke arah gue, Al! Jalur tengah bersih!"
Tanpa berpikir dua kali, Alika menggunakan sisa staminanya untuk melakukan *Dash* terakhir. Tubuhnya melesat lurus melewati celah-celah laser yang padam satu per satu akibat retasan Rian.
Sementara itu, jari-jari Rian mengeksekusi baris kode terakhir pada terminal.
`[DECRYPTING DATABASE...]`
`[98%... 99%...]`
"Ayo... ayo... dikit lagi..." bisik Rian dengan keringat dingin yang mulai menetes di pelipisnya. Timer di atas mereka kini menunjukkan angka `00:12`. Tinggal dua belas detik lagi!
*ENTER!*
Rian menghantam tombol virtual terakhir dengan telapak tangannya.
`[ACCESS GRANTED. DEACTIVATING SECURITY GRID.]`
Seketika itu juga, seluruh bola mata mekanis di udara meredup dan perlahan-lahan turun ke tanah, sebelum akhirnya menghilang menjadi partikel cahaya abu-abu. Garis-garis neon merah di tanah padam sepenuhnya. Udara yang tadinya terasa panas karena energi laser mendadak kembali dingin dan tenang.
*KLANG! KREEEKKK...*
Suara mekanisme besi tua yang sangat berat terdengar menggema. Gerbang baja Admin Tower yang raksasa itu perlahan-lahan bergeser terbuka, menyingkap sebuah lorong gelap yang diterangi oleh lampu-lampu sensor yang menyala satu per satu secara berurutan.
Alika langsung terduduk lemas di atas tanah semen yang dingin. Busur panahnya diletakkan begitu saja di samping tubuhnya. Ia mengatur napasnya yang terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Stamina bar-nya benar-benar tiris, menyisakan warna merah tipis yang berkedip-kedip.
Rian buru-buru berlari menghampiri Alika. Ia langsung berlutut di depan gadis itu, wajahnya dipenuhi rasa khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
"Al, lo gak apa-apa? Ada yang luka? HP lo tipis banget itu," tanya Rian bertubi-tubi, tangannya bahkan refleks memegang pundak Alika sebelum akhirnya ia menariknya kembali dengan canggung, sadar kalau mereka sudah bukan pacaran lagi.
Alika menatap Rian, lalu sebuah senyuman lebar mengembang di wajahnya yang masih sedikit kotor terkena debu piksel. "Gue gak apa-apa, Rian. Cuma capek banget. Stamina gue abis."
Ia meraba kantong sabuknya, mengambil sebuah ramuan pemulih stamina berwarna kuning yang tersisa satu-satunya, lalu meminumnya hingga tandas. Perlahan, warna kuning di bar staminanya mulai terisi kembali.
Rian mengembuskan napas lega yang sangat panjang, seolah seluruh beban di pundaknya baru saja diangkat. Ia ikut menyelonjorkan kakinya di samping Alika, menatap gerbang Admin Tower yang kini sudah terbuka lebar di depan mereka.
"G*** ya..." gumam Rian memecah keheningan. "Kita masih se-kompak dulu."
Alika terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah Rian, menatap profil samping wajah cowok itu yang diterangi oleh cahaya hijau samar dari panel terminal yang sudah mati. Kenangan-kenangan masa lalu, tentang bagaimana mereka selalu bisa menyelesaikan masalah tersulit sekalipun asalkan mereka bersama, mendadak berputar kembali di kepalanya.
"Iya," jawab Alika lirih, suaranya melembut. "Gue pikir... setelah kita putus, semua kecocokan itu bakal hilang gitu aja."
Rian menoleh, membalas tatapan Alika. Sudut matanya melembut. "Ternyata enggak, Al. Otak kita kayaknya udah ke-program buat saling melengkapi. Bahkan di map rusak kayak begini."
Alika terkekeh pelan, menepuk lengan Rian dengan sisa tenaganya. "Bisa aja lo, dasar tukang coding."
Meskipun suasana di sekitar mereka sangat mencekam dan penuh misteri di dalam Admin Tower yang menanti, untuk beberapa saat, di bawah gerbang yang baru saja mereka retas, ada kehangatan lama yang perlahan-lahan mulai tumbuh kembali di antara mereka berdua. Sebuah *chemistry* yang ternyata belum sepenuhnya mati, hanya sedang tersembunyi di balik dinding pertahanan mereka masing-masing.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!