Bab 11: Protokol Penghapusan Data
"Tenang aja, Yan. Lo lupa siapa juara panahan tingkat provinsi waktu SMA?" Alika mengedipkan sebelah matanya, membuat Rian sempat terpaku selama satu detik penuh sebelum akhirnya tersadar kembali ke realita yang mengerikan.
Alika menarik napas dalam-dalam. Dengan gerakan cepat yang sangat terlatih, ia menarik sepasang anak panah dari tabung di punggungnya. Busur panahnya berpendar terang, menyalurkan energi berwarna biru neon ke ujung anak panah.
*Syuuutt! Syuuutt!*
Dua anak panah meluncur membelah udara dengan presisi luar biasa. Targetnya bukan bola mata mekanis yang melayang, melainkan sensor pemancar laser yang tertanam di sudut dinding. Begitu anak panah Alika menghantam sensor tersebut, terjadi ledakan percikan listrik kecil. Jaringan laser merah yang menghalangi jalan mereka langsung berkedip tidak stabil lalu padam sepenuhnya selama beberapa detik.
"Sekarang, Yan! Lari!" teriak Alika.
Rian tidak membuang waktu. Mengabaikan rasa pegal di kakinya, ia melesat kencang bagaikan atlet lari cepat. Begitu sampai di depan konsol terminal, jemarinya langsung menari dengan sangat cepat di atas kibor virtual yang melayang. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya.
`[DECRYPTING SECURITY LOCK: 10%... 40%... 75%...]`
"Lik! Lasernya mau nyala lagi!" seru Rian panik saat melihat indikator merah di dinding mulai berkedip-kedip cepat.
"Gue jaminin lo! Fokus aja nge-hack!" Alika berteriak balik sambil kembali melepaskan tembakan panah beruntun untuk menghancurkan proyektor laser yang mencoba membidik posisi Rian.
`[DECRYPTING SECURITY LOCK: 100%]`
`[ACCESS GRANTED. OPENING GATE.]`
Suara dentum besi berat terdengar bergaung. Gerbang baja Admin Tower perlahan terbuka, menyisakan celah yang c**up lebar.
"Ma**k! Ma**k!" Rian menarik pergelangan tangan Alika, dan mereka berdua langsung melempar tubuh melewati celah gerbang tepat saat waktu di layar hologram menunjukkan angka `00:01`.
*B**k!*
Gerbang baja itu tertutup kembali dengan bantingan keras, mengunci mereka di dalam Admin Tower.
Rian terduduk di lant** lant** marmer hitam yang dingin, napasnya memburu tidak beraturan. "A****... g***. Jantung gue hampir copot," gumamnya sambil memegangi dadanya.
Alika menyandarkan tubuhnya ke dinding gerbang, ikut terengah-engah. Namun, kelegaan mereka tidak bertahan lama. Suasana di dalam Admin Tower terasa sangat asing. Ruangan lobi utama ini sangat luas, dengan pilar-pilar hitam menjulang tinggi dan langit-langit yang tertutup oleh jaringan kabel fiber optik raksasa. Semuanya terlalu sunyi. Terlalu gelap.
Tiba-tiba, seluruh lampu neon biru yang menghiasi dinding lobi berubah warna menjadi merah darah secara serentak. Suara sirine yang sangat bising mulai meraung-raung, memantul di dinding-dinding tinggi lobi.
*Wuuuttt! Wuuuttt! Wuuuttt!*
"Apalagi ini?!" Alika spontan langsung berdiri tegak, memegang busurnya dengan siaga.
Sebuah suara robotik wanita yang dingin dan monoton menggema dari pengeras suara di langit-langit.
`[WARNING: SYSTEM BREACH DETECTED IN SECTOR 1]`
`[IDENTIFIED AS: EXTERNAL VIRUS / CORRUPTED DATA]`
`[ACTIVATING PROTOCOL: MASS DATA ERA**RE]`
`[INITIATING IN 3... 2... 1...]`
"Virus? Kita dianggap virus?!" Rian melotot tidak percaya. "Padahal kita cuma mahasiswa nyasar yang pengen pulang!"
"Yan! Lihat di belakang lo!" teriak Alika dengan nada suara yang naik satu oktav. Ada ketakutan yang sangat nyata di matanya.
Rian menoleh ke arah gerbang ma**k tempat mereka baru saja lewat. Apa yang dilihatnya langsung membuat darahnya terasa membeku. Gerbang baja tebal itu tiba-tiba kehilangan tekstur dan warnanya. Perlahan tapi pasti, gerbang itu pecah menjadi kotak-kotak piksel abu-abu kecil, lalu menguap begitu saja ke dalam kehampaan abu-abu yang kosong dan sunyi.
Tidak ada ledakan, tidak ada suara runtuhan. Hanya sebuah kehampaan abu-abu yang merayap maju, menghapus apa pun yang dilewatinya dari peta ini. Lant** marmer hitam lobi mulai terkikis. Ubin demi ubin menghilang bagaikan dihapus oleh penghapus raksasa yang tidak terlihat.
"Penghapusan data massal..." bisik Rian dengan wajah pucat pasi. "Sistemnya lagi nge-format map ini secara permanen buat ngebersihin kita! Kalau kita kena itu... kita bakal kehapus dari database Map 404! Kita gak bakal bisa balik ke dunia nyata!"
"Gak usah dijelasin lagi teorinya, Rian! Sekarang kita harus lari ke mana?!" Alika panik setengah mati karena ubin yang menghilang kini hanya berjarak lima meter dari tempat mereka berdiri.
Rian mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan super cepat. Di tengah-tengah lobi, terdapat sebuah struktur tangga spiral raksasa yang menjulang tinggi ke atas, menuju ke arah ruang kendali utama yang berada di puncak menara.
"Tangga itu! Ayo naik!" teriak Rian.
Mereka berdua langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga. Kehampaan abu-abu di belakang mereka bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Setiap kali kaki mereka melangkah maju, lant** yang baru saja mereka injak sedetik lalu langsung runtuh dan lenyap ke dalam kegelapan abu-abu di bawah sana.
*Tap! Tap! Tap!*
Rian memimpin di depan, menaiki anak tangga spiral yang terbuat dari bahan logam semi-transparan. Di bawah mereka, suara detak penghapusan data terdengar seperti detak jam dinding raksasa yang menghitung mundur sisa hidup mereka.
"Lik, jangan lihat ke bawah! Fokus ke depan aja!" seru Rian tanpa menoleh. Napasnya sudah mulai habis. Sebagai anak IT yang jarang olahraga dan lebih sering begadang sambil ngemil mi instan, pelarian fisik seperti ini adalah siksaan batin terbesar baginya.
"Gue gak lihat ke bawah, Yan! Tapi tangganya mulai retak!" balas Alika dari belakang.
Benar saja. Efek dari protokol penghapusan data ini merambat ke atas. Anak-anak tangga di belakang mereka mulai berkedip-kedip tidak stabil (*glitching*). Beberapa anak tangga bahkan kehilangan wujud fisiknya, berubah menjadi proyeksi hologram yang tidak bisa diinjak.
"Buset, tangganya nge-lag!" teriak Rian frustrasi saat melihat tiga anak tangga di depannya tiba-tiba berkedip hilang-timbul. "Lik, lompat!"
Rian mengambil ancang-ancang dan melompat melewati celah tangga yang sedang *glitch* tersebut. Ia mendarat dengan tidak mulus, lututnya membentur anak tangga logam dengan keras. "Aduh!"
"Yan! Bangun!" Alika yang berhasil melompat dengan mulus langsung mencengkeram lengan jaket Rian, membantunya berdiri. Sentuhan tangan Alika terasa hangat di tengah hawa dingin mencekam dari kehampaan yang mengejar mereka. Untuk sesaat, mata mereka bertemu, menyisakan kilasan memori masa lalu saat mereka masih saling mendukung dalam hal-hal kecil.
Namun, suara gemuruh ubin yang terhapus langsung membuyarkan momen itu.
"Makasih," gumam Rian cepat.
"Utang budi lo nambah satu ya! Buruan lari!" balas Alika sambil menarik tangan Rian agar bergerak lebih cepat.
Mereka terus mendaki. Tangga spiral itu rasanya tidak ada habisnya. Kaki Rian sudah terasa seperti mati rasa, dadanya terasa sangat sesak seolah kehabisan oksigen. Di atas mereka, pintu ruang kendali utama yang berbentuk lingkaran besar dengan logo administrator sudah mulai terlihat. Jaraknya tinggal sekitar tiga lant** lagi.
Namun, sistem keamanan Admin Tower tampaknya tidak mau membiarkan penyusup lolos begitu saja.
Tiba-tiba, struktur tangga di atas mereka bergetar hebat. Beberapa pilar penyangga tangga terhapus oleh protokol keamanan. Akibatnya, bentangan tangga sepanjang sepuluh meter di depan mereka patah dan runtuh ke dalam kehampaan di bawah.
Langkah mereka berdua terhenti seketika di tepi patahan tangga.
Di depan mereka kini hanya ada jurang kosong selebar lima meter. Di seberang jurang itu, sisa tangga menuju ruang kendali masih berdiri kokoh. Di bawah mereka, kehampaan abu-abu terus merayap naik, melahap anak tangga yang baru saja mereka lewati. Hanya tersisa waktu kurang dari tiga puluh detik sebelum tempat mereka berpijak sekarang ikut terhapus.
"Jalannya putus, Yan! Kita mati di sini!" Alika mulai panik. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, bukan hanya karena takut, tapi juga karena rasa frustrasi yang luar biasa. "Gue... gue belum mau mati di game aneh kayak gini. Gue belum minta maaf sama nyokap... gue belum beresin skripsi..."
Rian menatap Alika. Melihat gadis yang biasanya selalu tegar dan galak itu kini tampak begitu rapuh, ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada Rian. Ia tidak boleh menyerah di sini. Sebagai cowok, dan sebagai mantan pacar yang masih menyimpan rasa, dia punya tanggung jawab untuk melindungi Alika.
"Lik, dengerin gue," Rian memegang kedua bahu Alika, memaksa gadis itu untuk menatap matanya langsung. "Kita gak bakal mati di sini. Gue janji. Lo percaya kan sama gue?"
Alika menatap mata Rian yang penuh dengan keyakinan. Rasa hangat yang familiar kembali menjalar di hatinya. Di tengah keputusasaan ini, genggaman tangan Rian terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak jatuh. "Gimana caranya, Yan? Kita gak bisa terbang!"
Rian melirik ke arah kabel fiber optik raksasa yang menjalar di sepanjang dinding menara, tepat di samping kanan mereka. Kabel itu berukuran sebesar paha orang dewasa dan dilapisi bahan karet sintetis yang sangat kuat.
"Kita gak perlu terbang. Kita cuma perlu gelantungan," Rian menunjuk ke arah kabel tersebut. "Kabel itu langsung terhubung ke panel atas di dekat pintu ruang kendali. Kita harus lompat dan pegangan ke kabel itu, terus merayap naik."
Alika menelan ludah. Jarak dari tepi tangga ke kabel itu sekitar dua meter, dengan jurang kehampaan tanpa dasar di bawahnya. Satu kesalahan kecil saja, dan mereka akan langsung *de-spawn* selamanya.
"G*** lo ya? Kalau pegangan kita lepas gimana?"
"Gak ada pilihan lain, Alika! Tangga kita di belakang udah mulai ilang!" Rian menunjuk ke belakang mereka. Benar saja, ubin tempat mereka berdiri kini mulai berkedip merah, menandakan bahwa giliran area ini yang akan segera dihapus oleh sistem.
"Oke, oke! Gue duluan atau lo?" tanya Alika dengan suara bergetar.
"Gue duluan. Biar kalau ada apa-apa, gue bisa nangkep lo," ujar Rian mantap.
Rian mundur dua langkah, menarik napas dalam-dalam, lalu berlari dan melompat sekuat tenaga ke arah kabel fiber optik raksasa itu.
*Sret!*
"Ugh!" Rian berhasil menangkap kabel tersebut dengan kedua tangannya. Gesekan kasar kabel sempat membuat telapak tangannya terasa perih membakar, namun ia mencengkeramnya dengan sekuat tenaga. Kakinya bergelantungan bebas di udara kosong yang mengerikan. Dengan bersusah payah, Rian berhasil mengaitkan kakinya ke kabel, menstabilkan posisinya.
"Lik! Aman! Sekarang giliran lo! Lompat, gue pegangin!" teriak Rian sambil menjulurkan satu tangannya ke bawah, siap menangkap Alika.
Alika melihat ke bawah kakinya. Ubin tempatnya berdiri sudah mulai retak dan berubah menjadi piksel abu-abu. Tidak ada waktu lagi untuk ragu.
"Aaaarrghhh!" Dengan teriakan nekat, Alika melompat tinggi ke arah Rian.
Tubuh Alika melayang di udara. Untuk sesaat, waktu rasanya berjalan sangat lambat. Tangannya menjulur ke depan, mencoba meraih tangan Rian.
*Plak!*
Rian berhasil menangkap pergelangan tangan Alika tepat waktu. Namun, momentum berat tubuh Alika yang melompat membuat pegangan tangan Rian pada kabel sempat tergelincir beberapa sentimeter ke bawah.
"Yan!" teriak Alika histeris saat tubuhnya berayun di atas jurang kehampaan abu-abu yang kini tepat berada di bawah sepatunya.
"Gue... gak bakal... ngelepasin lo!" Rian berteriak dengan urat-urat leher yang menonjol. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga di lengannya untuk menarik tubuh Alika ke atas, membantu gadis itu agar bisa memeluk kabel fiber optik tersebut.
Setelah perjuangan hidup dan mati selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Alika akhirnya berhasil memeluk kabel itu dengan erat menggunakan kedua tangan dan kakinya. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya sangat dekat dengan wajah Rian karena mereka kini bergelantungan di kabel yang sama.
"G***... jantung gue beneran mau copot," bisik Alika, matanya berkaca-kaca menatap Rian yang berada tepat di atasnya.
"Sama. Tapi kita harus buruan naik, Lik. Kabelnya juga mulai panas," ujar Rian, merasakan getaran energi data yang mengalir di dalam kabel tersebut.
Mereka berdua mulai merayap naik perlahan-lahan menggunakan kabel fiber optik tersebut. Setiap jengkal gerakan terasa sangat berat, namun dorongan adrenalin untuk bertahan hidup membuat mereka terus bergerak ke atas. Di bawah mereka, seluruh struktur tangga spiral yang megah itu kini telah lenyap sepenuhnya, menyisakan sebuah lubang kosong raksasa berwarna abu-abu mati yang sangat sunyi.
Setelah beberapa menit yang menyiksa, mereka akhirnya mencapai ujung kabel yang menempel pada platform logam tepat di depan pintu ruang kendali utama.
Rian terlebih dahulu merayap naik ke atas platform, lalu menjulurkan tangannya untuk menarik Alika naik. Alika ambruk di atas lant** logam platform, langsung memeluk lututnya sambil mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang seperti drum perang.
"Kita... kita berhasil?" tanya Alika dengan suara parau.
Rian menoleh ke arah pintu ruang kendali di depan mereka. Pintu baja bulat raksasa itu memiliki layar terminal kecil di sampingnya. Namun, layarnya menyala merah dengan tulisan:
`[SECURITY LOCK: EMERGENCY LOCKDOWN ACTIVE]`
"Si****, pintunya dikunci otomatis karena protokol penghapusan data tadi," umpat Rian sambil memukul pelan panel pintu tersebut. "Dan lihat itu..."
Rian menunjuk ke arah kabel fiber optik yang baru saja mereka lewati. Ujung bawah kabel itu mulai berubah menjadi piksel abu-abu. Protokol penghapusan data mulai merayap naik melalui kabel, menuju langsung ke arah platform tempat mereka berdiri sekarang. Dalam waktu kurang dari satu menit, platform ini juga akan dihapus.
"Yan, lakuin sesuatu! Nge-hack atau apa gitu! Masa kita udah sejauh ini tapi ujung-ujungnya kehapus juga?!" Alika panik lagi, mengguncang-guncang bahu Rian.
"Gue gak bisa nge-hack sistem pengunci darurat dari luar tanpa alat bantu, Lik! Ini enkripsinya level militer!" Rian mulai frustrasi, jemarinya mengetik acak di layar terminal pintu yang terus-menerus menampilkan pesan *Access Denied*.
Alika menatap busur panahnya yang tinggal menyisakan satu anak panah terakhir di tabungnya. Anak panah itu berbeda dari yang lain, memiliki inti energi berwarna merah membara—anak panah peledak yang ia dapatkan dari bos monster di rawa-rawa pada bab sebelumnya.
"Yan, minggir!" perintah Alika dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan.
"Hah? Lo mau ngapain?"
"Gue bilang minggir!" Alika menarik lengan jaket Rian agar menjauh dari pintu.
Alika mundur beberapa langkah, lalu memasang anak panah terakhirnya pada busur. Ia menarik tali busurnya dalam-dalam, mengarahkan bidikannya tepat ke tengah-tengah engsel kunci magnetik pintu baja tersebut. Energi merah membara mulai terkumpul di ujung anak panah, mengeluarkan suara mendengung yang bising.
"Lik, lo g***? Kalau itu meledak di ruang sempit begini, kita bisa kena *damage* gede!" protes Rian panik.
"Lebih baik kena *damage* dan HP kita sisa 1% daripada kita kehapus dari dunia ini, Rian!" balas Alika tajam. Matanya fokus membidik sasaran. "Tutup telinga lo!"
*Syuuuuuttt—BOOM!*
Anak panah itu meluncur dan meledak tepat di pusat engsel pintu baja. Ledakan energi merah yang dahsyat mementalkan mereka berdua ke belakang. Asap tebal hitam langsung memenuhi platform kecil tersebut, diiringi oleh alarm peringatan yang semakin bising.
*Batuk! Batuk!*
Rian mengibaskan tangannya di depan wajah untuk mengusir asap. HP bar-nya di sudut penglihatan langsung merosot tajam ke zona merah, menyisakan sekitar 15% saja. Di sampingnya, Alika juga terduduk sambil memegangi lengannya yang lecet, dengan HP bar yang tidak jauh berbeda kondisinya.
Namun, ledakan itu berhasil. Pintu baja bulat raksasa itu kini tampak miring dan terbuka sebagian, menyisakan celah yang c**up untuk dima**ki. Di belakang mereka, ujung platform logam mulai runtuh menjadi piksel abu-abu. Kehampaan itu sudah berada tepat di belakang tumit sepatu mereka.
"Ma**k! Sekarang!" Rian merangkak dan mendorong tubuh Alika melewati celah pintu yang rusak tersebut.
Begitu Alika berhasil ma**k, Rian menyusul dengan meluncurkan tubuhnya ke dalam ruangan. Sesaat setelah kaki Rian melewati ambang pintu, seluruh platform logam di luar runtuh total ke dalam kehampaan abu-abu.
Rian dengan cepat merangkak berbalik dan mendorong daun pintu baja yang rusak itu dengan punggungnya, menutup celah tersebut rapat-rapat.
*Klek!*
Pintu itu tertutup, dan entah bagaimana, sistem keamanan di dalam ruangan ini langsung mengaktifkan dinding pembatas darurat internal. Sebuah lapisan pelindung transparan berwarna biru menyelimuti bagian dalam pintu, menahan perambatan protokol penghapusan data dari luar.
Suasana di dalam ruangan seketika menjadi sangat sunyi. Raungan sirine di luar terdengar meredup, digantikan oleh suara dengungan mesin-mesin server yang tenang di dalam ruangan baru ini.
Rian dan Alika berbaring telentang di atas lant** logam ruangan tersebut, menatap langit-langit yang dipenuhi oleh proyeksi peta hologram Map 404 yang berputar perlahan. Dada mereka berdua naik turun dengan cepat, mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah taruhan nyawa yang baru saja mereka lewati.
Hening sejenak di antara mereka, hanya terdengar suara napas yang terengah-engah.
"Kita... masih hidup kan?" tanya Alika pelan, suaranya terdengar sangat lelah.
Rian menolehkan kepalanya ke samping, menatap Alika yang wajahnya kini dipenuhi coretan jelaga hitam akibat ledakan tadi, namun entah kenapa masih terlihat manis di matanya. Rian tersenyum tipis, sebuah senyuman lega yang tulus.
"Iya. Kita masih hidup, Lik. Dan HP lo sisa 10%," canda Rian dengan suara parau.
Alika mendengus pelan, lalu ikut menoleh menatap Rian. "Gara-gara lo nih. Kalau aja lo gak mutusin gue dua tahun lalu, kita gak bakal kena karma terjebak di game aneh begini."
Rian tertawa kecil, meskipun dadanya masih terasa sakit saat tertawa. "Sempat-sempatnya ya lo bahas masa lalu di situasi kayak gini."
"Biarin. Biar lo inget terus kalau lo punya utang penjelasan sama gue," balas Alika sambil membuang muka, mencoba menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya yang kotor.
Rian menghela napas, menatap kembali ke langit-langit ruangan. Di tengah-tengah ruangan luas itu, sebuah konsol komputer raksasa dengan layar hologram emas melayang indah. Di layar tersebut, tertulis sebuah teks dengan huruf tebal:
`[WELCOME, SYSTEM ADMINISTRATOR]`
`[MAIN CONTROL PANEL STATUS: ONLINE]`
Petualangan mereka di Map 404 mungkin masih panjang, tapi setidaknya untuk saat ini, mereka berhasil bertahan hidup bersama. Dan entah kenapa, Rian mulai merasa bahwa terjebak di tempat mengerikan ini bersama mantan pacarnya mungkin bukanlah hal terburuk yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!