Bab 12: Panik Setengah Mati
`[PERINGATAN: PROTOKOL PENGHAPUSAN DATA DISETUJUI. SELURUH SEKTOR ADMIN TOWER AKAN DIHAPUS DALAM WAKTU LIMA MENIT.]`
Suara robotik itu menggema, dingin dan tanpa ampun. Bersamaan dengan itu, dinding-dinding marmer hitam di sekeliling mereka mulai retak, menyisakan kekosongan gelap gulita yang dipenuhi kode-kode biner berwarna hijau neon yang melayang jatuh seperti hujan gerimis.
"Penghapusan data? Maksudnya map ini mau di-delete?!" Alika berteriak panik, suaranya nyaris tenggelam oleh deru sirine yang makin m****akkan telinga.
"Bukan cuma map-nya, Lik! Kita juga!" Rian menyambar pergelangan tangan Alika. Matanya liar menyapu ruangan yang mulai runtuh. "Tangga darurat! Ke atas! Satu-satunya jalan keluar ada di lant** paling atas sebelum sistemnya *shutdown* total!"
Di tengah lobi, sebuah tangga spiral hologram yang memancar warna biru muda menjulang tinggi menuju kegelapan di atas. Tanpa pikir panjang lagi, mereka berdua langsung berlari sekencang mungkin. Langkah kaki mereka menimbulkan gema buru-buru di atas anak tangga transparan tersebut.
Setiap kali kaki mereka menginjak anak tangga, sensor di bawahnya berkedip tidak stabil. Di bawah mereka, lobi utama yang baru saja mereka lewati perlahan-lahan hancur, terurai menjadi jutaan piksel kecil yang tersedot ke dalam pusaran kegelapan. Rasanya seperti dikejar oleh monster tak kasat mata yang siap menelan mereka hidup-hidup.
"Rian, cepetan! Di belakang kita tangganya mulai ilang!" Alika menoleh sekilas ke bawah dan langsung menyesalinya. Anak-anak tangga di belakang mereka lenyap satu per satu dengan kecepatan yang mengerikan.
"Jangan liat ke bawah, Lik! Fokus ke depan!" Rian berteriak tanpa mengurangi kecepatannya. Napasnya sudah terasa panas di tenggorokan, dadanya seperti mau meledak. Namun, ia tidak boleh berhenti. Sedikit saja ia melambat, mereka berdua akan terhapus dari memori server ini untuk selamanya.
Mereka terus mendaki. Satu lant**, dua lant**, tiga lant**. Keringat dingin bercucuran deras, membasahi pelipis dan baju mereka.
Tiba-tiba, suara dengungan keras terdengar dari arah atas. Seluruh struktur tangga berguncang hebat.
*Bzzzztttt!*
"Aakh!" Alika m****ik kaget saat sebuah gelombang glitch berwarna merah menyambar sisi tangga tempat ia berpijak.
Anak tangga yang dipijak Alika mendadak kehilangan materialnya secara instan. Kakinya terpeleset, kehilangan tumpuan. Tubuh Alika langsung merosot ke bawah dengan kecepatan tinggi.
"Alika!" Rian berbalik dengan cepat, jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.
Alika refleks menjatuhkan busur panahnya ke dalam jurang piksel demi bisa menggapai apa saja yang ada di dekatnya. Dengan keberuntungan yang sangat tipis, kedua tangannya berhasil mencengkeram ujung anak tangga yang paling dekat dengannya. Tubuhnya bergelantungan di udara kosong, ratusan meter di atas jurang kegelapan yang siap menghapusnya dari eksistensi dunia.
"Rian! Tolong!" teriak Alika. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak penuh ketakutan yang belum pernah Rian lihat sebelumnya. Jari-jarinya mulai gemetar, berjuang mati-matian menahan beban tubuhnya sendiri di atas permukaan anak tangga hologram yang licin.
Rian yang biasanya dikenal sebagai cowok paling tenang, paling logis, dan selalu punya rencana cadangan dalam situasi apa pun, mendadak kehilangan semua kemampuan berpikirnya. Otaknya mendadak *blank*. Rasa panik yang teramat sangat menyergap dadanya, membuatnya sesak sampai hampir tidak bisa bernapas.
Melihat Alika bergelantungan seperti itu, separuh jiwa Rian rasanya seperti dicabut paksa.
"Lik! Pegangan yang kuat!" Rian langsung menjatuhkan dirinya ke depan, merangkak dengan panik di atas anak tangga yang mulai berkedip-kedip tidak stabil.
"Rian... licin banget... gue gak kuat..." air mata mulai menetes dari sudut mata Alika, mengalir melewati pipinya yang kotor terkena debu digital.
"Gak, gak! Lo harus kuat! Pegang tangan gue, Lik!" Rian menjulurkan kedua tangannya ke bawah sejauh mungkin. Jantungnya berdegup sangat kencang, menab**k rongga dadanya dengan brutal. "Satu tangan dulu! Ayo, raih tangan gue!"
Alika mencoba mengangkat satu tangannya dengan ragu. Namun, saat ia melepas satu genggaman, berat tubuhnya bertumpu pada satu tangan yang lain, membuatnya semakin merosot ke bawah.
"Gak bisa, Yan! Gak nyampe! Tangganya mau ilang!" Alika berteriak frustrasi. Di bawah tangannya, anak tangga hologram itu mulai retak-retak dan memancarkan warna merah peringatan. Bagian ujungnya mulai terurai menjadi partikel-partikel kecil.
"Nyampe! Gue bilang nyampe!" Rian berteriak histeris. Ia tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri. Ia memajukan tubuhnya lebih depan lagi, bahkan melampaui batas aman anak tangga tersebut. Setengah badan Rian kini sudah condong ke arah jurang kosong.
"Rian, jangan g***! Lo bisa ikut jatuh!" Alika histeris melihat tindakan nekat mantan pacarnya itu.
"Bodo amat! Gue gak peduli! Pegang tangan gue, Alika! Sekarang!" Rian berteriak dengan urat-urat leher yang menegang. Matanya memerah, menahan air mata yang mendadak mendesak keluar karena rasa takut yang luar biasa. Takut kehilangan perempuan di hadapannya ini.
Alika memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia melepaskan cengkeraman tangannya dari tangga yang mulai hancur itu dan melompat kecil, mengayunkan tangannya ke atas.
*Sret!*
Kulit bertemu kulit. Rian berhasil menangkap pergelangan tangan Alika dengan kedua tangannya.
Tapi perjuangan belum selesai. Beban tubuh Alika yang tiba-tiba bergelantungan penuh di tangannya membuat Rian hampir ikut terseret jatuh ke bawah. Bahu Rian terasa seperti mau lepas dari sendinya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di lengannya, tapi genggaman tangannya justru semakin mengencang. Ia mengunci pergelangan tangan Alika dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, dunianya akan runtuh saat itu juga.
*Bzzzzttt!*
Anak tangga tempat Rian berlutut mulai berkedip merah. Waktu mereka tidak sampai sepuluh detik sebelum tangga itu lenyap sepenuhnya.
"Arrrghhh!"
Rian berteriak keras, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ada di dalam tubuhnya. Otot-otot lengannya menegang ekstrem, pembuluh darah di tangannya menonjol keluar. Dengan satu hentakan brutal yang dipicu oleh adrenalin murni, Rian menarik tubuh Alika ke atas, mengabaikan rasa sakit yang membakar di seluruh sendinya.
Alika terangkat naik. Tepat saat tubuh Alika berhasil melewati batas tepi, anak tangga yang tadinya mereka jadikan tumpuan langsung hancur menjadi debu digital dan menghilang ke dalam kekosongan.
*Bruk!*
Mereka berdua jatuh berguling ke atas platform lant** beton padat yang berada di ujung tanggaβsebuah area aman yang tidak terpengaruh oleh proses penghapusan data. Mereka berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti dengan posisi Rian yang mendekap erat tubuh Alika di atas lant** yang dingin.
Napas mereka berdua memburu hebat, saling memburu satu sama lain di dalam keheningan lobi atas yang gelap. Suara napas terengah-engah itu berpadu dengan detak jantung mereka yang berdentum sangat keras, seperti sedang berbalapan.
Rian sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Ia mendekap kepala Alika erat-erat di dadanya, sementara kedua tangannya yang masih gemetar hebat mengunci punggung Alika seolah takut cewek itu akan menguap begitu saja. Tubuh Rian gemetar parah. Cowok yang biasanya selalu memasang wajah datar dan tenang itu kini menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alika, memejamkan mata rapat-rapat sambil menghirup aroma rambut Alika yang familier.
Alika yang awalnya terpaku karena syok, perlahan-lahan mulai merasakan kehangatan dari pelukan Rian. Rasa takut yang sempat melumpuhkan seluruh sarafnya perlahan mencair, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Ia bisa merasakan dada Rian yang naik turun dengan tidak beraturan, dan ia juga bisa merasakan tubuh cowok itu yang gemetar karena panik yang teramat sangat.
Alika melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rian, membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Rian, menangis sesenggukan tanpa suara. Air matanya membasahi jaket yang dikenakan Rian.
"Gue kira... gue kira gue bakal ilang, Yan..." bisik Alika dengan suara yang parau dan bergetar hebat.
Rian tidak langsung menjawab. Ia hanya mempererat dekapannya, seakan-akan kekuatan pelukannya bisa melindungi Alika dari kehancuran sistem game si**** ini. Setelah beberapa saat mengumpulkan kesadarannya yang sempat tercecer, Rian akhirnya bersuara, meskipun suaranya terdengar serak dan bergetar menahan tangis.
"Gak bakal. Gue gak bakal ngebiarin itu terjadi, Lik. Gak akan pernah."
Di dalam kegelapan Admin Tower yang sunyi, di antara puing-puing data yang terhapus dan sirine yang masih meraung samar di kejauhan, pelukan itu terasa begitu nyata. Di titik ini, rasa takut mereka terhadap kematian di dalam game seolah-olah menguap begitu saja, digantikan oleh sebuah realitas baru yang jauh lebih kuat dan menghentak dada mereka masing-masing.
Mereka berdua sadar, sepenuhnya sadar, bahwa perasaan yang selama ini mereka coba kubur dalam-dalam di bawah ego masing-masing setelah kata 'putus' terucap, ternyata masih ada di sana. Utuh, tidak berkurang sedikit pun, dan justru terasa semakin nyata saat maut hampir memisahkan mereka.
Rian tidak hanya panik karena takut mati di dalam game ini. Rian panik setengah mati karena ia benar-benar tidak sanggup membayangkan hidup di dunia nyata tanpa kehadiran Alika di dalamnya. Dan bagi Alika, di saat-saat terakhirnya yang kritis tadi, satu-satunya wajah yang ingin ia lihat dan satu-satunya tangan yang ia harapkan untuk menolongnya adalah tangan Rian.
"Yan..." Alika mendongak sedikit, menatap wajah Rian yang jaraknya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya sendiri.
Mata Rian yang biasanya menatapnya dengan pandangan dingin atau menyebalkan, kini menatapnya dengan binar kepanikan yang teramat tulus, dipenuhi rasa khawatir yang begitu mendalam.
Rian mengulurkan tangannya yang masih sedikit gemetar, lalu dengan lembut menyeka air mata yang tersisa di pipi Alika menggunakan ibu jarinya. Sentuhan itu begitu hangat, begitu akrab, hingga membuat dada Alika berdenyut nyeri oleh rasa rindu yang teramat sangat.
"Lo gak apa-apa? Ada yang luka? Tangan lo sakit?" tanya Rian bertubi-tubi dengan nada suara yang penuh kecemasan. Matanya dengan cepat memeriksa seluruh tubuh Alika untuk memastikan tidak ada luka fisik atau glitch efek yang menempel pada tubuh cewek itu.
Alika menggeleng pelan, senyum tipis yang dipaksakan muncul di bibirnya yang masih sedikit pucat. "Gue gak apa-apa, Yan. Cuma... tangan gue agak lemes aja."
Rian menghela napas panjang, sebuah embusan napas lega yang seolah-olah membuang seluruh beban berat yang sempat menghimpit dadanya sejak tadi. Ia menyandarkan dahinya di dahi Alika, membiarkan kulit mereka saling bersentuhan, menyalurkan kehangatan yang membuktikan bahwa mereka berdua masih hidup, masih ada, dan masih bersama.
"Jangan pernah kayak gitu lagi, Lik," gumam Rian lirih, matanya terpejam. "Jangan pernah bikin gue panik kayak tadi lagi. Gue bener-bener hampir g*** rasanya."
Alika terdiam, merasakan detak jantung Rian yang perlahan mulai stabil di bawah telapak tangannya. Ia memejamkan matanya juga, menikmati momen kebersamaan yang teramat langka ini. Di tengah-tengah map yang rusak, di dalam game maut yang tidak ma**k akal ini, Alika merasa menemukan tempat teramannya kembali. Tempat aman yang dulu pernah ia tinggalkan karena kebodohan masa lalu mereka.
Namun, keheningan emosional itu tidak bisa bertahan lama. Suara gemuruh dari bawah kembali terdengar, mengingatkan mereka bahwa sistem penghapusan data masih terus berjalan dan tidak akan berhenti hanya karena mereka sedang berpelukan melepas rindu.
`[SISTEM PENGHAPUSAN DATA: SEKTOR 3 SELESAI. MEMULAI PENGHAPUSAN SEKTOR PUSAT DALAM DUA MENIT.]`
Rian membuka matanya, langsung teringat kembali pada situasi darurat mereka. Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu membantu Alika untuk berdiri tegak kembali. Meskipun kaki Alika masih sedikit lemas, ia berhasil berdiri dengan bertumpu pada lengan Rian yang kokoh.
"Kita harus jalan lagi, Lik. Kita belum aman sepenuhnya," kata Rian, matanya kini kembali fokus pada koridor panjang di depan mereka yang mengarah ke ruang kendali utama Admin Tower.
Alika mengangguk mantap. Kehilangan busur panahnya memang sebuah kerugian besar, tapi melihat Rian yang berdiri di sampingnya, memegang erat tangannya tanpa ada niat untuk melepaskannya lagi, membuat rasa percaya diri Alika kembali penuh.
"Ayo," kata Alika kencang, menggenggam balik tangan Rian dengan erat. "Kita selesaikan ini bareng-bareng."
Mereka berdua melangkah maju bersama mema**ki koridor gelap, bersiap menghadapi apa pun yang menanti mereka di ujung ruangan, tanpa ada lagi keraguan di antara mereka. Rasa takut kehilangan satu sama lain telah mengalahkan ketakutan mereka terhadap kematian itu sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!