"Alika!" Rian meluncur di atas anak tangga yang licin, mengabaikan lututnya yang berbenturan keras dengan tepian lant** hologram yang dingin. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjatuhkan diri, tengkurap di ujung tangga yang tersisa, dan menjulurkan kedua tangannya ke bawah sekuat tenaga.
"Rian! Tangan gue licin! Sumpah, gue gak bisa pegangan lagi!" teriak Alika. Suaranya melengking tinggi, bercampur dengan isak tangis panik yang tidak bisa ia tahan lagi. Di bawah kakinya, jurang kegelapan penuh kode biner berwarna hijau neon menganga lebar, seolah-olah siap melahap tubuhnya dan menghapusnya dari eksistensi dunia untuk selamanya.
"Pegang tangan gue, Lik! Jangan liat ke bawah, liat gue!" Rian berteriak balik. Wajahnya memerah padam, urat-urat di leher dan lengannya menegang ekstrem saat ia berusaha menjangkau Alika sejauh mungkin. "Gue gak bakal lepasin lo! Pegang sekarang!"
Dengan sisa tenaga dan keberanian yang hampir habis, Alika melepaskan satu tangannya dari tepian tangga yang mulai retak dan retak lagi. Ia melayangkan tangannya ke atas.
*Grep!*
Telapak tangan mereka bertemu. Rian mencengkeram pergelangan tangan Alika dengan sangat kuat, begitu pula sebaliknya. Hangat kulit Rian yang familier mendadak mengalirkan gelombang ketenangan di tengah badai kepanikan Alika.
*Bzzzzzt!*
Tepat saat Rian menarik tubuh Alika ke atas dengan satu sentakan kuat, anak tangga yang tadi dipegang Alika hancur total, menguap menjadi piksel-piksel merah yang langsung lenyap ditelan kegelapan.
*Bruk!*
Alika mendarat tepat di atas tubuh Rian. Mereka berdua terkapar di lant** tangga yang tersisa, napas mereka memburu saling berkejaran, sangat mematikan sekaligus melegakan. Dada mereka naik turun dengan cepat. Untuk beberapa detik yang berharga, mereka hanya saling menatap dengan mata melebar, menyadari betapa dekatnya mereka dengan kematian barusan.
"Panah gue..." bisik Alika dengan suara bergetar, menyadari busur kesayangannya sudah meluncur bebas ke dalam jurang piksel di bawah sana. "Rian, busur gue ilang. Gue gak punya senjata lagi sekarang."
"Tenang, tenang. Tarik napas dulu, Lik," kata Rian sambil menepuk pundak Alika cepat untuk menenangkannya. Ia kemudian menunjuk pergelangan tangan kiri Alika yang dilingkari gelang kristal biruβaksesori sistem dari Map 404. "Ini kan map eror, sistem inventori kita pasti ikut nge-glitch. Senjata lo bakal *respawn* otomatis kalau lo terpisah lebih dari sepuluh detik. Coba lo panggil lagi lewat menu *shortcut*."
Alika buru-buru memejamkan mata, memfokuskan pikirannya pada gelang tersebut. Benar saja, detik berikutnya, partikel cahaya biru berkumpul di genggaman tangannya, membentuk kembali busur panah hitam-silver miliknya yang tampak kokoh.
"Oh, *thanks God*! Sumpah, gue hampir jantungan!" Alika mengembuskan napas lega yang luar biasa.
"Jangan jantungan dulu, waktu kita tinggal satu setengah menit sebelum tempat ini di-delete!" Rian langsung bangkit berdiri dan menarik tangan Alika agar ikut berdiri. "Ayo, sedikit lagi! Puncaknya udah di depan mata!"
Mereka kembali berlari, memacu sisa-sisa tenaga yang ada di kaki mereka. Setiap kali kaki mereka terangkat dari anak tangga, suara dentuman keras terdengar di belakang mereka, menandakan bahwa tangga tersebut langsung runtuh. Rasanya benar-benar seperti sedang dikejar oleh monster tak kasat mata yang terus mengikis jalan pulang mereka.
Hingga akhirnya, mereka menembus sebuah gerbang cahaya vertikal di ujung tangga dan mendarat di puncak Admin Tower.
Tempat itu adalah sebuah dek terbuka yang sangat luas, berbentuk lingkaran dengan lant** marmer hitam meng***t. Angin malam berembus sangat kencang, menerbangkan rambut Alika dan jaket Rian. Di atas mereka, langit Map 404 tampak sangat mengerikanβretak-retak berwarna merah menyala menyebar ke segala arah, seperti kaca raksasa yang siap pecah berkeping-keping.
"Rian, liat! Itu portalnya!" Alika menunjuk ke arah tengah dek dengan mata berbinar.
Di sana, melayang sekitar setengah meter di atas lant**, sebuah lingkaran portal spiral berwarna biru cerah berputar dengan anggun. Portal itu memancarkan aura dingin yang sangat menenangkan, sangat kontras dengan lingkungan sekeliling mereka yang sedang sekarat. Udara di sekitar portal itu terasa begitu bersih, seolah menjanjikan dunia nyata yang aman di balik sana. Kamar kos mereka, tugas kuliah yang menumpuk, bahkan omelan dosenβsemua hal biasa yang dulu mereka benci kini terasa seperti surga yang sangat mereka rindukan.
"Akhirnya..." Rian berbisik dengan senyum lega yang perlahan terbit di wajahnya yang kotor terkena debu piksel. "Kita bisa pulang, Lik."
"Ayo, Rian! Tunggu apa lagi, sebelum tempat ini beneran ilang!" Alika menarik lengan jaket Rian, bersiap untuk berlari sekencang-kencangnya menuju portal biru tersebut.
Namun, baru saja mereka melangkah tiga kali, seluruh dek berguncang hebat.
*DEEEENNGGGGG!*
Sebuah suara dengungan berfrekuensi sangat rendah berbunyi, membuat telinga mereka berdenging kesakitan sampai-sampai Alika harus menutup telinganya dengan kedua tangan. Tekanan udara di sekitar mereka mendadak naik drastis, membuat dada terasa sesak seolah-olah oksigen di tempat itu baru saja diisap habis.
Tepat di depan portal biru tersebut, ruang dan waktu seolah meliuk-liuk ekstrem. Piksel hitam dan merah pekat merembes keluar dari udara kosong, berkumpul dan memadat dengan kecepatan yang mengerikan, menghalangi jalan menuju portal.
"Apaan lagi sih ini?! Sumpah, gue udah capek banget!" teriak Alika frustrasi, refleks melangkah mundur dan langsung memasang posisi siaga dengan busurnya.
Dari dalam pusaran piksel rusak tersebut, muncul sebuah kepala logam raksasa bersisik hitam legam. Bentuknya menyerupai naga mekanis kuno dari mitologi, namun tubuhnya dipenuhi dengan *glitch* statis yang berkedip-kedip tidak stabil. Setiap kali tubuhnya bergerak, suara desis listrik terdengar m****akkan telinga. Mata naga itu menyala merah membara, menatap lurus ke arah Alika dan Rian dengan tatapan dingin penuh kebencian digital.
*ROAAAAAARRRRR!*
Raungan naga mekanis itu begitu keras hingga getarannya membuat lant** marmer di bawah kaki mereka retak-retak. Angin kencang bercampur hawa panas menyapu dek, memaksa mereka berdua untuk bertahan agar tidak terlempar ke pinggir dek.
Sebuah bar darah raksasa berwarna merah gelap muncul di udara, melayang tepat di atas kepala naga tersebut. Di atas bar darah itu, tertulis nama sang bos dengan huruf-huruf *glitch* acak yang tidak beraturan:
`[BOSS: V1RU5_D43M0N_v9.99 (HP: ?????/?????)]`
"G***... itu bos terakhirnya?" Rian menelan ludah dengan susah payah. Tongkat sihir rintisannya yang terbuat dari kayu pinus berukir terasa sangat kecil dan tidak ada apa-apanya di hadapan monster mekanis sebesar gedung tiga lant** itu.
"Naga itu nge-block portalnya, Rian! Kita gak bakal bisa lewat kalau gak ngalahin dia dulu!" teriak Alika, suaranya bergetar menahan panik.
Naga mekanis itu tampaknya tidak memberikan mereka waktu untuk berdiskusi. Ia menggeram rendah, lalu salah satu cakar raksasanya yang tajam dihantamkan ke lant** dek.
*BOOM!*
Gelombang *glitch* berwarna merah merambat cepat di atas lant**, menuju langsung ke arah mereka berdiri.
"Awas, Lik! Lompat!" Rian berteriak sambil mendorong bahu Alika ke samping, sementara dirinya sendiri berguling ke arah berlawanan.
Gelombang *glitch* itu menghantam area tempat mereka berdiri tadi, langsung melelehkan lant** marmer tebal menjadi lubang hitam kosong tanpa dasar. Alika yang melihat itu langsung merinding ngeri. Satu langkah salah saja, mereka bisa langsung terhapus dari memori server ini.
"Makan nih, naga sember!" Alika berteriak marah untuk mengusir rasa takutnya. Sambil setengah berlutut, ia menarik tali busurnya sekuat tenaga. Tiga anak panah cahaya biru yang tajam langsung terbentuk secara instan.
*Wusss! Wusss! Wusss!*
Tiga anak panah itu meluncur cepat, membelah angin malam dan mengarah tepat ke arah mata merah sang naga. Tembakan Alika sangat presisiβdia memang selalu menjadi pemanah terbaik sejak mereka masih sering main game bareng dulu.
Namun, harapan Alika langsung hancur berkeping-keping.
*TING! TING! TING!*
Anak-anak panah itu memantul begitu saja saat mengenai kulit logam sang naga, menyisakan angka kerusakan yang sangat konyol melayang di udara:
`-1`
`-1`
`-1`
"Hah?! Seriusan?! Cuma minus satu?!" Alika melongo dengan mulut terbuka lebar. "Gue udah *max-out* status *Dexterity* gue pas di Map 3 tadi, kok bisa gak berasa gini?!"
"Defense naga itu terlalu tinggi, Lik! Dia itu program virus pelindung sistem, levelnya pasti jauh di atas kita!" Rian bangkit berdiri, mengacungkan tongkat sihirnya ke udara dengan tangan yang sedikit gemetar. "Biar gue coba pake sihir elemen! *Fireball*!"
Sebuah bola api berukuran sedang tercipta di ujung tongkat Rian. Dengan satu kibasan cepat, bola api itu meluncur deras dan menghantam tepat di bagian dada naga mekanis tersebut.
*BOOM!*
Ledakan api terjadi, namun begitu asapnya menipis, naga itu sama sekali tidak bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya. Bahkan tidak ada bekas gosong sedikit pun di tubuh hitamnya.
`[DAMAGE: 0 (IMMUNE)]`
"Immune?! Sihir rintisan gue gak mempan sama sekali?!" Rian berteriak frustrasi, rasanya ingin melempar tongkat sihirnya saat itu juga. "G*** aja! Gimana caranya kita menang kalau semua serangan kita dianggap debu sama dia?!"
Naga mekanis itu tampaknya mulai bosan dengan serangan-serangan kecil mereka. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dadanya yang dipenuhi pipa-pipa mesin mulai membara dengan cahaya merah menyala yang sangat terang. Udara di sekitar dek mendadak terasa sangat panas, membuat napas mereka terasa membakar tenggorokan.
"Rian! Dia mau ngeluarin serangan area! Cepetan cari tempat sembunyi!" Alika berteriak panik, matanya melihat naga itu bersiap menyemburkan sesuatu yang sangat mematikan.
"Sini, Lik! Di balik pilar ini!" Rian berlari sekencang mungkin dan menyambar pergelangan tangan Alika, menarik gadis itu untuk berlindung di balik sebuah pilar beton tebal yang berada di sudut dek.
Sedetik kemudian, naga itu menyemburkan badai api *glitch* berwarna merah pekat dari mulutnya. Semburan itu menyapu seluruh permukaan dek dengan suara gemuruh yang sangat mengerikan, seperti suara ribuan televisi rusak yang menyala bersamaan. Lant** marmer berhamburan, meleleh menjadi kode-kode eror yang menguap ke udara.
Pilar tempat Alika dan Rian bersembunyi mulai bergetar hebat. Permukaan betonnya perlahan-lahan terkikis, hancur menjadi piksel-piksel kecil karena tidak kuat menahan panas dan radiasi eror dari semburan naga tersebut.
Alika memejamkan matanya rapat-rapat, memeluk busur panahnya erat-erot ke dadanya. Tubuhnya gemetar hebat. Di tengah kekacauan itu, ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup sangat kencang. "Rian... kita harus gimana? Kita gak bakal bisa pulang kalau kayak gini terus..." bisiknya dengan suara yang hampir tenggelam oleh suara gemuruh di luar.
Rian menatap pilar yang semakin menipis di depan mereka. Otaknya berputar dengan sangat cepat, mencoba mencari celah, mencari logika di tengah ketidaklogisan Map 404 ini.
"Pasti ada caranya, Lik," kata Rian, mencoba terdengar setenang mungkin meskipun ia sendiri juga sangat ketakutan. "Ini game. Se-rusak apa pun sistemnya, pasti ada *bug* atau titik lemah yang sengaja atau gak sengaja tercipta. Kita cuma harus cari tahu di mana letak kelemahan naga si**** itu."
"Tapi gimana caranya kita nyari kelemahannya kalau ngeliat dia aja udah bikin kita hampir mati?!" Alika menatap Rian dengan mata yang berkaca-kaca.
Rian menatap balik mata mantan kekasihnya itu. Di tengah situasi hidup dan mati ini, ia menyadari satu hal: ia tidak boleh menyerah di sini. Tidak setelah semua hal g*** yang sudah mereka lalui bersama dari lant** bawah sampai ke puncak tower ini. Ia harus membawa Alika pulang dengan selamat.
Semburan api naga itu perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan dek yang kini hancur lebur dan dipenuhi lubang-lubang hitam yang mengerikan. Naga mekanis itu perlahan menolehkan kepalanya, mata merahnya berkedip-kedip cepat seolah sedang memindai sisa-sisa dek untuk mencari keberadaan mereka.
*Dug. Dug. Dug.*
Langkah kaki logamnya yang sangat berat mulai melangkah mendekati pilar tempat mereka bersembunyi. Waktu mereka benar-benar sudah habis.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!