Bab 14: Dual Core Sync: Butuh Saling Percaya
"Ayo, sediβ"
Kalimat Rian terputus saat tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Raungan keras yang m****akkan telinga bergema dari langit-langit map yang mulai retak. Naga raksasa berwarna hitam keunguan dengan mata merah menyalaβbos terakhir dari area eror iniβmeluncur turun dari pusaran awan hitam. Sayapnya yang lebar menciptakan embusan angin kencang yang nyaris membuat Alika terlempar kembali ke tepi jurang jika Rian tidak cepat-cepat merangkul pinggangnya.
"Sial, naga itu dateng lagi!" seru Alika panik. Tangannya gemetar saat mencengkeram busur panah hitam-silver yang baru saja kembali ke genggamannya. "Rian, sisa waktu kita tinggal satu menit sepuluh detik! Kita gak bakal sempat ngalahin monster segede itu pake serangan biasa!"
Rian mengertakkan gigi. Matanya bergerak cepat, menyapu layar hologram menu miliknya yang berkedip-kedip merah karena ketidakstabilan sistem. Di pojok kanan bawah layar, ada satu ikon kecil berbentuk dua lingkaran yang saling mengunci. Ikon itu berwarna abu-abu, pertanda terkunci, tapi tiba-tiba menyala keemasan seiring dengan menipisnya sisa waktu mereka.
"Lik, liat ini!" Rian menggeser layar hologramnya ke tengah agar bisa dilihat Alika. "Ada *hidden skill* yang baru kebuka. Namanya *Dual Core Sync*."
Alika mengernyitkan dahi sambil membaca deskripsi singkat di bawah ikon tersebut. "Dual Core... Sync? Apaan tuh? Jangan pakai bahasa dewa deh, Yan. Jelasin yang simpel!"
"Ini skill gabungan khusus buat dua player yang punya ikatan kuat," jelas Rian cepat, napasnya memburu. "Sistem Map 404 ini ngadeteksi kalau kita berdua punya sisa data interaksi yang paling banyak dibanding player lain. Tapi syarat buat ngaktifinnya susah banget. Kita harus sinkronin pikiran, detak jantung, dan tingkat kepercayaan kita sampai seratus persen. Kalau ada ragu sedikit aja di antara kita, skill-nya bakal gagal total dan kita bakal kena *backlash* instan."
"Hah? Seratus persen?" Alika melongo. Di saat bersamaan, naga di depan mereka mulai membuka rahangnya, mengumpulkan energi api ungu yang panasnya mulai terasa membakar kulit avatar mereka. "Mana bisa kita sinkron begitu dalam waktu sesingkat ini?!"
"Gak ada pilihan lain, Alika! Pilihannya cuma coba sekarang atau kita berdua kehapus dari game ini selamanya!" terian Rian mengatasi suara gemuruh api. "Pegang tangan gue!"
Alika menelan ludah. Ia melihat telapak tangan Rian yang terbuka lebar di depannya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia menyambut tangan itu.
*Bzzzzzt!*
Seketika, sebuah layar transparan baru muncul di antara mereka berdua. Di layar itu tertera grafik detak jantung mereka yang bergerak tidak beraturan, lengkap dengan angka persentase: **[Sync Progress: 12%]**.
"Fokus, Lik. Pejamin mata lo. Bayangin kita ada di frekuensi yang sama," instruksi Rian. Suaranya terdengar lebih tenang sekarang, mencoba menuntun Alika yang masih panik setengah mati.
Alika memejamkan matanya erat-erat. Ia mencoba menyamakan embusan napasnya dengan Rian. Perlahan, grafik di layar mulai bergerak stabil. Angka persentase itu merangkak naik.
**[Sync Progress: 35%... 55%... 70%]**
"Bagus, Lik. Terus kayak gini," bisik Rian.
Namun, begitu angka menyentuh **85%**, dada Alika tiba-tiba terasa sesak. Di balik kelopak matanya yang terpejam, memori masa lalu mendadak berputar tanpa diundang. Kejadian satu tahun lalu, saat Rian tiba-tiba menjauhinya tanpa alasan yang jelas, mengabaikan pesannya berhari-hari, hingga akhirnya mengucapkan kata putus lewat pesan teks yang singkat dan dingin. Rasa sakit hati, kecewa, dan ketidakpastian yang dulu ia pendam dalam-dalam mendadak meluap kembali ke permukaan.
*Apa gue beneran bisa percaya sama cowok ini lagi?* bisik satu suara skeptis di dalam kepala Alika. *Gimana kalau dia bakal lepasin tangan gue lagi kayak dulu?*
Seketika, grafik jantung Alika melonjak drastis secara tidak beraturan.
*BEEP!*
**[Warning: Desynchronization detected. Trust level: 40%. Skill failed.]**
Sebuah gelombang kejut berwarna merah terpancar dari tubuh mereka, mementalkan Rian dan Alika ke arah berlawanan. Tubuh Alika menghantam pilar batu dengan keras, mengurangi bar HP-nya hingga tersisa kritis, berwarna merah tipis.
"Uhuk!" Alika terbatuk, memegangi dadanya yang terasa nyeri. Efek sensorik dari map eror ini terasa sangat nyata.
"Alika!" Rian buru-buru merangkak mendekatinya, wajahnya dipenuhi rasa khawatir yang amat sangat. "Lo gak apa-apa? Ada yang sakit?"
"Gue... gue gak bisa, Yan," lirih Alika, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia menepis pelan tangan Rian yang hendak membantunya berdiri. "Gue gak bisa bohong sama sistem si**** ini. Hati gue... hati gue masih belum bisa percaya sepenuhnya sama lo."
Rian terpaku mendengar ucapan itu. Kalimat Alika barusan menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada serangan naga mana pun di game ini. Ia tahu ini semua salahnya. Kegagalannya di masa lalu telah meninggalkan luka yang begitu dalam di hati gadis di depannya ini.
Di atas mereka, naga raksasa itu mengepakkan sayapnya, bersiap meluncurkan bola api raksasa langsung ke arah mereka berada. Waktu di layar *countdown* terus berjalan mundur dengan kejam: **00:28... 00:27...**
"Sisa waktu kita gak sampai setengah menit," bisik Alika pasrah. Ia menyandarkan kepalanya ke pilar batu, memeluk lututnya sendiri. "Mungkin ini emang akhir kita, Yan. Maafin gue yang egois."
Melihat Alika yang tampak begitu rapuh dan menyerah, Rian merasakan sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Ia tidak peduli lagi dengan game ini, ia tidak peduli lagi dengan Map 404. Yang ia pedulikan saat ini hanya satu: gadis yang ada di depannya.
Rian berlutut di hadapan Alika. Tanpa memedulikan penolakan Alika, ia meraih kedua tangan gadis itu, menggenggamnya dengan sangat erat hingga Alika bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Rian.
"Alika, dengerin gue," kata Rian dengan suara rendah namun penuh penekanan. Ia menatap langsung ke dalam mata Alika yang basah. "Gue tau gue br****** setahun yang lalu. Gue cowok pengecut yang milih lari waktu kita ada masalah, dan gue gak bakal pernah nyari pembenaran buat hal bodoh itu."
Alika menatap Rian, tertegun melihat kesungguhan yang terpancar dari mata cowok itu.
"Tapi asal lo tahu, gak ada satu hari pun yang gue lewati tanpa rasa sesal karena udah lepasin lo," lanjut Rian, suaranya sedikit bergetar. "Terjebak di map eror ini sama lo... ini emang musibah, tapi di sisi lain, ini hal terbaik yang terjadi di hidup gue setelah sekian lama. Karena akhirnya gue punya kesempatan buat bareng lo lagi."
Naga di atas mereka meraung keras. Bola api raksasa di mulutnya kini sudah terbentuk sempurna, siap dimuntahkan kapan saja. Tanah di sekitar mereka mulai hancur, piksel demi piksel menghilang ke dalam jurang kegelapan.
"Rian, naganya..." bisik Alika panik.
"Biarin naganya, Lik! Liat gue aja!" seru Rian, mempererat genggamannya hingga Alika bisa merasakan detak jantung Rian yang berdegup kencang namun stabil di pergelangan tangannya. "Gue janji, kali ini gue gak bakal pernah ngelepasin lo lagi. Gak di game si**** ini, dan gak juga di dunia nyata nanti kalau kita berhasil keluar dari sini. Tolong... percaya sama gue sekali ini aja."
Air mata Alika akhirnya luruh, tapi kali ini bukan karena rasa takut atau sedih. Kata-kata Rian meruntuhkan dinding pertahanan yang selama ini ia bangun kokoh di hatinya. Kehangatan tangan Rian terasa begitu nyata, begitu tulus, menyapu bersih semua sisa keraguan yang tersisa.
"Rian..." Alika tersenyum tipis di sela tangisnya. Ia membalas genggaman tangan Rian tak kalah erat. "Oke. Mari kita selesaikan ini bareng-bareng."
Seketika, layar hologram di antara mereka menyala kembali. Kali ini dengan cahaya keemasan yang luar biasa terang, jauh lebih terang dari sebelumnya.
Grafik detak jantung mereka mulai naik, bergerak selaras bagaikan satu ketukan yang sama.
**[Sync Progress: 50%... 75%... 90%...]**
Naga itu meluncur ke bawah, menyemburkan badai api ungu raksasa yang siap melumat tubuh mereka berdua.
**[Sync Progress: 99%... 100%!]**
**[System Alert: Dual Core Sync Activated. Perfect Synchronization Achieved!]**
*BOOM!*
Sebuah kubah pelindung berwarna emas murni tercipta di sekeliling Rian dan Alika, menahan semburan api naga tersebut dengan mudah. Tubuh mereka berdua kini diselimuti oleh aura energi berwarna emas dan biru yang berpendar terang. Busur panah di tangan Alika berubah bentuk menjadi busur raksasa bercahaya, sementara pedang Rian dialiri energi listrik murni yang luar biasa besar.
Mereka berdua bangkit berdiri secara bersamaan, bergerak dengan koordinasi yang sangat sempurna tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Mereka seolah bisa saling mendengar isi pikiran masing-masing.
"Sekarang, Lik!" seru Rian dalam hati, yang langsung didengar oleh Alika.
Rian melompat tinggi ke udara, membelah badai api naga dengan tebasan pedang energinya yang menciptakan jalur bersih bagi Alika. Dari bawah, Alika menarik tali busurnya sekuat tenaga. Tiga anak panah cahaya raksasa tercipta di tangannya.
"Ini buat semua waktu kita yang hilang!" teriak Alika dalam hati.
*Syuuuut!*
Tiga anak panah cahaya itu meluncur cepat, menembus kedua sayap dan dada naga tersebut, membuatnya melolong kesakitan dan terkunci di tempat. Di saat yang sama, Rian yang sudah berada di atas kepala naga itu membalikkan tubuhnya, mengarahkan pedangnya ke bawah.
Dengan satu entakan kuat yang didorong oleh energi sinkronisasi mereka, Rian menusukkan pedangnya tepat ke dahi naga tersebut.
*CRASH!*
Cahaya emas raksasa meledak dari tubuh naga itu, menyinari seluruh Map 404 yang gelap gulita. Naga raksasa itu perlahan hancur menjadi jutaan partikel cahaya keemasan yang indah, melayang ke atas bagaikan kembang api di malam hari.
Sisa waktu di layar hologram berhenti tepat di angka: **00:01**.
Rian mendarat dengan mulus di samping Alika. Seiring dengan kalahnya sang naga, aura keemasan di tubuh mereka perlahan memudar, meninggalkan mereka berdua yang masih saling menggenggam tangan erat-erat di tengah-tengah arena yang kini mulai kembali stabil.
Alika menatap Rian dengan napas terengah-engah, lalu tersenyum lebar. "Kita... kita berhasil, Yan?"
Rian membalas senyuman itu, matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Alika, melainkan membawanya sedikit lebih dekat ke dadanya sendiri.
"Iya, kita berhasil, Lik. Karena kita saling percaya," jawab Rian lembut.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!