Bab 15: Pertempuran Habis-Habisan
"Lik, dengerin suara gue. Jangan mikirin naganya, jangan mikirin game g*** ini. Fokus ke gue."
Suara Rian terdengar agak bergetar, tapi ada nada tegas yang bikin Alika perlahan-lahan mulai tenang. Di tengah badai angin kencang yang dihasilkan oleh kepakan sayap naga raksasa di atas mereka, Alika mencoba menutup matanya rapat-rapat. Dia bisa merasakan genggaman tangan Rian yang sangat erat, terasa begitu nyata meskipun ini cuma dunia virtual.
"Gimana bisa fokus, Yan! Suara naga itu berisik banget, kayak sound system kondangan yang pecah!" seru Alika, masih dengan kepanikan yang kentara di nadanya.
"Gue tahu! Tapi lo harus coba. Ingat gak waktu kita dulu nge-raid boss di game sebelah? Waktu koneksi internet lo bapuk dan lo cuma bisa ngandelin insting gue buat nge-heal? Kita bisa menang waktu itu karena apa?"
Alika terdiam. Memori dua tahun lalu mendadak terputar otomatis di kepalanya. Masa-masa di mana mereka masih berstatus pacar, bukan mantan yang hobi adu bacot kayak sekarang. Dulu, mereka adalah duo maut yang paling ditakuti di server game MMO mana pun. Alika adalah penyerang jarak jauh yang andal, dan Rian adalah pelindung sekaligus pengatur strategi yang jenius. Mereka menang dulu karena satu hal: saling percaya tanpa tapi.
"Gue... gue inget," bisik Alika.
*Bzzzzzt!*
Layar hologram di depan mereka berkedip cepat. Angka di sana mulai bergerak naik.
**[Sync Progress: 35%]**
"Nah, gitu! Bagus, Lik. Singkirin dulu semua gengsi lo, singkirin rasa kesel lo karena gue mutusin lo duluβ"
"Heh! Malah bahas itu!" Alika langsung membuka matanya, menatap Rian dengan tatapan tajam yang bisa membunuh kalau saja pandangan mata punya damage instan.
"Eh, sori, sori! Salah momen!" Rian nyengir panik, meskipun keringat dingin sudah mulai bercucuran di pelipis avatarnya. "Maksud gue, lupain semua masalah kita yang di dunia nyata. Sekarang, di Map 404 ini, cuma ada gue dan lo. Gue butuh lo, Alika. Dan gue tahu, lo juga butuh gue buat keluar dari sini."
Alika menatap mata Rian dalam-dalam. Di dalam manik mata cowok itu, tidak ada kebohongan. Yang ada hanyalah tekad bulat untuk bertahan hidup bersama-sama. Rasa hangat yang sudah lama terkubur di hati Alika mendadak menyeruak naik. Alika menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia memejamkan matanya kembali, kali ini dengan senyum tipis di bibirnya.
"Oke. Gue percaya sama lo, Rian. Dari dulu sampai sekarang... sebenernya gue selalu percaya sama lo."
Kata-kata jujur yang keluar dari mulut Alika seolah menjadi kunci utama yang dicari oleh sistem. Seketika, getaran hebat di tanah berhenti sejenak. Gelombang energi berwarna biru elektrik dan emas memancar dari titik di mana tangan mereka saling bertautan.
*DING!*
**[Sync Progress: 100%]**
**[Dual Core Sync: ACTIVATED!]**
Sistem mengeluarkan suara notifikasi yang sangat nyaring, disusul dengan teks besar berwarna merah keemasan yang melayang di udara. Alika merasakan kekuatan luar biasa mengalir ma**k ke dalam tubuh avatarnya. Busur panah hitam-silver miliknya mulai diselimuti oleh kode-kode biner berwarna ungu neonβenergi sihir enkripsi milik Rian. Setiap kali Alika menggerakkan busurnya, partikel-partikel piksel yang berkilauan berjatuhan ke tanah.
"G***... ini keren banget," gumam Alika takjub, melihat busur panahnya yang kini terlihat sepuluh kali lipat lebih mematikan.
"Gak usah terpesona dulu, Lik! Tuan rumahnya udah marah!" teriak Rian sambil menunjuk ke arah atas.
Naga virus itu meraung luar biasa keras, merasa terancam oleh energi baru yang mendadak muncul. Retakan-retakan merah di tubuh naga itu menyala terang, dan dari dalam tenggorokannya yang menganga lebar, terkumpul bola energi hitam keunguan yang dipenuhi glitch-glitch tajam. Itu adalah *Glitch Breath*βserangan area mematikan yang bisa menghapus data apa pun yang disentuhnya secara permanen.
"Rian, dia mau nembak!" seru Alika.
"Gue tahu! Bersiap, Lik!" Rian langsung maju selangkah, memosisikan dirinya tepat di depan Alika. Tangannya digerakkan ke depan, memanggil semua sisa MP (Mana Points) miliknya yang tersisa. "Gue bakal tahan serangan itu. Lo cari celah buat lompat dan tembak jantungnya!"
"Tapi MP lo tinggal dikit, Yan! Kalau lo paksainβ"
"Gak ada waktu buat mikir, Alika! Lakuin aja!"
Naga itu menundukkan kepalanya, dan dalam satu detik berikutnya, semburan nafas glitch yang sangat besar meluncur deras ke arah mereka, meratakan bebatuan dan menghapus tekstur tanah di sekitarnya menjadi hitam pekat tanpa dasar.
"Firewall: Absolute Decryption!" teriak Rian sekuat tenaga.
Sebuah perisai raksasa berbentuk heksagonal berwarna biru transparan muncul di depan Rian. Perisai itu dilapisi oleh kode enkripsi yang berputar cepat, mencoba menyaring dan menahan serangan virus dari sang naga.
*BOOOOOOM!!!*
Benturan dua kekuatan raksasa itu menciptakan ledakan suara yang m****akkan telinga. Alika terpaksa menutup telinganya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya tetap menggenggam erat busur panah. Dia bisa melihat bar MP milik Rian terkuras habis dalam hitungan detik. Tidak hanya itu, tekanan dari serangan naga tersebut mulai mengikis bar HP Rian yang perlahan-lahan ikut berkurang karena efek *backlash*.
"Arghhhh!!!" Rian berteriak menahan sakit. Tubuh avatarnya mulai bergetar hebat, berkedip-kedip tidak stabil karena sistem mendeteksi tekanan yang terlalu besar pada saraf virtualnya.
"Rian! C**up, Yan! Lepasin perisainya!" tangis Alika mulai pecah melihat kondisi mantan pacarnya itu.
"Jangan... liat... gue... Alika! CEPETAN LOMPAT!" raung Rian dengan urat-urat leher yang menegang. Perisainya mulai retak di berbagai sisi. Piksel-piksel pertahanan itu mulai hancur satu demi satu.
Melihat pengorbanan Rian, Alika tidak mau menyia-nyiakannya. Dia mengabaikan rasa takutnya. Dengan memanfaatkan reruntuhan batu melayang yang terlempar akibat ledakan, Alika berlari kencang. Dia melompat dari satu bongkahan batu ke bongkahan batu lainnya, bergerak naik ke atas menuju langit-langit map yang hancur.
Angin kencang menerpa wajahnya, tapi fokus Alika hanya tertuju pada satu titik: kristal merah menyala di dada sang naga yang merupakan jantung sekaligus pusat virusnya.
Alika menarik tali busurnya dengan sekuat tenaga di udara.
*Bzzzzzzzt!*
Sebuah anak panah raksasa yang terbuat dari jalinan energi enkripsi emas dan ungu terbentuk. Kekuatan *Dual Core Sync* membuat anak panah itu berputar seperti bor, menciptakan tekanan udara yang sangat kuat di sekelilingnya. Udara di sekitar Alika terasa memanas.
"Naga si****..." Alika menggertakkan giginya. Air matanya yang mengalir karena angin langsung menguap. "Jangan berani-berani lo sentuh Rian!"
Di bawah, perisai Rian akhirnya hancur lebur dengan suara denting yang memilukan. Rian terlempar ke belakang, menghantam tanah berbatu dengan keras hingga HP-nya langsung anjlok ke area merah kritis. Naga itu bersiap melakukan serangan susulan untuk menghabisi Rian.
Namun, sebelum naga itu sempat menembakkan energinya lagi, Alika sudah berada di titik tertinggi lompatannya, melayang tepat di atas kepala sang naga dengan latar belakang langit Map 404 yang penuh dengan kode eror berwarna merah.
"Target locked," bisik Alika dingin.
*SREEEEEEET!*
Alika melepaskan tali busurnya.
Anak panah enkripsi itu melesat membelah udara dengan kecepatan cahaya. Suara desingannya terdengar seperti jeritan mesin jet. Serangan itu meluncur tanpa bisa dihentikan, menembus langsung ke dalam pusaran glitch pertahanan sang naga, dan...
*JLEB!!!*
Tepat sasaran. Anak panah itu menancap sempurna di tengah-tengah kristal merah di dada naga.
Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar. Keheningan yang mencekam menyelimuti area pertempuran.
Lalu, retakan cahaya emas mulai muncul dari titik di mana anak panah itu menancap. Retakan itu merambat dengan sangat cepat ke seluruh tubuh raksasa sang naga, mengubah warna hitam keunguan miliknya menjadi putih terang. Naga itu mencoba meraung untuk terakhir kalinya, tapi suaranya terputus-putus seperti kaset rusak.
*KABOOOOOOOM!!!*
Naga virus itu meledak hebat, hancur berkeping-keping menjadi jutaan partikel piksel berkilauan yang melayang turun seperti salju di tengah kegelapan Map 404. Pemandangan itu luar biasa indah, seolah-olah menjadi perayaan atas kemenangan mereka yang mustahil.
Sistem memberikan pengumuman berturut-turut di layar hologram:
**[BOSS DEFEATED!]**
**[Event Quest: Clear the Erased Area - COMPLETED!]**
**[Preparing for teleportation to the safe zone in 60 seconds...]**
Alika mendarat di tanah dengan mulus menggunakan sisa energi skill-nya. Dia terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Begitu kakinya menyentuh tanah, hal pertama yang dia cari bukanlah loot atau hadiah yang berjatuhan, melainkan sosok Rian.
"Rian!" teriak Alika panik.
Dia melihat Rian tergeletak beberapa meter dari sana, tidak bergerak. Alika langsung berlari kencang dan berlutut di samping tubuh cowok itu. Jantung Alika serasa mau copot saat melihat bar HP Rian yang berkedip-kedip merah di angka yang sangat mengerikan.
**[HP: 1 / 2500 (Critical State)]**
Satu HP. Rian benar-benar bertahan hanya dengan satu poin kehidupan.
"Yan! Bangun, Yan! Plis, jangan becanda!" Alika mengangkat kepala Rian dan meletakkannya di pangkuannya. Tangannya yang gemetar mencoba menepuk-nepuk pipi Rian lembut. "Kita udah menang, Yan! Kita berhasil ngalahin naganya! Lo denger gue gak sih?!"
Rian tidak memberikan respons. Matanya terpejam rapat, dan tubuh avatarnya sesekali masih berkedip-kedip tanda tidak stabil akibat efek kehabisan MP dan hantaman keras tadi.
"Rian, bangun..." Air mata Alika kembali menetes, kali ini jatuh tepat di pipi avatar Rian. "Jangan tinggalin gue di sini sendirian... Gue minta maaf buat semuanya. Gue mohon, bangun, Rian..."
Di tengah kepanikan Alika, waktu mundur teleportasi di layar hologram terus berjalan.
**[Teleportation in 10... 9... 8...]**
Alika mendekap tubuh Rian erat-erat, tidak peduli jika sistem akan memindahkan mereka dalam kondisi seperti ini. Yang dia tahu, dia tidak ingin kehilangan cowok ini untuk kedua kalinya.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!