Kekuatan luar biasa itu seolah menyengat seluruh tubuh Alika. Cahaya biru elektrik dan emas langsung meledak dari titik tangan mereka yang saling genggam, membuat seisi Map 404 yang tadinya gelap gulita mendadak terang benderang seperti siang hari. Naga raksasa di atas mereka meraung keras, namun kali ini bukan raungan yang menakutkan, melainkan raungan kesakitan karena terhempas oleh gelombang energi dahsyat dari hasil sinkronisasi mereka.
Di tengah kepulan debu piksel dan kilatan cahaya, sebuah lingkaran portal besar berwarna putih bersih perlahan muncul di depan mereka. Ada tulisan hologram besar yang mengambang tepat di atas portal tersebut:
**[EXIT PORTAL DETECTED. INITIATING DISCONNECT...]**
"Rian! Portalnya kebuka!" teriak Alika, setengah tidak percaya.
Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah juga. Perasaan lega yang luar biasa langsung membuncah di dadanya. Perjuangan mereka mati-matian menahan gempuran monster dan eror sistem di map si**** ini akhirnya membuahkan hasil. Mereka bisa pulang.
Namun, saat Alika menoleh ke samping, senyumnya langsung pudar seketika.
Tangan Rian yang tadinya menggenggam erat tangan Alika perlahan-lahan mulai terlihat transparan. Piksel-piksel hijau dari tubuh avatar Rian mulai beterbangan seperti kunang-kunang, menghilang satu per satu ke udara.
"Rian? Lo... lo kenapa?" Alika panik setengah mati.
Dia langsung memegang kedua bahu Rian, namun tangannya justru menembus sebagian tubuh cowok itu. Alika mencoba mencengkeram jaket avatar Rian, tapi rasanya seperti menggenggam angin.
"Hei, sant**, Lik," Rian tersenyum tipis. Tipikal senyum sant** dan menyebalkan milik Rian yang biasanya membuat Alika kesal, tapi kali ini senyuman itu justru membuat dada Alika terasa sesak luar biasa. "Sistemnya mulai mematikan Map 404. Koneksi gue kayaknya diputus duluan sama admin dari luar. Avatar gue mulai didelete."
"Gak! Gak boleh kayak gini!" Alika menggeleng panik, air matanya mengalir makin deras.
Tanpa memedulikan gengsi yang selama ini dia agung-agungkan sebagai mantan, Alika langsung menghambur dan memeluk tubuh Rian yang makin memudar itu seerat mungkin. Gak peduli kalau rasanya makin hampa, gak peduli kalau tekstur tubuh virtual Rian sudah hampir hilang sepenuhnya dari pelukannya.
"Jangan ilang duluan, Rian! Gue takut... gue takut kalau pas bangun di sana, lo gak ada. Kita harus keluar bareng-bareng!" isak Alika, menyembunyikan wajahnya di dada avatar Rian.
Bahunya naik turun menahan tangis yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Selama terjebak di game g*** ini, Alika selalu memasang wajah tangguh. Dia selalu gengsi untuk menunjukkan kelemahannya di depan cowok yang pernah mematahkan hatinya ini. Tapi sekarang, di detik-detik terakhir sebelum mereka kembali ke dunia nyata, semua pertahanan Alika runtuh total. Dia benar-benar takut kehilangan Rian untuk kedua kalinya.
Rian menghela napas pelan. Dia membalas pelukan Alika dengan sisa-sisa energi avatarnya, mengusap kepala cewek itu dengan lembut walau tangannya sudah hampir transparan sepenuhnya.
"Gue gak bakal ke mana-mana, Alika. Kita cuma balik ke badan asli kita," bisik Rian tepat di telinga Alika. Suaranya sudah mulai putus-putus, terganggu distorsi audio dari sistem yang mulai shutdown. "Begitu lo buka mata di dunia nyata, hal pertama yang harus lo lakuin adalah cari gue. Pod kita sebelahan, kan? Gue bakal nungguin lo di sana."
"Janji ya?" Alika mendongak, matanya yang basah menatap langsung ke dalam manik mata Rian yang perlahan mulai meredup.
"Janji. Kita mulai dari awal lagi di dunia nyata, ya?" Rian tersenyum manis sekali. Senyuman tulus yang sudah lama sekali tidak Alika lihat sejak hubungan mereka kandas setahun yang lalu.
Sebelum Alika sempat menjawab, portal putih di depan mereka mendadak mengeluarkan daya tarik yang sangat kuat. Cahaya putih menyilaukan langsung menelan pandangan Alika sepenuhnya. Kesadaran Alika ditarik paksa, rasanya seperti jatuh dari ketinggian ribuan meter dengan kecepatan cahaya, membuat kepalanya terasa berputar hebat sebelum semuanya menjadi gelap gulita.
***
*Gaspp!*
Alika tersentak bangun. Paru-parunya langsung menghirup udara dingin dengan rakus, seperti orang yang hampir tenggelam dan baru saja berhasil naik ke permukaan air. Dada Alika naik turun dengan cepat, napasnya tersengal-sengal, dan detak jantungnya berdegup sangat kencang di balik kaos tipis yang dia kenakan.
Pandangan Alika masih agak buram saat dia merasakan ada cairan hangat yang mengalir di pipinya. Dia menyentuh pipinya sendiri dengan tangan yang gemetar. Basah. Air mata yang dia tumpahkan di Map 404 ternyata benar-benar keluar di dunia nyata.
"Alika? Oh Tuhan, Alika! Lo udah sadar?!"
Suara bising langsung menyerbu indra pendengaran Alika. Dia bisa mendengar suara alarm merah yang berbunyi *tit-tit-tit* konstan di sekelilingnya, ditambah suara langkah kaki orang-orang yang berlarian panik.
Alika buru-buru melepas helm VR super berat yang menempel di kepalanya. Begitu helm itu terlepas, dia langsung disambut oleh lampu neon terang di ruangan lab pengembangan teknologi VR milik kampus mereka. Di sekelilingnya, beberapa kakak tingkat jurusan Teknik Informatika dan staf tech-support sedang sibuk setengah mati di depan monitor yang menampilkan kode error berwarna merah.
Namun, Alika sama sekali tidak peduli dengan semua kehebohan itu. Pikirannya cuma tertuju pada satu nama.
"Rian..." bisik Alika. Suaranya terdengar sangat serak karena tenggorokannya yang luar biasa kering.
Dia buru-buru melepas kabel-kabel sensor yang menempel di pergelangan tangan dan dadanya dengan kasar. Beberapa staf tech-support yang menyadari hal itu langsung mencoba menahan tubuh Alika.
"Eh, Dek, bentar dulu! Jangan langsung bangun, badan kamu masih butuh penyesuaian setelah sinkronisasi paksa tadi!" kata salah satu staf cowok dengan wajah cemas.
"Minggir!" Alika mendorong tangan staf itu dengan sisa-sisa tenaganya.
Dia tidak peduli kalau kepalanya masih terasa berputar-putar dan kakinya lemas sekali seperti jeli saat pertama kali menapak di lant** ubin lab yang dingin. Alika setengah berlari, setengah tertatih, mencari pod VR yang berada tepat di sebelahnya. Jantungnya serasa mau copot saat melihat pod berbentuk tabung kaca futuristik dengan nomor seri 02βpod tempat Rian berbaring.
Pod itu masih tertutup rapat, namun lampu indikator di bagian atasnya sudah berubah dari merah kedip-kedip menjadi hijau stabil.
"Rian... bangun, please..." gumam Alika. Dia memukul-mukul kaca pod itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Rian, lo denger gue, kan? Bangun, Yan!"
*Psssshhh...*
Suara desisan angin terdengar saat sistem hidrolik pod itu mulai bekerja. Penutup kaca pod perlahan terangkat ke atas, mengeluarkan uap dingin yang tipis. Di dalam sana, seorang cowok dengan rambut hitam yang agak berantakan dan wajah yang kelihatan pucat perlahan-lahan membuka matanya.
Rian mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu lab yang sangat terang. Tangannya yang gemetar bergerak naik, perlahan melepas helm VR dari kepalanya.
Begitu helm itu terlepas, mata Rian langsung tertuju pada cewek yang sedang berdiri di depan pod-nya dengan muka sembap, mata merah, dan rambut yang acak-acakan.
Rian tersenyum. Senyum tipis, namun terasa sangat hangat, persis seperti senyuman terakhirnya sebelum avatar cowok itu menghilang di game tadi.
"Hai, Alika. Kan udah gue bilang... gue bakal nungguin lo," suara Rian terdengar parau dan berat, namun terdengar sangat nyata di telinga Alika. Bukan lagi suara robotik hasil konversi sistem audio game yang biasa dia dengar selama beberapa hari terakhir.
Tanpa pikir panjang lagi, Alika langsung menghambur maju. Dia memeluk leher Rian erat-erat, sampai-sampai tubuh Rian yang baru saja mau duduk hampir roboh kembali ke dalam pod. Alika menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rian, menangis sejadi-jadinya di sana. Tangannya mencengkeram erat kaus bagian belakang Rian, seolah takut kalau cowok ini akan berubah menjadi piksel lagi dan menghilang jika dia melepaskannya sedikit saja.
"Gue takut banget, Yan... Gue pikir lo gak bakal bangun," isak Alika, badannya masih gemetaran hebat karena sisa kepanikan tadi.
Rian yang awalnya sempat terkejut, perlahan-lahan menaikkan kedua tangannya. Dia membalas pelukan Alika dengan pelukan yang tidak kalah erat, menarik tubuh cewek itu makin rapat ke dalam dekapannya. Rian menyandarkan dagunya di bahu Alika, sambil mengelus punggung Alika dengan lembut, berusaha menenangkan cewek yang sangat dia sayangi itu. Dan di detik ini, Rian sadar sepenuhnya bahwa rasa sayang itu memang tidak pernah benar-benar hilang dari hatinya.
"Sshh... udah, Lik. Kita udah aman. Kita udah di dunia nyata," bisik Rian lembut. Dia sesekali mengecup puc** kepala Alika, menyalurkan rasa lega yang sama besarnya ke dalam pelukan itu. "Makasih ya, udah mau percaya sama gue lagi di game tadi. Kalau bukan karena lo, mungkin kita berdua masih kejebak di map g*** itu sekarang."
Di sekeliling mereka, suasana lab masih sangat sibuk dan kacau. Staf tech-support dan beberapa dosen pembimbing sedang heboh membicarakan tentang 'keajaiban dual core sync' yang berhasil menembus sistem keamanan Map 404 yang rusak. Ada yang sibuk menelepon pihak developer game pusat, ada juga yang sibuk mencatat data dari monitor yang masih berkedip-kedip cepat.
Namun bagi Rian dan Alika, semua kebisingan di sekitar mereka langsung senyap seketika. Dunia serasa cuma milik mereka berdua saat ini.
Alika perlahan melepaskan pelukannya, meskipun tangannya masih enggan untuk lepas dari pundak Rian. Dia menatap wajah Rian yang sekarang kelihatan jauh lebih hidup dibanding karakter 3D-nya di game. Ada rona merah tipis di pipi Rian yang membuat Alika sadar kalau ini beneran dunia nyata yang asli.
"Muka lo jelek banget kalau abis nangis gini," ledek Rian, meskipun matanya sendiri juga kelihatan berkaca-kaca menahan haru. Tangannya bergerak naik, dengan lembut menghapus sisa air mata di pipi Alika menggunakan ibu jarinya.
"Heh! Masih sempat-sempatnya ya lo ngeledek gue!" Alika cemberut, refleks memukul pelan dada Rian, namun setelah itu dia malah tertawa kecil di sela-sela sisa tangisnya.
Rian ikut tertawa. Suara tawa yang sudah lama sekali tidak Alika dengar secara langsung tanpa perantara headset Discord atau speaker handphone. Tawa yang dulu selalu bisa membuat hari-hari berat Alika jadi terasa jauh lebih ringan.
"Jadi..." Rian menatap Alika dalam-dalam, genggaman tangannya di tangan Alika terasa makin erat dan hangat. "Sesuai janji kita di portal tadi. Kita mulai lagi semuanya dari awal, ya? Gak ada rahasia-rahasiaan lagi, gak ada gengsi-gengsian lagi di antara kita."
Alika menatap tangan mereka yang saling bertautan erat. Hangat. Sangat hangat, jauh melampaui rasa hangat virtual yang mereka rasakan di Map 404. Dia mendongak, lalu tersenyum manis dengan mata yang masih sedikit basah.
"Iya. Mari kita mulai lagi semuanya dari awal, Rian. Kesempatan kedua kita... di dunia yang beneran nyata."
Di tengah kepanikan staf lab yang masih mondar-mandir di sekitar mereka, kedua remaja itu hanya bisa saling melempar senyum lega penuh kebahagiaan. Map 404 mungkin adalah mimpi buruk yang hampir merenggut nyawa mereka, namun di sisi lain, map eror itu juga yang akhirnya menuntun mereka kembali ke jalan pulangβpulang ke hati satu sama lain.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!