Kepala Alika rasanya mau pecah. Sungguhan. Pusingnya luar biasa, mirip seperti efek begadang tiga hari berturut-turut demi mengejar tenggat revisi skripsi yang super padat.
"Aduh..." Alika mengerang pelan sambil memegangi pelipisnya. Matanya masih terpejam erat, sementara jemarinya meraba-raba tanah di bawahnya.
Tunggu. Tanah?
Alika mengerutkan dahi. Sentuhan di jemarinya terasa aneh. Bukan ka**r busa empuk di dalam pod simulasi NexaCorp yang seharusnya dia rasakan, melainkan permukaan yang kaku, sedikit kasar, dan terasa... dingin, seperti plastik murah yang terlalu lama ditaruh di dalam freezer.
Begitu kelopak matanya terbuka, Alika langsung disambut oleh pemandangan yang sama sekali tidak ma**k akal. Dia tidak lagi berada di dalam aula NexaCorp yang super steril dan modern. Dia juga tidak berada di padang rumput hijau nan estetik yang dijanjikan di trailer resmi *Fantasy World Online* (FWO).
Alika berada di tengah-tengah hutan yang sangat aneh.
Pohon-pohon di sekelilingnya tampak rusak. Beberapa batang pohon terlihat patah-patah secara visual, seperti gambar beresolusi rendah yang dipaksa diperbesar hingga pecah menjadi kotak-kotak piksel. Daun-daunnya tidak bergoyang ditiup angin, melainkan berkedip-kedip cepat antara warna hijau neon dan abu-abu gelap, mirip layar TV tabung rusak yang kehilangan sinyal. Udara di sekitarnya pun terasa ganjil—tidak ada bau tanah basah atau aroma pinus, yang ada hanyalah bau samar seperti besi terbakar dan sengatan listrik statis yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Alika? Lo udah bangun?"
Suara bariton yang sangat familier itu membuat Alika refleks menoleh secepat kilat.
Di sebelahnya, terduduk seorang cowok tinggi yang memakai baju zirah perak lengkap dengan jubah putih kusam dan lambang pelindung suci di bagian dadanya. Rambut hitam cowok itu tampak sedikit berantakan, tapi wajahnya—meski sekarang dalam versi avatar game yang terlihat jauh lebih simetris dan tampan—tetap memiliki ekspresi datar nan menyebalkan yang sangat Alika kenali.
"Rian?!" Alika membelalak. Dia buru-buru melihat ke bawah, memeriksa tubuhnya sendiri.
Dia tidak lagi memakai jaket bomber kesayangannya. Kini, dia mengenakan gaun penyihir berwarna lilac berpotongan anggun dengan aksen perak di pinggang, lengkap dengan sepatu bot kulit setinggi lutut. Sebuah tongkat kayu panjang dengan batu permata ungu yang bersinar redup tergeletak begitu saja di samping kakinya.
"Sumpah, ini kita beneran udah ma**k game-nya?" Alika bertanya dengan suara agak melengking karena panik.
"Secara teknis, iya. Kita sudah berada di dalam sistem FWO," jawab Rian tenang. Dia berdiri perlahan, lalu menepuk-nepuk bagian belakang baju zirahnya yang terkena debu piksel abu-abu. "Tapi ada yang nggak beres dengan koordinat pendaratan kita. Ini bukan area pemula."
"Maksud lo?" Alika ikut berdiri, meski kakinya masih terasa sedikit lemas. Dia meraih tongkat sihirnya, menggunakannya sebagai tumpuan.
"Di panduan beta-test yang gue baca semalam, area awal untuk semua pemain baru adalah *Beginner’s Plain*. Padang rumput luas, cuaca cerah, dan banyak NPC kelinci ramah untuk latihan," jelas Rian sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling hutan yang suram. "Tapi di sini... suasananya lebih mirip area pembuangan sampah data. Lihat pohon itu."
Rian menunjuk ke arah pohon besar di dekat mereka. Batang pohon itu mendadak berkedip cepat, berubah menjadi siluet hitam polos tanpa tekstur selama beberapa detik, sebelum kembali ke bentuk piksel pecah-pecah.
"Glitch?" tanya Alika, mulai merasa cemas. "Kok bisa developer sekelas NexaCorp kecolongan bug segede ini di hari pertama beta-test? Katanya ini game VR *Full-Dive* paling sempurna abad ini?"
"Nggak ada sistem buatan manusia yang sempurna, Al. Tapi yang jelas, kita harus keluar dulu buat ngelaporin ini ke panitia," kata Rian. Nadanya masih terdengar logis dan menyebalkan seperti biasa. "Coba lo buka menu utama lo."
Alika mengangguk setuju. Berada di tempat aneh ini lama-lama membuat perasaannya tidak enak. Dia mengangkat tangan kanannya, lalu melakukan gerakan menyapu ke bawah di udara—gestur standar yang dia pelajari dari video tutorial untuk memunculkan *User Interface* (UI).
*Tring!*
Sebuah layar holografis semi-transparan berwarna biru muda muncul di depan wajah Alika. Di sudut kiri atas, tertera status karakternya:
**[ Name: Alika | Class: Mage | Level: 1 | HP: 100/100 | MP: 150/150 ]**
"Oke, menu gue kebuka," kata Alika, sedikit bernapas lega. "Sekarang tinggal klik pengaturan... terus kita balik ke lobi."
Jemari Alika bergerak lincah menyusuri deretan ikon di layar virtual itu. Ikon tas penyimpanan, status atribut, daftar skill, daftar teman—yang secara otomatis hanya berisi satu nama: **[ Rian - Paladin - Level 1 ]** yang membuat Alika memutar bola matanya malas—dan terakhir, ikon roda gigi kecil di sudut kanan bawah.
Alika mengetuk ikon roda gigi tersebut. Layar holografisnya langsung berubah menampilkan opsi pengaturan audio, sensitivitas gerakan, grafis, dan...
Alika tertegun. Jari telunjuknya menggantung di udara.
Di bagian paling bawah panel pengaturan, tempat yang seharusnya diisi oleh tombol merah besar bertuliskan *Log Out* atau *Exit Game*, tampak kosong. Bukan benar-benar kosong, melainkan tombol tersebut berwarna abu-abu gelap dan buram, seolah sengaja dinonaktifkan oleh sistem.
Alika mencoba mengetuknya berkali-kali. Namun, setiap kali jarinya menyentuh area abu-abu itu, sebuah tulisan peringatan berwarna merah menyala muncul di tengah layar:
**[ ACTION DISABLED: SYSTEM ERROR 404 ]**
"Rian..." Jantung Alika mulai berdegup kencang. Keringat dingin mulai keluar di pelipisnya. "Coba lo cek menu lo. Sekarang."
Rian mengernyitkan dahi melihat ekspresi panik di wajah Alika. Tanpa banyak tanya, dia melakukan gestur yang sama. Sebuah layar holografis serupa muncul di depan Rian. Alika memperhatikan wajah mantan pacarnya itu dengan saksama. Detik pertama, ekspresi Rian masih datar. Detik kedua, matanya sedikit menyipit di balik kacamata virtualnya. Detik ketiga, rahang Rian mengeras kaku.
"Nggak bisa," gumam Rian, suaranya kehilangan nada tenangnya yang biasa. "Tombol *Log Out* gue juga abu-abu. Dikunci oleh sistem."
"Maksudnya gimana sih?!" Alika mulai panik. Dia memukul-mukul layar holografisnya sendiri dengan frustrasi, membuat layar virtual itu bergoyang-goyang kasar di udara sebelum akhirnya menghilang karena eror. "Masa nggak bisa keluar?! Ini kan game VR *Full-Dive*! Kalau kita nggak bisa log out, fisik kita di dunia nyata gimana? Kita kan lagi tiduran di pod NexaCorp!"
"Tenang, Alika. Panik nggak bakal menyelesaikan masalah," potong Rian tegas. Dia memegang kedua pundak Alika, mencoba menstabilkan napas cewek itu.
"Gimana gue bisa tenang, Rian! Kita kejebak di dalam game!" Alika menepis tangan Rian dengan kasar. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. "Gue mau pulang! Gue ada janji makan malam sama nyokap nanti sore! Kalau gue nggak balik, nyokap pasti nyariin!"
Sebelum Rian sempat membalas ucapan Alika, mendadak seluruh langit virtual di atas mereka yang tadinya berwarna kelabu mendadak bergetar hebat. Warnanya berubah menjadi merah darah yang sangat pekat dan mengerikan.
*BZZZZT!*
Suara dengung statis yang sangat keras dan m****akkan telinga terdengar dari segala arah, seolah-olah seluruh hutan ini adalah sebuah speaker raksasa yang sedang rusak. Alika refleks menutup kedua telinganya rapat-rapat sambil meringkuk di dekat kaki Rian. Secara insting, Rian langsung mencabut pedang besi panjang dari sarung di pinggangnya, melangkah maju satu langkah untuk memosisikan dirinya di depan Alika sebagai pelindung.
"Perhatian kepada seluruh unit data yang tidak terdaftar," sebuah suara robotik perempuan bergema dari langit merah di atas mereka. Suara itu terdengar dingin, monoton, dan tanpa emosi sama sekali, diselingi efek statis yang mengganggu pendengaran.
"Sistem mendeteksi adanya kegagalan transfer data parah pada koordinat sektor 404. Anda saat ini berada di dalam *Karantina Data Rusak*."
Alika mendongak perlahan dari balik punggung kokoh Rian. Wajahnya sudah sepucat kertas. "Karantina data rusak?" bisiknya gemetar.
Suara robotik itu berlanjut, bergema ke seluruh penjuru hutan piksel:
"Protokol pemulihan otomatis dari server pusat gagal dijalankan. Seluruh akses keluar dari sistem (Log Out) telah dinonaktifkan secara permanen untuk mencegah penyebaran kode korup ke server utama NexaCorp."
"G***..." Rian berbisik tajam. "Mereka sengaja mengarantina wilayah ini dan memutus jalur keluar kita agar bug-nya tidak merusak keseluruhan game?"
"Harap perhatikan aturan keselamatan baru yang berlaku di Map 404," suara sistem itu kembali terdengar, kali ini nadanya terasa jauh lebih mengintimidasi. "Sektor ini memiliki tingkat ketidakstabilan data sebesar 98%. Seluruh monster di area ini telah mengalami mutasi kode dan memiliki tingkat agresivitas maksimal."
"Dan yang paling penting..." Ada jeda sejenak, membuat keheningan di hutan itu terasa begitu mencekam hingga detak jantung Alika sendiri bisa terdengar jelas di telinganya.
"Di dalam Map 404, tingkat sinkronisasi saraf antara otak pengguna dan avatar berada pada angka mutlak 100%. Jika HP (Hit Points) karakter Anda mencapai angka nol dan karakter dinyatakan mati, sistem akan mengidentifikasi karakter tersebut sebagai file sampah yang harus dihapus secara permanen."
"Penghapusan file sampah mencakup penghapusan seluruh data kesadaran asli pengguna yang terhubung di dunia nyata. Dengan kata lain: jika Anda mati di dalam Map 404, Anda juga akan mengalami kematian otak permanen di dunia nyata."
*DEGG!*
Dada Alika rasanya seperti dihantam godam raksasa. Seluruh persendiannya mendadak lemas.
"Mati... di dunia nyata?" Alika mengulang kalimat itu dengan suara yang nyaris habis. Napasnya memburu cepat, memicu gejala serangan panik yang mulai menyerangnya.
"Sistem tidak menerima negosiasi atau pengaduan. Bertahan hidup adalah satu-satunya pilihan Anda. Semoga beruntung."
*BZZT!*
Suara dengung statis itu mendadak hilang secepat kedatangannya. Langit merah darah perlahan memudar, kembali menjadi kelabu gelap yang suram dan mati. Hutan kembali sunyi senyap, menyisakan suara embusan angin digital dingin yang terasa menyapu permukaan kulit Alika dengan begitu nyata—terlalu nyata untuk sebuah game simulasi.
Alika terduduk lemas di atas rumput kaku. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga, membasahi pipi avatarnya yang mulus. Tongkat sihirnya terguling begitu saja di samping tubuhnya yang gemetar hebat.
"Ini bohong, kan? Ini pasti cuma bagian dari promo game-nya? Biar kelihatan keren dan menegangkan kayak di anime-anime?" Alika menatap Rian dengan tatapan memohon, berharap cowok pintar di depannya ini akan mengeluarkan analisis logisnya dan menertawakan suara robot tadi sebagai lelucon marketing. "Rian, lo kan pinter... lo ngerti IT... bilang ke gue kalau ini cuma prank dari NexaCorp!"
Rian tidak langsung menjawab. Dia perlahan menyarungkan kembali pedang besinya ke pinggang. Ekspresi wajah Rian yang biasanya kaku dan menyebalkan kini berubah total menjadi sangat serius—bahkan ada gurat ketakutan yang sangat jarang ditunjukkannya, kini tercermin jelas di balik mata hitamnya.
"Gue harap ini juga cuma marketing, Al," kata Rian dengan suara rendah. Dia berlutut di depan Alika, menyamakan tinggi mereka. "Tapi... pas suara tadi selesai ngomong, sistem saraf gue bener-bener merasakan perubahan suhu udara di sini secara instan. Bahkan berat dari baju zirah besi ini... rasanya terlalu nyata untuk sekadar simulasi saraf standar."
Rian meraih tangan Alika yang gemetar. Sentuhan tangannya terasa hangat—sangat hangat untuk sebuah karakter fiksi yang tersusun dari kode pemrograman.
"Ini *Full-Dive* tingkat ekstrem yang ilegal. Otak kita benar-benar terkunci di dalam frekuensi game ini," lanjut Rian, menatap langsung ke dalam manik mata Alika yang basah oleh air mata.
Alika menatap tangan mereka yang bertautan, lalu dengan cepat menarik tangannya kembali karena genggaman itu mendadak mengingatkannya pada memori masa lalu yang menyakitkan. "Terus kita harus gimana?! Kita Level 1, Rian! Gue Mage yang HP-nya cuma seratus dan gampang mati, sedangkan lo... lo cuma Paladin level kroco yang jalannya lambat!"
Rian menghela napas panjang, lalu berdiri dan kembali mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Alika berdiri.
"Suka nggak suka, kita harus kerja sama kalau mau keluar dari sini hidup-hidup," kata Rian dengan nada datar yang terkesan dipaksakan agar terdengar tegar. "Gue bakal jadi *tanker* lo di depan, dan lo harus *back up* gue dari belakang pakai sihir es lo. Jangan sampai HP kita berkurang sedikit pun."
Alika menatap uluran tangan Rian dengan bimbang.
Di dunia nyata, cowok ini adalah mantan kekasih yang paling ingin dia hindari seumur hidup. Orang yang membuatnya menangis seminggu penuh pasca-putus karena sifatnya yang terlalu cuek, kaku seperti kanebo kering, dan selalu mementingkan logika di atas perasaan.
Namun sekarang, di dunia virtual yang rusak dan mematikan ini, cowok menyebalkan inilah satu-satunya orang yang bisa dia andalkan untuk bertahan hidup.
"Si****," umpat Alika pelan. Dia akhirnya meraih uluran tangan Rian dan berdiri dengan terpaksa. "Kenapa dari jutaan orang di dunia ini, gue harus terjebak di tempat kayak gini bareng lo sih?"
"Gue juga nggak pernah minta takdir sebercanda ini, Alika," balas Rian pelan.
Tepat saat kalimat Rian berakhir, dari balik semak-semak bertekstur rusak di depan mereka, terdengar suara geraman rendah yang sangat mengerikan. Sepasang mata berwarna merah menyala muncul dari kegelapan hutan yang glitched, siap berburu mangsa pertama mereka.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!