Terjebak di Map 404 Bersama Mantan

Bab 3: Ranger Lincah vs Mage Logika

Pengaturan Membaca

Bab 3: Ranger Lincah vs Mage Logika

"Bentar, bentar. Ini mata gue yang rabun karena keseringan liat layar laptop, atau emang baju gue barusan berubah?"

Alika melotot, menatap ke bawah. Gaun *lilac* anggun nan ribet yang tadi dia kenakan tiba-tiba lenyap, ter-refresh seperti halaman web yang lambat. Kini, tubuhnya dibalut setelan berburu dari kulit ringan berwarna hijau emerald yang pas di badan, lengkap dengan sepatu bot tanpa hak yang membuatnya jauh lebih mudah bergerak. Tongkat sihir kayu di tangannya juga sudah berganti menjadi sebuah busur panah perak yang tampak elegan, lengkap dengan tempat anak panah yang melingkar di pinggangnya—anehnya, tempat itu kosong tanpa satu pun anak panah fisik.

"Sistemnya baru selesai melakukan sinkronisasi data kelas," sahut Rian tenang.

Cowok itu juga sudah berubah. Baju zirah beratnya menyusut menjadi jubah mekanik abu-abu dengan banyak kantong utilitas di pinggang dan dada. Di tangan kanannya, ada sebuah sarung tangan logam yang memancarkan cahaya biru redup, lengkap dengan keyboard holografis kecil yang melayang di atas pergelangan tangannya.

Alika buru-buru menyentuh udara, memunculkan layar statusnya sendiri yang berkedip-kedip tidak stabil.

**[Nama Karakter: Alika]**

**[Kelas: Wind Ranger (Glitched)]**

**[Level: 1]**

"Ranger?!" Alika nyaris m****ik. "Gue kan daftarnya jadi Mage tipe *healer* biar bisa sant** di belakang! Kenapa malah jadi Ranger lincah begini? Mana panahnya nggak ada lagi!"

"Coba lo tarik talinya," ujar Rian tanpa mengalihkan pandangan dari keyboard virtualnya. Dia tampak sedang mengetik sesuatu dengan kecepatan super cepat.

Ragu-ragu, Alika mengangkat busur peraknya. Dia memosisikan diri, lalu menarik tali busur yang transparan. Begitu ditarik, udara di sekitarnya seolah tersedot ma**k, membentuk sebilah anak panah dari pusaran angin hijau yang berdesing pelan.

"Gokil..." bisik Alika, matanya berbinar sesaat. Sebagai cewek yang dasarnya tidak bisa diam, sensasi memegang busur ini ternyata terasa sangat alami di tangannya. Namun, rasa kagum itu langsung sirna begitu dia melirik Rian yang masih sibuk sendiri. "Terus lo jadi apa? Penyihir?"

"Mage-Engineer," jawab Rian pendek. "Secara teori, gue bisa memanipulasi kode lingkungan di sekitar kita. Tapi karena ini Map 404 yang penuh *bug*, gue harus nulis ulang beberapa skrip dasar secara manual lewat konsol ini supaya kita nggak mati konyol."

Alika memutar bola matanya. "Bagus. Lo si Tukang Teori, dan gue si Atlet Lapangan. Kombo yang dulu bikin kita putus setelah pacaran tiga bulan, sekarang malah jadi modal buat bertahan hidup di game rusak. *Perfect* banget hidup gue."

Rian menghentikan ketikannya sebentar. Matanya menatap Alika datar di balik poni hitamnya yang sedikit berantakan. "Kita putus karena lo terlalu impulsif, Alika. Nggak pernah pakai logika."

"Dan kita putus karena lo terlalu kaku, Rian! Semuanya harus dihitung pakai rumus. Lo pikir pacaran itu ujian kalkulus?!" sembur Alika, emosinya langsung tersulut.

Sebelum Rian sempat membalas, sebuah lolongan panjang yang terdengar sangat aneh memecah perdebatan mereka. Suara itu tidak terdengar seperti serigala biasa, melainkan seperti suara statis radio rusak yang digabungkan dengan geraman binatang buas.

*GRRRRRRR...*

Dari balik semak-semak yang daunnya berkedip-kedip abu-abu, muncullah seekor monster. Bentuknya menyerupai serigala, tapi penampilannya benar-benar mengerikan sekaligus absurd. Setengah tubuh bagian depannya tampak normal dengan bulu hitam legam, sementara bagian belakang dan wajahnya hancur menjadi kotak-kotak piksel 3D yang bergeser-geser kacau. Kedua matanya menyala merah neon, meninggalkan jejak cahaya yang *lag* setiap kali kepalanya bergerak.

**[Monster: Glitch Wolf - Level 5]**

"Level lima?!" Alika langsung panik, tapi refleks tubuh Rangernya membuat dia secara otomatis mengambil posisi siaga. "Kita masih level satu, Rian! Gimana ini?!"

"Tenang. Jangan bergerak sembarangan," ucap Rian, nadanya masih sedatar es di kutub utara. Dia mulai mengetik dengan panik di keyboard virtualnya. "Gue perlu waktu tiga puluh detik untuk menganalisis koordinat *hitbox*-nya. Karena dia monster *glitch*, posisi visual tubuhnya nggak sama dengan posisi aslinya di sistem. Kalau lo asal serang, lo cuma bakal buang-buang energi."

"Tiga puluh detik?!" Alika berteriak frustrasi saat melihat serigala itu mulai merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menerkam. "Itu monster udah mau lompat ke arah kita, Rian! Mana ada waktu buat nungguin lo ngetik skripsi!"

"Alika, dengerin gue—"

"Nggak bisa! Gue harus serang sekarang!"

Mengabaikan peringatan Rian, Alika menarik tali busurnya sekuat tenaga. Anak panah angin terbentuk dengan cepat, berputar kencang menciptakan pusaran udara kecil di sekelilingnya. Dengan insting alaminya yang tajam, Alika melepas tembakan.

*WUSH!*

Anak panah angin itu melesat cepat, langsung mengarah tepat ke dada serigala piksel tersebut. Namun, hal aneh terjadi. Tepat sebelum anak panah itu menyentuh target, tubuh si serigala mendadak berkedip, seolah ter-teleportasi setengah meter ke samping kanan. Anak panah Alika hanya menembus udara kosong dan menancap di pohon piksel di belakangnya, menyebabkannya hancur menjadi serpihan kode hijau.

"Kan, gue bilang juga apa," gumam Rian, jarinya masih menari-nari di atas hologram. "Dia punya *latency delay* sebesar 450 milidetik. Posisi visual yang lo liat itu adalah posisinya setengah detik yang lalu. Lo harus nembak ke—"

"Awas!"

Tanpa mendengarkan penjelasan teoritis Rian, Alika melompat ke depan. Kecepatan seorang Ranger benar-benar luar biasa. Dia mendorong tubuh Rian hingga cowok itu jatuh terduduk ke tanah, tepat saat serigala piksel itu menerkam tempat Rian berdiri sebelumnya. Angin sabetan cakar monster itu terasa dingin dan berbau logam terbakar.

"Lo bisa mati kalau cuma diam di situ sambil ngetik!" omel Alika sambil melakukan salto belakang dengan lincah untuk menjaga jarak dari si monster.

"Gue nggak cuma ngetik, Alika! Gue lagi bikin trap!" balas Rian, suaranya mulai meninggi karena kesal. Dia berdiri kembali, membersihkan jubahnya dengan gusar. "Sembilan detik lagi. Tolong pancing dia supaya tetap di area koordinat X: 142, Y: 89!"

"Koordinat apaan, a****?! Gue nggak bawa GPS!" teriak Alika sambil terus bergerak lincah.

Serigala itu berputar, mengincar Alika kembali. Dengan kelincahan Rangernya, Alika berlari zigzag di antara pohon-pohon rusak. Setiap kali serigala itu melompat ke arahnya, Alika berhasil menghindar di detik-detik terakhir dengan gerakan memutar tubuh yang sangat estetik. Dia menembakkan beberapa anak panah angin secara acak, bukan untuk melukai, tapi untuk memprovokasi monster itu agar terus mengejarnya.

"Rian! Cepetan! Stamina gue bisa habis kalau begini terus!" teriak Alika, napasnya mulai memburu.

"Tiga... dua... satu... Sekarang! Giring dia ke tanah yang warnanya ungu terang!" perintah Rian.

Alika melirik ke tanah di dekat Rian. Benar saja, ada sebuah area lingkaran berdiameter dua meter yang tekstur tanahnya berubah menjadi warna ungu neon berkedip-kedip, tampak sangat tidak stabil.

"Oke, monster jelek! Sini kejar gue!" teriak Alika menantang.

Dia sengaja berdiri diam di tengah-tengah lingkaran ungu tersebut. Begitu melihat targetnya berhenti bergerak, serigala piksel itu langsung melompat tinggi dengan mulut terbuka lebar, siap mengoyak leher Alika.

"Alika, lompat!" teriak Rian.

Tepat saat moncong serigala itu hanya berjarak satu meter dari wajahnya, Alika melompat tinggi ke udara, memanfaatkan dahan pohon di atasnya sebagai pijakan untuk bergelantungan.

Di bawahnya, serigala itu mendarat tepat di tengah lingkaran ungu.

"Eksekusi: *Terrain_Freeze.bat*!" Rian mengepalkan tangan kanannya yang bersarung logam.

Seketika, kode-kode biner berwarna biru melesat keluar dari tanah ungu tersebut, merambat naik dan mengikat kaki-kaki serigala piksel itu. Monster itu melolong keras, mencoba berontak, namun tubuhnya benar-benar terkunci oleh jaring-jaring kode digital yang membeku.

"Dia nggak bisa gerak selama sepuluh detik!" seru Rian, wajahnya tampak sedikit pucat karena menguras mana. "Tapi koordinat aslinya masih geser! Alika, dengerin gue baik-baik!"

Alika yang masih bergelantungan di dahan pohon langsung bersiap dengan busurnya. "Oke! Ke mana gue harus nembak?!"

"Lihat bayangannya di tanah!" teriak Rian. "Fokus pada titik merah kecil yang berkedip di dekat kaki kiri belakangnya. Itu *root directory* dari data monster ini. Tembak ke situ!"

Alika menarik napas dalam-dalam. Di matanya, serigala itu masih meronta-ronta di posisi depan, tetapi jika dia memperhatikan dengan jeli, ada sebuah bayangan visual tipis—semacam *ghosting*—yang tertinggal setengah meter di belakang monster itu. Dan di sana, tepat di bagian yang seolah-olah kosong bagi mata biasa, terdapat sebuah titik merah piksel yang berkedip cepat.

"Oke... kali ini gue pakai logika lo, Yan," gumam Alika pelan.

Dia menarik tali busurnya sampai maksimal. Angin di sekitar hutan berputar hebat, terkumpul di ujung anak panah anginnya yang kini bersinar jauh lebih terang dan besar dari sebelumnya. Alika mengunci pandangannya pada titik merah kosong di belakang tubuh fisik serigala tersebut.

*WUSH!*

Anak panah angin itu melesat, membelah udara dengan suara desingan yang m****akkan telinga.

Anak panah itu tampak seperti akan meleset karena melewati tubuh fisik serigala begitu saja. Namun, sepersekian detik setelah melewati tubuh monster tersebut, anak panah itu menghantam titik kosong yang diincar Alika.

*DUAARRR!*

Sebuah ledakan digital terjadi. Serigala piksel itu melolong kesakitan yang luar biasa. Tubuhnya yang terikat langsung retak-retak, memancarkan cahaya hijau terang dari dalam celah-celah pikselnya. Hanya dalam hitungan detik, seluruh tubuh monster itu hancur berantakan menjadi jutaan partikel kubus kecil yang melayang ke udara sebelum akhirnya lenyap tanpa bekas.

Keadaan hutan mendadak kembali sunyi. Hanya ada suara helaan napas berat dari mereka berdua.

Alika turun dari dahan pohon dengan mendarat mulus menggunakan kedua kakinya. Dia menyeka keringat di dahinya, lalu menyandarkan busur peraknya di pundak. Layar status di depannya tiba-tiba berbunyi nyaring.

*TING!*

**[Selamat! Anda telah mengalahkan Glitch Wolf (Level 5)!]**

**[EXP diperoleh: 150]**

**[Level Up! Alika: Level 2]**

**[Level Up! Rian: Level 2]**

"G***... kita beneran menang?" Alika menatap tangannya yang masih sedikit gemetar karena adrenalin.

Rian berjalan mendekat, melipat layar hologramnya yang perlahan menghilang. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak sedikit lebih rileks, meski masih ada sisa-sisa ketegangan di matanya. "Kombinasi yang c**up bagus. Tembakan lo presisi banget."

Alika menoleh, menatap mantan pacarnya itu dengan senyum miring yang khas. "Tentu aja. Lo pikir siapa yang dulu selalu menang lomba panahan di kampus? Tapi ya... trap kode lo tadi lumayan keren juga sih. Tanpa itu, gue pasti udah jadi makanan serigala *lag* tadi."

"Gue cuma ngelakuin apa yang logis buat bertahan hidup," sahut Rian, kembali ke mode cueknya. Dia berjalan melewati Alika, memeriksa area tempat serigala itu hancur untuk mencari barang rampasan yang mungkin jatuh.

Alika mendengus pelan, tapi kali ini tidak ada kemarahan di hatinya. Di tengah situasi g*** terjebak di dalam game rusak ini, entah bagaimana, kehadiran Rian yang super kaku dan logis itu memberikan sedikit rasa aman yang aneh.

"Hei, Rian," panggil Alika sambil menyusul langkah cowok itu.

"Apa?"

"Sepertinya bertahan hidup bareng mantan nggak bakal seburuk yang gue kira."

Rian tidak menjawab, namun sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum tipis yang sangat samar, hampir tidak terlihat jika saja Alika tidak sedang memperhatikannya dengan lekat.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca