Terjebak di Map 404 Bersama Mantan

Bab 4: Glitch Alam Semesta

Pengaturan Membaca

**Bab 4: Glitch Alam Semesta**

"Bisa nggak sih, lo sehari aja nggak usah bawa-bawa kalkulus?" Alika menghentakkan kakinya ke rumput hijau yang tampak sangat empuk. Sepatu bot barunya memang nyaman banget, tapi rasa kesal di dadanya bikin langkah kakinya tetap terasa berat. "Kita tuh udah putus enam bulan, Rian. Dan di game rusak ini, lo masih aja mau bahas siapa yang paling salah?"

Rian berjalan tiga langkah di belakang Alika, matanya sama sekali gak beralih dari keyboard holografis biru yang melayang di atas pergelangan tangan kirinya. Jari-jarinya bergerak super cepat, mengetik baris-baris kode yang Alika sendiri gak paham artinya.

"Gue nggak bahas siapa yang salah," sahut Rian tenang, suaranya datar kayak asisten Google. "Gue cuma menyajikan analisis retrospektif berdasarkan data historis hubungan kita. Secara statistik, 80 persen pertengkaran kita dipicu oleh keputusan impulsif lo."

Alika langsung berbalik badan, membuat rambut kuncir kudanya mengibas ke udara. Dia menunjuk hidung Rian pakai ujung busur panah peraknya. "Tuh, kan! Lo tuh emang nggak punya perasaan tahu gak! Orang normal kalau mantan pacarnya hampir mati karena ma**k ke dunia game eror bakal nanya, *'Al, lo trauma nggak?'* atau *'Al, kaki lo pegel nggak pakai bot?'*. Tapi lo? Lo malah bikin presentasi diagram lingkaran soal kegagalan cinta kita!"

Rian menghentikan langkahnya. Dia menatap Alika dari balik kacamata tipisnya—yang entah sejak kapan berubah jadi kacamata taktis dengan HUD digital kecil di sudut lensa kanan. "Kalau gue sibuk nanya kabar lo yang jelas-jelas masih sehat walafiat dan bisa ngomel panjang lebar begini, kita nggak bakal sempat nyari jalan keluar dari Map 404. Skrip lingkungan di map ini sangat tidak stabil."

"Halah, alasan lo—"

*BZZZZT!*

Kalimat Alika terputus oleh suara dengungan keras yang bikin ngilu telinga. Suaranya mirip seperti kabel colokan listrik yang korsleting, tapi volumenya sepuluh kali lipat lebih kencang.

Detik berikutnya, langit biru cerah di atas mereka berkedip kasar. Garis-garis hitam vertikal—persis seperti layar TV rusak yang kehilangan sinyal—membelah angkasa selama setengah detik sebelum kembali normal.

"Rian... itu tadi apa?" Alika menurunkan busurnya, mendadak merinding.

"Sektor ini mengalami *screen tearing*," jawab Rian, wajahnya mendadak berubah serius. Jari-jarinya mengetik lebih cepat lagi. "Sistem rendering map-nya nggak kuat nahan beban data. Kita harus cepat-cepat pindah ke area aman sebelum—"

Belum sempat Rian menyelesaikan kalimatnya, tanah di bawah kaki Alika bergetar hebat.

Bukan cuma gempa biasa. Alika menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana padang rumput hijau yang membentang luas di depan mereka tiba-tiba mulai kehilangan teksturnya. Rumput-rumput itu berubah menjadi jaring-jaring kawat abu-abu (*wireframe*), lalu semenit kemudian, lenyap begitu saja menyisakan kehampaan.

*KRETEK!*

"Alika, mundur!" teriak Rian.

Tapi terlambat. Tanah tempat Alika berpijak langsung runtuh ke bawah. Alika kehilangan keseimbangan. Efek fisika game yang kacau membuat tubuhnya seolah kehilangan berat badan selama satu detik, sebelum akhirnya gravitasi menariknya jatuh dengan kecepatan penuh.

"Aaaaaah!" Alika menjerit histeris.

Tangan kanannya bergerak refleks, mencengkeram apa saja yang bisa dia raih. Untungnya, dia berhasil meraih sebuah tonjolan batu yang tersisa di pinggiran tebing yang baru saja terbentuk.

Tebing. Ya, padang rumput yang tadi landai dan indah, kini dalam hitungan detik telah bermutasi menjadi tebing batu yang sangat curam dan gersang.

Alika bergelantungan dengan satu tangan. Ketika dia memberanikan diri melirik ke bawah, jantungnya serasa mau copot. Tidak ada tanah atau air di dasar jurang itu. Yang ada hanyalah sebuah pusaran angin raksasa berwarna hitam-neon, dipenuhi oleh jutaan angka '0' dan '1' yang berputar-putar liar dengan kecepatan tinggi.

Itu adalah badai biner. Suara desingannya terdengar seperti jutaan harddisk yang rusak secara bersamaan. Alika tahu, kalau dia jatuh ke sana, karakternya bukan cuma bakal mati, tapi datanya mungkin bakal terhapus permanen dari semesta ini.

"Rian! Tolongin gue! Sumpah, ini nggak lucu!" teriak Alika, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Jarinya yang mencengkeram batu mulai licin karena keringat dingin.

"Jangan banyak gerak, Al!" suara Rian terdengar dari atas. Cowok itu sudah berlutut di tepi tebing, menatap ke bawah. Wajahnya yang biasanya lempeng kini terlihat tegang, meski dia masih berusaha keras menjaga suaranya tetap stabil. "Grip tangan lo di batu itu cuma punya durabilitas 15 persen karena status *glitch* lingkungan. Kalau lo panik, bebannya nambah, dan batu itu bakal hancur."

"Gimana gue nggak panik, b***! Ini di bawah gue ada blender raksasa isinya angka!" Alika balas berteriak, suaranya parau karena angin kencang yang mulai berembus dari arah jurang.

Rian tidak membalas omelan Alika. Dia langsung mengangkat tangan kanannya ke udara. Sarung tangan logamnya menyala terang, memproyeksikan keyboard virtual berukuran besar di depannya.

"Gue bakal nge-hack jembatan darurat. Tahan sebentar," kata Rian.

Kedua tangan Rian bergerak seperti kesurupan di atas keyboard holografis tersebut. Karakter-karakter kode berwarna biru neon meluncur dari jemarinya, melayang di udara, lalu meluncur ke bawah menuju jurang.

*`[SYSTEM NOTICE: Unauthorized code injection detected.]`*

*`[Warning: Attempting to bypass Map 404 environment restriction...]`*

"Rian, cepetan! Batunya retak!" jerit Alika. Bunyi *krek* kecil terdengar dari batu yang dia pegang. Serpihan debu mulai berjatuhan ke wajahnya.

"Dua puluh detik lagi. Gue harus nge-bypass protokol keamanan map ini dulu," sahut Rian tanpa mengalihkan fokus. Keringat mulai menetes dari pelipisnya. Mulutnya berkomat-kamit merapalkan logika pemrograman seolah itu adalah mantra sihir kuno. "Lakukan deklarasi variabel jembatan... set tipe material menjadi solid... hilangkan efek gravitasi lokal... *compile*!"

*`[Execution Successful. Initializing Bridge_Draft_01.obj...]`*

Tepat saat batu pegangan Alika hancur menjadi serpihan piksel, sebuah cahaya biru terang meledak dari dasar jurang.

Alika memejamkan matanya, siap menghadapi kematian. Namun, tubuhnya tidak jatuh bebas. Sebaliknya, dia merasakan sesuatu yang solid menahan kedua kakinya.

Saat Alika membuka mata, dia melihat sebuah jembatan gantung darurat telah membentang di bawahnya. Jembatan itu tidak terbuat dari kayu atau tali, melainkan dari unt**an kode-kode biner bercahaya biru yang saling mengunci satu sama lain, membentuk permukaan datar yang c**up kokoh untuk dipijak.

"Pegangan!"

Satu tangan yang kuat mencengkeram pergelangan tangan Alika dan menariknya ke atas dengan sekali sentakan. Alika terhuyung, sebelum akhirnya jatuh terduduk di atas jembatan holografis buatan Rian.

Alika terengah-engah, memegangi dadanya yang naik-turun cepat. Jantungnya berdegup sekencang drum band. Dia mendongak dan melihat Rian berdiri di depannya, juga sedang mengatur napas dengan dahi yang basah oleh keringat. Kacamata taktis cowok itu berkedip lambat sebelum akhirnya meredup.

"Lo... lo baru aja nge-hack game ini?" bisik Alika, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat.

Rian mematikan konsol virtualnya dengan sekali kibasan tangan. Dia membenulkan letak kacamatanya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Alika berdiri.

"Secara teknis, gue cuma memanfaatkan celah keamanan di pustaka kelas Mage-Engineer untuk menyuntikkan objek kustom ke dalam memori lokal," jawab Rian dengan nada bicaranya yang kembali sok tahu. "Tapi ya, kasarnya begitu. Gue nge-hack jembatannya."

Alika menerima uluran tangan Rian. Begitu dia berdiri berdiri tegak, dia menyadari sesuatu.

Selama mereka pacaran dulu, Alika selalu menganggap sifat Rian yang kelewat rasional, tenang, dan minim emosi itu sebagai hal yang paling menyebalkan di dunia. Rian jarang panik, jarang menunjukkan ekspresi berlebihan, dan selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin—yang sering kali membuat Alika merasa Rian tidak punya empati.

Tapi di detik ini, di dalam Map 404 yang penuh dengan keg***an dan *bug* mematikan, Alika menyadari satu hal. Sifat menyebalkan Rian itulah yang baru saja menyelamatkan nyawanya. Kalau Rian sama impulsifnya dengan dia, mereka berdua pasti sudah terhapus dari database game ini sejak menit pertama.

"Rian," panggil Alika pelan, suaranya melembut.

"Ya?"

"Lo emang menyebalkan banget kalau lagi ngejelasin sesuatu," kata Alika, menatap langsung ke manik mata hitam cowok itu. "Tapi... makasih ya. Lo keren juga ternyata kalau lagi mode serius."

Rian sempat tertegun selama dua detik. Alika bersumpah dia melihat telinga mantan pacarnya itu sedikit memerah, sebelum Rian buru-buru memalingkan wajahnya ke arah ujung jembatan.

"Biasa aja," gumam Rian, berdeham pelan untuk menutupi salah tingkahnya. "Itu cuma kalkulasi logika dasar. Lagian, kalau lo mati di sini, siapa yang bakal jadi tameng fisik gue di depan? Status Ranger lo itu punya kecepatan gerak yang berguna buat narik perhatian monster."

Alika yang tadinya sempat merasa tersentuh, langsung cemberut lebar. Rasa kagumnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh keinginan kuat untuk menjitak kepala cowok di depannya itu.

"Tuh kan! Baru juga gue puji semenit!" omel Alika, berjalan mendahului Rian sambil menghentak-hentakkan kakinya di atas jembatan kode biru yang berbunyi *tit-tit* setiap kali diinjak. "Emang dasarnya lo cowok nggak peka! Nyesel gue muji lo!"

Rian hanya menghela napas panjang, lalu berjalan menyusul di belakang Alika dengan senyum tipis yang tersembunyi di balik kerah jubah mekaniknya. "Jalan yang benar, Alika. Di depan kita ada sinkronisasi map baru lagi. Dan kali ini, gue nggak yakin jembatannya bakal gratis."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca