Grip tangan Rian terasa begitu kencang di pergelangan tangan Alika, sampai-sampai rasanya tulang Alika mau remuk. Dengan satu sentakan kuat yang tidak terduga dari cowok sekurus Rian, tubuh Alika ditarik ke atas, tepat sedetik sebelum tanah yang tadi dipijaknya runtuh sepenuhnya ke dalam kehampaan abu-abu yang tak berdasar.
Mereka berdua jatuh bergulingan di atas tanah berbatu yang masih utuh. Alika napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang kayak habis lari maraton sepuluh kilometer. Dia bisa merasakan dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Di atasnya, Rian juga sedang mengatur napas, wajahnya cuma berjarak beberapa sentimeter dari wajah Alika.
"Lo... lo gak apa-apa?" tanya Rian. Suaranya agak bergetar, menghilangkan sedikit kesan robot yang biasanya melekat erat pada cowok itu.
Alika mengerjapkan mata, masih syok. "Gue... gue masih hidup?"
"Secara teknis, iya. HP (Hit Points) lo cuma berkurang lima persen karena benturan tadi," kata Rian sambil buru-buru bangkit berdiri dan membetulkan letak kacamatanya yang miring. Dia mengulurkan tangan untuk membantu Alika berdiri.
Alika menerima uluran tangan itu dengan canggung. Begitu dia berdiri, pemandangan di sekitar mereka langsung berubah drastis. Matahari digital yang tadi menggantung di langit tiba-tiba lenyap begitu saja tanpa ada transisi sore atau senja. *Blip!* Langit langsung berubah jadi hitam pekat dengan semburat ungu neon di beberapa sudutβkhas tampilan *skybox* yang belum selesai di-render sempurna.
Bersamaan dengan hilangnya matahari, suhu udara di Map 404 langsung anjlok drastis. Alika refleks mendekap kedua lengannya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat. Udara dingin di sini rasanya beda; dinginnya menusuk sampai ke tulang, seolah-olah kode biner di sekitar mereka sedang menyerap semua energi panas dari tubuh mereka.
"Dingin banget, Yan..." bisik Alika, giginya mulai gemeretuk.
Rian melihat ke sekeliling, lalu buru-buru mengaktifkan keyboard holografisnya lagi. Jari-jarinya bergerak secepat kilat. "Suhu lingkungan turun sampai lima derajat Celsius. Ini efek dari hilangnya tekstur tanah di sekitar kita. Sistem lagi berusaha menghemat memori dengan mematikan fungsi pemanas lingkungan. Kita harus bikin tempat berlindung sekarang."
"Bikin pake apa? Kita bahkan gak punya kapak buat nebang pohon!" gerutu Alika, masih berusaha menahan gigil.
"Gue gak butuh kapak. Gue cuma butuh sisa data aman yang tadi sempat gue *copy* dari sektor sebelah," sahut Rian tenang.
Rian mengetikkan beberapa baris perintah. Detik berikutnya, sebuah lingkaran biru terang muncul di atas tanah berbatu di depan mereka. Dari dalam lingkaran itu, perlahan-lahan muncul sebuah objek piksel demi piksel. Alika melongo. Sebuah tenda dome sederhana berwarna hijau tuaβdengan tekstur agak kasar dan sedikit pecah-pecah di bagian sudutnyaβberhasil terwujud di depan mata mereka.
"Wah... lo beneran bisa nge-render tenda?" tanya Alika takjub.
"Cuma tenda darurat dengan aset *low-poly*," jawab Rian, terdengar sedikit bangga walau wajahnya tetap datar. "Tapi ini c**up buat nahan angin luar. Sekarang, tinggal apinya."
Rian kembali mengetik, lalu melemparkan sebuah objek berbentuk tabung kecil ke tanah. Begitu menyentuh tanah, tabung itu pecah dan memunculkan tumpukan kayu bakar digital lengkap dengan api unggun kecil yang menyala di tengahnya. Api itu berwarna oranye kemerahan, tapi sesekali berkedip *error* warna hijau terang selama setengah detik sebelum kembali normal. Ada suara *bzzzt-crack* pelan yang terdengar berkala dari arah api tersebut, bukannya suara kayu terbakar yang alami.
"Ma**k ke tenda, Al. Di luar terlalu bahaya kalau ada glitche lagi," ajak Rian.
Alika tidak membantah. Dia segera merangkak ma**k ke dalam tenda, disusul oleh Rian. Tenda itu ternyata c**up sempit. Begitu mereka berdua duduk di dalamnya, jarak di antara mereka jadi sangat dekat. Alika duduk memeluk lututnya di dekat pintu tenda yang sengaja dibuka setengah agar panas dari api unggun di luar bisa ma**k.
Keheningan malam di Map 404 mulai terasa mencekam. Di luar, angin digital sesekali melolong, terdengar seperti suara distorsi audio yang rusak. Di dalam tenda, hanya ada suara napas mereka berdua dan sesekali bunyi *bzzzt* dari api unggun di depan mereka.
Canggung. Satu kata itu benar-benar menggambarkan situasi mereka sekarang.
Alika melirik Rian dari sudut matanya. Cowok itu sedang duduk bersandar pada dinding tenda, menatap lurus ke arah api unggun di luar. Cahaya oranye dari api membuat wajah Rian terlihat lebih hangat dari biasanya. Alika mendesah pelan. Kenangan-kenangan masa lalu mendadak berputar di kepalanya tanpa permisi.
"Yan," panggil Alika memecah keheningan.
"Ya?" Rian menoleh sedikit, tapi tidak langsung menatap mata Alika.
"Lo emang gak pernah berubah, ya?"
Rian mengernyitkan dahi. "Apanya yang gak berubah?"
"Sikap lo. Cara lo mandang semua hal," kata Alika, suaranya terdengar sedikit letih. Dia memainkan ujung tali sepatunya. "Bahkan di situasi hidup dan mati kayak tadi, lo masih bisa-bisanya mikirin persentase HP gue, mikirin memori sistem, mikirin data. Lo gak punya rasa takut apa, gimana sih?"
Rian menghela napas pelan. Dia melepaskan kacamatanya, mengusap lensanya dengan ujung kaosnya yang agak kotor, lalu memakainya kembali. "Gue takut, Alika."
Alika tertawa remeh. "Oh ya? Gak keliatan tuh."
"Takutnya orang beda-beda," sahut Rian pelan, matanya kembali menatap api unggun yang berkedip hijau sekilas. "Kalau gue panik dan ikut teriak-teriak kayak lo, otak gue gak bakal bisa mikir jernih. Dan kalau otak gue gak bisa mikir jernih, kita berdua udah kehapus dari sistem ini sejak satu jam yang lalu. Bagi gue, fokus pada solusi adalah cara gue buat bertahan hidup. Dan buat mastiin lo juga bertahan hidup."
Mendengar kalimat terakhir Rian, dada Alika mendadak terasa sedikit sesak. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Tetep aja. Lo dingin banget. Dari dulu selalu kayak gini."
"Gue gak dingin, Alika. Gue cuma logis."
"Itu dia masalahnya!" Alika mendadak menaikkan nada suaranya, membuat Rian agak terkejut. Alika menatap langsung ke mata mantan pacarnya itu. "Lo selalu mengatasnamakan logika buat menutupi fakta kalau lo itu sebenernya gak peka! Lo gak pernah peduli sama apa yang gue rasain. Yang lo peduliin cuma apa yang ma**k akal di otak lo!"
Rian terdiam sejenak. Suasana di dalam tenda mendadak terasa lebih panas, tapi bukan karena api unggun di luar.
"Contohnya apa?" tanya Rian, suaranya masih berusaha tetap tenang, meski ada nada tidak terima di dalamnya.
"Lo tanya contohnya?" Alika tertawa hambar, matanya mulai berkaca-kaca karena emosi yang tertahan selama enam bulan ini akhirnya meluap. "Inget gak waktu kucing kesayangan gue, si Milo, mati ditab**k motor? Gue nangis semalaman, Yan. Gue hancur banget hari itu. Dan lo tahu apa yang lo lakuin waktu gue telepon sambil nangis sesenggukan?"
Rian terdiam, tampak mencoba mengingat-ingat.
"Lo malah ngirimin gue jurnal ilmiah format PDF tentang siklus hidup mamalia dan cara mengatasi duka secara klinis lewat metode kognitif!" teriak Alika dengan suara bergetar. Air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. "Siapa orang waras yang ngirimin pacarnya yang lagi berduka sebuah jurnal PDF, Rian?! Gue gak butuh penjelasan ilmiah kenapa Milo mati! Gue cuma butuh lo ada di samping gue, meluk gue, dan bilang kalau semua bakal baik-baik aja!"
Rian memandang Alika yang kini menundukkan kepala, menyembunyikan wajah di balik kedua lututnya yang ditekuk. Bahu cewek itu naik-turun, menahan tangis.
Rian menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Alika. Tangannya bergerak ragu-ragu di udara, seolah ingin menyentuh bahu Alika, tapi dia menariknya kembali. Gengsinya masih menahan tangannya untuk bergerak lebih jauh.
"Alika," panggil Rian lembut. Jauh lebih lembut dari biasanya. "Gue... gue minta maaf soal itu."
Alika tidak menjawab, hanya terdengar suara isakan kecil.
"Saat itu, gue beneran panik," lanjut Rian dengan jujur. "Gue gak pernah bisa ngadepin orang nangis. Di keluarga gue, kami gak biasa mengekspresikan emosi secara terbuka. Jadi pas lo nangis kayak gitu, otak gue langsung nge-blank. Gue gak tahu harus ngomong apa supaya lo gak sedih lagi. Gue takut kalau gue salah ngomong, lo malah tambah sedih."
Alika mengangkat kepalanya sedikit, menatap Rian dengan mata yang sembap. "Jadi... lo ngirim jurnal itu karena lo takut salah ngomong?"
Rian mengangguk pelan, wajahnya tampak sedikit memerahβentah karena pantulan cahaya api unggun atau karena malu mengakui kelemahannya. "Iya. Di otak gue, jurnal itu ditulis oleh para ahli yang tahu persis gimana cara menangani rasa sedih. Gue pikir, kalau gue kasih itu ke lo, itu bakal ngebantu lo lebih cepat pulih daripada kata-kata penenang dari gue yang gak pinter merangkai kalimat. Gue gak bermaksud buat jadi dingin. Gue cuma... gak tahu cara mengekspresikan kalau gue juga ikut sedih buat lo."
Alika tertegun. Dia menatap Rian, mencari-cari kebohongan di mata cowok itu, tapi dia tidak menemukan apa-apa selain kejujuran yang polos. Dinding ego yang selama ini dibangun Alika untuk membenci Rian perlahan-lahan mulai retak. Selama ini dia selalu mengira Rian adalah cowok egois yang tidak punya perasaan. Ternyata, Rian hanya seorang cowok canggung yang terlalu takut untuk menunjukkan bahwa dia juga manusia biasa yang bisa merasa bingung dan tidak berdaya.
"Kenapa lo gak pernah bilang hal ini ke gue dulu?" tanya Alika lirih.
Rian tersenyum tipis, senyuman yang terlihat sangat dipaksakan dan penuh penyesalan. "Karena gengsi, mungkin? Gue selalu pengen kelihatan hebat dan bisa diandalkan di depan lo. Gue gak mau lo tahu kalau pacar lo ini sebenernya cuma cowok kuper yang gak tahu cara nenangin ceweknya sendiri."
Suasana hening kembali tercipta di antara mereka. Namun, kali ini keheningan itu terasa berbeda. Rasa canggung yang tadinya mencekik perlahan-lahan mencair, digantikan oleh kehangatan yang perlahan menjalar di dada mereka masing-masing.
Api unggun di luar kembali berkedip *error*, memancarkan warna biru laut selama beberapa detik sebelum kembali jadi merah hangat.
Alika menghapus sisa air mata di pipinya dengan ujung jarinya. Dia menatap Rian yang kini kembali menatap lurus ke depan, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Alika menghela napas panjang, lalu perlahan-lahan menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
Rian sempat menegang kaget saat merasakan beban hangat di bahu kirinya. Dia menoleh ke arah Alika, tapi cewek itu memejamkan matanya, pura-pura tidak tahu.
"Al..."
"Gue masih dingin, Rian. Jangan banyak protes," potong Alika cepat, menutupi rasa malunya yang mendadak membuncah.
Rian tidak membalas. Perlahan, ketegangan di bahunya mereda. Dia membiarkan Alika bersandar di sana, menikmati kehangatan alami yang tidak bisa diberikan oleh baris kode program mana pun di Map 404 ini. Malam itu, di tengah dunia digital yang rusak dan penuh glitche, mereka berdua justru menemukan sesuatu yang akhirnya mulai berfungsi kembali dengan benar: perasaan mereka yang sempat mati suri.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!