**BAB 6: BADAI KODE BINER**
"Gue cuma butuh sisa data aman yang tadi sempat gue *copy* dari sektor sebelah," sahut Rian tenang.
Rian mengetikkan beberapa baris perintah. Detik berikutnya, sebuah lingkaran biru terang muncul di atas tanah berbatu di depan mereka. Dari dalam lingkaran itu, perlahan-lahan muncul sebuah objek piksel demi piksel. Alika melongo. Sebuah tenda dome sederhana berwarna hijau tua—dengan tekstur agak kasar dan sedikit pecah-pecah di bagian sudutnya—berhasil terwujud di depan mata mereka.
"Wah... lo beneran bisa nge-render tenda?" tanya Alika takjub.
"Cuma tenda darurat dengan aset *low-poly*," jawab Rian, terdengar sedikit bangga walau wajahnya tetap lempeng kayak tembok kosan. "Ma**k duluan. Di luar makin dingin."
Alika gak pakai mikir dua kali. Dia langsung merangkak ma**k ke dalam tenda. Di dalam sini, udara memang terasa sedikit lebih mendingan, meskipun alasnya cuma tanah digital yang keras. Rian menyusul ma**k, membuat ruang di dalam tenda yang sempit itu mendadak terasa makin sesak.
Jarak mereka dekat banget. Alika bahkan bisa mencium aroma familier dari tubuh Rian—campuran wangi sabun bayi dan kopi hitam—aroma yang dulu selalu dia rindukan setelah mereka putus. Alika buru-buru memalingkan muka, pura-pura sibuk meniup tangannya yang beku.
"Masih dingin?" tanya Rian.
"Dikit," bohong Alika. Padahal badannya masih gemetar kayak mesin cuci lagi mode *spin*.
Rian menghela napas. Dia mendekat, lalu tanpa izin menarik kedua tangan Alika ke dalam genggamannya. Tangan Rian hangat, sangat kontras dengan suhu sekitar. Alika tersentak, matanya melebar menatap cowok di depannya.
"Yan, lo—"
"Gak usah baper," potong Rian cepat, matanya lurus menatap tangan Alika yang ada di genggamannya. "Ini cuma transfer termal antar karakter. Di game survival, berbagi suhu tubuh itu mekanik dasar buat mencegah *hypothermia status*. Jangan mikir macem-macem."
Alika mendengus, meski jantungnya mulai berisik lagi. "Siapa juga yang mikir macem-macem! Dasar robot beraura es batu."
Tapi, kehangatan itu gak bertahan lama.
Tiba-tiba, suara dengung yang sangat bising terdengar dari luar tenda. Bunyinya mirip kayak suara televisi rusak yang kehilangan sinyal, tapi seratus kali lebih keras sampai membuat telinga berdenging sakit. Tanah di bawah mereka mulai bergetar hebat.
*BZZZZT! GLITCH! BZZT!*
"Apaan tuh?!" Alika panik, refleks mencengkeram lengan jaket Rian.
Rian langsung melepaskan tangan Alika dan membuka layar holografisnya. Begitu layar virtual itu menyala, puluhan lampu peringatan berwarna merah berkedip-kedip dengan tulisan: **WARNING: BINARY STORM INCOMING. SECTOR CORRUPTION RATE: 85%.**
Wajah Rian yang biasanya tenang langsung berubah pucat. "Sial. Ini bukan cuma penurunan suhu."
"Terus apa?!"
"Badai kode biner," ujar Rian, suaranya naik satu oktav. "Fenomena alam di Map 404. Ini badai yang isinya jutaan angka satu dan nol tajam yang jatuh dari langit. Kalau kena tubuh karakter, itu bukan cuma ngurangin HP, tapi langsung menghapus data kita secara instan. Kita bisa terhapus dari sistem selamanya."
Mendengar itu, bulu kuduk Alika langsung berdiri. Belum sempat dia mencerna ketakutannya, suara robekan keras terdengar dari atas mereka.
*SRAAAKKK!*
Atap tenda mereka robek jadi dua. Bukan karena angin, tapi karena sebilah angka "1" raksasa berwarna hijau neon transparan meluncur dari langit dan menancap di tanah, tepat di antara posisi duduk Alika dan Rian. Angka itu berkilau tajam seperti pecahan kaca raksasa, sebelum akhirnya pecah menjadi partikel debu abu-abu.
"Tendanya gak bakal kuat menahan kompresi data badai ini! Kita harus lari!" teriak Rian.
Mereka berdua buru-buru keluar dari tenda. Pemandangan di luar benar-benar mengerikan. Langit hitam Map 404 sekarang dipenuhi pusaran awan hijau neon yang berputar cepat. Dari awan itu, jutaan angka "1" dan "0" jatuh dengan kecepatan tinggi seperti hujan deras. Di mana pun angka-angka itu jatuh, tanah berbatu di sekitar mereka langsung berlubang dan terhapus, menyisakan kehampaan abu-abu yang kosong.
"Ke mana kita harus pergi, Yan?!" teriak Alika di sela-sela gemuruh suara badai yang m****akkan telinga. Dia harus setengah berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh suara distorsi audio di sekitar mereka.
"Ke arah bukit batu di depan! Di sana ada struktur statis yang gak bisa hancur oleh badai!" Rian menunjuk ke sebuah tebing batu digital yang jaraknya sekitar seratus meter.
Mereka pun berlari sekuat tenaga. Angka-angka biner tajam berjatuhan di sekeliling mereka, seperti hujan belati dari langit. Alika beberapa kali harus melompat menghindari tanah yang tiba-tiba hilang karena terhapus hujan biner. Napasnya sudah habis, kakinya terasa sangat berat.
"Rian, gue gak kuat..." keluh Alika, kecepatannya mulai menurun.
"Jangan berhenti, Alika! Sedikit lagi!" Rian menoleh, mencoba menyemangati.
Namun, nasib buruk sepertinya belum mau pergi. Tepat saat mereka melewati reruntuhan pilar batu digital kuno, petir hijau menyambar pilar tersebut. Pilar batu itu langsung *glitch* parah, retak-retak, dan runtuh ke arah mereka.
"Alika, awas!"
Alika mendongak, matanya membelalak melihat bongkahan batu besar jatuh ke arahnya. Dia mencoba menghindar, tapi kakinya tersandung kabel data liar yang menjalar di tanah.
*DUAK!*
Alika terjatuh keras. Kakinya terjepit di antara reruntuhan batu digital yang baru saja runtuh. Batu itu sangat berat, dan yang paling mengerikan, permukaan batu itu mulai diselimuti kode-kode error yang berkedip-kedip merah.
"Akhh! Kaki gue... sakit banget!" jerit Alika. Dia mencoba menarik kakinya, tapi sia-sia. HP-nya langsung merosot ke angka 60% akibat benturan itu.
Di atas mereka, pusaran badai kode biner semakin mengg***. Sebuah gelombang hujan angka 1 dan 0 yang sangat lebat—tampak seperti air terjun cahaya hijau yang mematikan—sedang bergerak cepat menuju ke arah posisi Alika yang terjepit.
"Rian! Pergi! Selamatkan diri lo!" teriak Alika histeris, air matanya mulai mengalir bercampur rasa takut yang luar biasa. "Gue gak bisa gerak! Lo lari aja!"
Rian yang sudah berada beberapa meter di depan, berhenti. Dia menoleh. Melihat Alika yang terjepit dengan gelombang badai maut yang mendekat, mata Rian menyipit tajam. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Gue gak bakal ninggalin lo lagi," gumam Rian, entah ditujukan untuk situasi sekarang atau untuk masa lalu mereka.
Rian berlari kembali ke arah Alika. Dia langsung berlutut di samping Alika, jemarinya mengetik dengan kecepatan yang belum pernah Alika lihat sebelumnya pada keyboard holografisnya.
"Sistem proteksi... aktifkan *Shield.exe*!" teriak Rian.
Sebuah perisai sihir transparan berbentuk heksagon berwarna biru muncul di atas mereka, tepat sedetik sebelum gelombang hujan biner menghantam.
*KRETEK! KRETEK! PRANG!*
Suara benturan antara hujan biner dan perisai Rian terdengar sangat mengerikan. Perisai itu langsung retak-retak parah. Rian menahan perisai itu dengan kedua tangannya yang gemetar hebat.
"Rian, hentiin! Perisai lo gak bakal kuat! Lo bisa mati!" tangis Alika pecah.
"Gak... akan..." Rian menggertakkan giginya sampai berbunyi. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Tiba-tiba, sebuah bongkahan kode biner raksasa berbentuk angka "0" menghantam perisai mereka dari samping. Perisai biru Rian langsung hancur berkeping-keping.
Melihat bahaya yang datang, tanpa berpikir panjang, Rian langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Alika. Dia menggunakan punggungnya sendiri sebagai perisai manusia untuk melindungi Alika sepenuhnya dari reruntuhan dan hujan biner yang tersisa.
*ZAP! ZAP! ZAP!*
Suara mengerikan saat kode biner menghantam kulit dan jaket Rian terdengar jelas di telinga Alika. Alika bisa merasakan tubuh Rian menegang hebat. Cowok itu mengerang kesakitan, sebuah suara erangan tertahan yang belum pernah Alika dengar sebelumnya dari sosok Rian yang selalu sok kuat.
"Riaaan!!!" jerit Alika histeris.
Di sudut pandang mata Alika, bar HP milik Rian yang melayang di atas kepalanya langsung terjun bebas.
*80%... 60%... 40%... 20%...*
Warna bar itu berubah jadi merah menyala dan mulai berkedip-kedip kritis. Tubuh Rian mulai mengalami *glitch* parah. Beberapa bagian lengannya berubah menjadi piksel-piksel transparan yang timbul tenggelam.
Untungnya, gelombang badai biner terpadat akhirnya berlalu, menyisakan rintihan gerimis biner yang perlahan memudar di sekitar mereka. Atmosfer kembali hening, menyisakan suara napas Rian yang terengah-engah dan berat.
Rian perlahan merosot, ambruk di samping Alika. Matanya terpejam erat, wajahnya sangat pucat kayak mayat, dan tubuhnya terus-menerus bergetar karena efek kerusakan sistem (*system corruption*).
Alika dengan panik menarik kakinya yang untungnya sudah bisa terbebas karena batu yang menjepitnya tadi sudah hancur akibat badai. Dia langsung berlutut di samping Rian, mengangkat kepala cowok itu dan meletakkannya di pangkuannya.
"Yan... bangun, Yan! Tolong jangan bercanda!" Alika mengguncang-guncang bahu Rian. Air matanya menetes deras, jatuh ke pipi Rian yang dingin. "Rian, lo denger gue gak?! Buka mata lo!"
Tangan Alika gemetar hebat saat menyentuh wajah Rian. Ada rasa takut yang luar biasa besar yang tiba-tiba merayapi dadanya. Takut kehilangan cowok ini. Takut kalau kalimat terakhir yang diucapkan Rian benar-benar jadi kalimat terakhirnya.
Saat itulah Alika tersadar dengan sangat telak.
Semua sikap menyebalkan Rian, semua kepura-puraannya yang sok cuek, dan semua penjelasan logisnya tentang "mekanik game"... itu semua cuma tameng. Rian yang ada di depannya sekarang, cowok yang rela tubuh digitalnya hancur demi melindunginya, adalah Rian yang sama dengan cowok yang dulu pernah mencint**nya dengan begitu tulus. Rian masih sangat peduli padanya. Sangat, sangat peduli sampai rela mempertaruhkan nyawanya sendiri di map terkutuk ini.
"Kenapa lo sebodoh ini, sih...?" bisik Alika lirih di antara tangisnya, memeluk kepala Rian erat-erat. "Harusnya lo tinggalin gue aja..."
Kelopak mata Rian perlahan bergerak. Dia membuka matanya sedikit, menatap Alika yang matanya sudah sembap dan hidungnya memerah karena menangis.
Dengan sisa tenaga yang ada, Rian memaksakan sebuah senyum tipis di sudut bibirnya—senyum tulus yang sudah sangat lama tidak Alika lihat.
"Gue... gak apa-apa, Al," bisik Rian, suaranya sangat lemah dan terdengar sedikit terdistorsi efek *glitch*. "HP gue... masih sisa lima persen. Jangan nangis... lo jelek banget kalau lagi nangis kayak gini."
"Rian! Dalam kondisi kayak gini lo masih sempat-sempatnya ngejek gue?!" tangis Alika, antara kesal dan lega karena cowok itu masih sadar.
Rian memejamkan matanya lagi, napasnya masih lemah. "Tapi beneran, Al... untung data lo gak ada yang kehapus."
Alika cuma bisa terdiam, memeluk Rian lebih erat di tengah kesunyian Map 404 yang dingin, menyadari bahwa hatinya yang dulu sempat dia kunci rapat-rapat untuk Rian, kini perlahan-lahan mulai retak dan terbuka kembali.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!