**BAB 7: MISI MENUJU ADMIN TOWER**
Untung badai biner si**** itu akhirnya reda, meskipun harus menyisakan kerusakan yang lumayan parah.
Tenda *low-poly* yang tadi mereka tempati kini sudah setengah hancur, menyisakan piksel-piksel robek yang melayang di udara sebelum akhirnya terhapus otomatis oleh sistem. Alika buru-buru merangkak keluar dari reruntuhan tenda, napasnya masih terengah-engah. Begitu menoleh ke samping, jantungnya rasanya mau copot melihat kondisi Rian.
Cowok itu duduk bersandar pada sebuah batu digital dengan wajah pucat pasi. Lengan kiri jaketnya robek besar, memperlihatkan luka goresan panjang yang tidak mengeluarkan darah merah, melainkan cahaya biru neon yang berkedip-kedip tidak stabilβefek dari hantaman kode biner tajam tadi. Di atas kepala Rian, bar HP-nya yang berwarna hijau kini menyusut drastis hingga berubah warna menjadi kuning tua yang mengkhawatirkan. Angka indikatornya menunjukkan sisa 25%.
"Yan! Lo gak apa-apa? G***, luka lo parah banget!" seru Alika panik. Dia langsung berlutut di depan Rian, tangannya gemetar saat menyentuh bahu cowok itu.
Rian meringis kecil, mencoba menahan sakit yang tampaknya terasa sangat nyata meskipun ini hanya dunia virtual. "Gue... gak apa-apa. Cuma *glitch* efek *damage* badai tadi. Tolong buka *inventory* gue. Di sana ada beberapa item darurat."
"Oke, oke, bentar!"
Alika dengan cepat mengetuk layar holografis Rian yang melayang di dekat pergelangan tangan cowok itu. Jari-jarinya bergerak lincah menyapu tab penyimpanan. Matanya langsung membelalak begitu melihat isi *inventory* Rian yang sangat minim.
"Rian! Lo bercanda ya? Di saat kayak gini, lo cuma punya dua botol *HP Potion Low-Tier* sama satu *Bandage* bekas?!" omel Alika, frustrasi campur panik.
"Itu... sisa *resource* dari sektor kemarin. Di Map 404, *spawn rate* item pemulih hampir nol," sahut Rian dengan suara parau. "Pakai aja yang ada. Cepetan, sebelum efek *bleeding*-nya bikin HP gue makin kritis."
Tanpa banyak cincong lagi, Alika mengambil botol ramuan kecil berwarna hijau redup itu. Begitu tutupnya dibuka, aroma mirip daun mint bercampur bahan kimia langsung tercium. Alika menuangkan cairan itu dengan hati-hati ke atas luka robek di lengan Rian.
"Akh!" Rian memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras menahan perih.
"Tahan, robot beraura es batu. Katanya ini cuma game, kok cengeng," ledek Alika, padahal dalam hati dia sendiri sangat cemas.
Dia kemudian mengambil item *Bandage* virtual yang teksturnya mirip perban biasa namun sedikit bersinar. Dengan telaten, Alika membalut lengan Rian. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Alika kembali bisa merasakan embusan napas Rian di puc** kepalanya. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya, rasa hangat yang sangat dia kenal dulu, sebelum hubungan mereka kandas karena ego masing-masing.
Begitu perban terpasang rapi, bar HP Rian perlahan merangkak naik ke angka 45%. Setidaknya warna indikatornya sudah kembali menjadi hijau muda, meskipun belum sepenuhnya aman. Cahaya biru neon yang keluar dari lukanya juga mulai meredup.
Rian membuka matanya, lalu menatap lengannya yang sudah terbebat rapi. Dia memandang Alika dengan tatapan yang sulit diartikan. "Makasih," gumamnya pelan.
"Sama-sama. Lagian lo juga terluka gara-gara ngelindungin gue pas badai tadi," sahut Alika sambil memalingkan wajah, menyembunyikan semburat merah di pipinya yang mendadak muncul. Dia buru-buru berdiri dan membersihkan debu fiktif di celananya. "Nah, sekarang jelasin ke gue. Kita sebenarnya mau ke mana? Masa mau selamanya telantar di map rusak begini?"
Rian perlahan bangkit berdiri. Meski tubuhnya masih agak limbang, dia berhasil menyeimbangkan diri. Dia kemudian mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah cakrawala yang jauh di depan mereka.
Alika mengikuti arah telunjuk Rian. Di antara langit Map 404 yang gelap gulita dan dipenuhi distorsi warna ungu-merah, tampak sebuah struktur bangunan raksasa yang menjulang tinggi menembus awan digital. Menara itu memancarkan cahaya putih neon yang sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang suram. Bentuknya sangat futuristik, mirip seperti jarum raksasa yang terbuat dari kaca dan logam cair.
"Itu *Admin Tower*," kata Rian serius.
"Admin Tower? Tempat apa itu?" tanya Alika bingung.
"Satu-satunya tempat yang punya akses ke *back-door* sistem Map 404. Sederhananya, itu pusat kendali map ini," jelas Rian sambil melangkah beberapa sentimeter ke depan, menatap menara itu dengan intens. "Di puncak menara itu, ada portal keluar darurat yang langsung terhubung ke server utama game. Kalau kita bisa sampai ke sana dan mengaktifkan konsol adminnya, kita bisa *force-quit* dan bangun di dunia nyata."
Mendengar hal itu, mata Alika langsung berbinar. Harapan untuk pulang yang tadinya terasa sangat mustahil kini mendadak terlihat jelas di depan mata. "Seriusan?! Ya udah, ngapain kita masih diam di sini? Ayo ke sana sekarang!"
Namun, Rian tidak bergerak setapak pun. Wajahnya justru makin terlihat muram. "Gak segampang itu, Alika."
"Kenapa lagi sih? Kan menaranya udah kelihatan jelas."
Rian mendengus pelan, lalu mengetuk layar virtualnya lagi untuk menampilkan peta navigasi tiga dimensi yang berputar lambat di antara mereka. Di peta itu, area di sekitar Admin Tower dikelilingi oleh lingkaran merah tebal yang berkedip-kedip berbahaya.
"Jalan menuju ke sana dijaga ketat sama sistem keamanan otomatis yang disebut *Firewall Alpha*," jelas Rian. "Itu bukan cuma sekadar dinding penghalang biasa. *Firewall* itu adalah algoritma pembersih yang super agresif. Tugasnya adalah menghapus semua file asing atau *unauthorized data* yang mendekati Admin Tower. Dan di mata sistem itu, status karakter kita berdua saat ini adalah... virus atau sampah data."
Alika menelan ludah. "Maksud lo... kalau kita ketahuan?"
"Sekali kita terdeteksi sama sensor *Firewall*, tubuh digital kita bakal langsung didelete secara permanen. Dan gue gak tahu apa yang bakal terjadi sama tubuh asli kita di dunia nyata kalau kesadaran kita di sini terhapus," jawab Rian dengan nada suara yang sangat dingin, membuat bulu kuduk Alika meremang. "Ditambah lagi, dengan status HP gue yang sekarang, satu kali sentuhan dari laser pertahanan mereka bakal langsung bikin gue jadi *blue screen*."
Suasana mendadak menjadi hening. Angin digital berembus dingin, memainkan ujung rambut Alika. Alika menatap Rian yang tampak rapuh dengan luka di lengannya, lalu beralih menatap Admin Tower di kejauhan.
Dulu, saat mereka masih pacaran, Rian selalu menjadi orang yang melindunginya. Rian yang selalu mengajari Alika main game, Rian yang selalu menggendong *party* mereka saat Alika membuat kesalahan konyol, dan Rian juga yang selalu berdiri di depannya saat mereka menghadapi bos tersulit di game MMORPG favorit mereka.
Sekarang, di dunia yang sangat berbahaya ini, Rian terluka karena melindunginya lagi. Alika mengepalkan tangannya kuat-kuat. Perasaan bersalah dan tekad kuat mendadak bercampur aduk di dalam dadanya.
"Yan," panggil Alika, suaranya terdengar sangat mantap.
Rian menoleh, menatap Alika dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa?"
Alika melangkah maju, berdiri tepat di depan Rian dengan mata yang menatap lurus ke dalam manik mata cowok itu. "Perjalanan ke Admin Tower... biar gue yang pimpin di depan."
Rian sempat tertegun sesaat, sebelum akhirnya dia terkekeh pelanβsebuah tawa meremehkan yang biasanya selalu membuat Alika emosi. "Lo? Jadi pemimpin di depan? Al, lo lupa ya? Di game apa pun, lo itu tipe pemain yang selalu panik kalau dikejar monster kroco. Lo mau kita berdua mati lebih cepat?"
"Heh, es batu! Itu kan dulu!" seru Alika sambil berkacak pinggang, mukanya cemberut. "Sekarang beda! Lo lihat sendiri kan stamina gue masih utuh 100%? HP gue juga masih penuh. Sedangkan lo? Jalan aja masih kayak kakek-kakek encok gitu. Lagian, lo itu otak dari tim ini. Lo yang tahu jalan, lo yang bisa nge-hack sistem, dan lo yang tahu cara kerja portalnya nanti."
Alika menarik napas dalam-dalam, lalu menurunkan nada suaranya menjadi lebih lembut namun penuh keyakinan. "Jadi, biar gue yang jadi pelindung lo sepanjang perjalanan ke sana. Gue bakal jadi tameng lo dari *Firewall* atau monster glitch apa pun yang berani mendekat. Anggap aja ini balas budi karena lo udah nyelametin gue dari badai biner tadi. Kita impas, oke?"
Rian terdiam. Dia menatap Alika c**up lama, seolah sedang mencari tanda-tanda keraguan di wajah cewek itu. Namun, yang dia temukan hanyalah sepasang mata bulat yang memancarkan tekad yang sangat keras. Persis seperti mata Alika saat dia bersikeras ingin memenangkan boneka beruang besar di mesin capit mall dulu, yang akhirnya membuat Rian terpaksa menghabiskan sisa uang jajannya untuk membantu cewek itu.
Sudut bibir Rian perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat samarβhampir tidak terlihat jika Alika tidak memperhatikannya dengan jeli.
"Oke," sahut Rian akhirnya, sambil melipat kedua tangannya di dada. "Gue pegang omongan lo, Alika. Tapi ingat, kalau situasi makin kacau, lo harus patuhi semua instruksi gue tanpa bantah. Paham?"
"Siap, Bos Robot!" Alika memberikan gestur hormat yang konyol, membuat ketegangan di antara mereka sedikit mencair.
"Ya udah, kalau gitu kita mulai misinya sekarang. Sebelum sistem melakukan *refreshing* sektor dan mendeteksi posisi kita di sini," kata Rian sambil menutup layar holografisnya.
Alika mengangguk mantap. Dia berjalan satu langkah di depan Rian, bersiap menghalau apa pun yang ada di depan mereka. Dengan Admin Tower yang bersinar terang di ujung cakrawala sebagai tujuan akhir, perjalanan berbahaya mereka menembus sistem keamanan Map 404 resmi dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!