**BAB 8: MONSTER ILUSI MASA LALU**
"Pelan-pelan, Yan. Langkah lo masih agak pincang gitu," kata Alika sambil menopang sebelah lengan Rian.
Rian berdecak pelan, tapi tidak menolak bantuan mantan pacarnya itu. "Gue cuma *glitch* dikit, Lik. Gak usah se-khawatir itu juga kali. Nanti lo baper lagi."
"Dih, dih, najis banget! Siapa juga yang baper? Gue cuma gak mau repot ya kalau lo tiba-tiba *dead* di sini terus gue harus jalan sendirian di map aneh ini," ketus Alika, meski wajahnya sedikit merona merah. Dia buru-buru memalingkan muka, pura-pura fokus memperhatikan jalanan di depan mereka.
Setelah badai biner di babak sebelumnya mereda, mereka terpaksa melanjutkan perjalanan menuju *Admin Tower*. Sayangnya, rute terdekat yang ditunjukkan oleh peta navigasi rusak mereka justru mengarah ke sebuah area rawa-rawa.
Tempat itu benar-benar suram. Air rawanya berwarna ungu kehitaman dengan tekstur pixelated yang sesekali berkedip *glitch*. Pohon-pohon kering tanpa daun berdiri kaku seperti cakar monster yang mencuat dari dalam tanah. Ditambah lagi, kabut tebal berwarna abu-abu mulai turun, membatasi jarak pandang mereka hingga hanya tersisa beberapa meter saja. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, menyisakan suara kecipak kaki mereka yang menginjak lumpur digital.
"Gue punya firasat buruk tentang tempat ini," bisik Alika kian merapatkan tubuhnya ke arah Rian. Bulu kuduknya meremang.
"Tetap di belakang gue, Lik," ujar Rian dengan nada suara yang tiba-tiba berubah serius. Dia menarik pedang satu tangannya yang bersinar kebiruan, bersiap siaga. Meskipun HP-nya baru pulih ke angka 45%, insting bertarungnya sebagai mantan *pro-player* game RPG masih sangat tajam.
*Sreeeeet...*
Suara gesekan misterius terdengar dari balik kabut. Alika langsung mengeluarkan tongkat sihir pendeknya, memosisikan diri di belakang punggung Rian. Mereka berdiri saling membelakangi, memutar pandangan ke segala arah.
"Di mana musuhnya, Yan?" tanya Alika panik.
"Gak tahu, sensor di *minimap* gue mendadak *error*. Gambarnya cuma kedip-kedip merah," sahut Rian, rahangnya mengeras.
Tiba-tiba, kabut di depan mereka menggulung dengan cepat, membentuk pusaran angin hitam yang pekat. Dari dalam pusaran itu, muncul sesosok makhluk tanpa bentuk yang jelas. Monster itu tampak seperti bayangan hitam raksasa dengan puluhan mata berwarna ungu menyala di sekujur tubuhnya.
Sebuah notifikasi sistem berwarna merah darah melayang di atas kepala monster tersebut:
`[WARNING: Boss Fight - Phantasm of the Past, Level ??]`
"Monster macam apa ini? Kok gak ada bar HP-nya?!" seru Alika panik.
Belum sempat Rian menjawab, monster itu mengeluarkan suara pekikan melengking yang aneh. Suara itu tidak terdengar seperti raungan binatang, melainkan seperti suara statis radio rusak yang bercampur dengan... suara mereka sendiri.
*Wuuush!*
Kabut di sekeliling mereka mendadak berubah warna. Alika memejamkan mata karena silau, dan ketika dia membukanya kembali, pemandangan rawa-rawa itu telah lenyap.
Kini, mereka berada di koridor depan perpustakaan kampus mereka dulu. Suasananya sangat familier. Hari itu sedang hujan deras, persis seperti kejadian satu setengah tahun yang lalu.
"Loh? Ini... kampus kita kan?" Alika mengerutkan kening, kebingungan.
"Lik, jangan tertipu! Ini cuma ilusi!" teriak Rian, mencoba menarik tangan Alika. Namun, anehnya, tubuh Rian terasa sangat berat seolah-olah dia terikat oleh rant** kasatmata.
Tiba-tiba, dari ujung koridor ilusi itu, berjalan dua orang yang sangat mereka kenal. Itu adalah diri mereka sendiri di masa lalu. Alika masa lalu tampak sedang menangis sesenggukan dengan mata sembap, sementara Rian masa lalu berdiri di hadapannya dengan wajah lelah dan dingin.
"Gue capek, Yan! Gue capek selalu jadi nomor dua di hidup lo!" Alika masa lalu berteriak, suaranya menggema di koridor sepi itu. "Lo selalu sibuk sama turnamen game lo, sibuk sama latihan lo, sibuk sama urusan lo sendiri! Lo pernah gak sih mikirin perasaan gue sekali aja?!"
Rian masa lalu hanya diam, menatap lant** dengan pandangan kosong. "Gue kan udah bilang, Lik. Gue lakuin ini juga buat kita. Gue butuh uang dari hadiah turnamen itu buat..."
"Halah, alasan klasik!" potong Alika masa lalu dengan nada sinis. "Lo cuma egois! Lo gak pernah peduli sama gue! Kita putus aja!"
Melihat adegan itu diputar kembali di depan matanya, Alika yang asli merasa dadanya seperti dihantam batu besar. Rasa sesak yang luar biasa menjalar di hatinya. Itu adalah hari paling buruk dalam hidupnya, hari di mana dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka secara sepihak dengan penuh kemarahan.
"Gak... stop... jangan liatin itu lagi..." gumam Alika, tangannya gemetar. Kepalanya mulai terasa pusing.
Di sampingnya, Rian juga tampak terengah-engah. Matanya menatap bayangan masa lalu mereka dengan tatapan terluka yang sangat dalam.
Monster bayangan itu tertawa melengking, suara tawanya memantul di dinding-dinding ilusi. Rasa bersalah, kemarahan, dan penyesalan yang dirasakan oleh Alika dan Rian justru menjadi makanan empuk bagi monster tersebut. Perlahan, energi hitam mengalir dari tubuh Alika dan Rian, terisap ma**k ke dalam tubuh monster ilusi itu. Bar HP Rian yang tadi berada di angka 45%, kini perlahan merosot turun ke 40%... 35%...
"Yan! HP lo berkurang! Monster itu makan emosi kita!" teriak Alika tersadar dari syoknya.
"Gue... gue gak bisa gerak, Lik," bisik Rian dengan suara parau. Cowok itu berlutut, memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Bayangan masa lalu itu rupanya menghantam mentalnya jauh lebih keras daripada luka fisik akibat badai biner kemarin.
Monster itu kembali memproyeksikan memori lain. Kali ini, saat mereka merayakan hari jadi yang pertama di sebuah kafe kecil.
Dalam ilusi itu, Alika masa lalu tampak cemberut karena Rian datang terlambat satu jam. "Lo telat lagi. Selalu kayak gini. Gak niat banget sih bikin janji?"
Sementara Rian masa lalu hanya bisa meminta maaf dengan wajah yang sangat pucat dan kantung mata hitam yang tebal karena kurang tidur setelah bekerja paruh waktu semalaman demi bisa mentraktir Alika di kafe itu.
Melihat adegan kedua ini, Alika yang sekarang terpaku.
Dia memperhatikan det**l yang dulu sama sekali tidak pernah dia sadari karena sudah telanjur dikuasai oleh rasa egois dan amarah. Dia melihat tangan Rian masa lalu yang gemetar menahan lelah di bawah meja. Dia melihat sebuah kotak kecil berisi kalung perak murahβyang sampai sekarang masih Alika simpan di laci kamarnyaβyang disembunyikan Rian di balik jaketnya, ragu untuk memberikannya karena takut Alika tidak menyukainya.
Air mata Alika menetes begitu saja.
*Kenapa dulu gue gak pernah liat semua itu?* batin Alika, dadanya terasa sangat perih hingga sulit bernapas. *Gue cuma bisa nuntut dia buat selalu ada, tanpa pernah mau tahu seberapa keras dia berjuang buat tetap bertahan di samping gue dengan segala keterbatasannya.*
"Lik..." suara Rian memecah keheningan. Cowok itu menatapnya dengan pandangan sayu. "Maafin gue... Gue emang cowok gak berguna waktu itu. Gue gak bisa bikin lo bahagia. Maaf gue selalu bikin lo ngerasa dinomor-duakan."
Mendengar ucapan tulus dari Rian, tangis Alika pecah. Di tengah kepungan kabut ilusi yang kian mencekik, dia melangkah mendekati Rian dan langsung berlutut di depan cowok itu. Dia menggenggam kedua tangan Rian yang terasa dingin.
"Enggak, Yan. Gue yang salah," kata Alika dengan suara bergetar, menatap langsung ke dalam manik mata Rian. "Gue yang egois. Kemarahan gue dulu menutup mata gue dari usaha-usaha kecil yang lo lakuin buat gue. Gue terlalu kekanak-kanakan, selalu pengen dituruti tanpa pernah mau ngerti posisi lo. Gue minta maaf, Yan. Gue bener-bener minta maaf."
Begitu kata maaf itu terucap dengan tulus dari bibir Alika, sebuah kehangatan mendadak menjalar di antara genggaman tangan mereka.
Seketika itu juga, pemandangan koridor kampus dan kafe masa lalu di sekeliling mereka mulai retak seperti kaca yang pecah. Serpihan-serpihan ilusi itu berhamburan ke udara, berubah menjadi partikel cahaya putih yang indah.
Monster ilusi itu m****ik histeris. Tubuhnya yang tadi membesar berkat energi negatif kini mulai menyusut dan melemah.
Sebuah notifikasi sistem baru muncul di hadapan mereka:
`[SYSTEM: Emotional Sync Achieved. Emotional Bond Debuff Cleared!]`
`[SYSTEM: Party ATK Boosted by 200%!]`
Rian merasakan kekuatannya kembali, bahkan bar HP-nya secara ajaib terkunci dan tidak berkurang lagi. Dia menatap Alika yang masih menangis, lalu tersenyum tipisβsebuah senyuman tulus yang sudah sangat lama tidak Alika lihat.
"Makasih ya, Lik. Sekarang, mari kita selesaiin urusan sama jemuran hitam ini," kata Rian sambil berdiri tegak. Dia menawarkan tangannya untuk membantu Alika berdiri.
Alika menyambut tangan Rian, menghapus air matanya dengan lengan baju, lalu mengangguk mantap. "Ayo. Bikin dia nyesel karena udah berani ngungkit masa lalu kita!"
Monster itu mencoba menyerang kembali dengan menembakkan bola-bola energi hitam ke arah mereka. Namun, kali ini, gerakan mereka jauh lebih kompak dan sinkron dibandingkan sebelumnya.
"Alika, *Shield*!" teriak Rian.
"On it!"
Alika mengayunkan tongkat sihirnya, menciptakan sebuah kubah pelindung transparan berwarna merah muda yang menahan semua serangan bola hitam monster tersebut. Sementara itu, Rian berlari memutar dengan cepat memanfaatkan momentum perlindungan dari Alika.
Dengan gerakan lincah, Rian melompat tinggi ke udara. Pedangnya kini tidak lagi bersinar biru neon biasa, melainkan berkobar dengan cahaya putih keemasan berkat efek *buff* emosional mereka.
"Masa lalu itu buat dipelajarin, bukan buat bikin kita lemah!" seru Rian lantang.
*SLASH!*
Rian menebaskan pedangnya tepat di tengah-tengah mata ungu terbesar milik monster itu. Tebasan itu menghasilkan ledakan cahaya putih yang sangat menyilaukan. Monster ilusi itu menjerit kesakitan untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya tubuh hitamnya hancur berkeping-keping menjadi piksel-piksel abu-abu yang kemudian lenyap ditiup angin.
Kabut tebal yang menyelimuti rawa-rawa perlahan-lahan menipis, digantikan oleh cahaya matahari virtual yang lembut, menerobos ma**k di antara celah-celah pohon kering.
Keadaan kembali sunyi, tapi kali ini bukan sunyi yang mencekam, melainkan sunyi yang menenangkan.
Alika menghela napas panjang, merosot duduk di atas sebuah akar pohon besar yang untungnya tidak *glitch*. Dia merasa sangat lelah secara mental, tapi anehnya, ada perasaan lega yang luar biasa di dadanya. Seolah-olah beban berat yang selama satu setengah tahun ini mengganjal di hatinya akhirnya terangkat habis.
Rian menyarungkan kembali pedangnya, lalu berjalan mendekat dan ikut duduk di samping Alika. Dia menyodorkan sebotol air minum virtual yang tersisa di *inventory*-nya.
"Minum dulu. Muka lo kusut banget kayak kertas gorengan," gurau Rian, mencoba mencairkan suasana yang sempat sangat emosional tadi.
Alika merengut, tapi tetap menerima botol itu. "Ngeselin banget sih lo. Tapi... *by the way*, makasih ya."
"Buat apa?" Rian menoleh.
"Buat semuanya. Buat yang tadi... dan buat masa lalu kita," jawab Alika pelan, menatap lurus ke depan rawa yang kini terlihat lebih terang.
Rian terdiam sejenak, lalu menyandarkan kepalanya ke batang pohon di belakangnya. "Gue juga makasih, Lik. Akhirnya kita bisa ngomongin ini baik-baik. Ternyata kita emang butuh kejebak di map *bug* kayak gini cuma buat saling memaafkan ya?"
Alika tertawa kecil, suara tawa yang sangat dirindukan oleh Rian. "Iya juga sih. Agak ironis ya. Tapi setidaknya sekarang kita gak perlu musuhan lagi kan?"
Rian menoleh ke arah Alika, menatap wajah cewek itu dari samping dengan tatapan hangat yang tidak lagi dia sembunyikan. "Siapa bilang kita musuhan? Dari dulu gue gak pernah nganggep lo musuh, Alika."
Jantung Alika tiba-tiba berdegup kencang mendengar ucapan Rian. Dia buru-buru memalingkan wajahnya yang kembali memanas, pura-pura sibuk memeriksa sisa durasi *buff* mereka di layar sistem yang melayang di depannya.
Di atas kepala mereka, penanda arah navigasi menuju *Admin Tower* kembali menyala terang dengan warna hijau stabil, menunjukkan jalan setapak yang aman di ujung rawa. Perjalanan mereka masih panjang, dan Map 404 pasti masih menyimpan banyak kejutan berbahaya lainnya. Namun untuk pertama kalinya sejak mereka terdampar di dunia game rusak ini, Alika merasa bahwa mungkin... bertahan hidup di sini bersama mantannya bukanlah hal yang sepenuhnya buruk.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!