**BAB 9: KAFE GLITCH DAN DEEP TALK**
Kini, Alika tidak lagi mencium bau lumpur rawa yang busuk dan anyir. Hidungnya justru mengendus aroma yang sangat familier: wangi biji kopi yang baru dipanggang, manisnya sirup karamel, dan sayup-sayup suara lagu indie senja yang biasa terputar di playlist Spotify-nya.
"Lho? Kok..." Alika mengerjapkan matanya berkali-kali.
Dia tidak lagi berdiri di tengah rawa-rawa ungu yang menyeramkan. Kakinya tidak lagi tenggelam dalam lumpur piksel. Sebaliknya, dia menyadari dirinya sedang duduk di atas kursi kayu dengan bantalan busa abu-abu yang empuk. Di depannya, ada sebuah meja kayu persegi panjang bernuansa industrial.
Dan di seberang meja itu, Rian sedang melongo dengan mulut setengah terbuka. Cowok itu masih memegang pedang satu tangannya yang bersinar kebiruan, terlihat sangat konyol dan salah tempat di dalam ruangan se-estetik ini.
"Yan... kita di mana?" tanya Alika lirih, suaranya sedikit bergetar karena masih kaget dengan perubahan instan ini.
Rian menurunkan pedangnya perlahan, lalu menyarungkannya kembali ke sarung senjata di pinggangnya. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan dahi berkerut dalam. "Ini... Kafe Selaras? Kafe deket kampus yang biasa kita datengin dulu, kan?"
Alika menoleh ke kiri dan ke kanan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa familier yang mendadak menghantam dadanya. Desain interior minimalis dengan dinding semen ekspos, lampu-lampu gantung berbentuk bola, bahkan tata letak tanaman hias di sudut ruangan—semuanya persis seperti tempat mereka biasa menghabiskan waktu sepulang kuliah dulu. Tempat di mana mereka biasa mengerjakan tugas kelompok, bergosip tentang dosen galak, dan... pacaran.
Tapi, tempat ini tidak sepenuhnya normal.
Ketika Alika mendongak ke langit-langit, dia melihat papan neon bertuliskan "SELARAS COFFEE" tidak menyala dengan warna kuning hangat seperti biasa. Papan itu berkedip-kedip tidak stabil, sesekali mengeluarkan percikan piksel berwarna hijau neon dan menampilkan tulisan `[GLITCHED_AREA]` yang melayang tipis di udara.
Di sudut dekat jendela, sebuah tanaman monstera tampak bergetar cepat, seolah-olah grafisnya sedang mengalami *rendering* ulang secara kasar. Tanaman itu kadang berubah menjadi tumpukan piksel hitam-putih sebelum akhirnya kembali ke bentuk semula. Bahkan papan menu hitam di dekat kasir juga kacau. Tulisan menu *Espresso* berubah menjadi *Es-press-Alt-Del*, dan harganya tertulis `NaN` alias tidak terdefinisi.
Meskipun banyak bagian yang mengalami *glitch*, sebuah notifikasi hologram berwarna hijau lembut melayang di tengah ruangan, memberikan sedikit rasa tenang:
`[SAFE ZONE: No combat allowed. Rest and recover your HP/MP.]`
"Zona aman," gumam Rian, mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lega. Dia melepaskan pelindung dadanya yang terasa berat, lalu menyandarkannya ke kaki meja. Bar HP di atas kepalanya yang tadinya kritis di angka 45% perlahan-lahan mulai merangkak naik dengan sendirinya. "G***, gue pikir kita bakal mati konyol di rawa tadi."
Alika kembali duduk di kursinya, mencoba mencerna situasi ini. Suasana kafe ini begitu tenang, sangat berbanding terbalik dengan kekacauan dan ketegangan di luar sana. Ketika dia mengintip ke luar jendela kaca besar yang ada di sampingnya, dia tidak melihat jalanan beraspal atau lalu lalang kendaraan bermotor. Di luar sana hanya ada kegelapan tak berujung, pusaran kabut abu-abu, dan unt**an kode biner yang melayang-layang seperti hujan horizontal. Mereka benar-benar terisolasi di dalam memori mereka sendiri yang direkonstruksi secara acak oleh sistem map 404.
Tiba-tiba, di atas meja kayu di antara mereka, muncul efek partikel cahaya biru yang berputar-putar seperti debu peri.
*Clink!*
Dua gelas minuman mendadak muncul di sana.
Satu gelas plastik berisi kopi hitam dingin dengan banyak es batu—minuman andalan Rian yang selalu dipesannya setiap kali mereka ke sini. Dan satu lagi, segelas cangkir keramik berisi Matcha Latte hangat dengan hiasan *latte art* berbentuk hati di atasnya, lengkap dengan taburan bubuk matcha tambahan. Namun, karena ini adalah area *glitch*, gambar hati pada latte itu sesekali bergeser ke kiri dan ke kanan secara patah-patah.
"Bahkan pesanan kita juga direplika sama sistem game ini?" Alika tertawa kecil, meskipun matanya agak berkaca-kata melihat det**l kecil itu. Dia mengambil cangkir matchanya, merasakan kehangatan yang menjalar ke telapak tangannya yang dingin karena ketakutan sejak tadi. "Aneh banget. Tapi... rasanya beneran kayak mimpi."
Rian mengambil gelas Americano-nya, lalu menyesap sedotan plastik hitamnya. Dia terdiam sejenak sebelum berkata, "Rasa kopinya agak hambar di ujung, khas simulasi digital. Tapi suasananya... dapet banget. Bikin kangen."
Keheningan melingkupi mereka berdua setelah itu. Bukan keheningan yang menegangkan seperti saat mereka harus menghindari jebakan atau melawan monster, melainkan keheningan yang canggung dan sarat akan emosi yang terpendam. Ini adalah keheningan khas dua orang yang pernah menjadi pusat dunia bagi satu sama lain, lalu terpisah karena ego dan kesalahpahaman, dan kini dipaksa untuk duduk berhadapan lagi di tempat yang paling banyak menyimpan kenangan manis mereka.
Rian memainkan es batu di gelasnya dengan sedotan, menciptakan suara klinting yang memecah kesunyian. Dia menghela napas panjang, bersandar pada sandaran kursi, lalu menatap Alika yang sedang menunduk menatap cangkir matchanya.
"Lik," panggil Rian lembut.
"Hmm? Kenapa, Yan?" Alika mendongak, matanya yang bulat menatap Rian dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Gue mau minta maaf."
Alika menahan napasnya sejenak. Dia menurunkan cangkirnya perlahan ke atas meja. "Minta maaf buat apa? Karena lo hampir bikin kita mati konyol di rawa tadi? Atau karena lo selalu keras kepala tiap kali gue kasih saran rute?"
"Bukan," Rian menggeleng pelan. Matanya tidak lagi menghindari tatapan Alika seperti yang biasa dia lakukan. Kali ini, sorot matanya terlihat sangat tulus, dalam, dan dipenuhi penyesalan yang nyata. "Minta maaf buat semuanya. Buat... masa lalu kita. Buat cara gue memperlakukan lo dulu."
Dada Alika tiba-tiba terasa sesak. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Kata-kata itu adalah kata-kata yang selama ini selalu ingin dia dengar, namun tidak pernah dia duga akan keluar dari mulut seorang Rian di tempat seperti ini.
"Gue tahu gue cowok yang kaku banget," lanjut Rian, suaranya terdengar pelan namun tegas di tengah sunyinya kafe itu. "Dulu, tiap kali kita ada masalah atau berantem, gue selalu milih diem. Gue selalu menutup diri gue sendiri. Gue pikir, dengan gue diem dan gak memperpanjang debat, masalahnya bakal reda dengan sendirinya. Gue gak sadar kalau sikap diem gue itu justru bikin lo merasa diabaikan dan gak dihargai."
Alika hanya terdiam, mendengarkan dengan saksama. Tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Gue gak pinter ngomong, Lik. Gue payah banget kalau harus mengungkapkan perasaan secara verbal," Rian tersenyum getir, menatap jemarinya sendiri yang bertautan di atas meja. "Gue sayang banget sama lo waktu itu. Banget. Tapi gue bodoh karena mikir kalau tindakan gue udah c**up. Gue mikir dengan gue selalu ada pas lo butuh, nganter jemput lo kuliah malam, nemenin lo belajar di perpus sampai jam tutup, itu udah lebih dari c**up buat nunjukin perasaan gue. Gue gak paham kalau lo juga butuh denger kata-kata penegasan dari gue. Gue terlalu defensif tiap kali lo nanya soal kejelasan perasaan gue. Maaf ya, Lik. Maaf karena sikap kaku gue udah bikin lo ngerasa berjuang sendirian di hubungan kita dulu."
Satu tetes air mata akhirnya lolos dari pelupuk mata Alika. Dia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan, merasa kesal pada dirinya sendiri karena begitu rapuh. Pertahanan yang dia bangun selama berbulan-bulan setelah mereka putus runtuh seketika hanya karena beberapa kalimat tulus dari Rian.
"Lo... kenapa baru ngomong sekarang, sih?" bisik Alika dengan suara yang serak dan bergetar. "Kenapa harus nunggu kita terjebak di map si**** ini baru lo mau jujur, Yan? Kenapa gak dari dulu pas kita masih sama-sama?"
Rian menatap Alika dengan tatapan bersalah. "Karena di dunia nyata, ego gue terlalu tinggi, Lik. Gue terlalu gengsi buat ngakuin kalau gue cowok yang payah dan gagal dalam berkomunikasi. Tapi di sini... di tempat di mana nyawa kita bener-bener gak pasti, gue sadar satu hal. Kalau sampai gue mati di map ini tanpa sempat minta maaf secara langsung ke lo, itu bakal jadi penyesalan terbesar dalam hidup gue."
Alika menunduk, air matanya kini mengalir lebih deras. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang terasa begitu sesak oleh emosi yang membuncah.
"Gue juga salah, Yan," kata Alika akhirnya, suaranya terdengar pasrah. Semua ego, gengsi, dan rasa kesal yang selama ini dia simpan rapat-rapat menguap begitu saja ke udara.
Rian tertegun, mendengarkan perkataan Alika.
"Gue terlalu menuntut lo buat jadi sempurna," lanjut Alika sambil menyeka air mata di pipinya. "Gue selalu pengen lo bisa baca pikiran gue tanpa gue harus ngomong. Gue sering ngambek, melakukan *silent treatment*, dan berharap lo bakal langsung tahu apa salah lo terus minta maaf. Gue kekanak-kanakan banget waktu itu. Gue selalu punya pemikiran egois kayak, 'Kalau dia beneran sayang sama gue, dia pasti tahu dong apa yang salah'. Padahal lo kan manusia biasa, bukan dukun yang bisa baca pikiran orang."
Alika tertawa getir, mencoba menertawakan kebodohan masa lalunya. "Gue terlalu sering dapet ha**tan dari luar, dengerin tips-tips pacaran gak jelas di media sosial, sampai gue lupa kalau kita itu dua kepala yang berbeda. Bukannya ngomong langsung dengan jelas apa yang gue mau dan apa yang bikin gue kecewa, gue malah milih nge-tes lo pakai kode-kode yang rumit. Dan pas lo gak peka, gue langsung marah dan narik kesimpulan kalau lo udah gak sayang lagi sama gue. Gue capek sama ekspektasi yang gue bikin sendiri, tapi malah lo yang selalu gue salahin."
Mendengar itu, Rian mengulurkan tangannya di atas meja. Perlahan dan penuh keraguan, dia meraih jemari Alika yang dingin dan menggenggamnya hangat. Tindakan spontan itu membuat Alika sedikit terkejut, namun dia tidak menarik tangannya. Sentuhan tangan Rian terasa begitu nyata, begitu hangat, sangat kontras dengan dinginnya dunia piksel di luar sana.
"Kita dua-duanya sama-sama egois dulu, Lik," kata Rian lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Alika dengan gerakan perlahan yang menenangkan. "Gue yang terlalu tertutup dan gak mau berbagi isi kepala gue, dan lo yang terlalu banyak nuntut tanpa mau komunikasi secara terbuka. Kita kayak dua orang yang berbicara menggunakan bahasa yang berbeda, tapi memaksakan diri untuk saling paham tanpa mau belajar kamus masing-masing."
Alika menatap tangan mereka yang saling bertautan di atas meja kayu kafe *glitch* itu. Rasa hangat yang menjalar dari genggaman tangan Rian seolah mengalir langsung ke hatinya, mencairkan segala bentuk dendam, kesalahpahaman, dan luka lama yang selama ini mengeras di dalam dadanya.
"Tapi lucu ya," Alika tersenyum tipis, mendongak untuk menatap mata Rian kembali. "Kita baru bisa saling jujur dan paham kayak gini justru pas status kita udah jadi mantan. Dan konyolnya, kita harus diculik ke dalam map rusak berkode 404 dulu baru bisa ngomong dari hati ke hati."
"Mungkin ini cara sistem game si**** ini—atau mungkin semesta—buat ngasih kita kesempatan kedua buat nyelesaiin urusan kita yang belum kelar," sahut Rian dengan kekehan kecil, yang membuat suasana tegang di antara mereka perlahan-lahan mencair sepenuhnya.
Mereka berdua terdiam lagi, namun kali ini keheningan itu terasa sangat nyaman dan hangat. Mereka menikmati sisa minuman mereka masing-masing dalam kedamaian sementara yang sangat berharga. Di luar sana, suara deru angin biner dan kilatan petir digital masih terdengar samar, namun di dalam replika kafe ini, waktu seolah-olah sengaja melambat hanya untuk mereka.
Alika menyeruput Matcha Latte-nya yang kini terasa jauh lebih manis dan nikmat. Dia memperhatikan wajah Rian dari dekat. Rambut hitam cowok itu tampak agak acak-acakan karena pertarungan sengit di babak sebelumnya, dan ada sedikit noda abu digital di pipi kirinya.
Secara refleks dan tanpa berpikir panjang, Alika mengulurkan tangan kirinya, lalu dengan lembut menyeka noda abu di pipi Rian dengan ibu jarinya.
Rian sedikit tersentak karena sentuhan tiba-tiba itu. Pandangan mereka kembali bertemu dan terkunci satu sama lain. Detik itu juga, atmosfer di dalam kafe mendadak berubah menjadi sangat intens dan intim. Dada Alika bergemuruh hebat, dan dia baru menyadari seberapa dekat jarak wajah mereka sekarang.
"Kenapa?" tanya Alika dengan suara yang nyaris berbisik, tangannya masih tertahan di pipi Rian selama beberapa detik sebelum akhirnya dia tarik kembali dengan canggung, wajahnya merona merah padam.
"Nggak apa-apa," jawab Rian, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. Dia berdehem kecil untuk menutupi salah tingkahnya. "Cuma... gue kangen banget sama momen-momen tenang kayak gini sama lo."
"Momen pas gue ngelapin muka lo yang kotor?" goda Alika, mencoba mencairkan ketegangan romantis yang tiba-tiba menyergap mereka.
"Momen pas kita gak perlu mikirin beban apa-apa. Cuma ada gue, lo, dan secangkir minuman yang rasanya agak *glitchy* ini," balas Rian sambil tersenyum lebar. Senyumannya kali ini begitu lepas, menampilkan lesung pipit kecil di pipi kanannya yang sudah sangat lama tidak Alika lihat. Alika selalu menyukai lesung pipit itu, dan melihatnya kembali sekarang membuat hatinya terasa hangat dan penuh.
*Bzzzt... Bzzzt...*
Tiba-tiba, lampu neon gantung di atas kepala mereka berkedip merah dengan cepat. Suara statis radio yang bising mulai terdengar lebih kencang dari luar jendela kaca. Dinding-dinding semen ekspos kafe yang tadinya tampak solid kini mulai memperlihatkan garis-garis retakan berwarna hijau neon terang, seolah-olah seluruh tekstur ruangan ini sedang mengalami kegagalan *rendering* massal.
Notifikasi sistem berwarna merah kembali muncul di depan mata mereka, berkedip-kedip dengan tidak stabil:
`[WARNING: Safe Zone stability is dropping rapidly. Stability: 80%... 65%... 45%...]`
"Kayaknya waktu istirahat kita udah habis, Lik," ujar Rian sambil menghela napas. Dia segera berdiri dari kursinya, lalu kembali mengenakan pelindung dadanya yang kini sudah terisi penuh dayanya. Dia meraih pedang satu tangannya yang kini bersinar lebih terang dari sebelumnya. Meskipun bahaya kembali mengint** di luar sana, kini ada binar keyakinan yang berbeda di matanya. Rasa lelah, putus asa, dan kecanggungan yang tadi sempat menggelayutinya kini telah menguap sepenuhnya.
Alika juga ikut berdiri, merapikan jubah sihirnya dan menggenggam erat tongkat sihir pendeknya yang kini sudah terisi penuh dengan energi magis. Dia menatap Rian dengan senyuman tipis namun penuh tekad.
"Gimana? HP lo udah penuh?" tanya Alika memastikan.
Rian memeriksa bar status di sudut pandang matanya. "Udah 100%. Lo sendiri?"
"MP gue juga udah full. Siap buat hajar monster bayangan atau apa pun yang ada di balik kabut itu," jawab Alika dengan nada mantap.
Sebelum mereka melangkah menuju pintu keluar kafe yang mulai memudar dan berubah menjadi deretan kode biner yang beterbangan, Rian tiba-tiba memegang bahu Alika, menahannya sejenak. Dia menatap mantan pacarnya itu dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh pelindung—tatapan yang dulu jarang sekali dia tunjukkan karena tertutup oleh ego kaku-nya.
"Lik," panggil Rian serius.
"Ya, Yan?"
"Mulai sekarang, gue gak bakal biarin lo jalan di belakang gue lagi buat ngelindungin lo sendirian. Kita bakal jalan bareng-bareng. Sejajar. Sebagai tim. Oke?"
Mendengar kalimat itu, senyum Alika merekah lebar dengan sangat manis. Matanya berbinar cerah, memancarkan rasa percaya yang sempat hilang namun kini telah kembali seutuhnya. "Oke, Rian. Bareng-bareng."
Saat mereka berdua mendorong pintu kafe bersama-sama, replika kafe "Selaras" yang penuh kenangan itu hancur berkeping-keping menjadi jutaan partikel cahaya biru yang indah, membawa mereka kembali ke realitas kejam di map 404. Namun kali ini, mereka tidak lagi melangkah dengan keraguan atau rasa canggung yang membebani. Hubungan mereka yang sempat hancur dan retak kini telah kembali hangat, direkatkan erat oleh sebuah *deep talk* yang jujur di dalam kafe *glitch*.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!