Komplain dari unit 1808 ma**k pukul 08.12.
Rania mengirim screenshot tanpa komentar, lalu menambahkan satu emoji tertawa.
Aku tidak tertawa.
Studio rumah di 1809 sudah dilapisi peredam. Level rekaman aman. Tetapi duct lama gedung membawa low frequency ke dinding timur. Itu masalah struktur, bukan volume.
Tetap saja, aku mengetuk 1808.
Perempuan yang membuka pintu memakai kaus hitam, blazer oversized, dan ekspresi yang mengatakan aku sudah mengganggu hidupnya sebelum memperkenalkan diri.
“Unit 1809?”
“Bara.”
“Tara.”
Aku sudah tahu namanya dari paket yang dua kali salah antar. Aku tidak mengatakan itu.
“Saya soal suara malam,” katanya.
“Aku tahu.”
“Bagus. Hemat presentasi.”
Aku menjelaskan duct. Menawarkan jadwal rekaman lebih awal.
Tara menyilangkan tangan. “Aku juga kerja malam.”
“Berarti kita punya masalah gaya hidup.”
“Masalahnya suara kamu menembus dinding.”
Aku menahan senyum. “Terlalu keras?”
Ia menatapku lama.
“Terlalu mengganggu untuk diabaikan.”
Kalimat itu mengenai sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan akustik.
Aku mengangguk. “Aku bisa turunkan monitor dan pindah mic.”
“Setelah tengah malam?”
“Aku akan usahakan.”
Tara menghela napas. “Aku tidak suka kata usahakan.”
“Aku dengar.”
Wajahnya berubah sesaat.
Aku mengenal tatapan itu. Banyak listener bereaksi pada dua kata yang sering kupakai saat siaran.
Namun Tara hanya berkata, “Bagus. Dengarkan dinding juga.”
Pintu ditutup.
Malamnya, aku menyiapkan rekaman.
Pukul 00.17, lampu unit 1808 masih menyala.
Aku menunggu sepuluh menit sebelum menekan REC.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi host anonim, aku memikirkan satu orang tertentu saat berkata ke mikrofon:
“Aku dengar.”
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!