Form komplain kedua kukirim setelah Bara merekam sampai 00.36.
Form ketiga setelah suara kursinya bergeser pukul 01.12.
Form keempat tidak pernah selesai.
Rania datang membawa teknisi dan berita buruk: duct suara lama tidak bisa diperbaiki cepat tanpa membuka panel dua unit.
“Minimal tiga minggu,” katanya.
“Bagus. Aku pindah lagi tiga minggu,” kataku.
Bara berdiri di koridor. “Dramatis.”
“Berisik.”
Kami akhirnya membuat quiet-hours pact di shared balcony. Balkon unit kami dipisahkan panel lipat setinggi dada, c**up untuk memberi ilusi privasi dan terlalu rendah untuk mencegah percakapan.
Aku menulis sticky note.
QUIET AFTER 00.00.
Bara menambahkan:
NO KNOCKING AFTER 00.30.
“Kecuali darurat,” kataku.
“Definisi darurat?”
“Kebakaran. Ba****. Tetangga terlalu menyebalkan.”
“Itu kondisi permanen.”
Aku menahan senyum.
Rania menyerahkan masing-masing kunci akses balkon servis. “Jangan tukar kunci unit. Saya tidak mau baca laporan aneh.”
“Tidak akan,” kataku cepat.
Bara mengangkat alis.
Aku menempelkan aturan ketiga.
NO RECORDING ON BALCONY.
“Setuju,” katanya tanpa bercanda.
Ketegasan jawabannya membuatku berhenti.
“Keras sekali.”
“Suara orang privat bukan bahan kerja tanpa izin.”
Aku melihatnya.
Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa terlalu tepat.
Malamnya, pukul 00.16, aku menunggu suara dari 1809.
Tidak ada.
Aku seharusnya lega.
Sebaliknya, keheningan terasa lebih keras daripada dinding tipis.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!