Aku masih listener T.
Itu rahasia yang bahkan Dito tidak tahu.
Setelah Reno memakai cerita pribadiku untuk pitch tiga tahun lalu, aku berhenti bercerita kepada orang yang mengenalku. Akun T. menjadi satu-satunya tempat aku bisa mengirim confession tanpa wajah, jabatan, atau konteks.
Malam itu, aku menulis:
T.: Aku pindah supaya punya ruang sendiri. Sekarang aku justru terus mendengar seseorang dari dinding sebelah.
Beberapa menit kemudian B membaca pesan lain di siaran.
“Kadang suara yang mengganggu bukan karena terlalu keras. Kadang karena kita sudah mulai menunggunya.”
Aku duduk tegak.
Frase itu.
Siang tadi Bara mengatakannya dengan nada hampir sama saat bercanda soal keheningan.
Aku keluar ke balkon. Lampu 1809 mati.
Dari aplikasi, B masih live.
Aku mengetuk panel sekali.
Tidak ada jawaban.
Mungkin Bara bukan B.
Mungkin aku terlalu lelah.
Lalu pintu balkon 1809 terbuka.
Bara keluar dengan headphone di leher.
Siaran di ponselku terus berjalan.
“Aku mengganggu?” tanyanya.
“Tidak.”
“Kamu kelihatan seperti sedang menuduh dinding melakukan kejahatan.”
“Aku lagi dengar sesuatu.”
Bara melirik headphone-ku.
“Bagus?”
“Suara host-nya terlalu tenang.”
“Masalah berat.”
“Dan agak sok tahu.”
“Lebih berat.”
Aku menatapnya, mencari reaksi pada nama acara.
Tidak ada.
Bara hanya berkata, “Jangan tidur terlalu malam, 1808.”
Aku ma**k.
Di aplikasi, host B berkata:
“Selamat malam, T. Semoga kamar barumu benar-benar terasa milikmu.”
Aku menutup layar.
Dinding di antara kami mendadak terasa lebih tipis.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!