Ada Kamera Tersembunyi di Apartemen Baruku

Bab 1: Room 404: Awal dari Kebebasan

Pengaturan Membaca

Satu kardus besar berisi baju-baju rajut dan novel kesayanganku akhirnya mendarat dengan sukses di atas lant** vinil berwarna cokelat muda. Aku mengembuskan napas panjang, lalu menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan.

"Akhirnya..." bisikku pada diri sendiri.

Mataku menyapu sekeliling ruangan berukuran 4x4 meter ini. Sebuah kamar tipe studio yang c**up minimalis tapi terasa sangat nyaman. Di sudut ruangan, ada sebuah ka**r *queen size* tanpa dipan yang langsung menyentuh lant**, sebuah *kitchen set* mini lengkap dengan wastafel, kamar mandi dalam berpintu kaca buram, dan sebuah jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

*Room 404.*

Bagi sebagian orang yang percaya takhayul, angka empat mungkin dianggap pembawa sial atau angka kematian. Tapi buatku, ruangan di nomor 404 di lant** empat ini adalah awal dari segalanya. Ini adalah simbol kebebasanku. Sebuah tempat perlindungan yang berhasil kubeli dengan keberanianku sendiri.

Aku merogoh saku celana jinsku, mengambil ponsel yang sejak tadi sengaja kubuat dalam mode hening. Layar ponselku langsung menyala, menampilkan puluhan notifikasi yang menumpuk bagai sampah. Benar saja. Ada 47 pangg***n tak terjawab dan 89 pesan WhatsApp dari satu nama yang sangat ingin kuhapus dari ingatan: Rian.

*“Maya, kamu di mana? Jangan kayak anak kecil ya, kabur-kaburan gini!”*

*“Aku tahu kamu cuma mau cari perhatian kan? Jawab telepon aku, Maya!”*

*“Kalau aku tahu kamu pergi sama cowok lain, habis kamu.”*

*“Maya, please... maafin aku. Aku kayak gini karena aku sayang sama kamu. Jangan tinggalin aku.”*

Aku membaca deretan pesan itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Rasa sesak yang akrab kembali menghimpit dadaku. Dua tahun. Dua tahun penuh siksaan mental, di mana setiap langkahku diawasi, setiap pesan singkat diinterogasi, dan setiap kali aku bernapas seolah harus meminta izin darinya. Rian adalah definisi nyata dari pacar posesif yang toxic. Dia bahkan pernah nekat memasang aplikasi pelacak di ponselku tanpa izin.

Tapi hari ini, semuanya berakhir. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa kekuatan yang kumiliki, lalu menekan tombol paling memuaskan yang pernah kulakukan sepanjang hidupku: *Block*.

Selesai. Aku memblokir nomornya, akun media sosialnya, bahkan semua kontak temannya yang biasa dia gunakan untuk memata-mat** aku. Rian nggak akan pernah bisa melacakku ke sini. Dia nggak tahu aku menyewa apartemen ini. Dia nggak tahu aku punya kehidupan baru di tempat yang sangat jauh dari jangkauannya.

Awalnya aku sempat ragu saat melihat iklan apartemen ini di aplikasi sewa hunian. Harganya bener-bener nggak ma**k akal. Di saat apartemen studio di area pusat kota dipatok harga minimal empat sampai lima juta per bulan, tempat ini—Apartemen Grand Horizon—cuma disewakan dengan harga dua juta rupiah per bulan. Tanpa pikir panjang, bermodal tabungan sisa magang dan uang jajan tambahan dari orang tua, aku langsung membayar uang muka untuk enam bulan ke depan. Ini adalah keberuntungan luar biasa yang nggak boleh kulewatkan demi kesehatan mentalku.

*Tok! Tok! Tok!*

Pintu kamar yang terbuka setengah diketuk pelan dari luar. Aku tersentak kecil, refleks mema**kkan ponsel kembali ke saku. Saat aku menoleh, seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik pudar dan celana bahan hitam berdiri di ambang pintu. Senyumnya sangat lebar, menampakkan guratan ramah di wajahnya yang mulai menua.

"Permisi, Mbak Maya ya?" sapanya dengan suara bariton yang sangat hangat dan kebapakan.

"Eh, iya, Pak," jawabku canggung, langsung berdiri dari posisi jongkokku dan merapikan kaosku yang agak kusut.

"Saya Pak Danu, pengelola gedung ini. Tadi security di bawah bilang Mbak Maya udah datang. Maaf ya tadi saya lagi di toilet, jadi nggak sempat menyambut di lobi," katanya dengan nada penuh sesal yang dibuat-buat, membuatku langsung merasa tidak enak hati.

"Ah, nggak apa-apa banget, Pak! Malah saya yang repot langsung ma**k aja," jawabku sambil tersenyum ramah. Aku bener-bener menghargai keramahannya. Di kota besar kayak Jakarta, jarang banget ada orang yang peduli atau bersikap sehangat ini pada penghuni baru.

Pak Danu melangkah ma**k satu tapak, matanya menyapu isi kamarku dengan pandangan menyetujui. "Wah, barang-barangnya nggak terlalu banyak ya? Baguslah, kamar tipe studio begini emang lebih enak kalau minimalis. Mbak Maya ini masih kuliah atau sudah kerja?"

"Baru lulus kuliah beberapa bulan lalu, Pak. Ini kebetulan dapet kerja magang di daerah Sudirman, makanya cari tempat yang deket biar nggak tua di jalan," jawabku jujur.

"Hebat, anak muda zaman sekarang harus mandiri seperti Mbak Maya ini," puji Pak Danu, membuat pipiku sedikit merona karena tersanjung. Beliau kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah gantungan kunci besi yang berisi dua buah kunci duplikat berkilau. "Nah, ini kunci kamar Mbak Maya. Yang satu kunci utama, yang satu lagi kunci cadangan untuk disimpan Mbak sendiri."

Aku menerima kunci dingin itu ke dalam genggaman tanganku. "Makasih banyak, Pak Danu."

"Sama-sama, Mbak. Oh iya, saya mau ingatkan sedikit. Di apartemen ini privasi sangat diutamakan. Tapi kalau misal suatu saat Mbak Maya teledor, kuncinya ketinggalan di dalam atau hilang, jangan panik ya. Kunci master cadangan semua aman di saya. Kantor saya di lant** dasar selalu buka 24 jam kalau Mbak butuh bantuan darurat. Saya pegang akses ke semua unit untuk urusan maintenance, jadi Mbak tenang aja," jelas Pak Danu dengan nada yang sangat meyakinkan.

Mendengar itu, ada sedikit perasaan lega yang membuncah. Setidaknya kalau aku melakukan kebodohan khas anak muda, ada orang dewasa yang bisa kuandalkan di gedung ini. "Wah, untung deh kalau gitu. Makasih ya, Pak. Saya tenang dengarnya."

Pak Danu tertawa kecil, melambaikan tangannya seolah itu bukan masalah besar. "Sudah tugas saya, Mbak Maya. Di sini aman kok, sangat tenang. Malah kadang saking tenangnya, kayak nggak ada orang. Penghuni di lant** empat ini kebanyakan pekerja kantoran yang sibuk, jadi jarang bersosialisasi. Pokoknya kalau ada keluhan apa pun, entah itu AC kurang dingin, wastafel mampet, atau ada hal mencurigakan, langsung panggil saya aja. Jangan sungkan, ya?"

"Siap, Pak Danu!" jawabku dengan nada riang.

Setelah melempar senyum hangat sekali lagi, Pak Danu pamit untuk kembali ke lant** bawah. Kehangatan sikapnya bener-bener membuat rasa cemas yang sempat tersisa di dadaku perlahan menguap. Tempat ini terasa sempurna. Aman, tenang, dan jauh dari bayang-bayang masa laluku yang mengerikan.

Aku memutuskan untuk merapikan baju-bajuku ke dalam lemari kayu dua pintu yang sudah disediakan di kamar ini. Sambil bersenandung kecil menyanyikan lagu indie favoritku, aku menyusun satu per satu pakaianku. Rasanya bener-bener lega luar biasa. Nggak ada lagi teriakan kemarahan Rian, nggak ada lagi tuduhan tanpa dasar, dan nggak ada lagi tuntutan untuk selalu mengirimkan foto selfie sebagai bukti aku tidak sedang selingkuh.

Setelah hampir satu jam beres-beres, tenggorokanku mulai terasa sangat kering. Aku baru ingat kalau aku belum membeli air mineral atau kebutuhan dasar lainnya. Di sudut pantry hanya ada wastafel kosong tanpa ada dispenser atau botol minum sama sekali.

"Beli air ke minimarket depan dulu kali ya," gumamku pada diri sendiri.

Aku menyambar dompet kecil dan ponselku, lalu melangkah keluar kamar. Saat aku menutup pintu kayu cokelat tua bernomor 404 itu dan menguncinya dari luar, tiba-tiba terdengar suara decitan pintu dari arah sebelah kiriku.

Pintu kamar nomor 403 terbuka.

Refleks, aku menoleh ke arah sumber suara. Dari balik pintu kayu itu, muncullah sosok seorang cowok. Langkahku yang baru saja ingin terayun langsung terhenti di tempat.

Secara fisik, cowok itu bener-bener tipe yang bakal langsung membuat para cewek di kampus menjerit histeris kalau fotonya diunggah di akun *menfess* kampus. Dia memakai kaos hitam polos berukuran *oversized* yang agak pudar di bagian bahu, celana kargo longgar berwarna hijau tentara, dan sepasang headphone nirkabel besar berwarna hitam yang dikalungkan dengan sant** di lehernya.

Rambutnya yang berwarna hitam pekat tampak agak berantakan, jatuh dengan gaya acak-acakan yang justru terlihat sangat estetik di dahinya. Wajahnya tampan, tipe wajah dengan garis rahang kokoh, hidung mancung yang tegas, dan bibir tipis yang mengatup rapat. Dia bener-bener memancarkan *vibes* cowok indie senja yang misterius, tipe yang biasa duduk di sudut kafe sambil membaca buku tebal atau membawa kamera analog.

Tapi, yang membuatku terpaku bukan cuma karena ketampanannya yang di luar ekspektasi itu, melainkan aura dingin yang langsung menusuk kulitku begitu dia melangkah keluar.

Matanya tajam, sehitam legam kelam malam tanpa bintang, tapi terasa sangat kosong di saat yang bersamaan. Saat pandangan kami bertemu, tidak ada senyuman ramah, tidak ada binar ramah di matanya, bahkan tidak ada gestur canggung selayaknya tetangga baru yang saling berpapasan. Dia hanya menatapku datar. Sangat datar hingga membuat bulu kudukku tiba-tiba meremang tanpa alasan yang jelas.

Mencoba bersikap ramah dan sopan sebagai penghuni baru yang ingin memulai lembaran hidup yang sehat, aku memaksakan sebuah senyuman terbaikku.

"Hai," sapaku agak canggung, sambil melambaikan tangan kecil ke arahnya. "Gue Maya, penghuni baru kamar 404. Baru banget pindah hari ini."

Cowok itu tidak membalas lambaian tanganku. Dia bahkan tidak menganggukkan kepalanya sama sekali sebagai tanda formalitas. Dia hanya berdiri diam di ambang pintunya, memegang gagang pintu dengan tangan kanan yang memperlihatkan urat-urat kemerahan yang menonjol seolah dia sedang menahan sesuatu.

Tatapannya yang tajam perlahan turun ke arah gantungan kunci yang kupegang di tangan kiriku, lalu kembali menatap mataku dengan intensitas yang sangat dalam. Ada sesuatu yang sangat aneh dalam tatapannya itu. Seolah... dia sedang mengasihaniku? Atau mungkin dia sedang menilai seberapa lama aku akan bertahan di tempat ini? Sulit sekali diartikan.

"Elian," jawabnya singkat setelah beberapa detik keheningan yang menyiksa di koridor yang sepi itu. Suaranya terdengar berat, serak, dan sangat dingin. Benar-benar minim emosi.

"Oh, Elian. Salam kenal ya. Gue baru—"

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat basa-basiku, Elian langsung membuang muka. Dia menutup pintunya dengan bunyi klik yang tajam, lalu melangkah melewatiku begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Keberadaanku seolah dianggap angin lalu yang mengganggu jalannya.

Saat dia melewatiku, embusan angin tipis membawa aroma parfum maskulin beraroma kayu *sandalwood* yang bercampur dengan sedikit aroma tembakau yang samar ke indra penciumanku. Itu adalah wewangian yang aneh tapi entah kenapa terasa sangat pekat dan membekas di kepala.

Aku melongo di tempat, menatap punggung tegapnya yang semakin menjauh menuju lift di ujung koridor yang remang-remang.

"Idih... ganteng sih, tapi sombongnya minta ampun. Nggak punya sopan santun banget," gumamku kesal dalam hati, mengerucutkan bibirku karena merasa tidak dihargai.

Aku mengembuskan napas panjang, mencoba mengabaikan rasa canggung bercampur aneh yang tiba-tiba merayapi hatiku. Mungkin dia cuma tipe orang yang *introvert* ekstrem atau mungkin dia sedang mengalami hari yang buruk. Lagipula, tujuanku pindah ke apartemen ini adalah untuk mencari kedamaian dan kebebasan dari Rian, bukan untuk mencari pacar baru atau berteman akrab dengan tetangga sebelah kamar yang sikapnya sedingin es batu di kutub utara.

Aku melanjutkan langkahku menuju lift, menekan tombol turun dengan perasaan yang campur aduk. Namun, saat pintu lift terbuka dan aku melangkah ma**k ke dalam kotak besi berbau pewangi jeruk itu, aku tidak bisa menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba menggelitik tengkukku.

Perasaan seperti... ada sepasang mata yang terus mengawasiku, menatap lurus ke arah tengkukku sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di koridor lant** empat ini.

Aku segera menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran paranoid yang mulai merayap liar di kepalaku.

"Nggak, Maya. Jangan kumat lagi paranoianya. Itu cuma sisa trauma gara-gara Rian yang selalu ngawasin kamu," bisikku menenangkan diri sendiri.

Sekarang aku sudah bebas. Kamar 404 adalah wilayah pribadiku, tempat perlindunganku yang aman, dan awal dari kebebasan yang sesungguhnya. Tidak akan ada yang bisa menggangguku lagi di sini.

Aku menatap pantulan diriku di cermin lift, memaksakan senyum lebar hingga mataku menyipit. Semuanya akan baik-baik saja. Hidup baruku baru saja dimulai.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca