Ponsel di tangan gue bergetar sekali lagi. Jantung gue rasanya mau copot waktu layarnya menyala, menampilkan sebaris kalimat pendek yang langsung bikin bulu kuduk gue merinding saking ngerinya.
**Unknown:**
*Bagus. Jangan macam-macam, Maya. Aku selalu mengawasimu.*
Gue mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Rasanya lega, tapi di saat yang sama, rasa takut yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh gue. Ba****** itu percaya. Dia beneran percaya kalau Aris cuma teknisi Wi-Fi biasa.
Malam itu, gue nggak bisa tidur sama sekali. Setiap kali gue memejamkan mata, bayangan kamera tersembunyi yang entah di mana letaknya itu langsung membayangi pikiran gue. Gue merasa te*******. Gue merasa setiap embusan napas gue, setiap gerakan kecil gue di atas ka**r, sedang ditonton oleh sepasang mata asing yang penuh nafsu dan obsesi g*** di luar sana.
Sumpah, ini siksaan mental paling parah yang pernah gue alamin seumur hidup.
***
Keesokan paginya, gue sengaja keluar dari apartemen sepagi mungkin dengan alasan ada kelas pagi di kampus. Padahal, kelas gue baru mulai siang hari. Gue cuma butuh udara segar. Gue butuh tempat di mana gue yakin nggak ada mata-mata tersembunyi yang mengint** setiap gerak-gerik gue.
Gue duduk di salah satu sudut kafe kopi yang c**up ramai di dekat kampus. Di depan gue, secangkir *iced americano* yang sudah mencair setengahnya sama sekali nggak gue sentuh. Pandangan gue kosong, menatap lalu lalang mahasiswa yang kelihatan hidupnya jauh lebih tenang dan normal dibanding gue.
Tiba-tiba, ponsel utama di saku jins gue bergetar. Gue refleks tersentak, buru-buru merogohnya dengan tangan gemetar. Begitu melihat nama di layar, gue langsung membuang napas lega.
Aris.
Gue buru-buru menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. "Halo, Ris?" bisik gue setengah panik, sambil celingukan memastikan nggak ada orang di sekitar gue yang memperhatikan.
"May, lo di mana sekarang?" Suara Aris di seberang telepon terdengar sangat serius, bahkan ada nada tegang yang nggak bisa dia sembunyikan. Nada sant** yang biasanya dia pakai mendadak hilang total.
"Gue di kafe deket gerbang samping kampus. Kenapa, Ris? Lo udah nemu sesuatu?" tanya gue bertubi-tubi. Jantung gue mulai berdegup kencang lagi.
"Gue otw ke sana. Jangan ke mana-mana. Tunggu gue sepuluh menit lagi. Dan May... usahain lo kelihatan sesant** mungkin. Jangan pasang muka panik," kata Aris cepat sebelum langsung mematikan sambungan telepon sepihak.
Gue menatap layar ponsel yang menggelap dengan perasaan campur aduk. Sepuluh menit itu rasanya kayak sepuluh jam. Gue berulang kali meremas jemari gue sendiri yang terasa dingin.
Tepat sepuluh menit kemudian, sosok Aris muncul di pintu ma**k kafe. Dia memakai jaket denim longgar dan membawa tas ransel hitam yang kelihatan berat. Matanya langsung menyapu ruangan sebelum akhirnya menemukan gue yang duduk di pojok dekat jendela.
Aris berjalan cepat, lalu langsung duduk di kursi kosong di depan gue. Mukanya kelihatan kusut banget, kayak orang yang nggak tidur semalaman suntuk. Lingkaran hitam di bawah matanya kelihatan jelas banget.
"Lo begadang?" tanya gue pelan begitu dia menaruh tasnya di kursi sebelah.
Aris nggak langsung menjawab. Dia memesan minuman ke pelayan yang lewat dengan cepat, lalu setelah pelayan itu pergi, dia mencondongkan tubuhnya ke arah gue. Dia membuka ritsleting ranselnya sedikit, memperlihatkan sebuah laptop yang layarnya masih menyala di dalam sana.
"Gue nggak cuma begadang, May. Gue hampir g*** semaleman nyari tahu ke mana perginya data dari kamera si**** di kamar lo," bisik Aris dengan suara sangat rendah.
Gue mencondongkan tubuh ke depan, merapatkan jarak kami agar suara kami nggak terdengar oleh pengunjung kafe lain. "Terus? Lo berhasil? Siapa pelakunya? Hacker? Atau... atau mantan gue?"
Aris menggelengkan kepala perlahan. Ekspresi wajahnya bener-bener bikin gue makin parno. "Bukan. Ini jauh lebih rumit, dan jujur... jauh lebih menyeramkan dari yang kita duga."
"Maksud lo gimana, sih? Jangan bikin gue jantungan, dong!" desak gue, hampir frustrasi karena Aris bicaranya setengah-setengah.
Aris menarik napas dalam-dalam. "Gini, May. Lo tahu kan kemarin gue masang alat semacam *packet sniffer* yang gue samarkan di dalam router Wi-Fi baru lo?"
Gue mengangguk cepat. "Iya, yang lo bilang buat ngelacak lalu lintas data atau sinyal dari kamera itu."
"Kamera tersembunyi itu tipe nirkabel yang sangat canggih. Dia ngirim data video *real-time* lewat jaringan frekuensi tertentu. Semalem, gue berhasil motong dan nangkep paket data itu waktu kameranya lagi aktif ngirim video ke penerimanya," jelas Aris, jemarinya mengetik sesuatu di ponselnya lalu menyodorkan layar ponsel itu ke arah gue. Di layarnya, terlihat barisan angka-angka biner dan kode pemrograman yang sama sekali nggak gue pahami.
"Gue nggak ngerti ginian, Ris. Tolong jelasin pakai bahasa manusia biasa," kata gue memohon.
Aris menghela napas, lalu mengetuk layar ponselnya. "Gampangnya gini, May. Normalnya, kalau ada orang yang nge-hack apartemen lo dari jauhβmisalnya dari luar kota, luar negeri, atau pakai server internetβdata video itu bakal dikirim ke IP address global. Data itu bakal keluar dari jaringan gedung apartemen lo, ma**k ke internet global, baru mendarat di perangkat si pelaku. Mau itu lewat cloud, web server, atau apa pun."
"Terus, punya gue?"
"Itu dia masalahnya," suara Aris mendadak bergetar tipis. "Gue ngelacak IP tujuan dari data video yang dikirim sama kamera di kamar lo. Dan tebak apa? Data itu sama sekali nggak pernah keluar ke internet global."
Gue mengernyitkan dahi, bingung. "Maksudnya nggak keluar ke internet?"
"Data video dari kamar lo itu dialirkan lewat jaringan lokal. Sinyalnya mengarah ke dalam, May. Ke sebuah server lokal tersembunyi yang ada di dalam area gedung apartemen lo sendiri."
Mendengar ucapan Aris, rasanya seperti ada es batu yang mendadak disiramkan ke punggung gue. Seluruh tubuh gue mendadak kaku. "Di... di dalam gedung apartemen gue?"
"Iya," Aris mengangguk mantap, tatapannya sangat tajam. "Sinyal itu cuma muter di dalam *Local Area Network* atau intranet gedung. Artinya, penerima video ituβsi ba****** yang ngirimin lo pesan-pesan teror ituβmengakses video lo dari komputer atau server yang secara fisik terhubung langsung ke sistem internal gedung."
Gue menutup mulut dengan telapak tangan, menahan pekikan syok yang hampir lolos dari tenggorokan gue. Air mata gue mendadak menggenang karena rasa takut yang luar biasa mulai merayap naik.
"Jadi... pelaku yang selama ini nontonin gue... yang tahu kapan gue tidur, kapan gue ganti baju..." Suara gue gemetar hebat. "Dia ada di dalam gedung itu?"
"Sembilan puluh sembilan persen, iya," jawab Aris tegas. "Dia punya akses fisik langsung ke panel kelistrikan, ruang server utama, atau setidaknya dia tinggal di salah satu unit di gedung itu dan berhasil nge-tap jaringan kabel internal apartemen. Ini bukan kerjaan hacker random dari internet, May. Ini kerjaan orang dalam. Seseorang yang punya akses bebas ke gedung itu."
Gue mencengkeram tepi meja kafe sampai buku-buku jari gue memutih. Pikiran gue langsung melayang ke orang-orang yang sering gue temui di apartemen.
Pak Joko, satpam paruh baya yang selalu tersenyum ramah tapi kadang tatapannya terasa terlalu lama menatap gue?
Atau Mas Rian, staf administrasi di lobi depan yang usianya masih muda dan selalu kelihatan terlalu bersemangat tiap kali gue bayar iuran bulanan?
Atau jangan-jangan... tetangga sebelah unit gue? Cowok pendiam berkacamata tebal yang kamarnya selalu tertutup rapat dan nggak pernah menyapa siapa pun?
"G***... ini g***..." gumam gue dengan napas yang mulai memburu. "Berarti selama ini dia deket banget sama gue, Ris. Gimana kalau pas gue keluar kamar, dia sebenarnya lagi berdiri di lorong? Gimana kalau orang yang sering berpapasan sama gue di lift itu adalah dia?"
"Tenang, May. Tarik napas dulu. Jangan panik," Aris berusaha menenangkan gue, meskipun gue bisa melihat kalau dia sendiri juga kelihatan cemas. "Sisi baiknya, kita sekarang udah mempersempit ruang gerak pelaku. Kita tahu dia ada di sana. Dia nggak sejauh yang kita kira."
"Sisi baiknya?!" suara gue meninggi, membuat sepasang mahasiswa di meja sebelah menoleh. Gue langsung menundukkan kepala, meminta maaf tanpa suara, lalu kembali berbisik ke Aris dengan penuh tekanan. "Sisi baik dari mana, Ris? Gue tinggal satu atap sama monster itu! Gimana kalau malam ini dia mutusin buat nggak cuma nonton gue lewat kamera? Gimana kalau dia beneran datang ke kamar gue pakai kunci duplikat yang dia punya karena dia orang dalam?!"
Pertanyaan gue membuat Aris terdiam. Wajahnya mengeras, menyadari kalau ketakutan gue sangat ma**k akal. Kalau pelakunya adalah orang dalam yang punya akses fisik ke gedung, maka sangat mudah bagi dia untuk mendapatkan kunci cadangan unit apartemen gue.
"May," Aris menatap mata gue lekat-lekat. "Gue nggak bakal biarin hal itu terjadi. Mulai hari ini, lo harus ekstra waspada. Jangan pernah buka pintu buat siapa pun, bahkan buat staf apartemen sekalipun, kecuali lo bener-bener yakin."
"Gue pengen pindah, Ris. Gue pengen pergi dari sana hari ini juga," air mata gue akhirnya luruh membasahi pipi. Gue bener-bener nggak sanggup lagi membayangkan harus tidur di kamar itu nanti malam.
"Jangan sekarang," potong Aris cepat, memegang pergelangan tangan gue dengan lembut untuk menenangkan. "Kalau lo mendadak pindah tanpa alasan yang jelas, si pelaku bakal tahu kalau rencana dia udah kebongkar. Orang kayak gini, kalau merasa terpojok, tindakannya bisa makin nekat dan berbahaya. Kita harus pancing dia sampai dia sendiri yang nunjukin dirinya."
"Caranya gimana?" tanya gue putus asa.
Aris melepaskan tangannya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menatap ke luar jendela kafe, berpikir keras.
"Kita harus cari tahu di mana letak server lokal itu terpasang. Biasanya, gedung apartemen kayak gitu punya ruang kontrol atau ruang panel di setiap beberapa lant**. Gue perlu ma**k ke sana buat nyari perangkat keras tambahan yang dipakai buat nampung data video lo." Aris kembali menatap gue. "Dan buat ngelakuin itu, gue butuh bantuan lo buat mengalihkan perhatian orang-orang gedung."
Gue menelan ludah. Tugas ini rasanya terlalu berat buat gue yang sekarang mentalnya sudah hancur lebur. Tapi di sisi lain, gue tahu gue nggak punya pilihan. Kalau gue cuma diam dan melarikan diri, ba****** itu mungkin bakal terus meneror gue, atau bahkan mencari korban baru di apartemen itu.
"Gue... gue harus ngapain?" tanya gue, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang gue punya.
Aris mencondongkan tubuhnya lagi, membisikkan sebuah rencana yang membuat jantung gue berdegup dua kali lebih cepat. Rencana g*** yang taruhannya adalah keselamatan gue sendiri. Sinyal itu memang mengarah ke dalam, dan kini, kami harus berjalan lurus menuju ke dalam sarang sang monster.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!