Aris langsung meletakkan tas ransel hitamnya yang berat di atas kursi kosong di sebelah gue. Mukanya kelihatan kusut, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Jelas banget kalau dia juga nggak bisa tidur semalaman setelah kejadian kemarin.
"May, lo pesen minum lagi gih. Tapi jangan kopi. Lo kelihatan pucat banget, mending teh anget," kata Aris, suaranya pelan tapi tegas.
"Gue nggak butuh minum, Ris. Gue butuh penjelasan. Lo nemu apa?" desak gue setengah berbisik, memajukan tubuh ke arah meja agar suara gue nggak terdengar oleh pengunjung kafe lain.
Aris menghela napas panjang. Dia menatap gue dengan tatapan serius yang belum pernah gue lihat sebelumnya. "Gue udah ngecek jalur koneksi IP address dari kamera misterius yang ngirim pesan ke lo kemarin. Dan tebakan gue bener. Aliran datanya nggak langsung dikirim ke server internet luar secara acak."
"Terus?"
"Datanya mampir dulu ke sebuah *relay server* lokal. Dan tebak di mana server lokal itu berada?" Aris menjeda kalimatnya, membuat jantung gue makin berdegup kencang. "Di ruang kontrol utama apartemen kita. Di basement."
Gue terbelalak. "Di basement? Maksud lo... orang yang memata-mat** gue itu punya akses langsung ke ruang server apartemen?"
"Kemungkinan besar begitu," Aris mengangguk. "Atau, pelaku sengaja masang alat *transceiver* tambahan di dalam ruang server itu buat nge-bypass jaringan kamera di kamar lo, jadi dia bisa ngakses videonya secara real-time tanpa ketahuan pihak provider internet luar. Buat mastiin itu, gue harus ma**k ke dalam ruang kontrol utama di basement."
"Tapi bukannya itu ruangan terlarang? Pintu basement yang menuju ke sana kan selalu dikunci, Ris. Cuma pengelola yang punya akses," kata gue, mulai merasa cemas. Rencana ini terdengar sangat berisiko. Kalau kita ketahuan, kita bisa dilaporkan ke polisi atas tuduhan penyusupan.
"Makanya, kita butuh taktik," Aris tersenyum tipis, tapi ada gurat ketegangan di wajahnya. "Dan di sini peran lo dimulai. Lo harus jadi umpan buat ngalihin perhatian Pak Danu."
Gue menelan ludah. "Umpan? Caranya gimana?"
"Pak Danu itu orangnya males, tapi dia bakal panik kalau ada masalah fasilitas yang bisa bikin dia diamuk pemilik gedung. Nanti siang, lo temui dia di kantor pengelola. Pura-pura panik. Bilang kalau keran air di kamar mandi lo patah dan airnya meluber ke mana-mana sampai mau ba****. Desak dia buat naik ke lant** empat sekarang juga buat benerin."
"Bentar, emang Pak Danu bakal percaya?" tanya gue ragu.
"Percaya, asal akting lo meyakinkan. Pas dia panik dan buru-buru ke kamar lo, dia pasti bakal ninggalin kantor pengelola dalam keadaan kosong. Di situlah kesempatan gue. Gue bakal menyelinap ma**k ke kantornya, ambil kunci ruang server yang biasanya digantung di balik meja kerja dia, terus langsung turun ke basement."
Gue meremas jemari gue sendiri. Rencana ini kedengaran g***, tapi ini satu-satunya jalan untuk mengetahui siapa ba****** yang sudah merusak hidup gue selama beberapa hari terakhir ini.
"Oke," gue menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian gue. "Gue bakal lakuin. Demi nangkep orang g*** itu."
***
Tepat pukul dua siang, rencana kami dimulai.
Gue berdiri di depan pintu kantor pengelola apartemen dengan jantung yang serasa mau copot. Gue sempat melirik ke arah lorong dekat tangga darurat. Di sana, Aris sudah bersiap dengan jaket denimnya, pura-pura sibuk bermain ponsel sambil menunggu aba-aba.
Gue memejamkan mata sejenak, membayangkan kekacauan luar biasa di kamar mandi gue—meski kenyataannya kamar mandi gue kering kerontang. Setelah siap dengan ekspresi wajah paling histeris yang bisa gue buat, gue langsung mendorong pintu kantor pengelola dengan keras.
*B**k!*
"Pak Danu! Tolong, Pak! Tolongin saya!" teriak gue dengan suara agak melengking, sengaja membuat nada suara gue kedengaran gemetar karena panik.
Pak Danu yang sedang asyik menyeruput kopi sambil menonton video di ponselnya langsung tersentak kaget. Kopinya hampir saja tumpah ke atas meja kerjanya yang berantakan.
"Aduh, Neng Maya! Kamana wae sih, bikin kaget orang tua aja!" gerutu Pak Danu sambil mengusap dadanya. "Ada apa ini ribut-ribut?"
"Pak, kamar mandi saya! Keran airnya patah pas saya mau mandi tadi! Airnya mancur kencang banget, sekarang lant**nya udah hampir keba****an! Saya takut airnya ngerembet ke instalasi listrik bawah lant**, Pak! Tolongin saya sekarang, Pak!" cerocos gue tanpa titik koma, sambil menjambak rambut gue sendiri sedikit biar kelihatan makin frustrasi.
Mendengar kata "listrik" dan "ba****", wajah sant** Pak Danu langsung berubah tegang. Ketakutan terbesar pengelola apartemen murah seperti ini adalah korsleting listrik massal yang bisa memicu kebakaran.
"Waduh! Kok bisa patah toh, Neng? Aduh, ya sudah, ya sudah! Ayo kita ke atas sekarang. Saya ambil kunci inggris dulu!" kata Pak Danu panik, langsung berdiri dari kursinya.
Dia sibuk mencari-cari peralatan di laci bawah, mengabaikan gantungan kunci kuningan yang berada di dinding belakang mejanya—kunci yang menjadi target Aris.
"Cepetan, Pak! Airnya udah mulai keluar ke ruang tengah!" desak gue, sengaja menarik lengan kaos Pak Danu agar dia tidak sempat berpikir panjang atau mengunci pintu kantornya.
"Iya, iya, ini sudah siap! Ayo!"
Gue langsung memimpin jalan, setengah berlari menuju lift. Begitu pintu lift terbuka dan kami ma**k, gue diam-diam merogoh saku jins gue dan mengetik pesan singkat dengan satu tangan tanpa melihat layar.
*To: Aris*
*Go! Dia udah naik sama gue.*
***
Sementara itu, di lant** dasar, Aris langsung bergerak cepat begitu melihat lift yang membawa Maya dan Pak Danu bergerak naik ke lant** empat.
Dengan langkah tenang namun sigap, Aris menyelinap ma**k ke dalam kantor pengelola yang pintunya dibiarkan sedikit terbuka. Matanya langsung tertuju pada deretan kunci yang tergantung di balik meja kerja. Beruntung, ada label kecil di setiap kunci. Matanya menangkap gantungan kunci dengan label bertuliskan *“R. Server & Kontrol Basement”*.
Tanpa membuang waktu, Aris menyambarnya, lalu segera keluar dan berjalan cepat menuju tangga darurat yang mengarah ke basement paling bawah.
Suasana basement apartemen siang itu sangat sepi dan remang-remang. Hanya ada beberapa motor yang terparkir di sudut terjauh, sementara area dekat ruang kontrol tampak lengang. Bau lembap khas beton basah dan deru mesin genset yang samar membuat atmosfer di sana terasa agak mencekam.
Aris tiba di depan sebuah pintu besi tebal berwarna abu-abu dengan plang bertuliskan *“Dilarang Ma**k Selain Petugas”*. Dia mema**kkan kunci yang dicurinya tadi ke dalam lubang kunci.
*Klik.*
Pintu terbuka. Aris segera menyelinap ma**k dan menutup kembali pintu besi itu rapat-rapat dari dalam.
Suhu di dalam ruangan itu terasa sangat dingin karena AC sentral yang menyala nonstop untuk menjaga suhu mesin. Di hadapan Aris, berdiri tiga rak server besar yang dipenuhi kabel-kabel berwarna-warni yang saling bersilangan, dengan lampu-lampu LED kecil berwarna hijau dan biru yang berkedip-kedip ritmis. Suara dengung kipas server memenuhi ruangan yang sunyi itu.
Aris meletakkan tas ranselnya di lant**, mengeluarkan laptop, kabel LAN, dan beberapa alat deteksi jaringan. Dia melangkah ke arah rak server utama yang mengontrol jaringan internet untuk koridor timur lant** empat—wilayah tempat unit kamar Maya berada.
"Oke, mari kita lihat siapa yang bermain-main di sini," gumam Aris pada dirinya sendiri.
Dia mulai meneliti barisan kabel ethernet yang menancap pada switch hub besar di depannya. Matanya yang jeli langsung menangkap sesuatu yang tidak biasa. Di bagian belakang rak, agak tersembunyi di balik gulungan kabel utama, ada sebuah router mikro tambahan berwarna hitam yang tidak memiliki label resmi dari pengelola. Ada sepasang kabel kecil yang terhubung langsung ke jalur splitter kabel koaksial untuk unit 402.
"Ketemu lo, ba******," bisik Aris dengan senyum kemenangan tipis di wajahnya.
Aris segera mencolokkan kabel LAN dari laptopnya ke router mikro misterius tersebut. Jarinya menari dengan cepat di atas keyboard, menjalankan program pemindaian IP dan dekripsi data untuk melacak ke mana arah pengiriman data dari kamera tersembunyi di kamar Maya.
Persentase proses *tracing* di layar laptopnya mulai berjalan.
*15%... 32%... 50%...*
Keringat dingin mulai menetes di pelipis Aris, meskipun ruangan itu sangat dingin. Jantungnya berdegup kencang. Sedikit lagi, dia akan tahu siapa dalang di balik semua teror ini.
Tiba-tiba...
*Kreeek...*
Suara pintu besi tebal di belakangnya berderit perlahan, terbuka dari luar.
Aris membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, dia menutup layar laptopnya setengah jalan agar cahayanya tidak terlalu mencolok, lalu mencoba menyembunyikan laptop itu di balik badannya, bersandar pada rak server.
Langkah kaki terdengar mendekat. Suara sol sepatu yang beradu dengan lant** semen basement terdengar sangat jelas di dalam ruangan yang sunyi itu.
*Tap... tap... tap...*
Aris menahan napas. Dia bersiap untuk skenario terburuk—mungkin Pak Danu sudah kembali lebih cepat dari dugaannya karena curiga. Dia harus memikirkan alasan yang ma**k akal sekarang juga.
Namun, begitu sosok itu muncul dari balik bayang-bayang rak server pertama, mata Aris melebar karena terkejut.
Itu bukan Pak Danu.
"Lagi ngapain lo di sini?"
Suara berat dan dingin itu memecah kesunyian. Elian berdiri di sana, dengan kedua tangan dima**kkan ke dalam saku jaket *hoodie* hitamnya yang longgar. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci sosok Aris yang berdiri kaku di depan rak server.
Aris berusaha keras untuk mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak kelihatan panik. Dia memaksakan senyum tipis, mencoba bersikap sesant** mungkin layaknya anak muda seumurannya.
"Eh, Elian ya? Kamar 405 kan?" tanya Aris, mencoba mencairkan suasana dengan nada gaul yang sant**. "Gue Aris, temennya Maya. Gue lagi... anu, benerin jalur Wi-Fi kamar Maya dari bawah sini."
Elian tidak membalas senyuman Aris. Dia malah berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi terasa sangat mengintimidasi. Matanya beralih menatap kabel LAN yang menjunt** dari tangan Aris, lalu turun ke arah tas ransel hitam yang terbuka di lant**, menampilkan beberapa peralatan elektronik.
"Setahu gue, teknisi luar nggak boleh ma**k ke ruang server ini sendirian," kata Elian, suaranya datar tanpa emosi, tapi ada nada menuduh yang sangat jelas. "Apalagi megang-megang server utama gedung. Lo dapet kunci dari mana?"
Aris menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Otaknya berputar cepat mencari alasan logis. "Oh, ini. Tadi gue udah izin sama Pak Danu di depan. Karena dia lagi sibuk benerin keran bocor di atas, dia males turun ke basement. Jadi dia pinjemin kuncinya ke gue biar cepet. Soalnya koneksi internet di kamar Maya bener-bener mati total."
Elian berhenti tepat tiga langkah di depan Aris. Jarak yang sangat dekat membuat suasana terasa makin mencekam. Elian sedikit memiringkan kepalanya, matanya menyipit menatap laptop Aris yang masih menyala samar di balik punggung cowok itu.
"Beneran Pak Danu yang ngasih?" tanya Elian lagi, kali ini dengan nada yang terdengar sangat skeptis. Dia maju selangkah lagi, membuat Aris refleks mundur hingga punggungnya membentur rak server yang bergetar pelan.
"Iya, serius. Kalau nggak percaya, lo bisa tanya langsung ke Pak Danu nanti," jawab Aris, mencoba mempertahankan nada suaranya agar tidak bergetar. Tangannya di belakang punggung diam-diam meraba keyboard laptop, mencoba menekan tombol pintas untuk menyelamatkan data pelacakan yang tadi sempat berjalan.
Elian melirik ke arah router mikro hitam yang tersembunyi di balik kabel utama, lalu kembali menatap mata Aris dengan tatapan dingin yang sulit dibaca.
"Gue rasa lo lagi bohong," bisik Elian pelan, namun terdengar sangat mengancam di telinga Aris. "Dan gue rasa... lo punya tujuan lain di ruangan ini."
Suasana di dalam ruang server yang dingin itu mendadak terasa luar biasa panas dan menyesakkan. Aris tahu, penyamarannya berada di ujung tanduk, dan satu gerakan salah saja bisa menghancurkan semuanya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!