Jantung gue rasanya hampir copot waktu menunggu di sudut kafe dekat apartemen. Sudah hampir satu jam sejak gue menjalankan rencana untuk mengalihkan perhatian Pak Danu. Akting gue tadi bener-bener totalitas—pura-pura panik, nangis bombay bilang keran kamar mandi patah dan airnya sudah ba**** sampai ke koridor lant** empat. Pak Danu yang panik langsung lari pontang-panting ke atas.
Tapi masalahnya, Aris nggak ada kabar sama sekali. Gue berkali-kali ngecek HP, tapi room chat kami berdua masih sepi. Nggak ada tanda-tanda kalau dia sudah berhasil keluar dari ruang kontrol basement.
"Aris, lo di mana sih? Jangan bikin gue g*** dong," gumam gue panik, menggigit kuku jempol gue dengan cemas.
Tiba-tiba, pintu kaca kafe terbuka dengan keras. Gue langsung menoleh dan napas gue tertahan. Aris ma**k dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi, dan bajunya agak kotor terkena debu. Tapi yang bikin gue bener-bener syok, dia nggak sendiri.
Di belakangnya, ada Elian.
Iya, Elian. Cowok misterius dari kamar 305 yang selama ini selalu menatap gue dengan pandangan aneh dan dingin. Cowok yang selama ini gue curigai sebagai pelaku yang menaruh kamera tersembunyi di kamar gue. Elian tampak memegangi lengan Aris, setengah memapahnya ma**k ke dalam kafe.
Gue langsung berdiri dari kursi, hampir saja menyenggol cangkir teh yang sudah dingin di meja. "Aris! Lo nggak apa-apa? Terus... kenapa lo bisa bareng dia?!" tanya gue setengah berteriak, menunjuk Elian dengan jari gemetar.
"May, tenang dulu. Jangan berisik," bisik Aris, suaranya serak. Dia langsung duduk di kursi sebelah gue, sementara Elian duduk di hadapan kami dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.
"Gimana gue bisa tenang, Ris? Kita kan curiga kalau dia yang—"
"Bukan dia, May," potong Aris cepat. Dia menatap gue dengan serius. "Gue hampir ketangkep tadi di basement. Pak Danu ternyata nggak sendirian, dia turun ke basement bareng satu orang berbadan gede yang kayaknya petugas keamanan sewaan. Gue udah kepojok di sudut ruang server, nggak bisa keluar karena pintunya dikunci dari luar. Kalau bukan karena Elian yang tiba-tiba muncul dan buka pintu darurat lewat jalur ventilator, gue pasti udah dideportasi ke kantor polisi sekarang."
Gue tertegun. Pandangan gue perlahan beralih ke Elian. Cowok itu memakai jaket hoodie hitam polos, rambutnya yang agak gondrong berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya kelihatan jelas banget. Dia nggak kelihatan kayak psikopat mesum. Dia justru kelihatan... capek. Sangat capek.
"Lo... nyelametin Aris?" tanya gue ragu.
Elian menghela napas panjang. Dia melipat tangannya di atas meja dan menatap gue langsung ke manik mata. "Gue tahu lo berdua curiga sama gue. Sikap gue selama ini emang mencurigakan, dan gue minta maaf buat itu. Tapi gue punya alasan sendiri kenapa gue terus-terusan merhatiin lo sejak lo pertama kali pindah ke kamar 403, Maya."
"Alasan apa?" desak gue, jantung gue kembali berdegup kencang.
Elian terdiam sesaat. Matanya mendadak berubah sayu, ada kilatan luka dan kemarahan yang mendalam di sana. "Setahun yang lalu, adik perempuan gue tinggal di kamar yang sekarang lo tempati."
Gue dan Aris saling berpandangan.
"Namanya Tasya," lanjut Elian, suaranya agak bergetar namun dia berusaha keras menahannya. "Dia kuliah di kampus yang sama kayak kita. Anaknya ceria, pinter, dan selalu positive thinking. Tapi setelah beberapa bulan tinggal di kamar 403, dia berubah total. Dia jadi paranoid. Dia sering nangis, histeris, dan bilang kalau ada yang selalu ngawasin dia di kamar mandi dan tempat tidur. Waktu itu, gue dan orang tua gue mikir dia cuma depresi karena tekanan kuliah."
Elian mengepalkan tangannya di atas meja sampai buku-buku jarinya memutih. "Kami salah. Kami telat menyadari kalau ketakutan Tasya itu nyata. Suatu hari, Tasya dapet kiriman link dari nomor nggak dikenal. Pas dia buka... isinya adalah video-video pribadi dia di dalam kamarnya sendiri. Dari saat dia ganti baju, tidur, sampai mandi. Semuanya direkam dengan sangat jelas dari sudut-sudut tersembunyi."
Napas gue tercekat. Rasanya seperti ada batu besar yang menghantam dada gue. Apa yang dialami adik Elian adalah mimpi buruk yang sekarang sedang gue jalani.
"Tasya nggak kuat," suara Elian melemah, nyaris berbisik. "Dia ngelakuin percobaan bunuh diri dua kali. Untungnya dia selamat, tapi jiwanya udah hancur. Sekarang dia dirawat di fasilitas rehabilitasi kejiwaan di luar kota. Dia bahkan nggak bisa ngelihat kamera HP tanpa histeris."
Gue menutup mulut dengan kedua tangan. Air mata gue mulai mengalir tanpa bisa ditahan. "Ya Tuhan... jadi selama ini..."
"Gue hancur melihat adek gue kayak gitu," kata Elian, matanya kini memerah. "Polisi nggak bisa berbuat banyak karena pelaku pinter banget ngehapus jejak digital mereka. Akhirnya, gue memutuskan buat bertindak sendiri. Gue sewa kamar 305 dengan nama samaran, dan gue mulai menyelidiki apartemen ini dari dalam. Gue sengaja bersikap dingin dan mengawasi setiap penghuni baru kamar 403—yaitu lo, Maya—karena gue takut pelaku bakal ngelakuin hal yang sama ke lo. Dan ternyata dugaan gue bener."
Aris menepuk bahu gue, mencoba menenangkan gue yang mulai gemetar. "May, pas gue di ruang server tadi, Elian nunjukin sesuatu ke gue lewat laptopnya. Dan apa yang dia temuin... jauh lebih mengerikan dari yang kita bayangkan."
"Maksudnya gimana?" tanya gue, menghapus air mata dengan kasar.
Elian mengeluarkan sebuah laptop tipis dari dalam tas ranselnya yang diletakkan di bawah kursi. Dia membuka layar laptop itu, mengetik beberapa baris perintah dengan cepat, lalu memutarnya ke arah kami.
Di layarnya, ada sebuah browser dengan logo bawang—Tor Browser, yang biasa digunakan untuk mengakses *dark web*. Di sana terpampang sebuah situs web dengan desain gelap dan minimalis, namun sangat profesional. Di bagian atas situs itu tertulis nama: **"PrivateSpace.io"**.
"Ini bukan cuma kerjaan satu orang psikopat yang iseng pengen ngintip," kata Elian dingin. "Ini adalah konspirasi kamar gelap. Apartemen ini, terutama kamar-kamar tertentu terma**k kamar lo, udah dimodifikasi jadi ladang duit buat sindikat ilegal."
Gue mendekat ke layar laptop. Di sana ada beberapa kategori video. Dan jantung gue rasanya berhenti berdetak saat melihat salah satu thumbnail video yang sedang aktif.
Itu adalah sudut kamar tidur gue.
Ada tulisan di bawahnya: **[LIVE] Room 403 - New College Girl (1080p)**.
"Mereka nge-live stream aktivitas lo secara real-time, Maya," jelas Elian, nadanya terdengar sangat murka. "Situs ini ada di dark web. Dan untuk bisa nonton live stream kamar lo, penonton harus bayar tarif premium pake cryptocurrency—Bitcoin atau Monero. Tarifnya sekitar 0.05 BTC per jam. Kalau dirupiahkan, itu nilainya belasan juta rupiah per penonton untuk sekali streaming."
"G***... ini bener-bener sakit!" maki Aris, wajahnya memerah padam menahan amarah. "Mereka ngejual privasi orang kayak komoditas dagangan!"
Gue menatap layar itu dengan rasa jijik dan ngeri yang luar biasa. Di sebelah kanan layar streaming kamar gue, ada kolom chat yang terus berjalan dengan sangat cepat. Orang-orang dari berbagai belahan dunia mengetik komentar-komentar kotor dan menjijikkan tentang gue dalam bahasa Inggris. Mereka tahu kapan gue pulang kuliah, kapan gue tidur, bahkan mereka menebak-nebak kapan gue akan ma**k ke kamar mandi.
*“She’s home. Hope she takes a shower soon.”*
*“The angle is perfect. Kudos to the uploader.”*
*“Is there a schedule for tonight?”*
Gue merasa bener-bener te*******. Rasanya seperti ada ribuan pasang mata tak terlihat yang sedang meraba-raba tubuh gue sekarang juga. Tubuh gue gemetar hebat, dan gue merasa mual sampai ingin muntah.
"May, lo nggak apa-apa?" Aris langsung merangkul pundak gue, mencoba memberikan rasa aman yang sebenarnya nggak berguna banyak saat ini.
"Gue... gue pengen pergi dari sini, Ris. Gue nggak mau balik ke apartemen itu lagi," tangis gue pecah. "Gue jijik... gue takut..."
Elian menutup layar laptopnya dengan pelan, memutus pandangan gue dari layar terkutuk itu. "Gue paham perasaan lo, Maya. Tasya juga hancur karena ini. Tapi kalau lo cuma lari sekarang, mereka bakal ganti target ke korban berikutnya. Dan ba******-ba****** yang dapet duit dari penderitaan lo bakal tetep bebas berkeliaran."
"Tapi kita harus gimana, El?" tanya Aris frustrasi. "Kita lapor polisi sekarang? Kita punya bukti situs ini kan?"
Elian menggelengkan kepala. "Nggak segampang itu. Pelaku utamanya sangat rapi. Server lokal yang ada di basement itu cuma alat relay. Begitu ada polisi yang dateng ke apartemen ini, operator situs ini bakal langsung dapet peringatan dan mereka bisa nge-wipe semua data dalam hitungan detik secara remote. Kita bakal kehilangan bukti utama, dan mereka bisa dengan mudah mengelak."
"Terus siapa pelaku di balik semua ini? Pak Danu?" tanya gue dengan suara serak.
"Pak Danu cuma pion," jawab Elian yakin. "Dia yang dapet tugas buat masang kamera-kamera itu pas kamar dalam keadaan kosong atau pura-pura ada perbaikan fasilitas. Dia juga yang mastiin server di basement tetep jalan. Tapi dia nggak punya kemampuan IT buat bikin sistem enkripsi sekompleks ini di dark web. Ada otak yang lebih besar di belakangnya. Seseorang yang punya modal dan akses penuh ke seluruh jaringan apartemen ini."
Aris mengerutkan kening. "Siapa?"
Elian menatap kami berdua secara bergantian. "Pemilik gedung apartemen ini. Dan gue butuh bantuan kalian berdua buat memancing dia keluar."
Suasana di kafe itu mendadak hening. Konspirasi ini ternyata jauh lebih besar dan lebih gelap dari yang pernah kami bayangkan. Kami bukan cuma berhadapan dengan pengintip murahan, melainkan sebuah sindikat kriminal terorganisir yang memanfaatkan dinding-dinding tempat tinggal kami untuk meraup keuntungan miliaran rupiah di atas penderitaan para korbannya.
Gue mengepalkan tangan, mencoba mengusir rasa takut yang sempat melumpuhkan akal sehat gue. Rasa sedih gue perlahan-lahan berubah menjadi kemarahan yang membakar. Gue nggak mau berakhir tragis seperti Tasya. Gue harus melawan.
"Oke," kata gue, menatap Elian dan Aris dengan tatapan tajam yang baru pertama kali gue miliki. "Kasih tahu gue, apa rencana kita selanjutnya?"
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!