Kamar Elian ternyata jauh dari kesan seram yang selama ini gue bayangkan. Alih-alih gelap dan berantakan mirip sarang psikopat, kamar nomor 305 ini justru kelihatan rapi, meskipun dipenuhi dengan perangkat elektronik. Ada meja panjang dengan tiga monitor besar yang menyala, tumpukan hard disk eksternal, beberapa cangkir kopi kosong yang berjejer rapi, dan aroma kopi hitam yang menguar kuat di udara.
Setelah penjelasan singkat Elian di kafe tadiβtentang adiknya, Rena, yang juga menjadi korban kamera tersembunyi di kamar 403 sebelum gue menempatinyaβkecurigaan gue ke cowok ber-hoodie hitam ini langsung luntur. Sekarang, fokus kami bertiga cuma satu: membongkar siapa ba****** di balik semua ini.
"Gue masih nggak percaya lo bisa dapet semua file ini, Ris," kata Elian sambil menggeser kursi kerja beroda miliknya, memberi ruang buat Aris yang langsung duduk di depan monitor utama.
Aris menyeringai bangga, meskipun mukanya masih kelihatan agak pucat karena sisa-sisa kepanikan dikejar Pak Danu tadi. "Gini-gini gue mantan ketua klub IT pas SMA, El. Gak sia-sia gue begadang tiap malam demi nge-hack Wi-Fi tetangga dulu."
Gue berdiri di belakang mereka berdua, meremas ujung kaus gue dengan cemas. Jantung gue masih berdegup kencang. Rasanya campur aduk antara takut, marah, dan penasaran setengah mati. "Terus sekarang kita harus mulai dari mana? Data yang lo salin itu banyak banget kan?"
"Tenang, May. Tarik napas dulu," kata Aris lembut. Dia mencolokkan hard disk eksternal merah miliknya ke port USB PC Elian. "Gue berhasil kloning seluruh direktori server fisik yang ada di basement. Pak Danu emang gaptek, dia cuma pakai sistem keamanan standar yang gampang ditembus sekali klik. Nah, sekarang kita tinggal bedah isi folder terenskripsinya."
Jari-jari Aris mulai menari dengan cepat di atas keyboard. Layar monitor di depan kami langsung dipenuhi baris-baris kode berwarna hijau dan putih yang berjalan cepat. Gue sama sekali nggak paham bahasa pemrograman, tapi melihat keseriusan di wajah Aris dan Elian, gue tahu mereka sedang menuju ke sesuatu yang besar.
"Gue nemu jalur koneksi keluar," gumam Elian tiba-tiba. Dia menunjuk ke salah satu baris kode di layar sebelah kiri. "Lihat ini, Ris. Server lokal di apartemen ini konstan ngirim data *live streaming* ke satu alamat IP statis eksternal. Dan enkripsinya beda dari yang lain."
"Bentar, gue cek MAC address perangkat utamanya," sahut Aris. Dia mengetikkan beberapa perintah baru. "MAC address itu kayak sidik jari digital unik dari setiap perangkat. Kalau kita dapet ini, kita bisa tahu jenis perangkat apa yang nerima video dari kamar lo, May."
Gue menahan napas. Suasana kamar mendadak jadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara ketikan keyboard Aris yang terdengar seperti detak bom waktu.
*Enter.*
Sebuah jendela pop-up baru terbuka di layar. Di sana tertera deretan angka dan huruf MAC address, lengkap dengan det**l log aktivitasnya.
"Perangkat penerima utamanya adalah Macbook Pro," baca Elian dengan mata menyipit. "Dan dia login sebagai administrator utama dari situs streaming privat dengan nama domain... *WatchHer403.com*."
Mendengar nama domain itu, perut gue langsung mual. *WatchHer403*. Tonton Dia di kamar 403. Mereka bener-bener menjadikan hidup gue, privasi gue, sebagai tontonan murahan untuk orang-orang sakit jiwa di luar sana.
"Ba******," umpat gue lirih. Air mata gue mulai menggenang di pelupuk mata, tapi gue sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh. Gue nggak mau kelihatan lemah sekarang.
"Gue coba bypass halaman login adminnya," kata Aris, wajahnya berubah sangat serius. "Karena ini situs premium, adminnya pasti pakai layanan hosting berbayar atau seenggaknya mendaftarkan nama domainnya pakai identitas asli. Kebanyakan penjahat amatir kayak gini sering teledor di bagian billing pembayaran."
"Bisa lo lacak data pembayarannya, Ris?" tanya Elian.
"Kasih gue waktu dua menit." Aris kembali fokus. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Dia membuka sebuah aplikasi dekripsi, mema**kkan beberapa baris perintah rumit, lalu menunggu proses *loading* yang berjalan lambat.
90%... 95%... 100%.
*Click.*
Layar monitor langsung menampilkan sebuah database pengguna. Di baris paling atas, di kolom bertuliskan 'Super Admin / Owner', tertera sebuah nama lengkap beserta alamat email dan det**l kartu kredit yang digunakan untuk pembayaran server bulanan.
Gue melangkah maju, mendekatkan wajah gue ke monitor untuk membaca nama yang tertera di sana. Begitu mata gue menangkap deretan huruf tersebut, seluruh tubuh gue mendadak kaku. Napas gue tercekat di tenggorokan, seolah-olah oksigen di sekitar gue mendadak hilang.
"Nggak... Nggak mungkin..." bisik gue lirih. Suara gue bergetar hebat.
Aris menoleh ke arah gue dengan kening berkerut. "Kenapa, May? Lo kenal nama ini?"
Gue menutup mulut gue dengan kedua tangan. Air mata yang sejak tadi gue tahan akhirnya luruh juga, membasahi pipi gue. Nama yang tertera di layar itu... nama yang sangat akrab di telinga gue selama dua tahun terakhir sebelum gue memutuskan untuk pindah ke apartemen ini demi menjauh darinya.
**Rian Aditya.**
"Rian..." kata gue dengan suara nyaris habis. "Itu... itu mantan pacar gue."
"Mantan lo?!" Aris setengah berteriak, matanya membelalak kaget. "Mantan lo yang posesifnya setengah mati itu, May? Yang waktu itu lo cerit**n sampai nekat neror lo pasca-putus?"
Gue cuma bisa mengangguk lemah. Lutut gue rasanya lemas banget, sampai-selangkah lagi mungkin gue bakal ambruk ke lant** kalau Elian nggak dengan sigap menarik kursi lain dan menuntun gue untuk duduk.
"G***... ini bener-bener g***," gumam Aris sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Jadi selama ini, yang naruh kamera di kamar lo... yang ngintipin lo tiap hari... itu mantan lo sendiri?"
"Tapi gimana caranya?" Elian menyela, suaranya terdengar dingin namun penuh analisis. "Dia kan gak tinggal di apartemen ini. Akses ke kamar 403 itu terbatas. Pak Danu yang megang kunci cadangan dan punya kontrol penuh atas gedung ini. Nggak mungkin mantan lo bisa mondar-mandir masang kamera tersembunyi tanpa ketahuan."
Aris langsung kembali mengotak-atik database. "Bentar, gue cari tahu hubungan mereka. Pasti ada jejak digital komunikasi di antara mereka di server ini."
Dengan cepat, Aris membuka folder log aktivitas server fisik. Di sana, ada sebuah folder tersembunyi berlabel *'Danu_Comm'*. Begitu folder itu dibuka, isinya adalah salinan obrolan terenkripsi via aplikasi pesan instan dan log transaksi transfer bank.
Aris membuka salah satu file log chat tertanggal sebulan yang laluβtepat sebelum gue resmi pindah ke apartemen ini.
*Rian: "Kamera di kamar mandi pastikan sudutnya pas, Dan. Jangan sampai ketutupan botol sampo atau handuk. Gue mau semuanya kelihatan jelas."*
*Pak Danu: "Aman, Mas Rian. Sudah saya atur posisinya di sela-sela exhaust fan. Server fisik di basement juga sudah saya rapihin kabelnya biar nggak mencurigakan kalau ada orang lewat."*
*Rian: "Bagus. Duit bulanan udah gue transfer. Sepuluh juta rupiah buat komisi lo bulan ini. Jaga servernya tetap online 24 jam. Kalau sampai mati atau Maya curiga, komisi lo gue potong setengah."*
*Pak Danu: "Siap, Mas. Tenang saja, si Maya itu anaknya kelihatan polos dan gampang ditipu. Dia nggak bakal sadar. Terima kasih banyak komisinya, Mas Rian."*
Membaca obrolan laknat itu, dada gue rasanya sesak luar biasa, seperti dihantam batu besar. Rasa mual yang teramat sangat membuat gue harus memegangi perut. Rian... cowok yang dulu pernah gue sayang, cowok yang berjanji bakal selalu melindungi gue, ternyata adalah dalang di balik semua mimpi buruk ini.
Dia sengaja menyewa Pak Danu, memanfaatkan keserakahan bapak-bapak tua itu dengan iming-iming komisi besar, hanya demi memuaskan obsesi g***nya untuk terus mengontrol hidup gue. Dia sengaja membiarkan gue pindah ke apartemen ini, pura-pura melepaskan gue, padahal sebenarnya dia cuma memindahkan gue ke dalam 'kebun binatang' pribadinya, di mana dia bisa menonton setiap gerak-gerik gue secara virtual kapan saja dia mau.
"Gue bener-bener gak habis pikir," kata Aris dengan nada marah yang tertahan. Tangannya mengepal kuat di atas meja. "Pak Danu tua bangka si****! Demi duit sepuluh juta sebulan, dia tega ngejual privasi orang lain kayak gini!"
Elian berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan ekspresi datar yang menyembunyikan kemarahan besar. "Obsesi virtual. Mantan lo itu sakit jiwa, May. Dia nggak bisa memiliki lo di dunia nyata, jadi dia menciptakan dunia di mana dia merasa punya kontrol penuh atas hidup lo tanpa lo sadari. Ini manipulasi tingkat paling menjijikkan."
Gue menangis dalam diam, menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangan. Mengingat bagaimana selama sebulan ini gue merasa aman di kamar itu, mandi, berpakaian, bahkan menangis sendirian saat merasa lelah... ternyata semuanya ditonton oleh Rian. Bayangan wajah Rian yang tersenyum sinis di balik layar monitornya membuat gue merinding ketakutan sekaligus sangat murka.
"May," Elian berjalan mendekat, lalu berlutut di samping kursi gue. Dia menyodorkan selembar tisu dengan tatapan mata yang kini melembut, penuh simpati. "Gue tahu ini berat banget buat lo. Tapi lo harus dengerin gue. Sekarang kita punya kartu as-nya."
Gue mendongak, menatap Elian dengan mata sembap. "Maksud lo?"
"Kita punya data ini semua," sahut Aris cepat, menunjukkan flashdisk di tangannya. "Kita punya bukti transfer bank dari rekening Rian ke Pak Danu. Kita punya rekaman chat mereka, MAC address perangkat Rian, lengkap dengan log aktivitasnya. Ini lebih dari c**up buat bikin mereka berdua membusuk di penjara."
Gue menghapus air mata gue dengan kasar menggunakan tisu dari Elian. Rasa sedih dan hancur di dalam diri gue perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa amarah yang membakar. Gue udah c**up lama jadi korban yang ketakutan. Gue udah c**up lama lari dari bayang-bayang Rian.
Gue nggak akan lari lagi kali ini.
"Aris," kata gue, suara gue kini terdengar jauh lebih mantap dan dingin dari sebelumnya. "Salin semua data itu ke flashdisk lain buat cadangan. Jangan sampai ada satu dokumen pun yang kelewat."
"Udah gue siapin tiga salinan cadangan, May. Aman," jawab Aris dengan senyum tipis yang penuh tekad.
Gue menoleh ke arah Elian. "El, lo mau kan bantuin gue buat selesaikan ini semua sampai akhir? Demi adik lo juga."
Elian berdiri tegak, lalu mengangguk pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terlihat sangat tegas. "Pasti. Lagipula, gue udah nunggu momen ini selama setahun penuh. Malam ini, permainan mereka selesai."
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!