**Bab 14: Jebakan Terakhir yang Retak**
"Macbook Pro," ulang Elian dengan suara tertahan, matanya masih menatap lekat-lekat baris spesifikasi perangkat yang muncul di layar monitornya. "Dan tebak punya siapa? Gue inget banget, minggu lalu pas router di koridor lant** empat rusak, Rian datang bawa laptop itu. Ada stiker logo band indie fiksi di sudut kanannya. Nama perangkat di log ini... *Rian-MBP*."
Aris langsung menggeb**k meja kerja Elian pelan, wajahnya yang tadi pucat kini berubah jadi merah padam karena emosi. "Ba******. Jadi dugaan kita bener. Pak Danu itu cuma tameng atau malah donatur kasarnya, tapi otak di balik semua sistem kamera tersembunyi ini adalah si Rian. Anak magang sok polos yang kalau ketemu gue selalu nunduk-nunduk gak berani natap mata."
Gue memegangi kepala gue yang mendadak terasa pening luar biasa. Kenyataan ini rasanya terlalu berat buat diterima sekaligus. Selama ini gue tinggal di kamar 403, mandi, ganti baju, tidur, bahkan nangis sendirian, sementara ada dua pasang mata psikopat yang menonton setiap gerak-gerik gue lewat layar Macbook itu. Rasanya menjijikkan. Gue pengen muntah saat itu juga.
"May, lo gak apa-apa?" Aris langsung berdiri, memegang pundak gue dengan cemas.
Gue menggeleng cepat, mencoba mengusir rasa mual di dada. "Gue gak apa-apa. Tapi kita gak bisa diem aja, kan? Kita harus lapor polisi sekarang. Semua bukti udah di tangan kita!"
"Gak bisa secepat itu, May," potong Elian. Dia memutar kursi rodanya menghadap gue. Wajahnya kelihatan sangat serius. "Kalau kita lapor polisi sekarang cuma pakai log data ini, pengacara mereka bisa dengan gampang nyari celah. Mereka bisa bilang servernya di-hack orang lain, atau IP address-nya dimanipulasi. Kita butuh bukti yang gak terbantahkan. Bukti rekaman langsung di mana mereka ngaku."
"Maksud lo?" tanya gue bingung.
Aris tersenyum tipis, sebuah senyuman taktis yang biasanya dia pakai kalau lagi ngerencanain taktik main game online. "Kita bikin jebakan. Jebakan terakhir buat mereka berdua."
***
Rencana itu akhirnya tersusun rapi dalam waktu setengah jam. Sederhana, tapi berisiko tinggi.
Gue bakal balik ke kamar 403 dan berpura-pura sakit parah. Gue bakal kirim pesan singkat ke Pak Danu, bilang kalau gue gak sengaja minum obat dosis ganda dan sekarang gak bisa bangun dari ka**r buat buka pintu. Pak Danu, sebagai pemilik apartemen yang punya kunci cadangan dan paling panik kalau ada korban mati di propertinya, pasti bakal langsung lari ke kamar gue menggunakan kunci master-nya.
Di saat yang sama, Aris udah masang kamera saku nirkabel berukuran mikro yang dia sembunyiin di sela-sela kelopak bunga plastik di atas meja belajar gue. Kamera itu bakal menyiarkan langsung gambar dan suara ke ponsel Aris dan komputer Elian di kamar 305.
"Begitu Pak Danu ma**k dan mulai panik atau keceplosan ngomongin soal kamera atau rahasia apartemen ini, kita langsung rekam semuanya," jelas Aris sambil menempelkan kamera mikro itu dengan double-tape tipis. "Gue sama Elian bakal standby di tangga darurat lant** empat. Begitu dapet omongan yang c**up buat konsumsi polisi, kita berdua langsung dob**k ma**k."
"Tapi gimana kalau dia macem-macem ke gue sebelum kalian dateng?" tanya gue, meremas ujung selimut dengan gugup. Kamar 403 sekarang rasanya kayak peti mati yang siap ditutup.
Elian menggenggam tangan gue erat. Ini pertama kalinya dia menyentuh gue sehangat ini. "Gue gak bakal biarin seujung kuku lo pun terluka, May. Begitu ada tanda-tanda bahaya, kita langsung dob**k. Gue janji."
Gue menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang gue punya. "Oke. Ayo kita mulai."
***
Pukul sebelas malam. Lorong apartemen sunyi senyap, hanya menyisakan dengung AC sentral yang terdengar monoton.
Gue berbaring di atas ka**r dengan posisi menyamping, menghadap langsung ke arah pintu ma**k. Wajah gue sengaja gue poles pakai bedak tabur putih tipis-tipis biar kelihatan agak pucat. Ponsel di tangan gue bergetar pelan saat gue mengetik pesan WhatsApp ke nomor Pak Danu.
*Pesan terkirim:*
*“Pak Danu... tolong saya... saya salah minum obat dosisnya kebanyakan... kepala saya pusing banget dan kaki saya gak bisa digerakin... tolong buka kamar saya pakai kunci cadangan, Pak... saya gak bisa jalan ke pintu...”*
Gue langsung mematikan layar ponsel dan meletakkannya di lant**, seolah-olah ponsel itu jatuh dari genggaman gue karena lemas.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit.
Jantung gue berdegup kencang banget sampai rasanya mau melompat keluar dari dada. Kamar ini terasa begitu sunyi, sampai gue bisa mendengar detak jam dinding di sudut ruangan terdengar seperti bom waktu yang terus berhitung mundur. *Tiktok. Tiktok.*
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki terburu-buru dari arah koridor. Langkahnya berat dan cepat.
Gue langsung memejamkan mata setengah rapat, menyisakan sedikit celah untuk melihat ke arah pintu. Napas gue atur seolah-olah gue lagi megap-megap menahan sakit.
*BEEP.*
Suara pemindai kartu magnetik di gagang pintu berbunyi. Jantung gue serasa berhenti berdetak saat melihat knop pintu perlahan berputar ke bawah.
*Cklek.*
Pintu terbuka lebar. Seseorang melangkah ma**k dengan cepat. Namun, begitu bayangan tubuhnya jatuh di atas lant** kamar gue, darah gue langsung terasa membeku.
Itu bukan Pak Danu.
Tinggi badannya jauh lebih kurus, langkahnya lebih ringan tapi penuh energi kemarahan yang meluap-luap. Dia mengenakan jaket hoodie abu-abu gelap dengan tudung yang ditarik ke atas, tapi gue bisa melihat dengan jelas wajahnya yang pucat di bawah temaram lampu tidur gue.
Rian.
Dan yang membuat seluruh bulu kuduk gue merinding berdiri adalah apa yang ada di tangan kanannya. Sebuah pisau cutter besar dengan bilah baja yang sengaja ditarik keluar penuh. Cahaya lampu kamar memantul di permukaan besi yang berkilau tajam itu.
"Lo pikir lo pinter, hah?!" suara Rian terdengar bergetar, parau, dan sama sekali gak mirip dengan suaranya yang biasanya sopan dan pemalu. Dia langsung menendang pintu hingga tertutup rapat dan menguncinya dari dalam.
Gue langsung terduduk di ka**r, kepanikan total menguasai diri gue. Akting sakit gue hancur seketika. "R-Rian? Ngapain lo di sini?! Mana Pak Danu?!"
Rian tertawa. Suara tawanya terdengar sumbang dan mengerikan, menggema di ruangan yang sempit ini. Dia melangkah mendekati ka**r gue, memutar-mutar cutter di tangannya dengan sant**.
"Pak Danu? Orang tua b*** itu lagi sibuk mabok di pos bawah setelah gue kasih minuman yang udah gue campur obat tidur," kata Rian, matanya melotot lebar, menatap gue dengan pandangan penuh kebencian sekaligus keg***an. "Dia pikir dia yang berkuasa di sini cuma karena dia yang punya sertifikat tanah? B***. Dia gak tahu apa-apa soal teknologi. Gue yang bangun semua sistem ini! Gue yang bikin 'pertunjukan' di apartemen ini jadi bernilai ratusan juta di situs bawah tanah!"
Gue mencoba mundur ke ujung ka**r, merapatkan punggung gue ke dinding yang dingin. "Rian, sadar! Lo bisa dipenjara kalau ngelakuin ini! Keluar dari kamar gue!"
"Keluar?" Rian melangkah selangkah lagi. Jaraknya sekarang cuma dua meter dari ka**r gue. "Gue gak bakal ke mana-mana sebelum gue beresin kekacauan yang lo buat. Lo pikir gue gak tahu? Gue ini admin jaringannya, Maya! Begitu temen hacker amatir lo itu nyoba nge-clone server utama gue dari kamar si c**** Elian, sistem gue langsung ngirim notifikasi darurat ke handphone gue!"
Gedebuk!
Jantung gue makin berpacu liar. Berarti Rian udah tahu kalau Aris dan Elian lagi memantau!
"Aris... Elian..." gumam gue spontan, mata gue melirik ke arah vas bunga tempat kamera saku disembunyikan.
Rian menyadari lirikan mata gue. Dia langsung menoleh ke vas bunga itu, lalu menyeringai lebar. Dengan satu gerakan cepat, dia menyambar vas bunga tersebut dan membantingnya ke lant** hingga hancur berkeping-keping. Dia memungut kamera mikro milik Aris, menatapnya langsung ke lensa, lalu menginjaknya dengan sepatu boots-nya sampai hancur tak berbentuk.
"Elian! Aris! Gue tahu kalian denger ini!" teriak Rian ke arah sisa-sisa kamera di lant**. "Jangan coba-coba dob**k pintu ini kalau kalian masih mau liat cewek ini hidup! Sekali gue denger suara langkah kaki di depan pintu, pisau ini langsung robek tenggorokan dia!"
Gue mulai menangis histeris. Air mata gue luruh begitu saja membasahi pipi. Rasa takut yang begitu hebat mencengkeram dada gue sampai gue susah bernapas. "Rian, tolong... jangan... gue gak bakal bilang siapa-siapa, gue janji..."
"Janji lo gak ada harganya, Maya!" bentak Rian. Dia melompat ke atas ka**r, lututnya langsung menekan dada gue hingga gue terengah-engah, sementara tangan kirinya menjambak rambut gue dengan kasar, memaksa kepala gue mendongak ke atas.
Pisau cutter yang dingin dan tajam itu sekarang menempel pas di bawah dagu gue. Gue bisa merasakan ujung logamnya yang tipis mulai menekan kulit leher gue, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat.
"Gue udah bangun bisnis ini bertahun-tahun. Rena, cewek sebelum lo, dia juga coba-coba mau lapor polisi. Dan lo tahu apa yang terjadi sama dia? Gue bikin dia kelihatan kayak bunuh diri karena depresi. Dan sekarang lo... lo mau ngerusak semuanya cuma karena rasa penasaran lo yang gak berguna itu?!" Rian berbisik tepat di depan wajah gue, napasnya yang berbau rokok dan kopi terasa begitu dekat.
"Lepasin... sakit..." rintih gue, air mata terus mengalir, membasahi tangan Rian yang menjambak rambut gue.
Di luar pintu, terdengar suara gaduh yang luar biasa.
"MAY! MAYA! BUKA PINTUNYA, AN****!" teriak suara Aris dari luar, disusul dengan hantaman keras pada pintu kayu kamar 403.
*DUAK! DUAK!*
Pintu kayu solid itu berguncang hebat, tapi kunci pengait ganda yang dipasang Rian terlalu kuat untuk didob**k dengan tenaga manusia biasa begitu saja.
"GUE BILANG JANGAN MENDEKAT ATAU GUE SEMBELIH CEWEK INI SEKARANG JUGA!" teriak Rian ke arah pintu, tangannya yang memegang cutter mulai gemetar karena emosi yang meluap-luap. Tekanan pisau di leher gue semakin terasa berat. Gue bisa merasakan cairan hangat dan anyir mulai mengalir perlahan di leher gue.
Darah.
"Elian... Aris... tolong..." bisik gue dengan sisa tenaga yang gue punya, menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang mulai kabur karena air mata dan rasa pasrah yang teramat sangat.
Nyawa gue benar-benar berada di ujung tanduk yang sangat tipis. Dan di kamar yang dulu gue anggap sebagai tempat paling aman ini, ajal rasanya cuma berjarak beberapa milimeter saja dari tenggorokan gue.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!