**Bab 15: Layar yang Menjadi Gelap**
Gue berbaring di atas ka**r dengan posisi menyamping, meringkuk sambil memegangi perut. Keringat dingin mulai keluar di dahi gue, dan kali ini bukan cuma karena gue harus berakting kesakitan. Jantung gue berdegup kencang banget, rasanya kayak mau lompat keluar dari dada.
Di sudut meja belajar, di antara daun-daun plastik bunga hias mawar merah yang berdebu, lensa kamera mikro milik Aris terpasang dengan pas. Di seberang sana, di kamar 305, Aris dan Elian pasti lagi menatap layar monitor mereka dengan napas tertahan, mengawasi setiap gerak-gerik gue.
*Bip.*
Suara sensor kartu pintu apartemen gue berbunyi. Jantung gue rasanya langsung berhenti berdetak selama satu detik.
Pintu perlahan terbuka. Langkah kaki terdengar pelan, ragu-ragu, mema**ki area kamar studio gue yang sempit.
"Maya? Kamu gak apa-apa?"
Itu suara Pak Danu. Terdengar cemas, tapi ada nada panik yang aneh di sana. Gue mengerang pelan, pura-pura makin kesakitan. "Pak Danu... perut saya... sakit banget. Saya gak sengaja minum obat double..."
"Makanya, kalau minum obat itu dilihat dulu kadaluarsanya atau dosisnya! Kamu ini bikin repot aja!" Pak Danu melangkah mendekati ka**r.
Tapi sebelum Pak Danu sempat menyentuh gue, pintu yang masih setengah terbuka itu didorong kasar dari luar. Seseorang melangkah ma**k dengan sant**, tapi aura di sekitarnya bener-bener bikin merinding.
Rian.
Anak magang yang biasanya kelihatan cupu, pakai kacamata tebal, dan selalu nunduk kalau berpapasan sama orang itu, sekarang berdiri tegak. Dia gak pakai kacamata. Tatapan matanya dingin, kosong, dan ada senyum sinis yang mengerikan di bibirnya. Di tangannya, dia memegang sebuah Macbook Pro dengan stiker logo band indie di sudut kanan atasnya.
"Udah gue bilang, Pak. Jangan gampang dib***-b***in sama cewek ini," kata Rian sant**, suaranya terdengar sangat berbeda dari biasanya. Gak ada lagi nada sopan atau ragu-ragu.
Pak Danu menoleh dengan wajah bingung. "Rian? Kamu ngapain ke sini? Saya bilang tunggu di bawah!"
"Tunggu di bawah biar kita berdua ma**k perangkap mereka?" Rian mendengus, lalu berjalan mendekati meja belajar gue. Tanpa ragu, dia langsung meraba sela-sela kelopak bunga plastik di atas meja, lalu menarik kamera mikro milik Aris sampai kabel tipisnya putus.
Rian mengangkat kamera kecil itu ke depan wajahnya, lalu tersenyum langsung ke arah lensa sebelum meremukkannya dengan ujung sepatunya. *Krek.*
Gue langsung terduduk di ka**r, rasa takut gue bener-bener nyata sekarang. "R-Rian..."
"Akting lo payah, Maya," kata Rian, menatap gue dengan pandangan meremehkan. "Gue yang megang seluruh jaringan server di gedung ini. Lo pikir gue gak tahu kalau IP address kamar si c**** Elian tiba-tiba dapet akses ke log aktivitas gue? Dan lo... pura-pura sakit biar Pak Danu ma**k, terus ngaku di depan kamera ini, kan?"
Pak Danu langsung pucat pasi. "Apa? Kamera? Maya, kamu?!"
"Pak, mending sekarang Bapak diem atau beresin barang-barang penting di ruang panel," potong Rian dingin. "Cewek ini biar gue yang urus. Dia udah tahu terlalu banyak."
Rian melangkah maju mendekati ka**r gue. Gue langsung mundur sampai punggung gue membentur tembok dingin apartemen. "Rian, jangan macam-macam! Polisi bentar lagi datang!" teriak gue, mencoba mengancam meskipun suara gue bergetar hebat.
"Polisi? Gak bakal semudah itu," desis Rian. Dia tiba-tiba menerkam maju dan mencengkeram kedua tangan gue dengan sangat kuat. Tenaganya gede banget, jauh dari perkiraan gue kalau melihat tubuhnya yang kurus.
"Lepasin! Lepasin gue, ba******!" teriak gue histeris, mencoba menendang dan meronta.
Rian menekan tubuh gue ke ka**r, satu tangannya membekap mulut gue dengan kasar sampai gue susah bernapas. Mata g*** itu menatap gue dari jarak dekat. "Gue udah capek-capek bangun situs ini, dapet duit ratusan juta tiap bulan dari pelanggan premium yang pengen nonton kehidupan lo, dan lo mau hancurin semuanya gitu aja? Gak akan gue biarin, Maya!"
Tiba-tibaβ
*B**KKK!!!*
Pintu kamar studio gue didob**k dengan sangat keras sampai engselnya jebol dan menghantam tembok koridor.
"LEPASIN DIA, BA*****!"
Aris muncul di ambang pintu, wajahnya merah padam karena amarah yang luar biasa. Tanpa b***bu, dia langsung berlari kencang dan menerjang tubuh Rian dari atas ka**r. Keduanya jatuh berdebam ke lant** parket kamar gue.
"Aris!" teriak gue, langsung terduduk sambil terbatuk-batuk, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Perkelahian sengit langsung pecah di lant** kamar gue yang sempit. Aris melayangkan pukulan mentah tepat ke rahang Rian. Tapi Rian yang udah gelap mata membalas dengan hantaman siku ke pelipis Aris sampai cowok itu terhuyung mundur. Rian langsung bangkit, meraih sebuah vas bunga keramik di atas nakas, dan bersiap menghantamkannya ke kepala Aris.
"Aris, awas!" teriak gue panik.
Sebelum vas itu sempat mendarat, sebuah kursi roda meluncur ma**k dengan kecepatan tinggi dari arah pintu. Elian! Dengan kekuatan otot lengannya yang luar biasa, Elian menab**kkan kursi rodanya langsung ke kaki Rian.
*B**k!*
Rian kehilangan keseimbangan dan jatuh terjungkal ke lant**. Vas keramik di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping.
"Dasar c**** si****!" umpat Rian, mencoba bangkit dan menyerang Elian.
Tapi Aris gak memberikan kesempatan itu. Dia langsung menerjang punggung Rian, mengunci leher cowok psikopat itu dengan lengannya dalam posisi *rear-naked choke*. Rian meronta-ronta seperti kesurupan, wajahnya memerah keunguan karena kehabisan napas, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Aris yang super erat.
Di dekat pintu, Pak Danu yang melihat situasi udah gak terkendali langsung gemetaran. Wajah tuanya pucat kayak mayat. Tanpa memedulikan Rian yang lagi bergelut, dia langsung berbalik dan lari kencang menyusuri koridor, mencoba melarikan diri.
"El, Pak Danu kabur!" teriak gue panik.
"Tenang, May! Polisi udah di bawah!" Elian berteriak balik sambil menahan roda kursinya agar tetap stabil di tengah kekacauan kamar.
Dan bener aja. Gak sampai beberapa detik kemudian, suara derap langkah kaki sepatu laras panjang terdengar bergema dari arah tangga darurat. Diikuti suara teriakan tegas yang mengguncang lorong lant** empat.
"Jangan bergerak! Kepolisian! Angkat tangan!"
Pak Danu yang baru aja mau membuka pintu darurat langsung dihadang oleh tiga orang polisi berpakaian preman yang menodongkan senjata. Pak Danu langsung jatuh berlutut, mengangkat kedua tangannya sambil menangis histeris. "Bukan saya! Saya cuma menyewakan tempat! Otaknya si Rian! Tolong jangan tembak saya!"
Di dalam kamar, dua orang polisi lainnya ma**k dengan cepat. Mereka langsung mengamankan Rian yang udah lemas karena kehabisan napas di bawah kuncian Aris. Kedua tangan Rian langsung diborgol ke belakang dengan kasar.
"Kalian gak apa-apa?" salah satu polisi paruh baya bertanya pada kami.
Aris bangkit berdiri sambil memegangi sudut bibirnya yang robek dan berdarah, tapi dia tersenyum puas. "Kita gak apa-apa, Pak. Tapi semua buktinya ada di laptop itu, dan di server utama yang ada di ruang panel lant** satu."
Elian menyerahkan sebuah flashdisk yang sejak tadi dia genggam kepada polisi. "Ini log akses dan IP address yang ngebuktiin kalau mereka berdua udah mengoperasikan kamera tersembunyi ilegal di gedung ini selama bertahun-tahun. Kami punya salinan datanya lengkap."
Rian, dengan wajah yang kini dipenuhi memar dan tatapan yang masih penuh kebencian, diseret keluar dari kamar gue oleh polisi. Saat melewati gue, dia sempat melotot tajam, tapi gue gak takut lagi. Gue membalas tatapannya dengan berani. Masa-masa gue ketakutan di kamar ini udah selesai.
Polisi bergerak cepat. Malam itu juga, tim forensik digital menyita seluruh peralatan Rian, terma**k Macbook Pro miliknya yang legendaris itu. Di lant** satu, ruang panel rahasia yang selama ini jadi pusat kendali server gelap mereka digeledah. Semua komputer, harddisk eksternal, dan kabel-kabel pemancar dihancurkan secara resmi setelah datanya disalin untuk barang bukti pengadilan.
Layar-layar monitor yang selama ini menampilkan rekaman ilegal kamar 403, satu per satu mulai kehilangan sinyalnya. Berubah menjadi hitam. Layar-layar itu akhirnya menjadi gelap sepenuhnya.
***
Keesokan paginya, matahari bersinar sangat cerah, kontras banget dengan suasana mencekam semalam.
Gue berdiri di depan lobi apartemen dengan dua koper besar di samping kanan-kiri gue. Gue menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar yang rasanya beda banget dari biasanya. Gak ada lagi perasaan diawasi. Gak ada lagi rasa paranoid yang menghantui setiap kali gue mau tidur atau mandi. Gue bener-bener bebas.
"Udah siap pergi?"
Gue menoleh dan mendapati Aris berdiri di sana, memakai kaos sant** dengan plester kecil yang menempel di sudut bibirnya. Di sampingnya, Elian duduk di kursi rodanya sambil memakai kacamata hitam, kelihatan keren kayak biasanya.
"Siap banget," jawab gue sambil tersenyum lebar. Senyuman pertama yang bener-bener lepas setelah berbulan-bulan tinggal di tempat terkutuk ini.
"Gue udah pesenin taksi online buat lo. Semua barang lo aman, kan?" tanya Elian sambil menepuk ransel besar yang diletakkan di pangkuannya.
"Aman semua. Makasih ya, El, Ris. Gue bener-bener gak tahu harus bilang apa. Kalau gak ada kalian semalam... mungkin gue udah..." Suara gue agak bergetar di akhir kalimat, mengingat betapa mengerikannya Rian semalam.
Aris melangkah mendekat, lalu menepuk pundak gue dengan lembut. "Gak usah dibahas lagi, May. Yang penting sekarang ba******-ba****** itu udah di dalam sel. Dan lo... lo bisa mulai hidup baru yang bener-bener baru. Tanpa kamera si****."
"Dan inget," sela Elian sambil menurunkan sedikit kacamata hitamnya, memberikan kedipan mata yang jail. "Nanti kalau lo nyari apartemen baru, ajak kita buat ngecek. Gue bakal scan setiap jengkal temboknya pakai detektor sinyal tercanggih yang gue punya."
Gue langsung tertawa renyah, tawa yang udah lama banget gak gue denger dari diri gue sendiri. "Pasti. Lo berdua bakal jadi tim inspeksi wajib gue seumur hidup."
Sebuah mobil taksi online berwarna hitam berhenti tepat di depan lobi. Aris dengan sigap membantu mema**kkan koper-koper gue ke dalam bagasi, sementara gue berjongkok di depan Elian untuk memberikan pelukan perpisahan yang hangat.
"Makasih ya, El. Lo jenius terbaik yang pernah gue kenal," bisik gue.
"Sama-sama, May. Jaga diri lo baik-baik di sana," balas Elian tulus.
Gue beralih ke Aris, memberikan pelukan yang sama eratnya. "Makasih udah jadi pahlawan gue semalam, Ris."
"Gue cuma ngelakuin apa yang harus dilakukan seorang sahabat, May," jawab Aris sambil tersenyum manis, membalas pelukan gue dengan hangat.
Gue melangkah ma**k ke dalam taksi, duduk di kursi belakang, dan menurunkan kaca mobil. Saat mobil perlahan mulai bergerak meninggalkan area apartemen, gue melambaikan tangan ke arah dua cowok yang kini bukan lagi sekadar tetangga kamar, melainkan sahabat sejati yang udah menyelamatkan hidup gue.
Gue menyandarkan kepala ke sandaran kursi mobil, melihat gedung apartemen itu perlahan-lahan mengecil di kejauhan dari kaca spion. Tempat itu mungkin pernah jadi neraka buat gue, tapi dari sana pula gue belajar tentang keberanian, dan menemukan arti persahabatan yang sesungguhnya.
Kini, layar masa lalu gue yang gelap telah sepenuhnya mati, digantikan oleh pemandangan jalan raya yang luas dan terang benderang di depan mata gue.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!