Ada Kamera Tersembunyi di Apartemen Baruku

Bab 2: Titik Merah di Langit-Langit

Pengaturan Membaca

Menjadi seorang ilustrator *freelance* itu kedengarannya keren dan estetik banget di media sosial. Bisa kerja dari mana saja, modal iPad sama WiFi kencang, lalu uang mengalir ma**k ke rekening. Tapi realitasnya? Aku hampir menghabiskan 90 persen hidupku di dalam ruangan. Ka**r, meja kerja, dan dapur mini adalah segitiga bermuda tempat aku menghabiskan waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Sudah tiga hari berlalu sejak aku resmi pindah ke Room 404 Apartemen Grand Horizon. Hidupku terasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi teror telepon di tengah malam, tidak ada lagi ketukan pintu bernada emosi dari Rian, dan tidak ada lagi rasa cemas yang membuat lambungku perih setiap kali melihat layar ponsel menyala.

Aku benar-benar bebas.

Siang ini, cuaca di luar sangat terik. Sinar matahari Jakarta yang menyengat menembus kaca jendela besarku, tapi di dalam kamar studio ini, udaranya terasa sejuk berkat AC yang menyala di suhu 20 derajat. Aku duduk bersila di atas kursi kerja beroda, memegang Apple Pencil yang kuketuk-ketukan ke dahi. Di depanku, layar iPad Pro menampilkan kanvas putih bersih yang masih kosong.

"Duh, gambar apa ya?" gumamku frustrasi.

Aku mengacak-acak rambutku yang dikuncir asal-asalan. Klienku, sebuah penerbit novel *online*, meminta ilustrasi sampul untuk novel romantis terbaru mereka. Tenggat waktunya tinggal tiga hari lagi, tapi otakku rasanya mampet total. Istilah keren anak zaman sekarang: *art block*. Semakin aku memaksa otakku untuk berpikir, semakin blank rasanya.

"Rebahan dulu kali ya, siapa tahu dapet hidayah," bisikku pada diri sendiri.

Aku meletakkan iPad di atas meja kerja, lalu melangkah gont** menuju ka**r *queen size* tanpa dipanku yang terletak di sudut ruangan. Begitu tubuhku menyentuh ka**r, rasanya seperti tenggelam ke dalam awan. Nyaman sekali. Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma seprai baru yang berbau lavender, lalu merentangkan kedua tanganku lebar-lebar.

Pikiranku mulai melayang bebas. Aku menatap langit-langit kamar yang dicat putih bersih. Di tengah-tengah langit-langit itu, terpasang sebuah kipas angin gantung berkaki tiga yang sudah agak berdebu. Sejak pertama kali ma**k ke apartemen ini, aku memang tidak pernah menyalakan kipas angin itu karena udara dari AC sudah lebih dari c**up. Kipas itu dibiarkan mati, tergantung pasrah di atas sana.

Aku terus menatapnya kosong, mencoba memikirkan konsep gambar apa yang cocok untuk novel romantis. Apakah adegan sepasang kekasih di bawah payung hujan? Atau di sebuah kafe?

Saat pandanganku tersangkut di bagian tengah kipas angin gantungβ€”tempat mesinnya beradaβ€”ada sesuatu yang aneh.

*Kedip.*

Aku mengerutkan dahi. Aku mengerjapkan mata beberapa kali, mengira itu mungkin hanya ilusi optik karena mataku lelah setelah terlalu lama menatap layar iPad.

*Kedip.*

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

*Kedip.*

Ada kilatan merah super kecil yang berkedip di sela-sela jeruji besi pelindung mesin kipas angin tersebut. Jarak kedipannya sangat konisten, setiap tiga detik sekali. Warnanya merah redup, hampir tidak terlihat kalau kondisi ruangan terang benderang. Tapi karena posisi ka**rku tepat berada di bawah kipas tersebut, dan sudut mataku kebetulan sejajar, aku bisa melihatnya dengan jelas.

"Apaan sih itu?" bisikku.

Rasa penasaranku mulai terusik. Aku mendudukkan diri di tepi ka**r, mataku masih menyipit, memandang lurus ke arah kipas angin gantung. Apakah itu sensor dari kipas angin? Tapi setahuku, ini adalah kipas angin model lama yang tidak memakai *remote control*, melainkan sakelar dinding manual. Mana mungkin ada lampu indikatornya?

Atau mungkin itu sensor pendeteksi asap? Tidak, alat pendeteksi asap (*smoke detector*) apartemen ini terpasang di dekat pintu ma**k, bentuknya bulat putih seperti mangkuk terbalik. Yang ini posisinya benar-benar tersembunyi di dalam sela-sela mesin kipas angin gantung.

Rasa penasaran yang tadinya biasa saja kini berubah menjadi rasa tidak nyaman yang menggelitik tengkukku. Ada sesuatu yang salah. Naluriku mengatakan bahwa titik merah itu tidak seharusnya ada di sana.

Aku berdiri dari ka**r. Karena tinggi badanku yang hanya 160 sentimeter, jarak dari lant** ke langit-langit apartemen yang setinggi 2,7 meter ini terasa sangat jauh. Aku tidak akan bisa melihatnya dengan jelas kalau hanya berdiri di lant**.

Aku menoleh ke arah meja kerjaku. Meja kayu solid itu c**up kokoh untuk menahan berat badanku. Perlahan, aku menggeser kursi kerjaku ke samping, lalu mendekatkan meja kerja itu hingga posisinya berada tepat di bawah kipas angin gantung.

"Hati-hati, Maya. Jangan sampai jatuh dan bikin kaki patah," gumamku menyemangati diri sendiri.

Aku melepas sandal rumah bulu-buluku, lalu naik ke atas kursi kerja terlebih dahulu. Dari kursi, aku melangkah hati-hati ke atas permukaan meja kerja. Begitu kedua kakiku menapak kokoh di atas meja, kepalaku kini hanya berjarak sekitar tiga puluh sentimeter dari kipas angin gantung tersebut.

Hembusan dingin dari AC ruangan menerpa wajahku, tapi anehnya, dahiku mulai mengeluarkan keringat dingin.

Aku mencondongkan tubuhku ke depan, menyeimbangkan diri agar tidak terjungkal. Mataku fokus menatap celah sempit di antara besi mesin kipas angin. Aku merogoh saku celanaku, mengambil ponsel, lalu menyalakan fitur senter (*flashlight*) untuk menerangi bagian dalam mesin yang gelap dan berdebu itu.

Cahaya putih dari ponselku langsung menembus celah mesin.

Dan saat itulah, jantungku rasanya seperti berhenti berdetak. Detik itu juga, seluruh darah di tubuhku seolah surut ke kaki, menyisakan rasa dingin yang membekukan seluruh persendianku.

Di dalam celah mesin kipas angin yang kotor itu, terpasang sebuah alat kecil berbentuk kotak hitam berukuran tidak lebih besar dari dua ruas jari kelingking. Alat itu ditempelkan menggunakan selotip hitam tebal agar menyatu dengan warna mesin. Di bagian tengah alat itu, terdapat sebuah lensa kaca bulat mikro yang sangat kecilβ€”mungkin ukurannya hanya sebesar kepala jarum pentul.

Dan tepat di samping lensa mikro itu, lampu LED merah kecil berkedip lambat.

*Kedip. Kedip.*

Itu bukan bagian dari mesin kipas angin. Itu adalah lensa kamera mata-mata. Sebuah *spy cam* nirkabel yang aktif.

Dan lensanya terarah lurus, tepat ke arah ka**r tempat aku tidur setiap malam.

"Nggak... nggak mungkin..." suaraku tercekat di tenggorokan, hanya berupa bisikan gemetar yang bahkan hampir tidak terdengar oleh telingaku sendiri.

Kakiku mendadak lemas. Keseimbanganku goyah, membuatku refleks melangkah mundur hingga ujung kakiku menyenggol sebuah cangkir kopi kosong di atas meja. Cangkir itu jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lant** vinil cokelat muda, menimbulkan suara denting keras yang menggema di ruangan sepi itu.

Tapi aku tidak peduli dengan cangkir yang pecah.

Aku langsung melompat turun dari meja dengan ceroboh, mendarat dengan posisi tidak sempurna hingga pergelangan kaki kiriku terasa nyeri. Aku mengabaikan rasa sakit itu. Aku mundur beberapa langkah hingga punggungku membentur dinding dingin apartemen.

Napas seakan tersangkut di dadaku. Mataku menatap liar ke arah kipas angin di atas sana.

*Ada kamera di sana.*

*Seseorang sedang melihatku.*

*Seseorang mengawasiku sekarang.*

Pikiran-pikiran buruk langsung menyerbu otakku seperti air bah yang menjebol bendungan. Apakah kamera itu mengirimkan video secara *real-time*? Siapa yang memasangnya? Pemilik apartemen ini sebelum aku? Agen properti yang menyewakan tempat ini?

Atau... Rian?

Nama Rian langsung melintas di kepalaku seperti petir di siang bolong. Bulu kudukku berdiri meremang. Rian adalah orang yang sangat posesif, orang yang punya obsesi g*** untuk mengontrol setiap jengkal hidupku. Dia pernah meretas ponselku. Apakah mungkin dia berhasil melacakku ke sini? Apakah dia yang menyuap orang untuk memasang kamera itu sebelum aku pindah? Atau dia sendiri yang menyelinap ma**k ke kamar ini?

Rasa aman yang baru kunikmati selama tiga hari ini hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Tempat yang kuanggap sebagai perlindungan, istana kecilku yang bebas dari cengkeraman Rian, ternyata adalah sebuah sangkar kaca di mana aku dipajang seperti binatang di kebun binatang.

Aku memeluk diriku sendiri, tubuhku gemetar hebat. Pandanganku beralih ke seluruh sudut ruangan. Tiba-tiba saja, kamar studio yang minimalis dan estetik ini terasa sangat asing dan mengerikan.

Apakah hanya ada satu kamera di langit-langit?

Mataku menatap liar ke arah kamar mandi dengan pintu kaca buram. Apakah ada kamera lain di sana? Bagaimana dengan *kitchen set*? Bagaimana dengan sudut-sudut gelap di bawah meja atau di dalam lemari pakaianku?

Tiba-tiba, ponsel di genggamanku bergetar keras.

"AAAH!" aku berteriak histeris, hampir saja melempar ponsel itu ke lant**.

Dengan tangan bergetar hebat, aku melihat layarnya. Ada sebuah pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal. Jantungku berdegup sangat kencang, saking kencangnya hingga menciptakan rasa sakit yang menusuk di dadaku.

Aku menelan ludah dengan susah payah, lalu memberanikan diri membuka pesan tersebut.

**[0812-XXXX-XXXX]:**

*Gaya rambut kuncir asal-asalan kamu lucu juga kalau lagi pusing nyari inspirasi.*

Detik itu juga, duniaku rasanya runtuh. Aku lemas seketika dan terduduk di lant** yang dingin, di dekat pecahan cangkir kopi, dengan pandangan kosong yang dipenuhi rasa takut yang luar biasa.

Dia... benar-benar sedang menontonku sekarang.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca