Jantungku rasanya berhenti beretik selama satu detik penuh.
Aku mengerjapkan mata berkali-kali, berharap apa yang baru saja kulihat hanyalah efek samping dari mataku yang lelah karena kelamaan menatap layar iPad. Tapi tidak. Di sela-sela jeruji besi kipas angin gantung itu, titik merah kecil itu berkedip lagi.
*Kedip.*
Dingin mendadak menjalar dari telapak kakiku, merambat naik sampai ke tengkuk. Bulu kudukku berdiri semua.
"Nggak, nggak mungkin," bisikku pada diri sendiri, mencoba menenangkan debaran dadaku yang mulai mengg***. "Paling cuma indikator sensor otomatis atau apa lah. Kan sekarang banyak barang elektronik yang ada lampunya."
Tapi otakku menolak alasan konyol itu. Kipas angin gantung ini adalah barang lama. Modelnya jadul, tipe besi putar yang bahkan sudah agak berkarat di bagian baling-balingnya. Logika dari mana yang bilang kalau kipas angin jadul punya lampu sensor berkedip warna merah tepat di bagian tengah mesinnya?
Perasaan tidak enak langsung menyergapku. Rasa aman yang baru kunikmati selama tiga hari di apartemen ini menguap begitu saja, digantikan oleh rasa parno yang luar biasa.
Aku langsung bangkit berdiri di atas ka**r, mendongak ke atas untuk melihat lebih dekat. Tapi jarak langit-langit kamar studio ini lumayan tinggi. Tubuhku yang hanya setinggi 160 cm ini tidak c**up untuk menjangkau kipas angin itu, bahkan setelah aku berjinjit di atas ka**r tanpa dipan ini.
"Sumpah, demi apa pun, jangan bikin gue g***," gumamku dengan suara gemetar.
Aku turun dari ka**r, setengah berlari menuju meja kerja dan menyambar ponselku yang tergeletak di samping iPad. Jariku yang mendadak dingin dan gemetar hampir menjatuhkan ponsel itu ke lant**. Aku buru-buru membuka App Store. Dengan napas memburu, aku mengetikkan kata kunci di kolom pencarian: *Hidden Camera Detector*.
Keluar puluhan aplikasi dengan rating bintang empat ke atas. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengunduh salah satu aplikasi gratisan yang paling banyak di-download orang. Proses *downloading* yang biasanya hanya memakan waktu beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Aku terus mondar-mandir di kamar, sesekali melirik ke arah kipas angin gantung di atas ka**rku dengan tatapan ngeri.
Begitu aplikasi itu terpasang, aku langsung membukanya. Tampilannya c**up sederhana, ada fitur pemindai elektromagnetik (magnetic scanner) dan pemindai inframerah (infrared scanner).
"Oke, tarik napas, Maya. Tenang," aku mencoba menenangkan diriku sendiri, meskipun tanganku masih gemetar hebat.
Aku memilih fitur pemindai inframerah terlebih dahulu. Kamar harus dalam keadaan gelap agar kamera inframerah ponselku bisa mendeteksi pantulan lensa kamera tersembunyi. Aku segera berlari ke dekat pintu ma**k, mematikan sakelar lampu utama, lalu menutup gorden jendela rapat-rapat sampai kamar studio ini benar-benar gelap gulita. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari layar ponselku yang menyala terang, merefleksikan wajahku yang pucat pasi.
Aku mengarahkan kamera ponselku ke atas, tepat ke arah kipas angin gantung.
Melalui layar ponsel, aku melihat pemandangan yang membuat jantungku serasa mau copot. Di tengah kegelapan, di sela-sela besi kipas angin itu, tampak sebuah titik cahaya putih kebiruan yang sangat terang menyala konstan. Di dunia nyata, cahaya itu tidak terlihat oleh mata te******* karena itu adalah sinar inframerahβsinar yang biasa digunakan oleh kamera pengawas untuk merekam dalam kondisi gelap.
"Ya Tuhan..." rintihku. Suaraku tercekat di tenggorokan.
Itu beneran kamera. Seseorang telah memasang kamera tersembunyi di atas tempat tidurku.
Tanganku gemetar semakin hebat, membuat arah kamera ponselku goyang-goyang. Rasa takut yang amat sangat mulai merayap, meremas dadaku hingga rasanya sesak untuk bernapas. Siapa yang memasangnya? Pemilik apartemen ini? Agen properti yang menyewakannya padaku? Atau orang sebelum aku?
Dan yang paling mengerikan... apakah kamera itu sedang aktif sekarang? Apakah ada seseorang di luar sana, di balik layar komputer atau ponsel mereka, yang sedang menontonku secara *real-time*? Menontonku tidur, menontonku mengganti pakaian, menonton semua aktivitas privatku?
Rasa mual mendadak menghantam lambungku. Aku merasa sangat kotor dan te*******.
Tapi kepanikan ini belum selesai. Sebuah pemikiran mengerikan lain mendadak melintas di kepalaku. *Kalau ada satu di kipas angin, apakah mungkin ada di tempat lain juga?*
Aku menelan ludah dengan susah payah. Dengan kaki yang lemas seperti jeli, aku beralih menggunakan fitur pemindai elektromagnetik pada aplikasi tersebut. Fitur ini akan berbunyi *bip* dengan frekuensi tinggi jika ponsel didekatkan ke perangkat elektronik tersembunyi yang memancarkan sinyal radiasi tinggi.
Aku berjalan perlahan, memegang ponselku seperti seorang detektif amatir yang sedang mencari bom waktu.
Aku mengarahkan ponsel ke arah meja kerja. Aman. Angka di layar hanya menunjukkan radiasi normal dari laptop dan iPad-ku.
Aku melangkah ke arah dapur mini. Aku mengayunkan ponsel ke dekat microwave, kulkas, dan rak piring. Layar ponsel tetap menunjukkan warna hijau. Aman.
Lalu, langkahku terhenti di depan pintu kamar mandi.
Kamar mandi adalah area paling privat di seluruh apartemen ini. Tempat di mana aku melepaskan seluruh pakaianku tanpa curiga sedikit pun. Pikiran bahwa ada kamera di dalam sana membuat seluruh tubuhku merinding hebat sampai ke tulang.
"Nggak, plis, jangan di kamar mandi," bisikku memohon pada takdir yang rasanya sedang mempermainkanku.
Aku mendorong pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram itu. Suasana di dalam dingin dan lembap. Aku melangkah ma**k, lalu mulai mengarahkan ponselku ke sekeliling ruangan yang sempit itu.
Aku mendekatkan ponsel ke arah wastafel, lalu perlahan mengarahkannya ke cermin besar berkaki kayu yang tergantung di dindingβcermin estetik yang sering kujadikan tempat untuk *mirror selfie* setelah mandi.
*Bip.*
Bunyi pendek itu membuatku tersentak. Aku mematung.
Aku memberanikan diri mendekatkan ponsel lebih dekat ke bingkai kayu cermin tersebut, tepat di sudut kanan atas.
*Bip. Bip. Bip.*
Angka di layar ponselku yang semula berwarna hijau langsung melonjak drastis ke zona merah.
*BIPPPPPPPPPPPPPP!*
Aplikasi itu mengeluarkan bunyi berdenging panjang yang sangat bising di dalam kamar mandi yang sunyi. Layar ponselku berkedip merah terang dengan tulisan peringatan besar: **HIGH RADIATION DETECTED! POTENTIAL HIDDEN CAMERA.**
Napas bisingku terdengar memburu di ruangan sempit itu. Aku menurunkan ponsel, lalu mendekatkan wajahku ke bingkai cermin kayu tersebut. Aku menyalakan senter ponsel dan mengarahkannya langsung ke sela-sela ukiran kayu di sudut kanan atas.
Di sana, tersembunyi di balik celah kecil yang sengaja diukir, ada sebuah lensa super mini seukuran lubang jarum. Lensa itu berwarna hitam legam, berkilau memantulkan cahaya senter ponselku. Dan posisinya... posisinya miring ke bawah, mengarah tepat ke area *shower* tempatku mandi.
Kepalaku langsung pening. Rasanya seperti dihantam godam besar.
Tadi pagi. Kemarin siang. Tiga hari terakhir ini. Aku mandi di sana. Tanpa sehelai benang pun. Aku bernyanyi, aku memba**h tubuhku, aku melakukan ritual paling pribadi tanpa tahu bahwa ada sebuah mata hitam kecil yang terus menatapku tanpa berkedip.
"G***... ini g***..." air mata pertamaku lolos begitu saja, membasahi pipiku yang dingin. Aku membekap mulutku sendiri agar tidak berteriak histeris. Perasaan dilecehkan secara tidak langsung ini benar-benar membuatku ingin muntah. Aku merasa sangat jijik pada diriku sendiri, meskipun aku adalah korbannya.
Dengan tubuh yang gemetar dan air mata yang terus mengalir, aku melangkah mundur keluar dari kamar mandi. Aku merasa tidak aman di setiap jengkal ruangan ini. Apartemen yang tadinya kuanggap sebagai tempat pelarian yang damai dari mantan pacarku yang toksik, kini berubah menjadi rumah hantu yang mengerikan.
Tapi kakiku seperti memiliki kemauan sendiri. Aku harus memastikan semuanya. Aku harus tahu seberapa jauh privasiku telah dirampas.
Aku kembali ke area kamar tidur. Aku mengarahkan ponselku ke sekeliling ka**r lagi. Kali ini, aku mengarahkannya ke dinding tempat sebuah jam dinding kayu bergaya Nordik tergantung manis. Jam itu sudah ada di sana sejak aku pertama kali menyewa tempat ini. Sang pemilik apartemen bilang itu bonus dekorasi agar kamar terlihat lebih *aesthetic*.
Aku mendekatkan ponsel ke jam dinding tersebut.
*Bip. Bip. Bip.*
*BIPPPPPPPPPPPPPP!*
Aplikasi itu berbunyi nyaring lagi, tepat saat ponselku berada di angka 12 pada jam dinding.
Aku tidak perlu lagi menggunakan senter untuk memastikannya. Aku langsung meraih jam dinding itu dari pakunya dengan kasar, membuat jam itu hampir terlepas dari genggamanku. Aku membalikkan jam tersebut. Di bagian belakang mesin jam, ada sebuah kabel tipis tambahan yang terhubung ke sebuah baterai kecil eksternal dan sebuah papan sirkuit mini berlabel Wi-Fi.
Di bagian depan, tepat di tengah-tengah angka 12, ada sebuah lubang kecil yang sangat rapi. Di balik lubang itu, ada lensa kamera serupa dengan yang kutemukan di kamar mandi. Kamera ini diletakkan di sana dengan sudut pandang yang sempurna untuk merekam seluruh area tempat tidurku.
Jam dinding itu terlepas dari tanganku, jatuh ke atas ka**r dengan suara deburan pelan.
Lututku lemas. Aku tidak sanggup lagi berdiri. Aku terduduk lemas di lant** yang dingin, memeluk lututku sendiri dengan tubuh yang gemetar hebat.
Tangisku pecah di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi oleh layar ponsel yang masih berkedip merah.
Aku merasa benar-benar hancur. Setiap sudut ruangan ini, setiap aktivitas paling privatkuβsaat aku berganti pakaian, saat aku tidur dengan posisi berantakan, saat aku menangis meratapi hidupku, bahkan saat aku mandiβsemuanya telah direkam. Seseorang di luar sana telah melihat semuanya.
Siapa orang itu? Apakah dia sedang melihatku menangis ketakutan di lant** sekarang? Apakah dia sedang menertawakanku?
Rasa aman yang susah payah kubangun setelah melarikan diri dari Rian hancur berkeping-keping dalam waktu kurang dari satu jam. Di kamar 404 ini, aku tidak pernah benar-benar bebas. Aku hanya berpindah dari satu penjara ke penjara lain yang lebih mengerikan. Penjara tanpa jeruji besi, di mana aku diawasi oleh mata-mata yang tak kasatmata di ruang privatku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 3 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!