Bab 4: Teror Lewat Chat Anonim
Aku mengarahkan kamera ponselku ke atas, tepat ke arah kipas angin gantung yang diam tak berputar itu. Layar ponselku yang tadinya hanya menampilkan warna hitam pekat tiba-tiba menangkap sesuatu.
*Bip.*
Sebuah titik putih yang sangat terangβberpendar seperti mata kucing di tengah kegelapanβmuncul di layar ponselku. Titik itu berada tepat di sela-sela jeruji besi kipas angin. Aplikasi di ponselku langsung bergetar hebat, memunculkan peringatan berwarna merah menyala di layarnya: *Infrared Signal Detected! 100% Camera.*
Lututku langsung lemas. Aku hampir saja jatuh terduduk di atas ka**r kalau saja aku tidak cepat-cepat berpegangan pada tiang ranjang.
"Nggak... nggak mungkin," bisikku dengan suara yang hampir habis.
Rasanya seperti ada air es yang mendadak disiramkan ke sekujur tubuhku. Jantungku berpacu begitu cepat sampai-sampai dadaku terasa nyeri. Jadi, selama tiga hari ini, sejak malam pertama aku tidur di kamar ini, mengganti baju, bahkan saat aku sedang bersant** tanpa hijab... semuanya terekam? Ada orang asing yang menonton semua aktivitasku?
Pikiran itu membuatku mual. Perutku melilit hebat karena rasa jijik dan takut yang bercampur menjadi satu.
Aku langsung menyalakan lampu kamar dengan gerakan panik. Begitu cahaya terang kembali menerangi ruangan studio berukuran 3x4 meter ini, suasana yang tadinya terasa hangat dan estetis mendadak berubah menjadi sangat asing dan mengerikan. Setiap sudut kamar kini terasa seperti sepasang mata yang sedang menatapku dengan lapar.
Apakah cuma di kipas angin? Bagaimana dengan ventilasi AC? Bagaimana dengan gantungan baju di balik pintu?
"Gue harus pergi. Gue nggak bisa di sini. Sekarang juga!" gumamku histeris.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, aku menyeret koper abu-abu berukuran sedang dari kolong tempat tidur. Aku membukanya dengan kasar di atas lant**. Tanpa memikirkan kerapian lagi, aku langsung berlari ke arah lemari pakaian. Aku mengambil baju-baju di gantungan secara acak, menariknya dengan paksa sampai beberapa gantungan plastik jatuh berhamburan ke lant**.
Aku menjejalkan semua baju itu ke dalam koper. Kemeja kuliah, celana jin, semuanya kuma**kkan asal-asalan. Aku juga menyambar iPad, laptop, dan semua pengisi daya yang ada di atas meja kerja. Air mataku mulai menetes satu-satu, membasahi pipiku yang terasa dingin. Aku sangat ketakutan. Aku hanya ingin pulang ke rumah orang tuaku di Bandung, atau setidaknya menginap di kosan Kirana malam ini juga. Pers**** dengan uang sewa apartemen ini yang sudah kubayar lunas untuk tiga bulan ke depan. Keselamatanku jauh lebih penting.
Saat aku sedang berjuang menutup ritsleting koper yang terlalu penuh, ponselku yang tergeletak di atas ka**r tiba-tiba berdenting.
*Ting!*
Suara notifikasi WhatsApp itu terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian kamar. Tubuhku tersentak kaget. Aku refleks menoleh ke arah ponsel. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pop-up notifikasi pesan dari nomor yang tidak kukenal.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Perlahan, aku melangkah mendekati ka**r, seolah ponsel itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Dengan tangan gemetar, kuambil ponsel itu.
Ada satu pesan baru dari nomor tanpa foto profil. Hanya ada deretan angka asing berkode negara luar, +1 (415) xxx-xxxx.
Aku membuka kunci layar dan membaca pesan tersebut.
**+1 (415) xxx-xxxx:**
*Jangan pergi dulu, kamu kelihatan cantik pakai piyama satin biru itu.*
Detik itu juga, napas duniaku seolah berhenti berputar.
Aku terpaku di tempatku berdiri. Mataku melebar menatap layar ponsel, membaca kalimat itu berulang-ulang untuk memastikan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi. Tapi tulisan itu nyata. Sangat nyata.
*Piyama satin biru.*
Aku perlahan menurunkan pandanganku ke arah tubuhku sendiri. Malam ini, aku memang sedang memakai piyama satin berwarna biru dongker yang baru kubeli minggu lalu di *e-commerce*. Piyama yang sangat nyaman, dengan kerah rendah dan celana pendek.
"Dia... dia lagi ngeliatin gue sekarang," bisikku lirih. Suaraku terdengar sangat menyedihkan di telingaku sendiri.
Rasa takut yang kurasakan sebelumnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kurasakan detik ini. Ini bukan sekadar rekaman pasif. Ini adalah pengint**an langsung. *Real-time*. Orang di balik nomor ini sedang duduk di suatu tempat, menatap layarnya, dan menonton setiap gerak-gerikku saat ini juga.
Dengan gerakan patah-patah, aku mendongak ke arah kipas angin gantung di atas kepalaku. Aku merasa seolah-olah lensa kamera tersembunyi di sana sedang berkedip, menertawakan kepanikanku. Aku langsung mundur beberapa langkah, mencoba bersembunyi di sudut kamar yang kupikir berada di luar jangkauan sudut pandang kipas angin.
Tapi sebelum aku sempat menenangkan diri, ponselku berdenting lagi.
*Ting!*
Pesan kedua ma**k dari nomor yang sama.
**+1 (415) xxx-xxxx:**
*Mau lari ke mana, Maya? Jangan coba-coba keluar dari pintu itu. Kalau kamu lapor polisi atau pergi dari kamar itu, video kamar mandimu akan langsung viral di internet.*
*Deg.*
Jantungku rasanya seperti dihantam godam besar. Kepalaku mendadak pusing, dan pandanganku agak buram.
*Video kamar mandi.*
Kalimat itu berputar-putar di dalam kepalaku seperti kaset rusak. Kamar mandi? Di sana juga ada kamera?
Seketika itu juga, memori tentang apa saja yang kulakukan di kamar mandi selama tiga hari ini berputar di otakku. Mandi, buang air, berganti pakaian setelah mandi... Semuanya. Semuanya telah direkam oleh ba****** ini.
"Nggak... nggak, tolong jangan..." air mataku pecah seketika. Aku jatuh terduduk di lant** yang dingin, memeluk lututku erat-erat. Tubuhku berguncang hebat karena tangis yang kutahan agar tidak bersuara keras.
Aku merasa sangat kotor. Aku merasa dite*******i di depan umum. Privasi yang selama ini kujaga rapat-rapat telah dihancurkan berkeping-keping oleh orang yang bahkan tidak kuketahui wajahnya.
*Ting!*
Ponselku bergetar lagi di genggamanku. Aku melihat layarnya dengan mata sembap yang kabur oleh air mata.
**+1 (415) xxx-xxxx:**
*Anak baik. Sekarang, taruh kopermu kembali ke kolong ka**r. Ganti baju kamu dengan kaos yang lebih tertutup kalau kamu merasa risih. Tapi ingat, jangan pernah berpikir untuk kabur. Aku mengawasimu, Maya. Di setiap sudut.*
Pesan itu ditutup dengan sebuah emot***n senyum ramah yang terlihat sangat sarkas dan mengerikan: π.
Aku menatap layar ponsel dengan tatapan kosong. Aku benar-benar terjebak. Kamar apartemen yang awalnya kupikir akan menjadi tempat perlindungan mandiriku yang nyaman, kini resmi berubah menjadi penjara paling menyeramkan di dunia.
Aku ingin berteriak meminta tolong, tapi kepada siapa? Kamar ini kedap suara, dan koridor apartemen di lant** 12 ini biasanya sangat sepi di jam-jam seperti ini. Kalau aku nekat lari keluar dan mengetuk pintu tetangga, bagaimana kalau si pengint** langsung menyebarkan video itu saat itu juga? Masa depanku, nama baik keluargaku, semuanya dipertaruhkan di sini. Kuliahku baru saja dimulai, jalanku masih sangat panjang. Aku tidak bisa membiarkan hidupku hancur hanya karena video si**** itu.
Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berdiri. Sambil terus menangis dalam diam, aku menyeret koperku kembali ke kolong tempat tidur, persis seperti yang diperintahkan oleh si peneror.
Setelah itu, aku berjalan ke lemari dengan langkah gont**, mengambil sebuah *sweater* rajut hitam yang paling tebal dan celana panjang longgar. Aku ma**k ke dalam selimut di atas ka**r, lalu memakai baju hangat itu di balik selimut agar si kamera tidak bisa melihat tubuhku saat aku berganti pakaian.
Setelah selesai, aku meringkuk di pojok ka**r, menarik selimut tebal sampai ke batas dagu. Ponselku masih berada di genggamanku, terasa sangat dingin. Aku menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan di luar jendela apartemen yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta yang tampak begitu acuh tak acuh pada penderitaanku.
Malam ini, aku tahu aku tidak akan bisa memejamkan mata sedetik pun. Di dalam kamar yang sunyi ini, aku bisa merasakan keberadaan "dia" yang sedang menatapku dari balik lensa-lensa tersembunyi itu. Dan yang paling membuatku g*** adalah fakta bahwa aku sama sekali tidak tahu siapa dia, apa maunya, dan sampai kapan teror ini akan berlangsung.
Lanjutkan Membaca Bab 4 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!