**Bab 5: Siapa Musuh di Balik Dinding?**
Napas gue langsung tercekat di tenggorokan. Layar ponsel yang menyala di genggaman terasa sangat dingin, sedingin es yang mendadak menjalar ke seluruh aliran darah gue. Dengan jari-jari yang gemetar hebat, gue membuka pesan dari nomor tidak dikenal itu.
**+62 812-****-****:**
*Wah, gerak cepat banget ya mau kabur? Tapi pikir-pikir lagi deh, Maya. Folder video lo ganti baju kemarin sore lumayan HD kok. Yakin mau melangkah keluar dari pintu itu sekarang? Sayang banget kalau sampai kesebar di grup angkatan kampus lo.*
Detik itu juga, dunia di sekitar gue rasanya runtuh.
Gue refleks menutup mulut dengan kedua tangan agar teriakan histeris gue tidak lolos begitu saja. Air mata yang tadinya menetes pelan, kini mengalir deras membasahi pipi. Dada gue sesak, rasanya seperti dihantam batu besar sampai-asap untuk bernapas saja rasanya begitu sulit.
Gue menatap ke arah kipas angin gantung di langit-langit kamar dengan pandangan ngeri. Di dalam sana, di balik jeruji besi yang tampak biasa saja itu, ada sebuah lensa kamera kecil yang sedang menyorot gue secara *real-time*. Si ba****** di balik nomor ini sedang menonton gue. Dia melihat koper gue yang sudah terbuka setengah penuh, dia melihat ketakutan gue, dan dia menikmati setiap detik kepanikan gue.
Gue dikepung. Gue benar-benar terjebak di dalam kamar berukuran 3x4 meter ini.
*Gue harus tenang. Gue nggak boleh kelihatan panik di depan kamera itu,* bisik gue dalam hati, mencoba menenangkan detak jantung yang sudah tidak keruan.
Kalau gue nekat keluar malam ini dengan koper ini, reputasi gue, masa depan gue di kampus, semuanya akan hancur dalam hitungan detik. Di zaman sekarang, sekali video sensitif tersebar di internet, jejak digitalnya nggak akan pernah bisa hilang. Gue nggak mau hidup gue hancur cuma karena ulah psikopat mesum ini.
Dengan sisa-sisa keberanian yang gue paksa untuk ada, gue menarik napas dalam-dalam. Gue harus akting. Gue harus pura-pura kalau semuanya baik-baik saja.
Gue meletakkan ponsel kembali ke ka**r dengan gerakan yang sengaja dibuat sant**. Sambil mengusap air mata dengan kasar menggunakan punggung tangan, gue mulai mengeluarkan kembali baju-baju yang sudah terlanjur gue jejalkan ke dalam koper. Gue gantung lagi baju-baju itu ke dalam lemari satu per satu, meski tangan gue masih gemetar setengah mati.
"Duh, capek banget deh. Mending beres-beresnya lanjut besok aja. Lagian mager banget kalau harus pindah malem-malem begini," ucap gue dengan suara yang sengaja dikeraskan, berharap mikrofon di kamera itu bisa menangkap suara gue. Gue berusaha terdengar sealami mungkin, seolah-olah gue membatalkan niat pergi hanya karena rasa malas, bukan karena diteror.
Setelah koper kosong itu kembali gue dorong ke kolong tempat tidur, gue langsung mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram. Malam itu, gue tidur dengan pakaian lengkapβjaket tebal, celana panjang, bahkan dengan hijab yang masih terpasang erat di kepala. Gue meringkuk di bawah selimut, memeluk lutut dengan mata yang terus terjaga sampai fajar menyingsing. Setiap kali terdengar suara gesekan angin atau derit kecil dari dinding apartemen, jantung gue langsung berdegup kencang. Gue tidak tidur sama sekali.
***
Keesokan harinya, paranoia mulai menyerang kepala gue tanpa ampun.
Begitu sinar matahari ma**k lewat celah gorden, gue langsung bergegas mandi dan bersiap-siap. Rasa kantuk hilang entah ke mana, digantikan oleh rasa waswas yang luar biasa ekstrem. Saat gue becermin untuk memakai sedikit bedak, gue menyadari lingkaran hitam di bawah mata gue terlihat sangat jelas. Wajah gue pucat pasi.
Gue merasa semua orang di dunia ini sedang merencanakan hal buruk pada gue. Siapa yang menaruh kamera itu? Siapa yang mengirim pesan teror itu?
Saat gue sedang memakai sepatu kets di dekat pintu ma**k, tiba-tiba terdengar ketukan keras.
*Tok! Tok! Tok!*
Gue tersentak kaget sampai hampir kehilangan keseimbangan. Napas gue kembali memburu. Gue melangkah perlahan ke arah pintu, lalu mengintip lewat lubang kecil (*peephole*) di pintu apartemen gue.
Di luar sana, berdiri Pak Danu. Pria paruh baya pemilik sekaligus pengelola gedung apartemen ini sedang berdiri sambil memegang sebuah kotak kardus kecil. Di wajahnya yang dihiasi kumis tebal, terukir sebuah senyuman lebar.
Gue mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan ekspresi wajah gue sebelum memutar kunci dan membuka pintu sedikit.
"Eh, Pak Danu. Pagi, Pak," sapa gue, berusaha terdengar ramah walau suara gue agak serak.
"Pagi, Neng Maya!" sapa Pak Danu dengan suara yang kelewat ceria. Senyumnya begitu lebar, membuat matanya menyipit. "Ini, Neng. Istri saya kebetulan pagi ini bikin risoles banyak buat arisan. Saya kepikiran Neng Maya yang baru tinggal di sini. Pasti belum sempat s****an yang enak, kan? Ini buat Neng Maya."
Pak Danu menyodorkan kotak kardus itu ke arah gue.
"Aduh, repot-repot banget, Pak. Makasih banyak ya," kata gue sambil menerima kotak tersebut. Permukaannya terasa hangat, tapi entah kenapa, tangan gue mendadak dingin.
Pak Danu tidak langsung pergi. Dia malah mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya mengintip ke dalam ruangan kamar gue yang hanya terbuka sedikit karena terhalang tubuh gue.
"Gimana kamarnya, Neng? Nyaman, kan? Ada keluhan nggak selama beberapa hari tinggal di sini?" tanya Pak Danu. Nada suaranya terdengar biasa, tapi di telinga gue yang sedang parno, pertanyaan itu terdengar seperti sebuah interogasi terselubung.
"Nyaman kok, Pak. Nggak ada masalah sama sekali," jawab gue bohong. Bohong besar.
"Oh, syukur deh kalau gitu. Tapi kalau misalnya ada kerusakan, atau... ada hal-hal aneh yang mengganggu di dalam kamar, langsung bilang ke saya ya, Neng. Saya kan selalu memantau keamanan di sini. Saya tahu betul apa saja yang terjadi di setiap sudut gedung ini," kata Pak Danu dengan senyum lebar yang kini terasa sangat mengerikan di mata gue.
*Saya tahu betul apa saja yang terjadi...*
Kata-kata itu berputar-putar di otak gue bagai kaset rusak. Apakah Pak Danu yang menaruh kamera itu? Sebagai pengelola, dia memegang kunci duplikat semua kamar di apartemen ini. Dia bisa dengan mudah ma**k ke kamar gue saat gue sedang kuliah. Tatapan matanya yang seolah menyelidik membuat bulu kuduk gue meremang.
"I-iya, Pak. Pasti saya kabari kalau ada apa-apa. Saya permisi dulu ya Pak, mau berangkat kuliah," kata gue buru-buru menyudahi obrolan.
"Oh, iya, silakan, Neng. Kuliah yang pintar ya. Jangan lupa dimakan risolesnya!" Pak Danu melambaikan tangan lalu berjalan pergi menyusuri koridor.
Gue menutup pintu dengan cepat, menyandarkan punggung gue di balik pintu kayu tersebut sambil memegangi dada. Jantung gue berdegup kencang seperti habis lari maraton. Kotak risoles di tangan gue mendadak terasa seperti bom waktu yang siap meledak. Tanpa pikir panjang, gue langsung membuang kotak makanan itu ke tempat sampah di sudut dapur. Gue terlalu takut kalau-kalau makanan itu sudah diberi sesuatu.
Setelah memastikan penampilan gue rapi dan barang-barang penting sudah ma**k ke dalam tas, gue memutuskan untuk segera berangkat ke kampus. Berada di dalam kamar ini terlalu lama membuat gue merasa tercekik.
Gue membuka pintu kamar dan melangkah keluar ke koridor lant** tiga. Suasana koridor pagi itu tampak sepi dan agak remang-remang karena beberapa lampu lorong sengaja dimatikan untuk menghemat listrik.
Baru beberapa langkah gue berjalan menuju lift, sebuah pintu kamar di ujung koridor terbuka. Kamar nomor 305.
Seorang cowok keluar dari sana. Itu Elian, tetangga sebelah kamar gue yang terkenal sangat tertutup dan jarang bersosialisasi. Pagi ini, dia memakai hoodie hitam kebesaran dengan tudung yang ditarik ke atas kepala, hampir menutupi sebagian wajahnya. Kedua tangannya disembunyikan di dalam saku depan hoodie.
Gue mempercepat langkah kaki gue, berharap bisa segera sampai ke lift sebelum harus berinteraksi dengannya. Tapi sial, langkah kaki Elian ternyata jauh lebih cepat. Di koridor yang sempit itu, jalan kami akhirnya bersilangan.
Saat jarak kami tinggal satu meter, gue sengaja menundukkan kepala, pura-pura sibuk menatap layar ponsel gue yang mati. Namun, tepat saat tubuh kami sejajar, Elian menghentikan langkahnya.
Gue refleks ikut berhenti, menahan napas karena terkejut.
Elian tidak menoleh ke arah gue. Dia tetap menatap lurus ke depan, ke arah ujung koridor yang kosong. Tapi kemudian, dari balik tudung hoodienya yang gelap, terdengar suara gumaman yang sangat dingin dan pelan.
"Hati-hati di kamar baru."
Gue mematung. Seluruh persendian gue rasanya mendadak kaku, mengunci gue di tempat.
"M-maksud kamu apa?" tanya gue dengan suara bergetar, memberanikan diri untuk menoleh ke arahnya.
Elian tidak menjawab. Dia bahkan tidak melirik gue sedikit pun. Cowok itu langsung melanjutkan langkah kakinya yang lebar menuju tangga darurat, meninggalkan gue sendirian di tengah koridor yang sunyi dengan rasa takut yang semakin menjadi-jadi.
Bagaimana bisa Elian bilang begitu? Apa dia tahu sesuatu tentang kamera tersembunyi itu? Atau... apakah dia pelakunya? Elian tinggal tepat di sebelah kamar gue. Dinding kamar kami bersebelahan langsung. Sangat mungkin bagi dia untuk melompati balkon atau bahkan menyelinap ma**k saat koridor sedang sepi.
Pikiran gue benar-benar kacau. Kepala gue rasanya mau pecah memikirkan segala kemungkinan buruk ini. Semua orang di apartemen ini mendadak terlihat seperti monster yang menyembunyikan pisau di balik punggung mereka.
Dengan langkah tergesa-gesa yang hampir menyerupai berlari, gue ma**k ke dalam lift yang baru saja terbuka. Begitu pintu lift tertutup rapat, gue menyandarkan kepala ke dinding besi lift yang dingin, mencoba mengatur napas gue yang putus-putus.
*Gue harus bertahan hari ini. Di kampus gue akan aman,* batin gue mencoba menenangkan diri sendiri.
*Ting!*
Pintu lift terbuka di lant** lobi. Gue melangkah keluar dengan cepat, melewati meja resepsionis tanpa menoleh kanan-kiri lagi. Gue hanya ingin segera sampai ke area terbuka yang ramai orang, di mana si penguntit si**** itu tidak bisa menjangkau gue.
Gue berjalan keluar dari gerbang apartemen menuju halte bus yang berjarak sekitar seratus meter. Angin pagi yang dingin menerpa wajah gue, sedikit memberikan rasa segar di kepala gue yang terasa panas karena stres.
Gue duduk di bangku halte yang masih sepi. Untuk mengalihkan pikiran, gue merogoh kantong flat membawa ponsel gue. Baru saja gue menyalakan layarnya, sebuah notifikasi pesan ma**k muncul di bagian atas screen.
Jantung gue mencelos. Gue bersiap untuk melihat nomor misterius itu lagi.
Namun, tebakan gue salah. Nama pengirim yang tertera di layar justru membuat kedua mata gue membelalak tidak percaya.
**Rian:**
*May, apa kabar? Lo sehat, kan?*
*Gimana apartemen baru lo? Nyaman gak tinggal di sana?*
Napas gue kembali memburu, kali ini disert** dengan rasa tidak percaya yang luar biasa besar.
Rian. Dia adalah mantan pacar gue yang baru saja putus dua bulan lalu karena sifatnya yang kelewat posesif, abusif secara verbal, dan selalu ingin mengontrol semua hal dalam hidup gue. Kami putus dengan cara yang sangat tidak baik-baik saja. Gue bahkan memblokir semua akun media sosialnya dan mengganti nomor telepon gue untuk menghindari teror darinya.
Pertanyaannya sekarang adalah: Bagaimana Rian bisa tahu kalau gue sudah pindah ke apartemen baru?
Gue tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang kepindahan gue ini, kecuali Kirana, sahabat terdekat gue yang tidak mungkin berkhianat. Bahkan orang tua gue di Bandung pun hanya tahu gue menyewa kosan biasa, bukan apartemen.
Gue menatap layar ponsel dengan tangan yang gemetar semakin hebat.
Apakah semua teror ini berasal dari Rian? Apakah dia yang menyewa orang untuk memasang kamera itu di kamar gue? Atau jangan-jangan, Rian sendiri yang menyelinap ke apartemen ini sebelum gue resmi pindah?
Pandangan gue mendadak buram karena air mata yang kembali menggenang. Di sekeliling gue, lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang berangkat kerja terasa kabur. Di dalam kepala gue, hanya ada satu pertanyaan yang berputar tanpa henti dengan sangat bising: *Siapa sebenarnya musuh yang sedang mengawasi gue dari balik dinding kamar itu?*
Lanjutkan Membaca Bab 5 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!