Gue bangun tidur dengan badan yang rasanya kayak abis digebukin sekampung. Pegal, kaku, dan super gak nyaman. Ya iyalah, gimana mau nyenyak kalau semalaman gue tidur pake baju lengkapβlengkap dengan jaket tebal, celana jins, bahkan hijab yang masih peniti-an rapi di leher.
Gue sempat merem sebentar, berharap semua kejadian horor kemarin cuma mimpi buruk akibat kebanyakan nonton film *thriller*. Tapi begitu mata gue terbuka dan langsung bertatapan dengan kipas angin gantung di langit-langit kamar, kenyataan pahit langsung menampar gue.
Lensa kamera ke***** itu masih ada di sana. Menatap gue tanpa berkedip.
Napas gue mulai gak teratur lagi. Rasa panik, mual, dan takut campur aduk jadi satu di dada. Rasanya gue mau nangis histeris sekarang juga. Tapi, buru-buru gue gigit bibir bawah gue keras-keras sampai rasa sakitnya mengalihkan fokus gue.
*Gak, Maya. Lo gak boleh nangis,* bisik gue dalam hati. *Kalau lo nangis dan kelihatan depresi, si psikopat itu bakal ngerasa menang. Dia bakal makin kesenengan nonton reaksi lo.*
Gue menarik napas dalam-dalam, menahannya selama lima detik, lalu mengembuskannya perlahan. Gue harus mutar otak. Kalau gue nekat lari atau lapor polisi secara terang-terangan, si pelaku pasti bakal langsung tahu dan langsung menyebarkan video sensitif gue ke grup angkatan kampus. Hidup gue bakal hancur dalam semalam.
Satu-satunya jalan adalah memainkan permainan dia.
Gue harus pakai strategi "pura-pura bodoh". Gue bakal berakting seolah-olah gue gak tahu apa-apa. Seolah-olah ancaman semalam cuma dianggap angin lalu atau keisengan orang iseng yang gak gue gubris. Kalau dia mikir gue gak tahu soal kamera itu, dia gak bakal buru-buru menyebarkan videonya karena dia masih mau "menikmati" tontonannya. Itu bakal memberi gue waktu buat cari bantuan secara rahasia.
Gue langsung mengubah ekspresi wajah gue. Gue memaksakan diri buat menguap lebar-lebar, meregangkan otot tangan, lalu tersenyum tipis ke arah jendela yang gordennya masih tertutup.
"Duh, jam berapa sih ini? Kesiangan gak ya?" ucap gue dengan nada suara yang sengaja dibuat se-sant** mungkin, agak serak khas orang baru bangun tidur.
Gue bangkit dari ka**r, sengaja jalan dengan sant** ke arah kamar mandi. Di dalam kamar mandiβsatu-satunya tempat yang (semoga aja) bebas dari kamera pengawasβgue langsung menyalakan keran air biar suaranya bising. Gue menyandar ke tembok dingin, memegangi dada gue yang berdetak kayak abis lari maraton.
*Gue harus tenang. Akting gue harus sempurna.*
Setelah cuci muka dan gosok gigi, gue keluar kamar mandi sambil bersenandung kecil. Lagu pop yang lagi viral sengaja gue nyanyikan dengan nada agak fals biar kelihatan natural.
Gue jalan ke meja belajar yang terletak di sudut kamar. Meja kayu ini punya laci-laci di bawahnya, dan posisinya membelakangi kipas angin gantung. Ini adalah posisi paling strategis. Sudut pandang kamera dari atas kipas angin cuma bisa menangkap punggung gue dan permukaan atas meja. Bagian bawah meja, tepatnya di area paha dan lutut gue, benar-benar *blind spot* alias area yang gak bakal bisa kelihatan dari sudut mana pun di kamar ini.
Gue duduk di kursi belajar, menyalakan laptop, dan membuka buku sketsa. Sebagai anak jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), tugas menggambar adalah hal biasa. Jadi, kalau gue duduk berjam-jam di meja ini, si pelaku gak akan curiga.
Gue mengambil pensil, mulai mencoret-coret kertas sketsa dengan tangan kanan. Tapi di bawah meja, tangan kiri gue perlahan merogoh saku jaket tebal yang sengaja belum gue lepas.
Jari-jari gue menyentuh permukaan ponsel yang permukaannya agak kasar karena *case*-nya yang sudah usang. Itu bukan ponsel utama gue. Itu ponsel cadangan merek Xiaomi jadul yang gue pinjam dari Rara, sahabat gue dari zaman SMA, sekitar seminggu lalu karena ponsel utama gue sempat ma**k servis akibat layarnya retak. Untung banget ponsel ini belum sempat gue balikin, dan si pelaku kayaknya gak tahu kalau gue punya ponsel kedua ini karena selama ini selalu gue simpan di dasar tas ransel.
Gue meletakkan ponsel cadangan itu di atas paha gue, tersembunyi sempurna di bawah kolong meja. Dengan posisi kepala tetap tegak menatap buku sketsa di atas meja, jemari tangan kiri gue mulai mengetik di layar ponsel cadangan dengan gerakan super cepat dan tanpa suara.
Gue membuka aplikasi WhatsApp. Nomor di ponsel ini pakai kartu perdana cadangan yang bahkan gak diketahui sama anak-anak kampus.
Gue langsung mengetik pesan ke kontak Rara.
**Maya:** *Ra, ini gue Maya. Tolong jangan telepon gue. JANGAN TELEPON SEKALIPUN. Balas lewat chat aja sekarang juga. Please, ini darurat hidup dan mati.*
Sambil menunggu balasan, tangan kanan gue di atas meja tetap sibuk menggoreskan pensil, menggambar lingkaran-lingkaran gak jelas di kertas sketsa. Kepala gue sesekali mengangguk-angguk seolah-olah gue lagi menikmati musik dari *earphone* yang sengaja gue pasang di telinga, padahal gak ada suara apa-apa yang mengalir di sana. Gue cuma butuh alasan kenapa gue gak responsif sama suara sekitar.
*Drrtt.* Ponsel di paha gue bergetar pelan sekali karena modenya sudah gue ubah ke *silent-vib**te* paling lemah.
**Rara:** *Eh? Kenapa May? Lo bikin jantungan aja pagi-pagi. Kenapa gak boleh telepon?*
Gue menelan ludah. Tangan kiri gue mulai mengetik lagi dengan gemetar.
**Maya:** *Apartemen baru gue dipasang kamera tersembunyi. Ada di dalam kipas angin gantung. Si pelaku punya video gue pas lagi ganti baju kemarin sore. Dia ngancem bakal nyebarin ke grup angkatan kalau gue nekat pindah atau lapor polisi. Sekarang dia lagi ngawasin gue secara real-time lewat kamera itu.*
Butuh waktu hampir dua menit sampai Rara membalas. Mungkin dia lagi syok setengah mati membaca pesan gue.
**Rara:** *DEMI APA?! A**** MAYA LO SERIUS?! G*** INI SAKIT JIWA! Lo keluar sekarang juga dari sana! Sini ke kosan gue aja!*
**Maya:** *Gak bisa, Ra. Kalau gue langsung kabur bawa koper, dia bakal langsung sebarin videonya. Gue harus pura-pura gak tahu dulu biar dia gak curiga. Gue butuh bantuan profesional yang bisa ngelacak ini secara rahasia tanpa bikin si pelaku sadar. Lo punya kenalan yang ngerti IT atau cyber security gak? Yang bisa dipercaya dan gak bakal cepu.*
Gue menghentikan ketikan gue sebentar. Di atas meja, gue pura-pura merenggangkan otot leher, menatap ke sekeliling kamar dengan wajah bosan yang dibuat-buat, lalu kembali fokus ke buku sketsa. Akting gue harus konsisten. Gue gak boleh kelihatan terlalu fokus menatap ke bawah meja.
*Drrtt.*
**Rara:** *G***, gue gemeteran bacanya. Untung lo masih bisa mikir tenang, May. Bentar... sepupu gue, Kak Aris, dia kerja di divisi digital forensics di salah satu perusahaan IT security swasta. Dia sering nanganin ka**s cyberstalking sama kebocoran data. Gue coba hubungi dia sekarang. Lo aman kan di sana? Nggak ada orang lain kan di apartemen lo?*
**Maya:** *Nggak ada, gue sendirian. Tapi rasanya kayak lagi te******* di tengah lapangan karena diawasi terus. Bilang ke Kak Aris, gue butuh cara buat tahu siapa yang pasang kamera ini, dan gimana caranya gue bisa kabur tanpa dia sempat nyebarin videonya.*
**Rara:** *Oke, gue langsung telepon Kak Aris sekarang. Lo jangan panik ya, May. Tetap tenang. Akting lo harus kuat. Gue di sini bakal bantu lo sebisa gue. Kabari terus lewat nomor ini.*
**Maya:** *Makasih banyak ya, Ra. Lo penyelamat gue.*
Gue mengunci layar ponsel cadangan itu, lalu menyelipkannya ke dalam belahan kaus kaki tebal yang gue pakai di kaki kiri agar tidak gampang merosot.
Gue menarik napas lega, setidaknya sekarang gue gak sendirian lagi berjuang di dalam kegelapan ini. Ada secercah harapan.
Gue meletakkan pensil, lalu meregangkan kedua tangan ke atas sambil bersuara agak keras. "Aduh, pegel banget. Masak air buat bikin mi instan dulu kali ya?"
Gue bangkit berdiri dengan sant**, melangkah menuju dapur mini di dekat pintu ma**k dengan langkah kaki yang sengaja dibuat seringan mungkin. Namun, di dalam kepala gue, strategi perang baru saja dimulai.
*Lo pikir lo udah menang karena bisa ngawasin gue, hah?* batin gue sambil menatap sekilas ke arah langit-langit kamar dengan senyuman tipis yang sangat bersahabat. *Kita lihat aja siapa yang bakal nangis di akhir cerita ini, ba******.*
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!