Bagian bawah meja, tepatnya di sela-sela lipatan kabel *charger* laptop yang berantakan, adalah satu-satunya tempat yang aman dari jangkauan lensa ke***** itu. Di sana, gue menempelkan ponsel gue menggunakan selotip bolak-balik berdaya rekat tinggi yang sengaja gue beli kemarin.
Sambil pura-pura mengetik tugas kuliah dengan ekspresi wajah selempeng mungkin, tangan gue meraba ke bawah meja. Jempol gue dengan lihai membuka sebuah aplikasi forum diskusi lokal yang sangat spesifikβsebuah forum *semi-underground* tempat berkumpulnya para pencinta IT, peretas etis, hingga detektif amatir yang biasa disewa untuk melacak ka**s-ka**s perselingkuhan atau pencurian data.
Semalam, dengan sisa-sisa keberanian yang gue punya, gue menulis sebuah utas pendek menggunakan akun samaran: *Butuh bantuan mendesak. Ada kamera tersembunyi di apartemen gue. Pelaku mengancam menyebarkan video. Butuh ahli IT yang bisa lacak tanpa bikin pelaku sadar. Bayaran lancar.*
Gue gak berharap banyak. Tapi pagi ini, sebuah pesan ma**k dari akun bernama `@ByteHunter`.
*βGue bisa bantu. Tapi gak lewat chat. Ketemu siang ini di Kafe Tetirah, jam 1 siang. Datang sendiri, jangan pakai taksi online langsung dari apartemen lo. Naik ojek dulu beberapa blok, baru ganti kendaraan. Jangan sampai lo dikuntit.β*
Pesan itu singkat, padat, dan langsung bikin bulu kuduk gue merinding. Tapi di sisi lain, ini adalah secercah harapan.
***
Siang harinya, gue menjalankan instruksi `@ByteHunter` dengan sangat patuh. Gue keluar dari gedung apartemen dengan penampilan super ka**alβkaus kedodoran, jins longgar, dan topi bisbol yang gue tarik agak rendah untuk menutupi wajah paranoid gue. Gue bahkan sempat sengaja mampir ke minimarket dekat stasiun, pura-pura beli minum, sebelum akhirnya memesan ojek pangkalan secara tunai, lalu berganti naik TransJakarta untuk menuju ke Jakarta Selatan. Jauh dari area apartemen gue.
Kafe Tetirah ternyata adalah sebuah tempat kopi kecil yang terletak di sudut gang sepi. Suasananya tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pekerja kantoran yang sibuk dengan laptop masing-masing.
Gue melangkah ma**k, membiarkan gemercik lonceng di pintu utama berbunyi. Mata gue menyapu seluruh ruangan, mencari sosok yang sekiranya adalah si `@ByteHunter`.
Di meja paling pojok, dekat jendela yang menghadap ke dinding tanaman rambat, seorang cowok sedang duduk bersandar dengan sant**. Dia memakai hoodie hitam polos yang lengannya digulung sampai siku, celana kargo, dan sepatu kanvas belelel. Rambutnya agak berantakan seperti tipe mahasiswa yang jarang tidur karena kebanyakan main *game* atau begadang ngerjain tugas akhir. Di depannya ada segelas es americano yang tinggal setengah dan sebuah laptop yang dipenuhi stiker-stiker berlogo Linux, anime, dan beberapa logo komunitas IT yang gak gue pahami.
Gue memberanikan diri mendekat. "ByteHunter?" tanya gue setengah berbisik.
Cowok itu mendongak. Di balik kacamata berbingkai bulat tipisnya, sepasang mata yang tampak mengantuk namun tajam menatap gue. Dia tersenyum tipis, lalu mengangguk kecil.
"Maya, kan? Duduk," ucapnya dengan suara bariton yang sant**. Dia menggeser kursi di hadapannya dengan ujung kaki. "Panggil gue Aris aja. Nama asli gue lebih ramah lingkungan dibanding *username* forum."
Gue langsung duduk, meletakkan tas selempang gue di pangkuan dan memeluknya erat-erat seperti perisai pelindung. Dada gue masih berdegup kencang karena sisa-sisa paranoia sepanjang jalan tadi.
"Sant** aja, gak usah tegang begitu," kata Aris sambil menyesap es kopinya. "Muka lo pucat banget, sumpah. Orang-orang di kafe ini bisa mikir kita lagi transaksi barang terlarang kalau lo kelihatan ketakutan kayak gitu."
"Gimana gue gak tegang, Ris?" desis gue, memajukan tubuh agar suara gue gak terdengar ke meja sebelah. "Gue ngerasa kayak lagi diawasin setiap detik. Di atas langit-langit kamar gue, tepat di dalam kipas angin gantung, ada kamera. Dan gue gak tahu ada berapa banyak lagi kamera yang dipasang di sudut lain."
Ekspresi sant** Aris agak berubah menjadi sedikit lebih serius. Dia meletakkan gelas kopinya, lalu melipat kedua tangannya di atas meja. "Oke. Pertama-tama, gue butuh det**lnya. Lo sadar ada kamera itu sejak kapan? Dan pelaku udah sempat kontak lo?"
Gue pun menceritakan semuanya. Mulai dari pesan teror dari nomor tidak dikenal di WhatsApp yang melampirkan foto gue saat sedang berganti pakaian, ancaman penyebaran video ke grup angkatan kampus, sampai keputusan g*** gue semalam untuk pura-pura bodoh dan tetap bersikap normal di depan kamera demi mengulur waktu.
Aris mendengarkan tanpa memotong satu kali pun. Sesekali dia mengangguk-angguk kecil, jemarinya mengetuk meja kayu mengikuti irama musik lo-fi yang mengalun lambat dari pengeras suara kafe.
"Pilihan lo buat pura-pura gak tahu itu udah bener banget," ujar Aris setelah gue selesai bercerita. "Banyak korban yang langsung panik, teriak-teriak, atau nekat langsung nyopot kameranya. Itu kesalahan fatal. Begitu si psikopat tahu korbannya sadar, dia bakal langsung rilis videonya karena ngerasa kalah start. Lo pintar juga buat ukuran orang yang lagi panik."
"Gue gak pintar, Ris. Gue cuma ketakutan setengah mati," sahut gue jujur, dengan suara yang agak bergetar. "Sekarang gue harus gimana? Lo bisa bantu gue, kan? Berapa pun biayanya, gue bakal usahain bayar pake uang tabungan gue."
Aris mengibaskan tangannya di udara, seolah masalah uang adalah hal sekunder. "Soal duit gampang, bisa dicicil pake kopi tiap kita ketemu. Lagian, ka**s kayak gini selalu bikin adrenalin gue naik. Anggap aja ini proyek tugas akhir informal gue sebagai mahasiswa teknik informatika." Dia tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. Gaya sant**nya entah bagaimana sedikit mengurangi beban berat di pundak gue.
Aris kemudian memutar laptopnya ke arah gue. Layarnya menampilkan baris-baris kode rumit dengan latar belakang hitam yang bikin pusing kepala.
"Gini, Maya. Kamera pengint** zaman sekarang itu udah canggih tapi sekaligus punya kelemahan yang sama. Mereka gak mungkin pakai kartu memori lokal yang harus diambil manual setiap hari sama si pelaku. Itu terlalu berisiko buat dia." Aris mengetuk layar laptopnya. "Kamera di kamar lo itu pasti pakai koneksi nirkabel untuk ngirim datanya secara *real-time*. Kemungkinannya ada dua: dia numpang Wi-Fi apartemen lo, atau dia pakai jaringan Wi-Fi tersembunyi sendiri yang dipancarkan lewat modem mini terdekat."
"Maksudnya?" tanya gue, masih agak lemot mencerna istilah teknisnya.
"Artinya, ada aliran data yang terus-menerus mengalir keluar dari kamar lo," jelas Aris dengan sabar, seolah sedang mengajari anak SD. "Tugas kita bukan cuma nemuin kameranya, tapi ngelacak ke mana data video itu dikirim. Kita harus cari tahu alamat IP penerimanya atau akun *cloud* tempat video itu disimpan. Kalau kita bisa dapet itu, kita bisa tahu lokasi asli si pelaku, atau minimal identitas digitalnya."
"Gimana caranya?"
"Gue harus ma**k ke jaringan Wi-Fi apartemen lo," jawab Aris antusias. Matanya kini berbinar, memancarkan aura jenius yang tertutup oleh gaya ka**alnya. "Gue bakal pakai metode yang namanya *packet sniffing*. Gue bakal nge-scan semua lalu lintas data di sekitar kamar lo. Begitu gue deteksi ada perangkat asing yang ngirim data video ukuran besar secara konstan, kita bakal dapet IP address-nya."
"Tapi... kalau lo ma**k ke apartemen gue bawa-bawa peralatan laptop, si pelaku yang lagi nontonin gue lewat kamera gak bakal curiga?" tanya gue cemas. "Dia pasti langsung tahu kalau gue bawa bantuan."
Aris menjentikkan jarinya. "Poin bagus. Makanya, gue gak bakal langsung datang ke kamar lo sebagai 'detektif'. Gue bisa pura-pura jadi kurir paket, atau temen kuliah lo yang mau numpang ngerjain tugas kelompok. Tapi itu pun masih agak berisiko kalau pelaku kenal dekat sama lingkaran pertemanan lo."
Aris tampak berpikir sejenak. Dia mengetikkan beberapa baris kode di laptopnya dengan kecepatan yang membuat gue takjub. Bunyi ketukan keyboard-nya terdengar seperti ketukan ritmis yang menenangkan.
"Gini aja," kata Aris akhirnya, wajahnya mendongak menatap gue dengan senyum penuh rencana. "Gue bakal kasih lo sebuah alat kecil. Ukurannya gak lebih gede dari flashdisk. Ini namanya *Wi-Fi Pineapple* yang udah gue modifikasi. Lo cuma perlu colokin alat ini ke colokan listrik mana pun yang deket sama router Wi-Fi apartemen lo, atau di tempat tersembunyi di kamar lo yang gak kefoto sama kamera kipas angin itu."
"Terus, alat itu buat apa?"
"Alat itu bakal otomatis nge-klon jaringan Wi-Fi lo dan menyadap semua data yang lewat di sekitarnya secara mandiri. Dan kerennya, alat itu punya kartu SIM sendiri di dalamnya. Jadi, dia bakal ngirim semua data hasil sadapan itu langsung ke laptop gue di sini, tanpa lewat jaringan apartemen lo. Gue bisa kerja dari jauh. Si pelaku gak bakal sadar kalau jaringannya lagi kita te*******i."
Gue menatap Aris dengan rasa kagum yang luar biasa. Cowok yang kelihatan seperti mahasiswa kurang tidur ini ternyata adalah senjata rahasia yang gue butuhkan.
"Ris... makasih banyak," ucap gue tulus. Untuk pertama kalinya sejak teror itu dimulai, gue merasa ada secercah harapan bahwa hidup gue gak akan hancur begitu saja.
Aris merogoh ransel kanvasnya yang tergeletak di lant**, lalu mengeluarkan sebuah benda hitam kecil berbentuk persegi panjang dengan antena mini di ujungnya. Dia menggeser benda itu di atas meja, menyembunyikannya di balik buku menu kafe agar tidak menarik perhatian pelayan.
"Simpan ini di tas lo. Taruh di tempat yang aman," bisik Aris. "Begitu lo balik ke apartemen, colokin alat ini. Dan ingat, Maya... tetap akting kayak biasa. Jangan pernah ngelihat ke arah kamera dengan tatapan curiga atau ketakutan. Pura-pura aja lo masih cewek kuliahan biasa yang sibuk sama dunianya sendiri."
Gue mengambil alat itu dengan tangan sedikit gemetar, lalu mema**kkannya ke dalam bagian paling dalam dari tas selempang gue. "Gue bakal usahain. Akting gue sejauh ini c**up bagus kok."
"Bagus," Aris kembali bersandar di kursinya, memasang kembali senyum sant**nya yang khas. "Mari kita mulai permainannya. Kita lihat, siapa yang bakal ketawa paling akhir di akhir *game* ini."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!