**Bab 8: Operasi Teknisi Wi-Fi**
Rencana ini bener-bener g***. Sepanjang malam gue gak bisa tidur, cuma bisa guling-guling di ka**r sambil natap langit-langit kamar dengan perasaan parno yang luar biasa. Setiap kali gue gak sengaja ngeliat ke arah sudut ruangan, gue langsung merinding, sadar kalau di luar sana, ada ba****** yang lagi nonton setiap gerak-gerik gue lewat kamera tersembunyi ke***** itu.
Tapi hari ini, gue harus kelihatan biasa aja. Gue harus akting seolah-olah ini adalah hari Sabtu yang normal dan membosankan.
Sekitar jam sepuluh pagi, bel apartemen gue berbunyi. *Ding-dong.*
Jantung gue langsung lompat ke tenggorokan. Gue menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu berjalan ke arah pintu dengan langkah yang dibuat sesant** mungkin. Sebelum membuka pintu, gue sempat melirik ke kaca kecil di dekat meja rias—muka gue pucat, tapi gue berusaha memaksakan senyum tipis.
Saat pintu gue buka, seorang cowok dengan seragam polo shirt warna merah menyala khas salah satu provider internet ternama, lengkap dengan logo bordir "NetSpeed" di dada kiri, berdiri di sana. Dia memakai celana kargo hitam, membawa tas ransel besar, dan memegang sebuah papan jalan plastik.
Aris. Alias `@ByteHunter`.
Gue hampir gak mengenali dia. Rambut berantakannya kemarin sekarang tertutup topi hitam bertuliskan *NetSpeed*. Kacamata bulatnya diganti dengan lensa kontak, dan dia kelihatan... bener-bener kayak mas-mas teknisi Wi-Fi yang biasa gue temui.
"Siang, Mbak. Saya Aris dari NetSpeed," ucap Aris dengan suara yang lantang dan ramah, tipikal pekerja lapangan yang udah terlatih. "Ada laporan gangguan koneksi massal di lant** empat ini. Saya perlu melakukan pengecekan berkala pada router di dalam unit Mbak. Apakah diperbolehkan?"
Gue menelan ludah, berusaha menyelaraskan akting gue dengan dia. "Oh, iya, Mas! Ma**k aja. Kebetulan Wi-Fi saya dari kemarin emang lemot banget. Buat buka YouTube aja muter-muter terus."
"Baik, Mbak. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Saya izin cek routernya dulu, ya."
Aris melangkah ma**k ke dalam apartemen gue. Begitu pintu tertutup—namun sengaja tidak dikunci rapat sesuai protokol teknisi pada umumnya—suasana langsung berubah tegang. Aris meletakkan tas ranselnya di lant** dekat meja TV, tempat router Wi-Fi gue berada.
Gue berdiri agak jauh, pura-pura sibuk mainin HP, tapi mata gue terus mengawasi gerak-geriknya.
Aris berlutut di depan router. Dia membuka tasnya, mengeluarkan obeng, beberapa kabel LAN, dan sebuah laptop ThinkPad hitam yang kelihatan tangguh. Di sela-sela kesibukannya, dia mendongak sebentar, menatap gue, lalu memberikan kode dengan lirikan matanya ke arah dispenser air di sudut ruangan.
*Bikin minuman. Biar lo kelihatan natural,* itu pesan tersirat yang gue tangkap.
Gue langsung mengangguk kecil. "Mas, mau minum apa? Air dingin atau anget?" tanya gue agak keras, memastikan suara gue tertangkap oleh mikrofon kamera tersembunyi yang entah ditaruh di mana.
"Air biasa aja, Mbak. Terima kasih," jawab Aris formal.
Gue berjalan ke dapur mini, mulai mengambil gelas dan menuangkan air. Sementara itu, dari sudut mata, gue melihat Aris bekerja dengan sangat cepat. Dia mencolokkan sebuah alat kecil berwarna hitam—mirip USB hub tapi dengan banyak lampu LED kecil yang berkedip—ke salah satu port LAN di belakang router gue.
Itu pasti alat *packet sniffer* yang dia cerit**n kemarin di kafe. Alat yang bakal menyaring dan membaca semua lalu lintas data yang keluar-ma**k dari jaringan Wi-Fi apartemen gue.
Aris kemudian membuka laptopnya. Tangannya bergerak sangat cepat di atas keyboard, mengetikkan baris-baris perintah di layar hitam yang penuh dengan teks hijau. Ekspresi wajahnya yang tadi ramah langsung berubah jadi super serius dan fokus.
Gue berjalan mendekat, lalu meletakkan segelas air putih di lant**, tepat di sebelah tas perkakasnya.
"Ini Mas, minumnya," bisik gue super pelan, nyaris tanpa suara, sambil menyodorkan gelas.
Aris mengambil gelas itu, berpura-pura meminumnya sedikit, lalu berbisik sangat lirih di dekat telinga gue selagi dia meletakkan kembali gelasnya. "Gue lagi jalanin *Wireshark* buat nge-monitor paket data. Setiap kali ada kamera yang nge-stream video, dia pasti ngirim data secara konstan ke sebuah alamat IP. Gue bakal dapet IP itu dalam beberapa menit."
Gue merasa sedikit lega. Akhirnya, ada progres. Tapi rasa lega itu gak bertahan lama karena tiba-tiba...
*Krieeet...*
Pintu depan apartemen gue yang tadinya agak renggang, tiba-tiba didorong dari luar.
Jantung gue rasanya mau copot. Gue langsung berbalik dengan tubuh gemetar.
Di ambang pintu, berdiri seorang cowok dengan kaus abu-abu sant** dan celana pendek. Dia memegang sebuah plastik sampah hitam di tangan kirinya.
Elian. tetangga sebelah kamar gue yang kelihatan ramah tapi selalu sukses bikin gue ngerasa gak nyaman.
Mata Elian langsung menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya tertuju pada Aris yang masih berlutut di depan meja TV dengan laptop terbuka. Tatapan Elian dingin, tajam, dan penuh selidik. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang kelihatan sangat dipaksakan.
"Eh, Maya," sapa Elian, suaranya terdengar terlalu sant**. "Pintu lo kebuka tadi. Gue pikir ada apa-apa."
Gue memaksakan diri untuk tertawa kecil, meski rasanya tenggorokan gue kering banget. "Eh, Elian. Enggak kok, ini... Wi-Fi gue lagi rusak. Makanya ada teknisi dari NetSpeed lagi benerin."
Elian tidak langsung pergi. Dia malah melangkah ma**k satu demi satu ke dalam kamar gue. Sepatunya berdecit di atas lant** vinil. Langkah kakinya terdengar seperti detak jam kematian di telinga gue. Dia berjalan mendekati tempat Aris bekerja, lalu melipat tangan di depan dada.
"Teknisi?" Elian menatap Aris dari atas ke bawah. "Bukannya kalau ada gangguan massal, pihak manajemen gedung biasanya ngasih pengumuman dulu di grup WhatsApp penghuni, ya? Kok gue gak dapet?"
Suasana langsung mendadak sunyi. Dingin.
Gue bisa merasakan bulu kuduk gue meremang. Tangan gue yang memegang HP mulai berkeringat dingin. Kalau Elian tahu Aris adalah teknisi palsu, habislah kita. Apakah Elian si pengint** itu? Apakah dia curiga karena live feed kameranya tiba-tiba terganggu?
Aris perlahan mendongak. Tidak ada kepanikan sama sekali di wajahnya. Dia menatap Elian dengan tatapan lelah khas orang kantoran yang udah kerja lembur bagai kuda.
"Oh, siang, Mas," kata Aris dengan nada flat yang sangat meyakinkan. "Ini bukan gangguan jaringan kabel fisik, tapi ada interferensi frekuensi di kanal 2.4 GHz di lant** ini. Ada beberapa IP client yang mengalami *collision* atau tab**kan data, kemungkinan karena ada perangkat ilegal atau router tambahan yang gak terdaftar yang pasang frekuensi terlalu kuat. Makanya saya harus konfigurasi ulang *gateway* dan *subnet mask* di unit-unit yang terdampak secara manual."
Gue melongo. Gue gak paham satu kata pun dari omongan Aris, tapi kedengarannya sangat ilmiah dan sangat... meyakinkan.
Elian menyipitkan matanya. Dia melihat ke arah layar laptop Aris yang masih menampilkan baris-baris kode dan grafik lalu lintas data yang bergerak cepat. "Ribet banget ya kerjanya. Biasanya teknisi cuma cabut colok kabel, terus kelar."
"Ya kalau cuma cabut colok kabel mah anak SD juga bisa, Mas," balas Aris, kali ini dengan nada agak ketus dan sarkastik, persis seperti teknisi asli yang kesal karena pekerjaannya didebat oleh orang awam. "Kalau Masnya mau koneksi internetnya saya putus dulu biar ngerasain gimana pusingnya gak dapet sinyal pas lagi kerja, silakan bilang."
Gue hampir aja menahan napas. Keberanian Aris bener-bener g***.
Elian terdiam. Dia menatap Aris selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam. Tatapannya bener-bener mengintimidasi, seolah sedang mencoba menembus kebohongan yang sedang Aris bangun. Kamar gue mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Gue bahkan bisa mendengar suara detak jantung gue sendiri yang berpacu liar.
Namun, perlahan-lahan, ketegangan di wajah Elian mencair. Dia mengembuskan napas pendek, lalu tersenyum tipis lagi.
"Enggak usah, Mas. Wi-Fi di kamar gue lancar-lancar aja kok," kata Elian tenang. Dia kemudian menatap gue. "Gue duluan ya, May. Mau buang sampah dulu. Kalau ada apa-apa... atau kalau lo ngerasa gak aman, panggil gue aja. Kamar gue kan persis di sebelah."
Kata "ngerasa gak aman" itu terdengar sangat aneh di telinga gue. Apakah itu sebuah ancaman tersirat?
"I-iya, El. Makasih ya," jawab gue terbata-bata.
Elian berbalik, lalu melangkah keluar dari apartemen gue tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Dia menutup pintu apartemen gue hingga terdengar bunyi *klik* yang menandakan pintu itu terkunci rapat.
Begitu Elian bener-bener pergi, gue langsung merosot terduduk di tepi tempat tidur. Lutut gue lemes banget kayak jeli.
"G***... gue hampir mati jantungan," bisik gue sambil memegangi dada gue yang masih naik-turun gak beraturan. "Aris, lo tadi nekat banget!"
Aris gak langsung menjawab. Dia menunggu sekitar tiga puluh detik, memastikan tidak ada langkah kaki yang kembali mendekati pintu kamar gue. Setelah dirasa benar-benar aman, dia menghela napas panjang dan melepaskan topi NetSpeed-nya, mengusap dahi yang ternyata juga dipenuhi butiran keringat dingin.
"Gue juga deg-degan, May," aku Aris dengan suara aslinya yang agak serak. "Tapi kalau gue kelihatan ragu sedikit aja tadi, dia pasti bakal makin curiga."
"Menurut lo... apa Elian orangnya?" tanya gue dengan suara bergetar. "Kenapa dia tiba-tiba muncul pas lo lagi ada di sini?"
"Bisa jadi. Instingnya kuat banget, atau dia emang lagi mantau lo dari kamera tersembunyi itu dan panik pas ngeliat ada orang asing yang ngutak-atik router lo," kata Aris sambil kembali menatap layar laptopnya. Jari-jarinya kembali menari di atas keyboard dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. "Tapi untungnya, drama tadi sepadan sama hasilnya."
Gue langsung menegakkan tubuh. "Maksud lo?"
Aris memutar laptopnya ke arah gue, menunjukkan sebuah baris teks yang berkedip dengan warna merah di antara ribuan teks putih lainnya.
"Alat gue berhasil nge-capture datanya sebelum tetangga lo itu ma**k," kata Aris dengan senyum kemenangan yang tipis namun tajam di wajahnya. "Ada satu perangkat di ruangan ini yang ngirim data video ukuran besar secara konstan tanpa henti lewat jaringan Wi-Fi lo. Dan tebak dikirim ke mana?"
Gue mencondongkan tubuh, menatap deretan angka-angka rumit di layar komputer Aris yang gak gue pahami sama sekali. "Ke mana, Ris?"
Aris menatap gue lurus-lurus. Matanya di balik kacamata tipisnya memancarkan keseriusan yang membuat bulu kuduk gue kembali meremang.
"Data video itu dikirim ke sebuah IP address lokal. Artinya, penerima video ini gak berada di tempat yang jauh. Dia ada di dalam jaringan yang sama, di dalam gedung yang sama..." Aris menjeda kalimatnya sejenak. "...tepatnya, di unit apartemen yang letaknya gak jauh dari kamar lo."
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!