**Bab 9: Kemarahan dari Layar Kaca**
Begitu pintu apartemen tertutup rapat dan suara langkah kaki Aris perlahan menghilang di lorong koridor, pertahanan yang sejak tadi gue bangun langsung runtuh. Lutut gue rasanya lemas banget, hampir gak sanggup buat menopang berat badan gue sendiri. Gue bersandar di balik pintu, merosot pelan-pelan sampai terduduk di lant** yang dingin.
Gue memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengatur napas yang memburu. Rasanya kayak baru aja lolos dari maut. Akting di depan kamera tersembunyi yang entah ditaruh di sebelah mana itu bener-bener menguras seluruh energi gue. Gue harus kelihatan sant**, harus kelihatan kayak cewek biasa yang lagi komplain soal Wi-Fi lemot, padahal di dalam dada, jantung gue rasanya mau meledak.
Keheningan malam ini mendadak terasa mencekam. Sunyi banget, sampai gue bisa mendengar detak jantung gue sendiri yang berdegup kencang.
*Bzzzz... Bzzzz... Bzzzz...*
Gue tersentak. Suara getaran itu bukan berasal dari ponsel utama yang ada di genggaman gue. Suara itu berasal dari laci meja riasβtempat gue menyembunyikan ponsel cadangan yang nomornya cuma diketahui oleh si peneror si**** itu.
Jantung gue serasa berhenti berdetak selama satu detik. Dengan tubuh yang gemetaran, gue bangkit berdiri. Langkah kaki gue terasa berat banget waktu berjalan mendekati meja rias. Setiap jengkal ruangan ini rasanya menjelma jadi mata raksasa yang sedang menatap gue dengan lapar. Gue tahu, si ba****** itu lagi nonton gue sekarang lewat kamera s****nya.
Gue membuka laci, mengambil ponsel cadangan itu, dan menyalakan layarnya. Ada satu pesan baru dari nomor tidak dikenal.
Begitu gue membaca pesannya, darah gue rasanya langsung membeku.
**Unknown:**
*Siapa cowok tadi?*
Gue menelan ludah dengan susah payah. Jempol gue gemetar di atas layar. Sebelum gue sempat membalas, satu pesan lagi ma**k. Kali ini nadanya jauh lebih mengancam dan penuh amarah.
**Unknown:**
*Jangan coba-coba memanggil orang asing ke kamarmu lagi, Maya. Aku tidak suka berbagi. Kamu cuma milikku. Jangan buat aku datang ke sana dan memberi pelajaran pada kalian berdua.*
G***. Ba****** ini bener-bener posesif dan psikopat. Dia cemburu sama mas-mas teknisi Wi-Fi gadungan!
Gue memutar otak secepat mungkin. Napas gue makin gak beraturan, tapi gue tahu gue gak boleh panik di depan kamera. Kalau gue kelihatan panik atau mencurigakan, rencana gue dan Aris buat membongkar kedok dia bakal hancur lebur sebelum dimulai. Gue harus bisa meyakinkan dia kalau Aris itu beneran cuma teknisi internet biasa.
Gue mengetik balasan dengan jari-jari yang masih gemetar, berusaha sebisa mungkin menjaga nada ketikan gue agar terdengar kesal tapi juga ketakutanβreaksi yang wajar dari korban teror.
**Maya:**
*Apa-apaan sih?! Dia cuma teknisi internet! Sumpah, koneksi Wi-Fi di apartemen ini lemot banget dari kemarin. Aku gak bisa ngerjain tugas kuliah kalau gak ada internet. Makanya aku panggil servis!*
Gue menunggu. Satu menit terasa seperti satu jam. Ponsel di tangan gue rasanya panas banget. Gue bisa merasakan keringat dingin mulai bercucuran di pelipis gue. Gue sengaja melempar pandangan kesal ke arah router Wi-Fi di dekat meja TV, berakting seolah-olah gue beneran frustrasi sama koneksi internet di sini, bukan karena takut sama dia.
*Bzzzz.*
Ponsel itu bergetar lagi.
**Unknown:**
*Benar hanya teknisi? Kenapa dia lama sekali di dalam kamarmu? Dan kenapa kamu harus membuatkan dia minum? Kamu tidak pernah sepeduli itu pada orang asing, Maya.*
Bulu kuduk gue langsung berdiri. Dia memperhatikan setiap det**l kecil! Dia melihat gue bikin minuman buat Aris tadi. Si****, dia bener-bener mengawasi layar kaca itu tanpa berkedip sedikit pun.
Gue langsung membalasnya dengan cepat, mencoba memakai logika cewek yang lagi defensif.
**Maya:**
*Dia ngebenerin kabel yang ada di balik meja TV, makanya agak lama. Dan soal minum, itu cuma sopan santun, tahu! Ibu selalu ngajarin aku buat nawarin minum ke tamu atau orang yang kerja di rumah. Tolong deh, jangan sekontrol ini. Aku risih! Kamu gak perlu cemburu sama tukang servis Wi-Fi!*
Gue sengaja menambahkan kalimat "Jangan sekontrol ini" dan "Aku risih" biar kelihatan natural, seolah-olah gue cuma ngerasa terganggu sama pacar yang terlalu protektif, bukan sama penguntit g*** yang menyadap kamar gue.
Beberapa saat kemudian, balasan dari dia ma**k lagi.
**Unknown:**
*Oke. Kali ini dimaafkan. Tapi ingat, Maya. Ini peringatan pertama dan terakhir. Jangan pernah biarkan laki-laki lain ma**k ke dalam tempat pribadimu lagi. Kalau sampai itu terjadi lagi, aku gak akan segan-segan untuk bertindak kasar. Tidurlah yang nyenyak, Sayang.*
Gue mengembuskan napas panjang, nyaris terdengar seperti desahan lega yang tertahan. Setidaknya, untuk saat ini, dia percaya. Kebohongan gue berhasil menyelamatkan rencana ini. Tapi ancamannya... ancaman itu bener-bener bikin mental gue drop. Dia bilang "bertindak kasar." Apa dia ada di sekitar sini? Apa dia bisa ma**k ke kamar gue kapan aja dia mau?
Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi kepala gue. Gue meletakkan ponsel cadangan itu kembali ke dalam laci, lalu menguncinya.
Gue butuh udara segar. Kamar ini rasanya makin sempit dan bikin gue sesak napas. Rasanya kayak seluruh dinding apartemen ini perlahan-lahan bergerak merapat buat menghimpit gue sampai mati.
Gue berjalan ke arah jendela besar yang langsung menghadap ke area lobi luar gedung apartemen. Gue membuka sedikit gordennya, berniat buat melihat pemandangan luar, berharap lampu-lampu jalanan kota Jakarta bisa sedikit menenangkan pikiran gue yang udah kusut banget.
Gedung apartemen tempat gue tinggal ini gak terlalu mewah, tapi punya sistem keamanan yang lumayan ketat di gerbang depan. Di bawah sana, di dekat lobi luar yang diterangi lampu taman remang-remang, suasananya sepi karena malam sudah semakin larut.
Gue melayangkan pandangan ke bawah secara acak. Tapi tiba-tiba, mata gue menangkap siluet seseorang yang berdiri di dekat tiang lampu jalan, tepat di luar gerbang ma**k lobi.
Cowok itu memakai jaket denim gelap berkupluk. Dia lagi mondar-mandir gak jelas, sesekali melihat ke arah ponselnya, lalu mendongak menatap ke arah deretan jendela apartemen. Dan yang bikin jantung gue langsung mencelos ke dasar perut adalah... arah pandangannya tertuju tepat ke lant** tempat unit apartemen gue berada.
Gue menyipitkan mata, mencoba memperjelas penglihatan gue di balik kaca jendela yang agak buram karena embun malam.
Begitu cowok itu melangkah sedikit ke area yang lebih terang oleh cahaya lampu jalan, gue bisa melihat wajahnya dengan jelas. Postur tubuh itu, gaya berjalannya yang agak bungkuk, cara dia memegang rokok di tangan kirinya...
Gue membekap mulut gue sendiri. Air mata gue hampir aja tumpah karena saking shock-nya.
"Rian...?" bisik gue dengan suara bergetar.
Itu Rian. Mantan pacar gue yang baru putus tiga bulan lalu karena sikapnya yang super posesif dan abusive.
Rian sedang mondar-mandir di bawah sana, seperti orang yang lagi gelisah atau sedang memantau sesuatu. Dia mematikan rokoknya dengan cara menginjaknya kasar di aspal, lalu kembali menatap ke atasβtepat ke arah jendela kamar gue.
Gue langsung menarik tubuh gue mundur ke balik gorden tebal, bersembunyi dalam kegelapan agar dia gak bisa melihat gue dari bawah. Napas gue makin memburu, kali ini disert** rasa ngeri yang luar biasa.
Otak gue langsung bekerja memproses semua kebetulan mengerikan ini.
Pesan dari si pelaku tadi: *"Jangan coba-coba memanggil orang asing ke kamarmu lagi, Maya. Aku tidak suka berbagi."*
Kata-kata itu... cara bicaranya yang menuntut, rasa kepemilikan yang berlebihan, dan amarah yang meledak-ledak... itu persis banget sama karakter Rian waktu kami masih pacaran dulu. Rian selalu ngamuk setiap kali ada temen cowok kampus yang nge-chat gue, bahkan cuma buat urusan kelompok kuliah sekalipun. Dia selalu bilang, *"Kamu punya aku, Maya. Aku gak suka kamu deket-deket sama cowok lain."*
Apakah Rian dalang di balik semua keg***an ini?
Apakah Rian yang menyelinap ma**k ke apartemen baru gue dan memasang kamera tersembunyi itu? Dia emang punya duplikat kunci apartemen lama gue dulu, dan dia juga tahu banget kalau gue baru aja pindah ke sini setelah kami putus. Apa dia sengaja meneror gue dari jauh demi memuaskan obsesi g***nya yang belum selesai?
Gue meraba dada gue, merasakan detak jantung yang makin liar dan gak terkendali. Rasa takut yang sejak kemarin menggelayuti gue kini berganti menjadi paranoia yang luar biasa besar. Gue gak cuma diawasi lewat layar kaca oleh sosok misterius yang tak kasat mataβtetapi monster dari masa lalu gue sekarang benar-benar nyata, berdiri kokoh di bawah sana, menunggu waktu yang tepat untuk menerkam gue lagi.
Gue terduduk di lant** samping tempat tidur, memeluk lutut gue erat-erat dalam kegelapan. Di apartemen ini, di bawah pengawasan kamera yang entah di mana, dan dengan mantan pacar yang mengint** di bawah sana, gue bener-bener merasa seperti hewan buruan yang sudah tersudut di dalam perangkap.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!