Ada Mayat di Kamar Kos No. 13

Bab 1: Diskon Maut Kamar No. 13

Pengaturan Membaca

BAB 1: Diskon Maut Kamar No. 13

Hidup sebagai mahasiswa hukum tingkat akhir di kota besar itu cuma punya dua pilihan: cepat lulus dan jadi pengacara kaya, atau mati muda karena stres mikirin skripsi dan dompet yang isinya lebih sering kosong dibanding terisi.

Arga sedang berada di pilihan kedua.

Cowok berkaus hitam polos itu berkali-kali mengusap wajahnya yang kasar karena kurang tidur. Di tangan kanannya, sebuah ponsel dengan layar retak seribu menampilkan aplikasi pencari kos-kosan. Sudah hampir tiga jam Arga nongkrong di warkop pinggir jalan, memesan satu es teh manis yang es batu-banyanya sudah mencair sepenuhnya, hanya demi numpang Wi-Fi gratis.

"G*** aja," gumam Arga frustrasi. Jempolnya terus menggeser layar. "Kamar ukuran dua kali tiga meter, kipas angin mleyot, kamar mandi luar bareng dua puluh orang, harganya sejuta dua ratus per bulan? Ini kosan apa penjara bawah tanah?"

Arga melirik sisa saldo di rekeningnya lewat m-banking. Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Itu adalah uang pertahanan hidup terakhirnya bulan ini sebelum kiriman dari orang tuanya di kampungβ€”yang juga seretβ€”ma**k bulan depan. Ibu kos di tempat lamanya sudah mengeluarkan ultimatum: bayar tunggakan tiga bulan hari ini, atau angkat kaki. Arga memilih opsi kedua karena harga dirinya terlalu tinggi untuk terus-menerus memohon.

"Tuhan, kalau Engkau memang sayang sama calon penegak hukum ini, tolong kasih hamba mukjizat," bisik Arga dramatis, menatap langit-langit warkop yang penuh jelaga hitam.

Seolah Tuhan langsung membalas doanya lewat algoritma internet, sebuah iklan baru muncul di bagian paling atas beranda pencariannya.

*KOS IBU PERTIWI*

*Disewakan Kamar No. 13. Fasilitas: AC, ka**r springbed queen size, lemari pakaian, meja belajar, kamar mandi dalam (shower & kloset duduk), free Wi-Fi kecepatan tinggi.*

*Harga: Rp 400.000,- / bulan (Nego tipis).*

*Lokasi: Dekat kampus Universitas Nusantara (hanya 5 menit jalan kaki).*

Arga hampir saja menyemburkan sisa es teh manis di mulutnya. Matanya melotot selebar jengkol.

"Empat ratus ribu? AC? Kamar mandi dalam?!" Arga membaca ulang spek kosan tersebut. Di zaman sekarang, fasilitas seperti itu di dekat kampus minimal dihargai satu setengah sampai dua juta rupiah. Ini benar-benar tidak ma**k akal.

Tanpa pikir panjang, takut keduluan mahasiswa miskin lainnya, Arga langsung menekan tombol *call* yang tertera di iklan tersebut. Hanya dalam dua kali nada sambung, telepon langsung diangkat.

"Halo, dengan pemilik Kos Ibu Pertiwi?" tanya Arga cepat, suaranya sedikit bergetar karena bersemangat.

"Ya, betul. Dengan Pak Bambang di sini. Ada yang bisa saya bantu, Mas?" suara di seberang sana terdengar sangat ramah, tipe suara bapak-bapak paruh baya yang tenang.

"Pak, kamar nomor 13 yang harganya empat ratus ribu itu masih kosong? Saya mau survei sekarang juga!"

Ada jeda sekitar tiga detik di seberang telepon. Sunyi yang aneh. Namun, suara Pak Bambang segera kembali terdengar, bahkan kali ini terdengar jauh lebih ceria, hampir seperti orang yang baru saja memenangkan lotre.

"Oh! Kamar 13? Masih kosong, Mas! Sangat kosong! Masnya bisa datang sekarang ke Jalan Melati No. 45. Saya tunggu ya, Mas. Langsung datang saja!"

"Oke, Pak! Saya meluncur!"

Arga menutup telepon dengan senyum lebar yang menghiasi wajah kusamnya. Dia menyambar tas ranselnya, membayar es teh manis, dan langsung menstarter motor bebeknya yang bersuara mirip mesin parut kelapa.

***

Kos Ibu Pertiwi ternyata terletak di dalam gang yang c**up tenang. Bangunannya berlant** dua dengan cat dinding berwarna hijau lumut yang sudah agak mengelupas di beberapa bagian. Halamannya c**up luas, ditumbuhi pohon mangga rimbun yang membuat suasana terasa teduh, atau mungkin agak sedikit terlalu redup untuk ukuran jam dua siang yang terik.

Saat Arga memarkir motornya, seorang pria paruh baya dengan kaos oblong putih dan sarung kotak-kotak keluar dari pintu utama. Wajahnya ramah, dengan kumis tebal khas bapak-bapak komplek.

"Mas Arga yang tadi telepon, ya?" tanya pria itu sambil tersenyum lebar.

Sangat lebar. Bahkan, menurut Arga, senyum itu sedikit terlalu lebar hingga sudut bibirnya hampir menyentuh pipi bawah. Matanya tidak ikut tersenyum, melainkan menatap Arga dengan pandangan yang sulit diartikanβ€”seperti orang lapar yang melihat sepiring nasi padang hangat.

Arga sempat merinding sesaat, tapi dia segera menepis perasaan itu. *Mungkin si bapak habis stroke ringan makanya senyumnya agak kaku,* pikir Arga berprasangka baik.

"Iya, Pak Bambang. Saya Arga. Wah, tempatnya tenang banget ya, Pak," ujar Arga mencoba berbasa-basi.

"Iya, Mas. Tenang sekali. Di sini anak-anak kosnya pada sopan. Nggak pernah ada yang berisik," jawab Pak Bambang, masih dengan senyum lebar yang sama. "Ayo, langsung saya antar ke kamar nomor 13. Kamarnya ada di lant** dua, paling pojok."

Arga mengekor di belakang Pak Bambang. Saat melangkah ma**k ke area dalam kos, Arga menyadari sesuatu. Tempat ini sepi sekali. Benar-benar sepi. Tidak ada suara musik dari kamar anak kos, tidak ada gantungan baju yang biasanya berantakan di koridor, bahkan tidak ada aroma mi instan yang biasanya menjadi bau wajib setiap kos-kosan mahasiswa.

"Pak, ini lagi pada kuliah ya anak-anaknya? Kok sepi banget?" tanya Arga sambil menaiki tangga kayu yang berderit setiap kali dipijak.

"Ah, iya. Ada yang kuliah, ada yang sudah... pulang," jawab Pak Bambang pelan. Dia tidak berbalik, terus berjalan menelusuri koridor lant** dua yang agak remang-remang karena ventilasinya minim.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua. Di pintu itu, terpasang pelat kuningan berbentuk angka "13" yang sudah agak berkarat dan posisinya sedikit miring.

"Nah, ini kamarnya, Mas," kata Pak Bambang sambil merogoh saku sarungnya dan mengeluarkan seunt** kunci kuno.

Pintu dibuka. Detik itu juga, embusan angin dingin yang entah dari mana asalnya langsung menerpa wajah Arga. Angin itu membawa aroma samar yang aneh. Bukan bau apek kamar kosong, melainkan aroma yang manis tapi menusuk hidung, mirip perpaduan antara kapur barus dan melati yang terlalu menyengat.

Arga melangkah ma**k dan matanya langsung berbinar.

Iklan itu tidak bohong. Kamar ini luas sekali. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ka**r *springbed* empuk dengan sprei berwarna abu-abu yang tampak sangat bersih. AC terpasang di dinding, sebuah lemari baju kayu dua pintu berdiri kokoh di sudut, dan ada meja belajar yang c**up luas untuk menaruh laptop dan tumpukan buku skripsinya. Kamar mandinya juga bersih dengan keramik putih mengkilap.

"G***... ini mah surga," bisik Arga dalam hati.

"Bagaimana, Mas? Cocok?" tanya Pak Bambang yang berdiri di ambang pintu, memperhatikan setiap gerak-gerik Arga.

Arga membalikkan badan. "Fasilitasnya sebagus ini, kenapa harganya bisa murah banget ya, Pak? Jujur, saya agak curiga. Biasanya kosan kayak gini di daerah sini minimal sejuta setengah."

Pak Bambang terkekeh pelan. Suara tawa yang terdengar kering di tenggorokan. "Gini, Mas Arga. Kamar ini sebenarnya kamar kesayangan saya. Tapi, anak-anak muda zaman sekarang itu banyak yang percaya takhayul. Mereka takut sama angka 13. Katanya angka sial lah, pembawa petaka lah. Makanya kamar ini kosong terus selama hampir enam bulan. Daripada berdebu nggak menghasilkan uang, mending saya diskon besar-besaran buat mahasiswa yang cerdas dan nggak percaya takhayul seperti Mas Arga ini."

Arga terdiam sejenak. Angka 13.

Sebagai mahasiswa hukum yang dididik untuk berpikir logis dan berbasis bukti empiris, tentu saja Arga tidak percaya hal-hal mistis seperti itu. Sial atau beruntung itu tergantung usaha, bukan karena nomor kamar. Lagi pula, isi dompetnya yang sekarat jauh lebih menakutkan daripada hantu mana pun di dunia ini.

"Bapak benar. Hari gini masih percaya takhayul itu rugi, Pak," kata Arga mantap, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Tapi, beneran ini empat ratus ribu? Nggak ada biaya tambahan lain? Air? Wi-Fi?"

"Semua sudah bersih, Mas. Tinggal bawa baju saja," jawab Pak Bambang, senyumnya kini tampak lebih sant**, meski matanya tetap menatap Arga dengan intensitas yang aneh. "Malah kalau Mas bayar sekarang untuk bulan pertama, saya kasih diskon lagi deh. Tiga ratus lima puluh ribu saja. Bagaimana?"

Mata Arga langsung berbinar mendengar kata "diskon". Pertahanannya runtuh sepenuhnya. Logikanya langsung dig***s oleh hasrat menghemat uang makan untuk dua minggu ke depan.

"Deal, Pak! Saya ambil!" Arga langsung mengeluarkan ponselnya. "Saya transfer sekarang ya, Pak. Minta nomor rekeningnya."

Proses transaksi berlangsung sangat cepat. Setelah uang berpindah tangan, Pak Bambang menyerahkan kunci kuningan itu ke telapak tangan Arga. Sentuhan tangan Pak Bambang terasa sangat dingin, dingin yang tidak wajar untuk ukuran manusia yang baru saja berjalan di bawah terik matahari siang.

"Kuncinya dipegang baik-baik ya, Mas Arga. Mulai hari ini, kamar ini resmi jadi milik Mas. Semoga... betah," ujar Pak Bambang. Ada penekanan yang ganjil pada kata "betah".

"Makasih banyak ya, Pak. Kebetulan barang-barang saya sudah saya bawa semua di motor. Cuma satu kardus besar sama tas ransel kok. Saya langsung pindahan hari ini ya," kata Arga riang.

"Oh, silakan, Mas. Silakan. Anggap saja rumah sendiri." Pak Bambang mengangguk-angguk, lalu berbalik dan berjalan menyusuri koridor untuk turun ke bawah.

Arga memperhatikan punggung bapak kos itu sampai menghilang di balik tangga. Dia lalu menghela napas lega dan menatap kunci di tangannya.

"Yes! Akhirnya nasib baik berpihak juga ke gue!" serunya kegirangan.

Arga segera turun ke parkiran untuk mengambil barang-barangnya. Butuh dua kali bolak-balik bagi Arga untuk membawa kardus pakaian, tumpukan buku, dan printer tuanya ke lant** dua. Tenaganya c**up terkuras, tapi rasa lelah itu terkalahkan oleh rasa puas.

Setelah semua barang ma**k, Arga menutup pintu kamar nomor 13 erat-erat. Dia menguncinya dari dalam, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas ka**r *springbed* yang empuk.

"Ah... nikmatnya AC," desah Arga sambil menatap langit-langit kamar yang dicat putih bersih.

Dia memejamkan mata, menikmati keheningan yang luar biasa di kamar itu. Namun, beberapa menit berlalu, keheningan itu mulai terasa... berbeda. Sunyi di kamar ini seolah sangat pekat, seperti menyedot semua suara dari luar. Arga bahkan tidak bisa mendengar suara kendaraan dari jalan raya yang jaraknya c**up dekat, atau suara burung di pohon mangga luar.

Tiba-tiba, hidung Arga menangkap kembali aroma manis yang sempat tercium tadi. Kali ini, aromanya lebih kuat. Seperti bau bunga melati yang mulai membusuk, bercampur dengan aroma amis yang sangat tipis, hampir tak terdeteksi jika tidak diperhatikan dengan seksama.

Arga membuka matanya, menatap langit-langit kamar lagi. Di sudut ruangan, tepat di atas lemari pakaian, dia menyadari ada satu titik noda kecokelatan di langit-langit yang tampak seperti bekas rembesan air.

"Besok-besok gue minta Pak Bambang benerin atapnya deh, takut bocor pas hujan," gumam Arga pada diri sendiri.

Dia membalikkan tubuhnya ke samping, menghadap ke arah bawah kolong tempat tidur yang tertutup sprei abu-abu yang menjunt** ke lant**. Arga tersenyum tipis, meraih ponselnya, dan mulai mengetik pesan di grup WhatsApp geng kampusnya.

*Arga: Guys, g***. Gue dapet kosan mewah fasilitas hotel bintang lima harga kaki lima. Kamar No. 13 di Kos Ibu Pertiwi. Sumpah, untung banget gue hari ini!*

Arga meletakkan ponselnya di samping bantal, menutup matanya kembali, dan bersiap untuk tidur siang yang nyenyak. Dia sama sekali tidak menyadari, di bawah kolong tempat tidurnya yang gelap, sprei abu-abu yang menjunt** itu sedikit tersingkap oleh embusan angin AC, memperlihatkan sesuatu yang tersembunyi di balik kegelapan mutlak di bawah sana.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca